
Duarrr.....
Jantung Rili rasanya mau copot mendengar permintaan suaminya yang to the point itu.
Wajahnya pucat, seperti tidak ada darah yang mengalir di tubuhnya. Mata Rili membulat dengan mulut sedikit menganga. Hal yang ingin dihindarinya ternyata tidak bisa dielakkan lagi.
Ibunya selalu menasehatinya agar menghormati suaminya dan menjalankan kewajiban sebagai seorang istri, Tante Rukyah juga selalu menasehatinya seperti itu.
"Ya Allah.... hanya Engkaulah yang mengerti gejolak dijiwa ini. Beri hamba petunjuk, sehingga hamba tidak menyakiti hati suami hamba nantinya. Sungguh, hamba belum siap untuk melakukan hubungan suami istri yang katanya adalah ibadah. Hubungan itu akan menjadi sebuah ibadah, apabila keduanya ikhlas melakukannya. Gumam Rili dalam hati.
"Dek, dek...!" ucap Rival memegangi pipinya Rili yang sedang melamun dengan pandangan lurus ke arah danau.
Rili tersadar dari lamunannya karena sentuhan lembut dipipinya.
"Ii...iiyaa bang, ada apa?" jawab Rili dengan sedikit gelagapan. Rili kemudian menggerakkan kakinya dan mengangkat kepala Rival dari pangkuannya.
Rival pun mengangkat kepalanya dan mendudukkan tubuhnya dihadapan Rili.
"Kamu kenapa dek? kenapa wajahmu pucat?" tanya Rival dengan memperhatikan wajah istrinya itu dan melap kening Rili yang mengeluarkan embun-embun kecil.
Rili diam saja, entah kenapa Dia jadi berani menatap Rival dengan seksama. Sedangkan Rival menatap wajah istrinya itu dengan penuh kekhawatiran. Dia sedikit panik melihat istrinya yang pucat dan keringat dingin.
"A..aa.ku haus bang!" ucap Rili gugup. Menatap mata Rival membuatnya sedikit grogi.
Entah kenapa setelah setelah menjadi istri Rival, Rili seperti seekor kerbau yang dicucuk hidungnya. Dia tidak bisa menolak setiap perkataan dan perbuatan Rival kepadanya.
Padahal dulu sikap Rili itu cuek dan jutek terhadap pria yang nampak mengejar-ngejarnya, apalagi pria itu tidak disukainya. Dia paling tidak bisa manis dibibir kepada pria.
"Iya tunggu sebentar ya, Abang beli minuman dulu." Ucap Rival tersenyum sambil mengelus rambut Rili.
Setelah Rival pergi mencari minuman. Rili merilekskan tubuhnya, kemudian menarik napas sedalam-dalamnya dan kemudian menghembuskannya. Dia melakukannya berulang-ulang Samapi Dia merasa tubuhnya tenang.
Rival datang membawa minuman yang mengandung cairan ion dan sebungkus roti.
"Ini minumlah dek!" ucap Rival dan menyodorkan minuman botol tersebut dan langsung disambar Rili kemudian meneguknya hingga habis tidak tersisa.
Rival pun heran melihat cara minum istrinya itu.
"Haus banget ya dek?"
"Iya bang! tapi, sebenarnya Aku pingin teh manis panas." Ucap Rili dengan nada lemas dengan menatap ke arah Suaminya kemudian meletakkan botol minuman yang telah dihabiskannya dilantai pondok.
"Di tempat kita ini tidak ada jual teh manis panas dek, adanya minuman botol dan kaleng. Kita pindah ke sana saja ya? disana sepertinya ada tempat makan." Ucap Rival sambil menunjuk tempat persinggahan di sekitar danau yang seperti Rumah Makan.
"Gak usah bang, kita pulang aja ya?" ucap Rili dan kemudian merapikan rambutnya dengan mengikatnya.
"Iya kita pulang, tapi adek minum teh manis dulu. Tadi katanya mau minum teh manis panas."
"Gak usah lagi bang, kita pulang aja secepatnya!" ucap Rili.
"Baiklah dek, sepertinya adek masuk angin ini. Apa kepalanya sakit dek?" ucap Rival sambil memegangi kepala istrinya.
Rili Refleks menepis tangan suaminya.
"Maaf bang! ti..daak se..engaja." Ucap Rili dengan nada sedikit takut. Dia takut suaminya tersinggung dengan sikapnya yang menepis tangan Rival.
"Iya, tidak apa-apa. Nanti di rumah Abang pijitin ya? biar anginnya tidak bertahan di tubuh. Kamu masuk angin ini dek." Ucap Rival dengan kembali melap keringat di kening Rili.
__ADS_1
"Ayo kita pulang!" ucap Rival dan meraih tangan kanan istrinya. Rilipun akhirnya mengulurkan tangannya.
Rival menarik pelan tangan kanan istrinya, sehingga Rili dapat berdiri.
Rili benar-benar syok mendengar permintaan suaminya yang menuntut malam pertama itu, sehingga tubuh Rili terkejut yang membuat dirinya menjadi lemas.
"Rili nampak sempoyongan berjalan menuju motor mereka yang berada dipinggir jalan yang tidak jauh dari pondok.
Rival tidak tega melihat Rili yang berjalan sempoyongan saat dipapahnya. Sehingga Rival langsung menggendong Rili ala Bridal style.
Rili ingin berontak saat digendong suaminya itu, Dia malu dilihatin orang dan Dia juga masih canggung terhadap Rival. Tapi, Dia benar-benar tidak punya tenaga sekarang. Dia bahkan ingin muntah.
Rival langsung mendudukkan Rili di atas motornya. Kemudian Dia pun menaiki motor tersebut.
Rival menekan starter motornya.
"Dek, pegang pinggang Abang!" ucap Rival dan memutar lehernya kesamping untuk menoleh sedikit istrinya yang lemas itu.
Rili diam saja, Dia bener-bener tidak sanggup dan berani untuk melakukan itu dengan masih sadar terhadap suaminya. Rasanya aneh.
"Dek.... ayo peluk Abang, kamu harus berpegangan sama Abang. Nanti kamu jatuh. Kamu lagi tidak sehat." Ucap Rival dengan lembut, tapi dengan nada tegas. Sehingga Rilipun mengiyakan permintaan Suaminya.
Dengan tubuh yang lemas, Rili memeluk tubuh Rival dengan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Rival.
Dug...dug....dug....seeerrrrrr.....! Darah Rili berdesir hebat merasakan tubuhnya menempel di punggung suaminya yang masih dibatasi pakaian mereka.
Rili juga menyandarkan kepalanya dipunggung Rival yang bidang dengan otot yang keras itu. Sungguh punggung Rival sangat hangat. Ditambah aroma parfum Rival juga sangat disukai Rili yang membuat Dia menjadi sedikit rileks.
Saat motor Rival membelah jalanan yang sepi menuju kota di sore hari hampir menjelang magrib. Senyuman tak pernah lepas dari bibirnya sepanjang jalan. Dia merasa moment ini sangat romantis.
Refleks tangan kiri Rival lepas dari stang motornya dan menyentuh tangan Rili yang memeluknya. Rival mengelus-elus tangan Rili, Dia seolah ingin memberi kehangatan kepada istrinya itu. Sedangkan tangan kanan Rival yang mengontrol laju motornya.
"Dek, apa keadaanmu sudah mendingan? waktu magrib sudah tiba. Kalau kamu sudah sedikit baikan. Apa Adek mau kita sholat di mesjid yang dikota? kalau pulang ke rumah, waktu sholat magrib pasti sudah habis." Ucap Rival masih terus mengelus-elus tangan Rili dan memandangi wajah Rili dari kaca spion.
"Iya bang!" jawab Rili singkat. Dia sekarang mati kutu dihadapan Rival.
"Baiklah sayang!" ucap Rival tersenyum yang bisa dilihat Rili dari kaca spion.
"Uhuk....uhuk....uhuk...!" Rili terbatuk-batuk mendengar kata sayang yang keluar dari mulut suaminya itu.
"Ini cowok sepertinya mantan playboy. Sikapnya ituloh sedikitpun tidak ada jaim-jaimnya." Gumam Rili dalam hati. Dia pun melepas pelukannya dari Rival.
"Loh sayang, kenapa dilepas. Nanti adek jatuh loh!"
"Aku udah baikan!" jawab Rili ketus. Dia sebenarnya masih lemas. Tapi sepertinya suaminya itu sedang mengambil kesempatan dalam kesempitan.
"Alhamdulillah... Syukurlah istriku cepat banget sembuhnya!" ucap Rival dengan tersenyum yang bisa dilihat Rili dari kaca spion. Tapi ekspresi Rili saat ini seperti mau muntah saja. Dia eneg melihat sikap Rival yang tidak ada jaimnya itu.
Kini Rival dan Rili sedang melaksanakan sholat magrib di Mesjid Megah dikota Rival tinggal.
Setelah selesai sholat, Rili ingin pulang saja. Sedangkan Rival sebenarnya masih ingin mengajak Rili makan malam di Rumah makan atau cafe di kota itu. Tapi, Rili menolak. Dia ingin cepat sampai ke rumah.
Hanya membutuhkan waktu 25 menit dari Kota G. Kini mereka sudah sampai di rumah Rival.
Rili turun dan langsung masuk ke dalam Rumah. Sedangkan Rival menyusul Rili dari belakang.
Rumah nampak sepi. Rili langsung masuk ke kamarnya. Entah kenapa punggungnya rasanya pegal sekali. Dia ingin meluruskan punggungnya dengan berbaring di tempat tidur.
__ADS_1
Sedangkan Rival berjalan menuju dapur. Dia ingin membuatkan Teh manis panas buat istrinya.
Ceklek....
Rival nampak masuk ke dalam kamar dan mendapati Rili terbaring dalam keadaan terlentang.
Mengetahui Suaminya masuk,. Rili langsung duduk di atas tempat tidur. Sedangkan Rival duduk dibibir tempat tidur.
"Abang udah buatin Teh manisnya." Ucap Rival yang nampak memegang teh manis yang gelasnya diletakkan di atas tapak kecil warna putih dari kaca.
"Aaacckkk.....!" ucap Rival berniat menyuapi Rili dengan menggunakan sendok.
"Tidak usah disuapi!" ucap Rili dan menepis sendok yang berisi teh manis yang berada di tangan Rival.
"Aku lebih suka meminumnya langsung dari gelas." Ucap Rili dan mengambil teh manis dalam gelas tersebut dari tangan suaminya.
"Tapi masih panas dek!" ucap Rival.
"Iya, Aku sukanya yang panas bang, Aku minumnya sedikit-sedikit, tapi tidak suka pakai sendok." Ucap Rili dengan sedikit kesal. Dia juga nampak menatap Rival dengan mulut sedikit di manyunkan.
Rival dibuat gemas dengan sikap Rili, yang menurutnya istrinya itu sudah sedikit welcome terhadap dirinya.
Sepertinya malam pertamanya akan sukses malam ini.
"Abang ke dapur dulu, siapin makan malam." Ucap Rival dan beranjak dari kamar mereka.
Rilipun nampak menyusul suaminya dengan membawa teh manis panas tersebut.
Rili meletakkan Teh manisnya di atas meja makan. Dia hendak membantu suaminya menyiapkan makan malam, tapi Rival menolaknya. Rival malah mendudukkan Rili di kursi kayu meja makan.
"Ababg aja ya? Adek kan belum fit.!" ucap Rival yang kini sudah selesai menyiapkan semuanya.
"Apa masih ingin Abang suapi?" tanya Rival menatap Rili gemes yang ada disebelah kirinya.
"Tidak usah!" jawab Rili ketus dan menghindari pandangan suaminya yang tidak punya rasa malu itu. Menurut Rili.
"Rumah koq sepi? Ayah dan ibu kemana bang?" Tanya Rili dan mengaduk-aduk nasinya dengan gulai asam padeh yang dimasaknya tadi siang.
"Selama satu Minggu ini, setalah habis sholat magrib hanya kita berdua penghuni Rumah ini." Ucap Rival dan memandangi wajah Rili dengan mata dikedipkan.
"Uhukkkk...uhukk...uhuukk!"
Rili tersedak mendengar ucapan dan tingkah Suaminya yang mengedipkan mata itu.
"Minum dulu sayang! makannya pelan-pelan saja.!" ucap Rival heboh Dia nampak menyodorkan air di dalam gelas ke mulut Rili dan Rili meneguknya sedangkan tangan kirinya menepuk-nepuk pelan punggung Rili.
"Apa maksud ucapan apa tadi?" tanya Rili dengan begitu penasaran.
"Ucapan Abang yang mana?" tanya Rival menggoda Rili.
"Iiii...tu... Yang Abang bilang selama satu Minggu ini, hanya kita berdua disini." ucap Rili gugup dan tidak berani menatap Ke arah Rival.
"Iya, selama satu Minggu ini. Setelah habis sholat magrib. Hanya kita berdua di rumah ini. Ayah dan ibu tidur di rumah saudara kita disekitar sini. Dan setelah dapat waktu shubuh Ayah dan ibu datang lagi ke rumah kita ini." Ucap Rival lembut sambil menatap mata istrinya yang nampak terkejut itu.
Ya begitulah kebiasaan orang dikampung Rival. Setiap ada pengantin baru. Maka penghuni Rumah itu saat malam akan bertandang tidur ke rumah saudara. Yang tinggal hanyalah kedua pengantin baru yang akan menghabiskan waktu dengan leluasa menghabiskan malam pertama sampai malam ketujuh.
Bersambung....
__ADS_1
Mohon beri like, coment, vote, rate bintang 5 dan jadikan novel ini sebagai favorit.
Terima kasih