Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Kita harus bertemu lagi.


__ADS_3

"Bang Samsul, Kita singgah di Rumah Makan yang dekat jembatan kembar ya Bang!" Ucap Rival, kepada supir rental mobil yang disewanya. Bang Samsul, masih tergolong teman dekat Rival. Karena, Rival pun sering menerima tawaran kerja jasa supir.


"Ok Bang." Jawab Bang Samsul.


Sudah satu jam mobil melaju. Tapi, Rili tidak mau diajak makan oleh Rival. Yang membuat Rival sangat mengkhawatirkan keadaan Rili. Tapi, akhirnya Dia bisa juga membujuk Rili untuk makan. Rival, mengatakan bahwa Dia juga sangat lapar. Dia makan terakhir kali waktu makan pagi sekaligus makan siang di rumah Mila.


Karena pernyataan suaminya itu, akhirnya Rili mau juga diajak makan malam.


"Jadi, bagaimana keadaan Bou sekarang bang?" tanya Rili dengan lemas. Dia berbaring di jok yang sudah diturunkan oleh Rival. Sehingga posisi Rili aman dan nyaman. Tadinya, Rival ingin, Rili tidur dengan berbantalkan pahanya. Tapi, Rili menolak. Dia membuat alasan, Paha Rival bisa kram dan Rival tidak bisa istirahat. Padahal Dia hanya enggan kepada suaminya itu.


"Jangan bahas masalah itu dulu. Jangan memikirkan hal yang membuat dirimu tertekan." Ucap Rival. Dia melirik Rili yang terbaring disebelah kanannya. Dia juga membetulkan selimut yang tersibak dibagian kaki Rili.


Saat memesan mobil Rentalan. Rival sudah mengatakan kepada Bang Samsul, agar menyediakan selimut dan payung juga. Karena hujan masih deras.


Rival juga sangat pusing, memikirkan Ibunya yang ditahan. Tadinya Dia ke rumah Yasir, untuk meminta mediasi. Awalnya, Dia tidak tahu. Bahwa Rili berada di rumah Yasir. Dia beranggapan. Rili di rawat Di RS.


Setelah kejadian malam ini, Dia sangat yakin. Yasir tidak mau diajak mediasi. Apakah, Rival akan membiarkan Ibunya di proses secara hukum? Dia pun tidak bisa berbuat banyak. Bukti kejahatan yang dilakukan Ibunya, sudah sangat kuat.


Kini Rival, Rili dan Bang Samsul. Sedang menikmati makan malam. Di sebuah Rumah makan, yang sudah terkenal di kota itu. Menu yang Rival pesan adalah soup daging sapi dan Ikan bakar Holat. (Ikan bakar Holat adalah makanan khas daerahnya Rival. Yaitu Ikan Mas bakar berkuah dengan bumbu Jeruk Nipis, Bawang merah, Bawang batak, Bawang putih, Kunyit halus, Kulit Balakka, Andaliman serta tunas rotan)


"Adek coba yang ini ya, rasanya segar dek." Rival mencuil daging ikan Mas Holat. Dan menyisihkan durinya. Dia pun menaruh ikan yang sudah dicuil-cuilnya tersebut ke dalam piring Rili. Posisi mereka saat ini duduk dilesehan, Rili disebelah kanan Rival, sedangkan Bang Samsul dihadapan pasangan suami istri tersebut.


"Harus makan yang banyak. Soupnya juga harus dihabiskan. Biar punya tenaga. Kata Dokter, tekanan darah Adek turun." Rival masih terus saja meladeni Rili makan. Dia seperti seorang emak-emak yang begitu sabarnya menemani anaknya yang susah makan.


Karena Rival yang begitu sabar membujuk Rili, akhirnya Rili menghabiskan satu piring nasi, dan sup daging satu porsi. Setelah itu Rival meminta Rili untuk meminum obatnya.


Setelah selesai makan, mereka melanjutkan perjalanannya.


*


*


*


Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Yasir yang masih berada, di ruang kerjanya terus saja, memikirkan Rili. Dia menyandarkan punggungnya, di kursi empuk meja kerjanya. Sudah satu jam Dia memandangi Fotonya bersama Rili semasa kecil. Lagi-lagi matanya berkaca-kaca. Entah kenapa, sifat Yasir yang tegas akan berubah menjadi melow, jika Dia mengingat Rili.


Dia ingin Rili bahagia. Mendapat kehidupan yang layak, hidup mewah. Tidak usah bekerja. Dia tidak sanggup membayangkan Rili kembali menderita bersama Rival. Dia teringat, saat pertemuannya dengan Rival di klinik. Baru menikah, Rili sudah sakit.


"Ya Tuhan...... Apa yang harus kulakukan? Dia sudah memilih suaminya, tidak mungkin lagi Aku mengusik kehidupannya. Itu sama saja, akan menimbulkan masalah baru." Yasir bicara sendiri. Dia meletakkan Bingkai Foto dirinya bersama Rili. Dia frustasi, kesepuluh jarinya. Menyisir rambutnya secara kasar. Dia menjambak rambut sendiri. Dia merasa kepalanya sangat sakit. Kepalanya mau pecah, memikirkan kisah cintanya yang tak kunjung bersatu.


"Kenapa...kenapa harus Abang Rival suaminya? Kenapa tidak orang lain saja. Dia memang pria baik. Mungkin lebih baik dari diriku ini." Yasir melampiaskan amarahnya dengan menggebrak meja kerjanya. Air mata pun bercucuran dari sudut matanya. Sungguh laki-laki ini, begitu menderita. Dia lemah, terhadap satu wanita.


"Mungkin, Aku tidak akan pernah bisa memilikimu. Kalau Aku meminta untuk berjumpa denganmu sekali saja, Apakah kamu akan mau menemuiku?" Yasir kembali berbicara sendiri, dengan wajah dan rambut sudah acak-acakan. Dia kembali meraih fotonya bersama Rili. Dia mengelus lembut foto dalam bingkai tersebut.


"Kalau Aku masih di Negara ini. Aku pasti akan semakin tersiksa. Karena, Aku akan selalu menguntitmu dan suamimu. Apa yang harus kulakukan? Haruskah Aku menerima tawaran Ayah dan Mama?" Yasir masih saja mengoceh sendiri, otaknya semakin panas saja, karena terlalu banyak memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi.


Ceklek....


Mama Yasir, masuk ke ruang kerja Anak tirinya tersebut. Dia melihat Yasir, sedang duduk dikursi dan wajahnya di letakkan di atas meja kerjanya. Sedangkan tangan kanannya memegang bingkai Foto dirinya dan Rili. Matanya masih berkaca-kaca, memandangi fotonya bersama Rili.


"Sudah Ya nak, jangan berpikiran pendek. Kamu paksa pun, kalau memang Rili bukan jodohmu. Maka kalian tidak akan berjodoh. Tapi, kalau Dia memang Jodohmu. Suatu saat dengan cara yang indah, Allah pasti menyatukan kalian.


"Semua usaha sudah kamu lakukan. Mencari Dia selama 13 tahun. Melawan Ayah 3 bulan yang lalu. Tapi, lihat. Dia sudah menjadi istri orang lain. Sadar Nak, sadar....!" Mama Yasir, mengelus-elus punggung putranya yang terduduk tersebut. Dan Mamanya Yasir berdiri disebelah kanannya.


"Terima tawaran Mama. Ikut Mama ke Australia. Kita tinggal disana saja. Jabatan kamu yang menjadi Komisaris utama, biar dirapatkan lagi oleh RUPS.


"Ayah juga sudah berjanji, tidak akan menjodoh-jodohkan mu lagi. Dia juga lelah, memaksa kehendaknya kepada Anaknya yang keras kepala ini." Mama Yasir. mengelus puncak kepala Yasir. Yasir pun memutar lehernya sebelah kanan. Dia mendongak ke arah wajah Mamanya.

__ADS_1


"Aku akan memikirkannya Ma, Beri Aku waktu 2-4 Minggu. Aku juga harus bertanya sejelas-jelasnya kelas Rili. Siapa Tahu Dia berubah pikiran, dan Mau kembali bersamaku." Ucap Yasir dengan wajah sedih.


"Astaghfirullah...Nak. Dia istri orang. Kejadian malam ini sudah jelas. Kalau Dia memilih suaminya."


"Siapa tahu Dia lagi labil ma. Jadi, Dia memutuskannya tanpa berpikir. Aku akan menemuinya lagi."


"Kamu punya segalanya. Harta, tahta, wajah tampan dan rupawan. Kenapa kamu mau ngejar-ngejar istri orang. Kamu mau bekas orang. Astaga...... Sadar kamu Yasir...!


"Mama pikir, Rili belum menikah. Makanya Mama senang, dan akan mendukungmu. Tapi, kalau Dia sudah menikah. Kamu jangan ganggu rumah tangga orang nak. Masih banyak diluar sana gadis lugu dan cantik. Kalau kamu sukanya yang lugu." Mama Yasir, tak habis pikir dengan sifat anaknya. Yang begitu mencintai wanita yang bernama Rili.


"Sudahlah Ma, kepalaku tambah pusing. Mendengar ocehan Mama. Mama keluar saja sana. Aku mau tidur disini." Yasir mengusir mamanya dari ruang kerjanya. Dia mendorong-dorong punggung Mamanya sampai keluar dari pintu. Dia pun membaringkan tubuhnya di tempat tidur yang berukuran 4 kaki, di ruang kerjanya tersebut. Kedua tangannya saling bertautan, diatas perutnya. Sedangkan kedua matanya. Menatap kosong ke langit-langit kamar.


*


*


*


Pukul 1 dini hari. Rival dan Rili sudah sampai di rumah orang tuanya. Saat Rival hendak membopong tubuh Rili, Dia pun terbangun.


"Saya bisa sendiri bang." Ucap Rili. Dia pun menegakkan tubuhnya. Dia turun dari mobil. Rival pun menyusulnya. Dengan membawa koper Rili dan tas selempangnya. Saat Rili dan Rival, tiba di Kota S. Ternyata hujan sudah reda.


Rili mengambil kunci Rumah. Ditempat biasa, disembunyikan. Yaitu di dalam pot bunga. Tepatnya dibawah bunga kupu-kupu yang rimbun.


Syukur dulu, ditahun 2010 belum viral koleksi bunga. Sempat simpan kunci di pot bunga. Bisa hilang tu bunga dan kunci rumah Rili dicuri orang. Apalagi pot nya ditanami bunga jenis keladi. Iya kan readers?


Setelah masuk ke dalam Rumah. Rili langsung masuk ke kamarnya. Yang disusul oleh Rival. Rili hendak membaringkan tubuhnya di ranjangnya. Tapi, aksinya dihentikan Rival.


"Dek, kita ganti dulu sepreinya. Tempat tidur yang tidak ditiduri lebih dari 3 hari, maka Jin dan setan sudah menempatinya sebagai tempat tidurnya." Ucap Rival, Dia pun menuntun Rili untuk duduk di kursi meja riasnya.


Rival dengan cepat mengganti seprei ranjang Rili yang diambilnya dari lemari pakaian Rili. Dimana saat Dia menggantinya. Rival mengibas-ngibaskan seprei ke atas ranjang Rili sambil membaca Basmalah.


"Ya Allah hanya kepada-Mu aku berserah diri, kepada-Mu-lah aku beriman, kepada-Mu-lah aku bertawakal, hanya kepada-Mu-lah aku kembali (bertaubat), kepada-Mu-lah aku mengadu, dan kepada-Mu-lah aku meminta keputusan, maka ampunilah dosa-dosaku yang telah lalu dan yang kemudian serta apa yang kusembunyikan dan yang kulakukan dengan terang-terangan dan apa yang lebih Engkau ketahui dariku.


"Ya Allah, jadikanlah Rumah tanggaku, menjadi keluarga sakinah mawadah warahmah. Aku sangat terharu dan merasa tidak pantas. Keputusan istriku, yang masih mempertahankan keutuhan pernikahan kami.


"Ya Allah, beri Aku petunjuk. Apakah, keputusanku untuk mempertahankan istriku. Adalah keputusan yang tepat. Akankah Dia akan bahagia mengarungi bahtera rumah tangga denganku. Ya Allah, Semoga kebahagiaan akan kami raih. آمين يا رب العالمين"


🌻🌻🌻


Cahaya matahari pagi menyusup masuk menembus jendela kaca kamar Rili, dan jatuh menimpa tubuhnya yang masih berbaring malas di atas ranjang.


Rili berusaha membuka matanya yang masih terasa berat dan layu. Sulit sekali rasanya hanya untuk sekedar mengangkat dua lembar kelopak mata dan menatap langit – langit kamar. Ditambah lagi silaunya cahaya matahari pagi seolah membuat otot-otot kelopak matanya sangat susah untuk terbuka.


"Ini mataku, apa ditimpah setan ya? kenapa begitu berat untuk dibuka." Gumam Rili dalam hati. Dia masih terus mencoba, membuka kedua matanya. Yang akhirnya kedua bola mata indahnya melotot, melihat angka yang ditunjukkan oleh jarum jam dinding, tepat diangka 7.


Rili bangkit, namun tetap duduk di atas ranjang. Ia mengucek mata. Sambil menguap. Dia sungguh kesiangan. Rili masuk ke kamar mandi, ternyata Dia masih menstruasi. Walau pagi ini, Dia hanya menemukan flek di celana dalamnya. Dia mengguyur tubuhnya dengan air dingin.


Setelah selesai mandi. Rili mencari keberadaan Rival. Dia tidak menemukan Rival di setiap ruangan. Rili memperhatikan semua ruangan di rumah tersebut sudah bersih. Tidak seperti rumah yang ditinggal pemiliknya selama dua Minggu.


Rili menggerakkan kakinya, berjalan pelan ke dapur. Tenggorokannya terasa kering. Dia mendudukkan tubuhnya di kursi meja makan. Dan meneguk 2 gelas air putih hangat.


Ceklek...


Rili mendengar pintu depan dibuka. Ternyata, yang datang adalah Rival. Dia membawa dua kantongan besar, berwarna putih.


"Adek sudah bangun?" Rival memperhatikan Rili tanpa berkedip. Dia sangat terkesima melihat penampilan Rili pagi ini. Istrinya itu sangat cantik, dengan memakai daster tanpa lengan. Panjang dasternya, pas dilutut. Rival pun menaruh barang belanjaannya di atas meja makan.

__ADS_1


"Sungguh, rasa lelah Abang yang berjalan dari tadi, sirnah pagi ini, setelah mata Abang melihat bidadari yang duduk tersenyum dihadapan Abang." Rival menggoda Rili, yang membuat Rili, jadi sedikit malu. Karena, sejatinya manusia sangat suka dengan pujian.


"Abang, dari pasar?" ucap Rili sambil memeriksa belanjaan suaminya. Dia pura-pura tidak terpengaruh dengan pujian suaminya itu. Ternyata Rival membeli ikan tuna satu ekor yang sudah dipotong-potong, toge dan satu sisir buah pisang.


"Ya, Abang jalan-jalan aja, sampai Abang ketemu kedai sampah. Abang tidak ke pasar." ucap Rival dengan terseyum. Ingin rasanya Dia memeluk Rili pagi ini. Dan menghirup aroma tubuh Rili yang wangi. Tapi, Dia takut. Rili merasa tidak nyaman.


Rival sibuk membersihkan ikan, serta mengukur kelapa. Di rumah Rili ternyata, masih banyak kelapa. Sisa dari kelapa saat pesta pernikahan mereka.


"Abang aja yang masak. Adek duduk aja. Adek kan belum sembuh total." Rival menuntun Rili, untuk duduk kembali di kursi meja makan. Dia melarang keras Rili, untuk membantunya memasak.


Rili hanya menonton Rival memasak, Rival selalu tersenyum dan sesekali bersiul-siul, saat proses memasak Tersebut berlangsung. Dengan mata berkaca-kaca, Rili memperhatikan gerak Rival kesana dan kemari.


Melihat Rili meneteskan air mata. Rival pun mendudukkan tubuhnya di kursi sebelah kiri Rili. "Kenapa menangis?" Rival melap air mata yang jatuh dipipinya Rili dengan jari jempol sebelah kanannya.


"Maafkan Aku, maafkan Aku yang belum bisa menjadi istri yang baik." Ucap Rili sambil terisak. Dia menundukkan wajahnya. Rili merasa bersalah terhadap Rival. Dia merasa Rival sangat baik. Dan dirinya tidak pantas disandingkan dengan Rival.


"Adek tidak salah. Abang yang salah. Lihatlah, gara-gara Ibu Abang. Wajah Adek, jadi terluka." Mendengar ucapan Rival. Rili semakin mengencang tangisnya. Dia teringat kekejaman Bounya itu.


"Sudah, jangan dibahas lagi. Kita makan ya, baru adek minum obat." Rival pun menata piring, gelas dan masakannya di atas meja.


"Habis makan, Adek mau ke bank. Mau urus kartu-kartu Adek yang hilang." Ucap Rili, setelah mereka selesai sarapan.


Rival tertawa. "lihatlah kelamaan Adek libur, jadi lupa Dia. Kalau hari ini tanggal merah. Bank Tutup." Ucap Rival, Dia pun mencuci piring di wastafel.


"Aku pingin beli ponsel. Uang cash, Aku gak punya. Semuanya hilang."


Rival diam mendengar ucapan Rili. Tas Rili yang dicopet Rayati dan Ibunya. Masih ditahan polisi sebagai barang bukti.


"Nanti, habis sholat Jumat. Kita beli ponsel untuk Adek ya!" Ucap Rival dengan tersenyum.


Setelah selesai sarapan dan minum obat. Rili masuk ke kamar dan mempacking bajunya ke dalam lemari pakaiannya. Sedangkan Rival, menonton di ruang keluarga. Dia nampak bermalas-malasan, hingga tertidur di karpet lembut warna cokelat.


Pakaian Rili yang didalam koper, sangat wangi. Koper itu sempat hilang dua hari. Ternyata Yasir membawanya ke loundry.


Peristiwa-peristiwa yang dialaminya bersama Yasir selama dua hari ini. Sukses memporak-porandakan hatinya. Dia sangat merindukan pria itu. Cinta masa remajanya yang hilang. Cinta dunia mayanya dan Yasirlah cinta sejatinya.


Tak terasa air mata, kembali membasahi pipi putihnya. Dia mengambil kalung, pemberian Yasir yang disimpannya dikotak hitam, dalam lemarinya.


"Bagaimana Aku bisa melupakanmu Abang Yasir? Aku...Aku semakin tersiksa sekarang. Mengetahui semua fakta tentang dirimu, membuatku semakin tersiksa. Harusnya kita bersama. Tapi, Aku sudah menjadi istri orang lain." Gumam Rili dalam hati. Dia masih saja memandangi kalung pemberian Yasir, air mata terus saja mengalir dari sudut matanya. Sehingga matanya bengkak.


Suara Tarhim terdengar. Itu tandanya waktu sholat Jumat telah tiba. Dari tadi, Rival enggan bergabung dengan istrinya. Di tahu, Rili pingin sendiri. Sehingga, Rival pun tidak pamit kepada Rili, saat hendak pergi ke Mesjid.


Tok....tok...tok....


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Rili. Dengan cepat Dia melap air matanya. Dan berjalan pelan ke arah pintu depan. Ya, kaki Rili yang terkena bambu, belum sembuh total.


Kira-kira siapakah yang mengetuk pintu rumah Rili?


A. Yasir Kurnia


B. Orang Tua Rili


C. Windi


D. Bella.


Kencengin votenya dong kakak-kakak cantik. 🤗😍

__ADS_1


Jangan lupa like, coment dan Favorit.


Terimakasih


__ADS_2