
Brakkkk.......
Masih dalam posisi tubuh menyatu pasangan yang lagi dimabuk surga duniawi itu, amblas dan berguling ke kiri, mengikuti bagian ranjang yang penyangganya sudah roboh dan menimpa lantai.
"Sa..yang. !" bisik Rili ditelinga Yasir. perasaan kalut dan malu, membuat Jantungnya berdetak cepat. Detakan jantung Rili begitu kuat dirasakan Yasir di dadanya. Karena tubuh Yasir masih menindih tubuh Rili.
Yasir menahan tawanya yang hendak lepas itu dengan menutup mulutnya dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya bertumpu di lantai. Ya, mereka mendarat dilantai dengan selamat, dari insiden ranjang ambruk itu.
Walau ekspresi Yasir nampak tertawa dan merasa kejadian ini memalukan. Dalam hati, Yasir kesal dan frustasi sekali. Juniornya yang sudah siap tempur itu, harus menghentikan aksinya.
"Rili, Nak Yasir, Apa kalian baik-baik saja di dalam?" terdengar suara Mamanya Rili, yang membuat keduanya kalang kabut. keduanya saling pandang dan beralih ke pintu.
"Bang...!" ucap Rili pelan, Wajah Rili tiba-tiba pucat. Yasir langsung menarik penyatuan mereka. Dan berlari-lari kecil menuju pintu kamar. Pasalnya pintu kamar tidak dikunci, hanya ditutup saja oleh Yasir.
Clekkk....
Yasir sukses mengunci pintu. Syukur Mamanya Rili tidak mendorong gagang pintu. Sempat itu dilakukan Mamanya Rili, maka kedua mata Mamanya Rili akan ternodai.
Yasir berjalan gontai dengan tubuh polosnya. Tentunya junior Yasir mengacung sempurna, yang membuat Rili kesusahan menelan ludahnya sendiri. Sungguh, semua yang ada ditubuh Yasir, sukses membuat Rili berdecak kagum.
Yasir menggelar karpet yang diambilnya dari sudut kamar dan menutupinya dengan bed cover. Yang ditariknya dengan kasar dari ranjang yang ambruk.
Denagn cepat, Yasir menarik tubuh Rili yang polos. Sehingga tubuh Rili jatuh menimpa Yasir. Kedua tangan Rili bertumpu di dada Yasir.
Tok....tok...tok....
"Nak, apa kalian baik-baik saja? suara apa yang jatuh itu?" Mama Rili masih penasaran dengan suara yang seperti habis gempa itu.
Rili terperanjat mendengar suara Mamanya. Dia hendak lari dari atas tubuh Yasir. Tapi Yasir menahan pinggang Rili dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Iii...ya Ma, itu koper Rili jatuh dari atas lemari." Ucap Rili dengan gugup, sambil menepis tangan Yasir yang sudah mulai bermain-main di payudaranya Rili.
Yasir tidak akan menghentikan aksinya, walau ada insiden yang akan menjadi sejarah buat mereka. Yasir, tidak akan tenang, sebelum Dia pelepasan.
Mendengar jawaban Rili, Mamanya pergi ke dapur. Tentunya Di dapur. Pak Ridwan tersenyum dan menggoda istrinya itu.
"Ibu ngapain ganggu mereka. Macem Ibu tidak pernah pengantin baru aja. Bapak aja masih ingat, dulu Ibu setelah tahu bagaimana rasanya itu, selalu minta jatah. Ingat tidak?" Pak Ridwan mencolek pinggang istrinya dengan genit. Tingkah Pak Ridwan, sukses membuat istrinya kesal.
"Adek diatas ya?" Ucap Yasir genit, yang membuat wajah Rili memerah seperti kepiting rebus.
Rili pun mulai melakukan penyatuan yang membuat Yasir mendesah. Sebenarnya, Rili sangat malu, Dia kurang percaya diri, dengan gaya ini. Apalagi dilakukan dengan pencahayaan yang masih terang. Rili malu melihat bukit kembarnya yang apabila Rili menggoyangkan pinggulnya. Maka bukit kembarnya juga ikut bergoyang.
20 menit permainan pun berakhir, Yasir membopong tubuh Rili ke kamar mandi. Mereka melakukan mandi junub.
Setelah selesai mandi, Yasir langsung menghubungi Jef. Yasir memeriksa tempat tidur yang ambruk. Dia ingin memasangkan engsel yang lepas. Dia akan sangat malu, apabila suara gempa itu diketahui penghuni rumah yang berasal dari robohnya ranjang mereka. Tapi, memang engsel penyangga tempat tidur itu sudah lepas. Dan tidak bisa dipasang lagi.
Waktu sholat Magrib pun tiba. Pasangan suami istri itu, masih berkurung di kamar. Mereka sangat malu untuk keluar. Sehingga mereka memutuskan sholat berjamaah di kamar Rili.
Setelah sholat magrib bersama. Terdengar suara mobil truk pengangkut barang. Jelas saja, Asisten Jef sudah datang dengan pesanan Yasir.
Yasir masih enggan keluar kamar, begitu juga Rili. Tapi, tidak mungkin juga selamanya mereka berkurung di kamar itu.
Dengan perasaan takut dan was-was. Yasir dan Rili akhirnya memberanikan diri keluar kamar. Dengan celingak celinguk, pasangan suami istri itu menyoroti keadaan rumah. Ternyata ruang tamu sedang kosong.
Yasir langsung berjalan menuju teras rumah, karena Jef sudah menunggu di depan pagar. Sedangkan Rili masuk ke dapur. Mempersiapkan makan malam.
"Ayah," ucap Yasir tersenyum berdiri disebelah mertuanya. Dia terkejut melihat keberadaan mertuanya di teras. Dia beranggapan mertuanya masih di Mesjid. Menunggu sampai waktu isya tiba.
"Iya nak Yasir, syukur Nak Yasir keluar. Ayah penasaran dengan truck yang parkir di depan Rumah kita." Ayah Rili berdiri memperhatikan Kembali truck yang membawa banyak barang.
__ADS_1
"Oh itu, truck yang mengantar barang ke rumah ini Ayah " Ucap Yasir. Dia memberi kode kepada Jef, untuk masuk.
Mendengar suara truck yang agak berisik, sehingga penghuni rumah keluar menuju teras.
"Ayah, bolehkan barang-barang ini masuk ke rumah ini."
"Ooh... oh.... tentu saja boleh Nak Yasir." Ayah Rili tersenyum bahagia.
Aduh Yasir, siapa sih yang tidak mau dikasih barang yang bagus.
Barang yang dibeli Jef adalah springbed dengan harga 30 juta, dan lemari pakaian bahan kayu jati senilai 10 juta, yang diletakkan dikamar Rili. Lemari hias kaca senilai 15 juta. Sofa warna hijau senilai 15 juta, meja makan senilai 10 juta dan AC 4 pacs.
Barang-barang mewah itu seolah kurang pas berada di rumah Rili yang sederhana.
"Nak, ini sudah terlalu berlebihan. Barang-barang ini tidak cocok berada di rumah kami yang sederhana ini." Ucap Mama Rili, Matanya berkaca-kaca, merasa bahagia sekali.
Seandainya dulu, Dia tidak menilai Yasir dengan buruk. Mungkin Rili tidak akan menderita.
Begitulah manusia selalu membenarkan pikirannya sendiri. tanpa bertanya atau mengenal dulu. Jangan menilai orang dari luarnya ya saja.
Setelah selesai makan malam. Yasir, Rili dan orang tuanya duduk di sofa baru mereka. Sedangkan Riswan berada di kamarnya bersama istri dan anaknya.
"Ayah, Ibu. Hanya ini yang bisa saya berikan, sebagai balas Budi. Karena telah memberikan izin dan restunya, kepadaku untuk menikahi Rili." Ucap Yasir dengan wajah serius. Tangannya langsung meraih tangan Rili yang duduk disebelahnya. Perlakuan Yasir membaut Rili malu.
Ayah Rili menerima amlop berwarna coklat itu. Dia memeriksa isinya. Yang ternyata sebuah ATM .
"Aku tidak bisa menerima ini Nak? Yang sudah Nak yasir berikan sudah banyak hari ini. Itu sudah cukup Nak."
"itu belum seberapa Ayah. Aku ikhlas memberikannya." Yasir tersenyum kepada semua anggota keluarga yang ada diruangan itu.
__ADS_1
Dert....derr....Dert....
No panggilan private number, kembali menghubungi Rili.