
Suara ketukan pintu ruang kerja Rival terdengar, Dia pun mempersilahkan tamunya untuk masuk. Dia bangkit dari tempat duduknya, berniat akan menyambut tamunya, walau Dia merasa sedikit lelah.
Satu menit pun berlalu sang tamu tak kunjung membuka pintu ruang kerja Rival, Dia pun heran dan penasaran. Kenapa tamunya tidak kunjung masuk ke ruangannya. Akhirnya Dia pun berinisiatif membuka pintu tersebut. Saat pintu berhasil dibukanya, nampaklah pemandangan indah dan menggoda dihadapannya. Seorang wanita sexy sedang membelakanginya.
Rival memperhatikan dengan detail dan seksama wanita yang masih membelakanginya itu. Mulai dari bawah, wanita itu memaki sepatu berwarna maron dengan ketinggian hels sekitar 7cm. Betis indah nan putih terekspos sempurna, karena wanita itu mengenakan rok span warna maron diatas lutut. Dengan kemeja lengan pendek yang ngepas di badan berwarna hitam dengan motif garis putih kecil.
Rambut hitam bercampur warna kepirangan tergerai sedikit gelombang dibagian ujung rambutnya. Sungguh Rival tidak mengenali tamunya ini.
"Ya, Apa anda mencari saya?" tanya Rival dengan berusaha melihat wajah wanita yang masih membelakanginya itu. Wanita itu menggoyang pinggulnya dan kemudian berbalik dengan centilnya, sehingga Rival dibuat terheran-heran dan sedikit ilfeel melihat tamunya ini. Pasalnya Rival tidak terlalu suka melihat wanita yang penampilannya glaumor dan pakaiannya kurang bahan.
Wanita yang memakai kaca mata hitam besar itu, langsung menjatuhkan tubuhnya di dada Rival yang bidang.
"Aauuwww... Maaf, faktor kesengajaan." Ucap wanita tersebut, Dia pun melepas tangannya dari Rival, dan nyelonong masuk ke ruangan Rival. Sedangkan Rival masih diam membeku di ambang pintu. Pasalnya Dia sedikit mengenali wajah dan suara tamu wanitanya ini. Tapi, Dia tidak tahu, dimana Dia pernah melihat wanita ini.
Rival pun akhirnya menyusul wanita itu masuk ke ruangannya. Dia melihat wanita itu duduk di kursi kerjanya dengan membusungkan dada, dimana kancing kemejanya terbuka sampai belahan dada. Rival sampai kesusahan melihat belahan dada itu.
Wanita itu memperhatikan Rival yang masih berdiri di depan meja kerjanya, dengan kaca mata hitamnya.
"Anda siapa, berani sekali duduk di kursi saya." Ucap Rival tegas dengan nada tidak suka. Wanita itu tertawa dalam hati melihat kemarahan Rival. Dia bangkit dari duduknya berjalan dengan lemah gemulainya ke arah Rival.
__ADS_1
Wanita itu meraih kedua bahu Rival, dan menuntun Rival untuk duduk di kursinya. Rival pun terduduk dengan ekspresi bodohnya. Dia ketakutan melihat wanita gila yang salah masuk ruangannya ini.
Ingin Rival memaki dan mengusirnya, tapi Dia merasa seolah mengenali wajah ini. Tapi siapa?
Setelah Rival terduduk di kursinya. Wanita itu pun mendudukkan bokongnya di paha Rival dan langsung melingkarkan kedua tangannya di leher Rival dan dengan cepat mencium bibir Rival.
Rival terkejut, dengan sekuat tenaga Dia mendorong wanita itu, hingga wanita itu jatuh terduduk di lantai. Wanita itu meringis kesakitan Dia mengaduh sambil mengomel, kemudian melepas kaca matanya. Wanita itu memegangi bokongnya yang sakit, karena mendarat darurat di lantai.
Betapa terkejutnya Rival, setelah menyadari wanita sexy itu adalah Mely. Istrinya sendiri. Saking terkejutnya Rival malah dim mematung di tempat duduknya, yang membuat Mely semakin geram. Dia melempar kaca matanya ke arah Rival. Rival pun menangkap kaca mata itu dengan hebohnya.
Mely menangis masih dalam keadaan terduduk di lantai, rok span sudah tidak bisa dikondisikan. Bahkan CD yang dikenakan istrinya itu nampak jelas oleh Rival. Karena Mely terduduk dengan posisi paha terbuka lebar.
Menyadari bahwa itu adalah istrinya. Rival dengan cepat membantu Mely untuk duduk. Dia bahkan menggendong Mely, karena Mely merasa kesusahan berdiri. Yang alasannya bokongnya sangat sakit.
Rival menggendong Mely ke sofa. Dia mendudukkan wanita itu dengan lembut. Dia lun duduk disebelah Mely.
Mely berakting, mencari perhatian.
"Sakit sekali, kenapa jadi laki-laki kasar banget. Tulang ekor ku seperti nya sudah patah. Aku sudah tidak bisa duduk lagi. Sakittt... !" rengeknya sambil melap air mata buayanya.
__ADS_1
Rival tidak tega melihat Mely kesakitan. "Mana yang sakit Dek?" Rival mencoba memegangi pinggang dan bokong Mely. Tapi, Mely menepis tangan Rival. Dia kesal sekali dengan Rival. Dia ingin memberi kejutan kepada Rival. Tapi, Rival malah membuatnya kesakitan. Mana perutnya masih kram. Karena menstruasi.
"Abang minta maaf ya?! Adek sih, ada-ada saja tingkahnya. Abang mana kenal, kalau Adek berpenampilan begini. Mana pakai kaca mata hitam dan besar lagi. Sampai-sampai hidungnya hampir tertutup." Ucap Rival, Dia malas berdebat dengan Mely. Dia masih capek, seharian ini banyak mikir.
Dia pun berniat bangkit dari sofa. Dia akan berwudhu dan akan melaksanakan sholat Dzuhur. Tapi dengan cepat Mely menarik lengan Rival. Sehingga Rival terjatuh di atas tubuhnya. Rival langsung bertopang ke badan sofa. Dia tidak mau tubuhnya menimpa Mely, sehingga Mely merasakan kesakitan lagi.
Mely menatap lekat wajah Rival, dadanya bergemuruh kalau sudah sedekat ini dengan suaminya itu. Dia mengelus pelan pipi Rival dan langsung merangkum wajah Rival, bibirnya pun langsung melahap bibir Rival, yang membuat Rival awalnya terkejut, tapi akhirnya Dia juga membalas permainan bibir istrinya itu.
Mely yang sedang menikmati sentuhan suaminya itu, dibuat bingung karena Rival tiba-tiba menghentikan kegiatan yang membuat hilang akal itu
"Kenapa Bang?" tanya Mely dengan suara sedikit serak. Karena Dia juga menahan gairah.
"Adek ini suka ya lihat Abang tersiksa. Sudah tahu masih palang merah. Senang kamu ya godain Abang." Ucap Rival, kini Dia duduk di sebelah Mely yang berbaring di atas sofa. Dia mengusap wajahnya sampai kebelakang kepalanya. Rival merasa pusing.
"Maaf, habis Aku ingin buat Abang senang. Kata teman-teman perkumpulan Mama, pria akan sangat senang bila dipuaskan." Ucap Mely, Dia masih berbaring di sofa dengan kemeja terbuka. Kakinya kini sudah pindah ke atas pahanya Rival.
"Kelakuan Adek ini bikin Abang pusing dan frustasi, bukannya puas. Apa Adek tidak tahu, bahwa Abang harus pelepasan biar rileks. Ini dari semalam Abang sudah coba menahan, ditambah lagi hari ini. Aduuuhh... pusing..." Ucap Rival. Dia menggoyangkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.
Mely tersenyum melihat suaminya itu. "Tenang sayang, nanti Adek bantuin pelepasannya." Ucap Mely tertawa genit. Rival pun melototkan matanya. Otaknya langsung traveling membayangkannya.
__ADS_1
TBC.