
Pukul 21.05 Wib. Mobil yang membawa Rival dan Mely telah sampai di depan rumah orang tuanya Rival. Suara jangkrik dan terangnya bulan purnama menyambut kedatangan mereka di kampung tersebut. Kampung itu nampak sepi Karena kalau sudah malam, tepatnya selesai sholat Isya. Kampung Rival akan terasa sunyi. Karena penduduknya yang hanya ada 15 KK, sudah memasuki rumahnya masing-masing, bersiap-siap untuk istirahat.
Firman yang kebetulan pulang kampung, karena sudah selesai menyelesaikan studi S-1 nya. Masih menikmati indahnya terpaan cahaya bulan purnama. Dia sedang rebahan di balai-balai yang terbuat dari bambu di halaman rumah mereka, menatap langit yang indah dihiasi oleh bintang yang kerlap-kerlip, di bawah pohon mangga. Yang kebetulan berbuat lebat kali ini.
Suara mesin mobil yang datang secara beruntun, menyita perhatian Firman, Adiknya Rival. Dia bergegas bangkit dan mendudukkan tubuhnya. Memperhatikan dua mobil mewah sedang berhenti di depan rumah mereka. Dengan penasarannya, Dia turun dari balai-balai. Dia ingin memastikan siapa tamu mereka malam-malam begini.
Firman yang masih berdiri mematung dengan rasa penasarannya yang besar, dibuat terkejut melihat Rival dan seorang wanita cantik turun dari mobil.
"Abang Rival..!" ucap Firman sedikit keras dan tersenyum. Karena Dia terlalu semangat dan tidak percaya, akan tamu yang datang malam ini.
Dia berjalan cepat menghampiri Abang nya itu, dan langsung mendekapnya dengan rasa haru. Dia tidak menyangka bahwa Abangnya Rival, masih mau datang ke rumah mereka. Secara Rival bukanlah anak dari keluarga itu.
"Kamu apa kabarnya Firman?" Rival membalas pelukan Adiknya dengan hangatnya. Dia juga merindukan Adiknya yang Badung itu. Rival memang terlalu baik jadi manusia.
Sejenak, Firman teringat semua kelakuannya kepada Abangnya itu. Dimana Firman dengan tidak punya perasaannya, memfoya-foyakan uang hasil jerih payahnya Rival saat jadi TKI di Negeri Arab. Dengan entengnya uang kiriman Rival setiap bulannya. Dihabiskan tanpa memikirkan uang yang dikirimkan oleh kakaknya itu adalah untuk modal usaha, dan modal menikah.
Firman menangis dalam pelukan Rival, begitu juga dengan Rival. Tontonan yang disuguhkan oleh Rival dan Firman sukses membuat Mely bertanya-tanya. Karena Mely merasa kedua saudara itu sangat melankolis.
"Firman mengira, Abang tidak akan pernah lagi menginjakkan kaki di rumah kita ini. Maafkan Firman ya Bang, selama ini Firman sangat jahat kepada Abang." Ucapnya masih tersedu-sedu. Sungguh lelaki itu sangat Cemen Dimata Mely.
"Iya, tidak ada yang perlu dimaafkan. Harusnya Abang yang meminta maaf Karena sudah delapan bulan lebih Abang tidak mengunjungi kalian." Rival Pun memegang satu pundak Adiknya itu. Setelah mereka melepaskan pelukannya.
"Ini siapa Bang?" ucap Firman melirik ke arah Mely yang dari tadi mereka abaikan. Seolah-olah, Firman tidak menyadari keberadaan Mely.
Rival melirik ke arah Mely dengan tersenyum, dan Kembali melirik Adiknya itu. "Ini kak....!" ucapan Rival terhenti.
__ADS_1
"Perkenalkan saya istrinya Abang Rival." Ucap Mely dengan ramahnya. Dia pun menjulurkan tangan kanannya. Ingin berjabat tangan dengan Firman, Adiknya Rival.
Kedua bola mata Firman hampir keluar dari tempatnya. Dia tidak menyangka, Abangnya itu sudah menikah lagi dengan wanita yang sangat cantik dan masih muda.
Memang Rival tidak memberi tahu kepada keluarganya kalau Dia sudah menikah. Walau Pak Ali pernah mendatangi rumah mereka, Pak Ali tidak menceritakan bahwa Rival menikahi putrinya.
"Ayo Kakak Ipar kita masuk ke dalam rumah." Ucap nya setelah menjabat tangannya Mely dengan terseyum dan terheran-heran.
"Siapa saja di rumah?" tanya Rival sambil berjalan menuju rumah mereka.
"Semuanya ada di dalam rumah. Ada Ayah, Ibu."
Deg...
Hati Rival terasa ngilu mendengar Firman menyebut Ibu mereka. Rival merasa takut, bertemu dengan Ibunya itu. Karena Ibunya tidak mau mengakuinya sebagai anak. Dan Ibu nya sangat kecewa kepadanya. Karena, Rival tidak bisa membebaskan Ibu nya dari penjara. Syukur Pak Ali, membebaskannya.
Rival yang datang mendadak, karena tidak diberi tahu sebelumnya. Membuat semua anggota keluarganya terkejut. Walau Adiknya Sekar pernah memintanya untuk pulang kampung dua bulan yang lalu.
Dengan perasaan campur aduk rasa nano-nano, Rival berhambur kepelukan wanita yang sudah membesarkannya itu. Saat itu juga, tangisan Ibunya pecah, membelah sunyinya malam.
"Ibu mengira kamu tidak akan mau menginjakkan kaki di rumah ini lagi." Ucap wanita tua yang pernah menganiaya Rili, mantan istrinya Rival. Tangisannya semakin kencang, yang membuat tetangga mereka, keluar dari rumah. Ingin melihat kejadian apa yang terjadi, karena mendengar suara tangisan wanita yang meraung-raung.
"Iya Bu, sudah ya..? Maaf kan Rival, kalau baru bisa berkunjung." Ucapnya lembut dengan mata berkaca-kaca, mengelus punggung Ibunya itu. Bagaimana pun jahatnya Ibunya itu. Itulah wanita yang rela membesarkannya.
"Ini siapa?" tanya Mama mereka, melirik Mely yang di sebelahnya.
__ADS_1
"Ini istri Rival Bu." Mely tersenyum dan dengan cepat menyalam wanita tua itu. Kemudian Mely memeluknya.
Tangisan wanita tua itu, semakin kencang saja. Dia teringat semua kelakuan jahatnya kepada istri pertama nya Rival.
"Sudah ya Bu. Jangan menangis lagi." Ucap Mely lembut, mengusap punggung wanita tua itu.
"Ayo kita masuk, Ayahmu ada di kamar. Tiba-tiba saja kondisi Ayahmu melemah. Padahal tiga hari yang lalu sudah baikan." Ucap Ibu nya Rival. Mereka pun masuk ke dalam rumah. Kemudian memasuki kamar Ayahnya.
Suasana haru biru pun kembali terjadi di kamar itu. Tangisan semua anggota keluarga pecah di kamar sempit berdinding kayu itu. Mely yang tidak tahu apa-apa mengenai cerita Rival dan keluarga nya. Tak tahan menahan diri untuk tidak menitikkan air mata. Ayahnya masih mengingat kejadian, Rival yang meminta izin untuk merantau ke kota M.
"Ayah, jangan menangis lagi. Nanti kondisi Ayah drop." Ucap Rival dengan sedihnya. Akhirnya Ayahnya pun mencoba untuk tenang.
"Ayah sangat merindukan mu Nak. Ayah pikir, kamu tidak akan mengingat kami lagi." Ucap pria tua itu menatap lekat putra yang sangat dirindukannya. Kemudian pandangannya beralih ke Mely, yang dari tadi menyita perhatiannya.
"Siapa wanita cantik ini." Mely langsung menyalami Ayah mertuanya itu dengan tersenyum hangat
"Istrinya Rival Ayah." Jawabnya dengan hangatnya. Rival pun mengelus punggung nya Mely.
"Benarkah? ini sungguh berita yang sangat membahagiakan." Ucap Ayah Rival. Dia pun, mencoba untuk bangkit, yang dibantu oleh Mely. Karena kebetulan Mely lebih dekat dengan Ayahnya mereka.
"Iya Ayah." Ucap Rival.
"Sekar di mana? Dia masih kuliah atau sedang libur?" tanya Rival. Dia sangat merindukan Adiknya yang baik itu. Mendengar Rival menanyakan Sekar, Mely melirik Suaminya itu dengan perasaan yang menduga-duga. Apakah suaminya itu menanyakan Sekar. Ingin bertanya mengenai mantan istrinya?
Mely masih ingat pesan yang dikirim oleh Sekar, mengenai kartu provider miliknya Rili. Apakah suaminya itu menanyakan Adiknya Sekar, untuk membahas Rili? tiba-tiba saja raut wajah Mely berkabut.
__ADS_1
TBC
Tinggalkan jejak dengan like coment positif dan Vote ya say. ❤️🤗😍