Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Dia memanggil namaku


__ADS_3

"Apa Dia datang mencariku? benar kamu sudah ketemu dengannya? Kalian bicara apa saja? Apa Abang Yasir menanyakan banyak hal kepadamu tentang diriku?" Ucap Rili dengan beruntun.


Perasaannya sangat kacau menunggu jawaban dari Windi. Jantungnya berdetak sangat cepat dan keras. DuG. DuG...Dug... Dia yang tadinya berbaring di tempat tidur, sekarang mengubah posisinya menjadi duduk bersila, dimana tangan kanannya menggenggam ponselnya yang menempel dikupingnya dan tangan kirinya tak henti-hentinya meraba-raba wajahnya yang lagi tegang menunggu jawaban Windi.


Windi gelagapan mendengar pertanyaan Rili. Lama Dia terdiam. Otaknya lagi berpikir keras mencari jawaban untuk Rili karena Dia tadi keceplosan.


"Windi, koq diam saja? kenapa pertanyaanku tidak dijawab?" tanya Rili dengan tidak sabaran.


"Ini mau dijawab!" ujar Windi.


"Kamu itu sudah menikah,"


"Aku tahu aku sudah menikah, kamu itu tidak usah mengingatkannya." ucap Rili ketus.


"Aduuhh.... ini Rili kenapa jadi susah dibilangin ya? belum juga aku selesai ngomong udah di cut." gumam Rili dalam hati.


"Kamu masih ingin jawaban dariku?" tanya Windi


"Iya, buruan ceritain." Ucap Rili masih dengan perasaan was-wasnya.


"Makanya dengarkan Aku baik-baik. Jangan main potong saat Aku ngomong ya?" ucap Windi tegas dari sambungan telpon. Dia sekarang sedang duduk di kursi meja kerjanya setelah pulang dari kantin makan siang.


Windi nampak berfikir sambil memainkan pulpuen ditangannya.


"Kamu sudah menjadi istri orang, jadi tidak baik lagi buatmu untuk mengetahui tentang Abang Yasir, semakin kamu ingin tahu, maka hatimu akan semakin sakit. Ingat kamu sudah bersuami." Ucap Windi, mencoba memberi pengertian pada sahabat itu.


"Aku hanya ingin tahu, benarkah kamu bertemu dengannya?" ucap Rili dengan suara pelan dan tersedu-sedu. Matanya berkaca-kaca. Tubuhnya rasanya menjadi panas karena cemas.


Windi yang mendengar suara tangisan Rili yang sedikit ditahannya itu, akhirnya mencoba menenangkan Rili.


"Kamu tenang ya, sekarang coba tarik napas.... dan hembuskan!" ucap Windi.


"Lakukan sampai kamu merasa rileks. Setelah kamu Rileks Aku akan menceritakan semuanya."


Rili mengikuti instruksi sahabatnya itu. Dia patuh, karena diimingi info tentang Yasir.


"Tidak mungkin ku ceritakan apa yang terjadi kepadanya melalui telpon. Dia pasti akan semakin penasaran. Lagian mana ada lagi gunanya Dia mengetahui tentang Abang Yasir. Itu sama saja akan mengancam pernikahannya. Sehingga Dia tidak akan bahagia." Gumam Windi Dalam hati.


"Kenapa diam?" tanya Rili yang sudah nampak tenang. Jelas sekali dari suaranya yang tidak terdengar menangis lagi.


"Untuk kebahagiaanmu, jangan pikirkan pria lain. Kamu sudah bersuami." Ucap Windi. Lagi-lagi Dia tidak memberikan jawaban atas pertanyaan Rili. Sehingga membuat Rili jadi kesal.


"Aku tahu itu, Aku sudah berusaha melupakannya. Makanya Aku mau menikah, Tapi mulai dari kemarin sore. Abang Yasir memenuhi hati dan pikiranku." Ucap Rili kembali menangis lagi.

__ADS_1


"Rili.... Rili... Rili....! Aku mendengar Dia memanggil-manggil namaku. Rasanya sangat menyakitkan. Jantung ini rasanya sedang ditusuk-tusuk oleh peniti. Sakit Windi!" Rili nampak histeris mengeluarkan unek-uneknya. Tangannya dikepal dan memukul-mukul pahanya.


Duarr..... Pernyataan sahabatnya itu membuat Windi sangat terkejut. Dia pun nampak tidak tenang lagi melakukan panggilan telepon ini. Dia mengambil botol yang berisi air mineral di atas mejanya, kemudian meneguknya.


"Windi, dipanggil Pak Kabid ke ruangannya." Ucap salah satu pegawai teman Dia bekerja.


Selamat.... selamat.... Alasan ini akan kubuat untuk lari dari pertanyaan Rili. Kenapa juga tadi Aku keceplosan sedikit, yang membuat Dia berpikir bahwa Aku sudah bertemu dengan Abang Yasir.


"Rili, nanti sore ku telpon balik ya, Aku dipanggil menghadap atasan nih."


"Tunggu...tunggu... Windi!" ucap Rili tetapi ternyata telpon sudah terputus.


Rili mencoba menelpon Windi kembali, tetapi no Windi sudah tidak aktif lagi.


Rili melempar pelan ponselnya diatas tempat tidur. Dia pun akhirnya menangis dalam keadaan tengkurap yang kepalanya diletakkan di atas bantal.


"Aku sudah pergi jauh agar mampu membuat perasaan yang tertata untukmu hilang, menghilangkanmu dari ingatanku.


Namun, sejauh apapun langkah ini. Sejauh apapun tempat yang akan kusinggahi.


Jika senyum indahmu tetap mengikuti.


Bagaimana aku bisa melupakan mu!" Ucap Rili histeris. Dia nampak mengepalka tangan kanannya dan memukul-mukul kasur tempat tidurnya.


Ya Allah.. Bantu Aku keluar dari masalah ini. Beri Aku petunjuk. Bantu Aku melupakan Abang Yasir." Rili masih terus menangis sambil mencurahkan isi hatinya kepada Sang Pencipta.


Aneh memang, begitulah cinta deritanya tiada berakhir. Kata Cupatkai.


Lama Rili diam dalam keadaan berbaring. Air mata tetap saja keluar dari mata indahnya. Walau Dia sudah tidak ada suara tangisannya.


Te..tot.... te....tot..... te...tot.....


"Daging ayam... Ikan.... sayur.... Mari belanja Bu ibu.!"


Terdengar suara Abang Pedagang Along-along menjajakan dagangannya.


Rili dengan cepat bangkit dari tidurnya. Dia mengambil tisu basah dalam tas selempang nya yang tergantung. Dia melap wajahnya yang sudah kusut dan kusam karena menangis. Matanya juga nampak bengkak dan sedikit merah. Dia mendempol wajahnya sedikit dengan bedak dan mengoles liptin di bibirnya, agar nampak segar.


Dia keluar dari kamar berjalan menuju pintu keluar. Dia menuruni tangga Rumah. Ya, Rumah Rival modelnya Rumah panggung.


Dia berjalan menghampiri pedagang along-along yang berhenti didepan Rumah tetangganya yang jaraknya tidak jauh dari Rumah mertuanya.


Ternyata sudah ada dua Ibu-ibu sedang belanja di pedagang along-along.

__ADS_1


Rili memberikan senyuman manisnya kepada Ibu-ibu dan pedagang along-along tersebut.


"Bu," ucap Rili beramah tamah.


Rili nampak melihat-lihat dagangan tukang along-along di dalam keranjang.


"Aduh istri Rival ternyata cantik banget ya?" Ucap Ibu yang bernama Siti. Matanya tak lepas dari sosok Rili yang nampak melihat isi dagangan pedagang along-along tersebut.


Rili memutar kepalanya menoleh ke arah yang memujinya, Rili kembali memberikan senyuman kepada kedua Ibu-ibu yang berada di depannya, ya mereka sekarang berhadap-hadapan.


"Ibu juga cantik." Ucap Rili.


"Bang, Aku beli Ayam 1kg dan ikan tongkol 1/2 kg. Mie basah 1 kg, Sawi, toge, Daun SOP prey juga ya bang.!" Ucap Rili dengan ramahnya.


Pedagang along-along membungkus pesanan Rili.


"Eehhh lupa, kangkung satu ikat bang,"


"Dek, kenapa beli kangkung lagi, itu banyak kangkung nak Rival di kebunnya. Adik bisa petiknya kan dekat di belakang Rumah." Ucap Bu Ida. Sambil memilih-milih ikan yang akan dibelinya.


"Jangan dek, gak usah kamu petik kangkung nak Rival, nanti kena sembur." Ucap Ibu Siti. Dia nampak menyenggol Ibu Ida yang disampingnya.


"Apaan sih?" ucap Ibu Ida ketus kepada Ibu Siti. Dia merasa terganggu dengan senggelon Ibu Siti.


"Kamu mau, istri Rival kena marah oleh mertuanyaya. Kenapa kamu ajari istri Rival untuk memanen kangkung itu. Kan selalu Ibu Rival yang memanennya dan menjualnya." Ucap Ibu Siti.


Rili hanya tersenyum saja, melihat kedua Ibu-ibu yang nampak mengkhawatirkannya.


"Iya Bu, Saya mengerti koq maksud Ibu-ibu. Terima kasih banyak ya Bu. Sepertinya Ibu-ibu sangat baik." Ucap Rili dan membayar belanjaannya.


"Kamu yang sabar ya dek!" Ucap Ibu Ida.


"Iya Bu, kalau begitu saya duluan ya Bu?" ucap Rili dan kemudian pergi meninggalkan pedagang along-along dan Ibu Siti dan Ibu Ida


Rili langsung membersihkan ayam dan ikan yang dibelinya. Dia menggoreng ayam dan kemudian meracik bumbu semur sembari menunggu ayam digoreng semuanya matang.


Bersambung..


Mohon beri like, coment positif, vote, rate bintang 5 dan jadikan novel ini sebagai favorit.


Author akan sangat senang dan semangat menulis jika dapat Vote.


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2