
"Dek,.. Mely....!" Mely tidak menggubris Rival yang memanggil namanya. Dia mempercepat langkahnya menuju kamar, masih menangis tersedu-sedu. Bisa-bisanya suaminya itu mengatakan kepada Adik-adik nya kalau Dia tidak dianggap sebagai istri.
Mely juga tahu itu, bahwa suaminya itu belum mencintainya. Dia masih memikirkan mantan istrinya.
"Dek....!" suara Rival semakin keras. Ibu mereka yang sedang ada di dapur duduk di kursi meja makan bersama Ayah mereka. Dibuat tercengang, Mely berlari sambil menangis.
Rival mempercepat langkahnya mengabaikan orang tuanya yang menanyakan apa yang terjadi.
Sebelum Mely berhasil menutup pintu kamar, Rival sudah menahannya dengan kakinya. Rival pun mendorong pintu itu dan menguncinya. Sedangkan Mely, mendudukkan bokongnya dipinggir ranjang mereka, dengan membuang muka.
"Adek kenapa menangis dan berlari tadi?" tanya Rival penuh kebingungan dengan sikap istrinya itu yang tiba-tiba menangis.
Mely masih diam, sambil memijat-mijat kening dan pelipisnya. Dia merasa sedang tidak ingin bicara, karena kepalanya sakit dibagian atas sampai ke ubun-ubun nya. Dia juga merasa tidak bertenaga dan badannya sakit semua. Mungkin karena melewatkan makan siang, sehingga Dia lemas dan jadi masuk angin.
"Adek sakit?" tanya Rival. Dia pun mendudukkan bokongnya di sebelah istrinya itu. Mengelus punggung Mely yang membelakangi nya.
"Dek,"
"Apa..? iya, Aku sakit. Sakit hati. Kenapa sih Abang itu tidak bisa menjaga perasaan ku. Aku tahu Abang itu tidak mencintai ku. Selalu memikirkan mantan Abang yang baik itu. Teganya Abang mengatakan kepada Adik-adiknya Abang, tidak menganggap ku sebagai istri." Ucap Mely dengan terisak, menggerakkan bahunya menolak sentuhan suaminya itu.
"Apa maksud Adek?" kini Rival mengubah posisinya, sehingga berada dihadapan istrinya itu, tapi dengan cepat Mely memalingkan muka nya. Sungguh Dia sangat kesal kepada suaminya itu.
"Apa masih kurang jelas ucapanku tadi. Aku tahu, Abang tidak mencintai ku. Tapi tidak seharusnya Abang itu membuat pengakuan kepada saudara-saudara Abang bahwa Aku tidak Abang anggap sebagai istri. Pantes saja, Abang tadi tega memintaku memanjat pohon kelapa. Apa Abang tidak berfikir panjang. Jikalau Aku memanjat pohon kelapa itu dan Aku terjatuh." Ucap Mely dengan nada keras, sehingga suara dan tangisan nya terdengar ke dapur.
Ayah Rival yang sedang duduk di kursi meja makan yang dekat dengan dinding kamar yang ditempati oleh Rival dan Mely tidak tahan mendengar pertengkaran itu. Akhirnya Dia memilih, meninggalkan dapur dan masuk ke kamarnya. Sedangkan Ibunya tetap duduk menguping percakapan pasangan suami istri itu.
"Dek, kenapa Adek bicara seperti itu. Kenapa Masalah kita dari kita dari dulu itu-itu saja. Jangan melihat kebelakang. Kita tidak usah membahas masa lalu lagi." Ucap Rival mulai frustasi. Dia sangat malas untuk membahas hidupnya yang kelam.
__ADS_1
"Aku juga tidak mau membahasnya, bukannya Abang yang membahas nya dengan saudara-saudara Abang. Berapa kali Aku harus mengelus dada, mencoba untuk sabar dan bisa menerima kenyataan bahwa di hati Abang itu masih bersemayam namanya bukan namaku. Tapi, tadi sikap Abang sungguh kejam, membuat pengakuan bahwa Abang tidak menganggap ku sebagai istri. Tapi, Abang juga mau meniduri ku. Dan saat meniduri ku, Abang tanpa sadar sering menyebut namanya. Abang pikir tidak sakit yang ku rasakan." Ucapkan Mely menangis tersedu-sedu, sambil menahan rasa sakit yang amat di kepala bagian atasnya.
Rival tercekat mendengar ucapan istrinya itu. Dia memang masih ada rasa kepada Rili. Dia bukannya tidak mau melupakannya. Tapi, Dia tidak pernah bisa. Tapi, bukan berarti Dia tidak menganggap Mely istrinya.
"Maafkan Abang, tapi sepertinya tadi Adek salah dengar." Rival meraih Mely dalam pelukannya, walau Mely enggan dipeluk oleh suaminya itu. Tapi, Dia tidak bisa menolak Dekapan Suami nya itu. Karena Dia merasa lemah dan tidak bertenaga.
Mely diam dalam dekapan suaminya itu. "Tiga bulan yang lalu juga pertengkaran kita karena ini. Abang juga tersiksa Dek. Jikalau Abang katakan perasaan Abang sekarang, Adek tidak akan bisa memahaminya dan pasti Adek akan salah paham lagi.
"Iya jujur, Abang tidak bisa melupakannya. Tapi, bukan berarti Abang memainkan perasaan Adek. Abang serius dengan hubungan kita. Mau kah Adek mendengar penjelasan Abang, tanpa menyelanya dulu. Biar Abang jelaskan semua. Abang harap Adek bijak dan dewasa. Abang tidak mau pernikahan Abang hancur untuk kedua kalinya." Ucap Rival mengelus lembut punggung istrinya dalam dekapannya.
Mely masih menangis sesenggukan, menunggu penjelasan Suaminya itu.
"Abang memang mencintainya, Dia wanita yang baik. Dia mau menikah dengan Abang yang miskin ini. Bahkan Ibu Abang menganiaya nya. Tapi, Dia tetap sabar. Sifat nya yang baik itu, membuat Abang sangat merasa bersalah. Karena Dia menderita setelah menikah dengan Abang. Perasaan bersalah yang dalam itu. Membuat Abang susah melupakan nya.
"Abang ini jahat kepadanya, bahkan Abang tidak memberinya nafkah lahir. Abang hanya sekali memberinya uang. Tapi, itupun diberikannya semua kepada Ibu. Masalah yang Abang alami kompleks saat itu. Hingga Abang meninggalkannya, merantau ke kota M. Dan di Bus kita bertemu."
"Masalah kompleks? setahuku dari Ayah, masalahanya hanya satu. Mantan istrinya Abang tidak mencintai Abang dan mencintai pacarnya yang bernama Yasir." Ucap Mely, mengurai pelukan Rival, karena pelukan Rival sangat erat. Mely merasa susah bernapas.
Padahal Rili tidak menikah dengan Yasir.😭
"Jadi perasaan Abang kepada Adek itu sebenarnya bagaimana?" tanya Mely lirih, Dia merasa semakin tidak berdaya.
"Adek istri Abang, jelas Abang sayang." Ucapnya, mulai bertanya-bertanya dalam hati. Melihat kondisi Mely yang wajahnya pucat, seperti tidak dialiri darah dan suhu tubuhnya dingin sekali.
"Hanya sa..yangg?" Mely melongos.
"Sayang dan cinta." Ucap Rival cepat, Dia tidak mau Mely marah-marah lagi.
__ADS_1
"Walau Abang berkata bohong, Adek akan coba menerimanya." Ucap Mely dan langsung pingsan, tubuhnya yang lemah hampir terjatuh di atas ranjang. Tapi Rival dengan cepat menahannya. Sehingga Mely terkulai lemas didekatkan suaminya itu.
"Dek, Dek... Sayang... Bangun....!" ucap Rival dengan nada keras. Mencoba menyadarkan istrinya yang pingsan dipelukannya. Tapi, Mely tidak kunjung sadar juga. Rival membaringkan tubuh istrinya itu. Mencari minyak kayu putih, di tas make up nya Mely.
Dengan panik dan khawatirnya, Rival berusaha menyadarkan istrinya itu. Dia mendekatkan minyak kayu putih itu ke lubang hidungnya Mely. Memijat-mijat jari jemari Mely yang sudah dingin.
"Dek,. Dek... Bangun." Rival menepuk pelan pipi Mely yang pucat.
Mendengar suara Rival yang panik di dalam kamar. Ibunya Rival memanggil anak-anaknya yang masih duduk bersantai di balai-balai belakang rumah mereka.
Firman dan Sekar, sedang merancang kegiatan mereka setelah panen. Mereka akan jalan-jalan dengan mobil yang diberikan oleh Pak Ali.
"Apa Ma?" teriak Sekar, menyahuti panggilan Ibunya.
"Cepat kesini. Kakak ipar kalian pingsan." Mendengar teriakan Ibunya. Firman dan Sekar saling pandang. "Tadikan kakak ipar menangis? apa kakak ipar sakit?" ucap Sekar.
Mereka pun turun dari balai-balai dengan tergopoh-gopoh, berlari menuju kamarnya Rival. Tanpa permisi mereka membuka pintu kamar itu.
"Kak Mely, kenapa Bang?" tanya Sekar penuh khawatir. Dia naik ke atas ranjang. Lalu memeriksa suhu tubuh Kakak iparnya itu, dengan menempelkan punggung tangannya di kening Mely.
"Suhu tubuh kak ipar, dingin banget." Ucap Sekar, Rival yang berada di sisi kanan istrinya itu, sudah begitu khawatirnya.
"Panggilkan Dokter..!" ucap Rival kepada Adiknya Firman.
"Ini kampung Bang. Dokter biasanya tidak mau mendatangi rumah. Kita panggilkan Bidan Desa aja ya?" ucap Firman. Kalau pun ke Puskesmas, sore begini Puskesmas sudah tutup.
"Iya, cepat Dek." Jawab Rival panik dan begitu khawatirnya. Tidak biasanya Mely lemah begini.
__ADS_1
TBC
like, coment positif dan Vote 🙏❤️😍