Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 Bercocok tanam


__ADS_3

"Sayang, kita sebenarnya mau kemana nih?" tanya Rival bingung dari tadi Mely asyik memberi petunjuk jalan dan tidak kunjung sampai di tempat tujuan. Rival yang masih bingung itu masih setia memegang tangan Mely yang terpaut di pinggangnya.


"Abang ikuti saja intruksi dariku, Aku sangat ini ke tempat itu bersama dengan pria yang ku cintai. Menikmati indahnya malam penuh bintang." Ucap Mely lembut di telinga Rival yang membuat bulu Roma Rival meremang dan hatinya menghangat mendengar pernyataan cinta istrinya itu.


"Eehhmmm... Abang tidak mengira, bahwa Abang lah pria yang kamu cintai itu." Ucap Rival dengan tersenyum, yang membuat Mely ikut tersenyum melihat bayangan Rival di kaca spion.


"Pasti tempatnya romantis." Ucap Rival.


"Iya sayang." Ucap Mely, matanya kini melihat penjual kembang gula di pinggir jalan tepi Danau Toba.


"Sayang, menepi sebentar. Kita beli kembang gula ya?" Rival pun menepikan motornya tepat dihadapan penjual kembang gula. Sebenarnya Rival tidak terlalu suka dengan jenis makanan satu itu. Karena rasanya yang terlalu manis dan membuat eneg.


"Beli dua bang kembang gulanya." Ucap Mely dengan wajah sumringah.


"Iya Dek," ucap penjual kembang gula. Kini dua bungkus kembang gula sudah berada di tangan Mely. Rival pun langsung membayarkannya.


Mereka kembali melanjutkan perjalanannya dan kini mereka sudah sampai di jalan tanjakan.


"Emang kita mau ke mana ini Dek? tempatnya sepi loh." Ucap Rival was-was dan khawatir. Rival takut penjahat datang lagi menangkap mereka. Kalau itu terjadi Rival yakin tidak bisa melawan penjahat kali ini. Karena kaki Dia pun belum sembuh total.


"Kita akan ke tempat yang bisa memberi ketenangan ekstra, nama tempatnya Panatapan Sibodiala, Pemandangan spektakuler dan sangat romantis apalagi kita kesini malam hari. Seperti malam ini, kita akan duduk di atas rerumputan diterangi cahaya bulan dan ditemani kerlap-kerlip bintang di langit. Aaduuuhhh... indahnya." Ucap Mely dengan memasrahkan dagunya di atas bahu Rival.


Mely ingin mendaratkan ciuman di pipi suaminya itu. Tapi, karena Rival memakai Helm Dia jadi tidak bisa melakukannya. Sedangkan Mely memakai penutup kepala model kupluk dari bahan rajut.


Mendapat perlakuan hangat dari Mely, Rival sangat senang. Senyuman selalu terlukis disudut bibirnya.


Tibalah mereka di Panatapan. Pasangan itu nampak duduk di atas rerumputan. Sejauh mata memandang, kelap – kelip Kota Balige di malam hari nampak sangat indah. Absennya cahaya buatan manusia membuat bintang- bintang di langit terlihat begitu jelas. Dengan udara yang cukup dingin, didampingi dengan pasangan, membuat Panapatan Sibodiala menjadi tempat berlibur yang sangat romantis. 

__ADS_1


"Tempatnya sunyi betul dek." Ucap Rival membelai lengan Mely yang dipeluknya itu.


"Abang tidak suka ya?" tanya Mely, Dia menatap wajah Rival yang menatap pemandangan kota Balige yang indah.


"Suka, tapi disini dingin banget. Adek belum sembuh loh." Ucap Rival, kini Dia menatap lekat wajah Mely. Yang dari tadi Mely selalu menatap wajahnya.


Mely terdiam, masih menikmati wajah suaminya yang semakin tampan di bawah cahaya rembulan.


"Kalau tahu ke tempat begini Adek ajakin, Abang tidak akan mau kesini. Apalagi Adek belum sembuh total.


Mely kurang menanggapi ucapan suaminya itu. Mely pikir Rival senang diajak ke tempat ini. Tapi nyatanya Rival protes. Akhirnya Mely meraih kembang gula yang ada di hadapannya. Dia membuka plastiknya dan mulai memakannya dengan khidamat. Kini Mely mengalihkan pandangan matanya kedepan.


Lama kedua nya terdiam, dengan menikmati indahnya kerlap-kerlip lampu kota Balige.Sehinhga tidak terasa satu bungkus kembang gula sudah raip masuk ke saluran pencernaan Mely.


Kini Dia membuka bungkus kedua. Memegang stik kembang gula serta memakannya ke arah wajah Rival.


Mely tidak menjawab, Dia hanya mengangguk. Dengan pelan tapi pasti. Rival pun ikut memakan kembang gula itu. Keduanya tersenyum sambil menelan cemilan yang sangat manis itu. Entah kenapa, Rival sangat menyukai cara mereka melahap kembang gula itu. Hingga kembang gula tinggal sedikit, dan mereka sama-sama ingin melahapnya, yang membuat bibir keduanya bertemu.


Deg..


Deg..


Deg..


Jantung Rival berdetak sangat cepat, disaat bibirnya sudah bertemu dengan bibir hangat kenyal dan manis miliknya Mely.


Keduanya terdiam, merasakan sensasi yang beda dari sentuhan bibir keduanya yang tidak disengaja. Disaat kembang gula sudah larut bersama air liur dan masuk ke kerongkongan.

__ADS_1


Kini bibir Rival yang kenyal itu, mulai melahap bibir Mely yang terasa hangat di cuaca dingin saat itu. Sehingga kehangatan nya menjalar ke seluruh tubuh Rival yang membuat darahnya berdesir hebat. Dan membangunkan organ tak bertulang dibawah sana. Mely juga merasakan hal yang sama.


Tangan Rival mulai bergerilya mencari gundukan kembar yang akan sangat berguna buatnya sebagai aset untuk persiapan bercocok tanam. Karena kedua gundukan itu akan sebagai katalisator untuk kesuksesan aksi bercocok tanam Mereka.


Pasangan suami istri itu sudah larut dan asyik dalam permainan yang membuat kedua nya merasakan nikmat tiada Tara dari sentuhan skin to skin itu. Hingga mereka tidak menyadari dimana keberadaan mereka sekarang.


Dinginnya udara dimalam ini, tidak menjadi hambatan buat keduanya untuk bergelut dan berguling-guling di atas rerumputan Savana, yang menurut mereka, lebih empuk dan nyaman dari springbed yang ada di Hotel tempat mereka menginap. Bahkan Mely tidak merasa kan nyeri di lengannya yang terkilir, karena rasa nyeri sudah digantikan oleh rasa nikmat yang diberikan oleh suaminya.


Hingga keduanya kini sudah polos di atas rerumputan, dibawah cahaya rembulan dan bintang serta disaksikan oleh suara jangkrik dan kodok. Mereka akan mulai berkebun, bercocok tanam.


Tidak ada ucapan sebagai tanda akan dimulainya pembukaan lahan, sepertinya mereka sudah mengerti dan sangat tidak sabarnya untuk melakukan kegiatan bercocok tanam itu.


Rival hanya berbisik di telinga istrinya itu, untuk berdoa dalam hati. Semoga setan-setan di areal ini tutup mata disaat mereka melakukannya. Karena Rival sadar, Dia juga sudah dihasut setan. Sehingga mereka akan bercocok tanam di Panatapan ini.


Hawa dingin di puncak ini, seolah membuat keduanya menempel untuk saling menghangatkan.


"Sayang...," ucap Rival seolah meminta persetujuan kepada istrinya itu. Yang dijawab oleh anggukan Mely yang wajahnya mwram padam, serta mata tertutup. Rival sudah tidak tahan, melihat indahnya sosok dibawah kungkungannya saat ini yang bisa dilihatnya dengan pencahayaan bulan.


Rival pun mulai melakukan penyatuan, berusaha menerobos lahan gambut yang masih belum terjamah itu. Rival terus berusaha mendorong pelan, pelan dan pelan hingga akhirnya Dia pun tidak sabar dan akhirnya berusaha menerobos lahan itu. Tapi aksi Rival belum berhasil.


Sesat Rival sadar, kalau Mely masih virgin. Walau selama ini Rival pernah beranggapan kalau istrinya itu sudah pernah digarap orang.


Mely mencoba menahan sakit dibawah sana, akibat aksi suaminya yang berusaha keras menembus jalan untuk mereka bisa bercocok tanam. Hingga pendulangan ketujuh akhirnya Rival pun berhasil menerobos lahan gambut hutan belantara itu. Yang membuat Mely menangis, karena sakitnya digarap pertama kali.


Mely sampai menarik kuat rerumputan di sebelahnya, sebagai pelampiasan sakitnya digagahi oleh suaminya itu.


Kesakitan itu masih terus terasa, disaat Rival mulai melakukan aksi mencangkulnya. Dia mencangkul sedalam-dalamnya di ladangnya.

__ADS_1


__ADS_2