
"Ya Bang Rival, tidak boleh begitu dong.” Ucap Mamanya Mely, dengan lesunya. Tadinya Dia berharap Rival tergiur dengan putrinya. Dan Pak Ali juga mengiming-imingi Rival jabatan yang bagus di salah satu perusahaannya. Pak Ali punya usaha berbagai jenis. Mulai dari ekspor imprt, transportasi, mebel bahkan pertambangan.
“Maaf Pak, Bu. Saya pamit saat ini juga.” Ucap Rival dengan tegas dengan mimik wajah serius. Dia berdiri dari tempat duduknya. Menjulurkan tangan kanannya untuk berjabat tangan dengan orang tua Mely.
Orang tua Mely menerima uluran tangan Rival. Ayahnya Mely bahkan memeluk Rival. “Bapak tidak bisa memaksa Nak Rival. Moga nak Rival sukses nantinya. Dan tetaplah punya hati yang baik.” Ucap Pak Ali, entah kenapa Pak Ali merasa, begitu dekat dengan Rival.
“Kalau berjodoh, kita pasti berjumpa lagi. Kalau Nak Rival lihat Bapak di lain tempat , jangan sungkan menyapa duluan ya?” Ayah Mely melepas pelukannya dari Rival. Rival Pun meninggalkan rumah makan itu. Dia berjalan menjauh dari rumah makan, duduk disebuah warung kopi. Untuk menanyakan angkutan jenis apa yang menuju kota M.
Sedangkan Pak Ali, istrinya dan Mely yang sudah diperjalanan menuju kota M. Selalu membahas Rival. Mereka sangat tertarik kepada pria itu. “Ayah, koq ku perhatikan Abang Rival itu ada mirip-miripnya sama Ayah?” Ucap istrinya itu, sambil meraih wajah suaminya dengan memegang dagunya. Dia memutar wajah suaminya ke kanan dan ke kiri, memeriksa detail wajah suaminya itu.
“Apaan sih Ma. Wajah ayah di oper-oper gitu.” Protes Pak Ali dengan tidak senang.
“Kalau Dilihat-lihat sich mirip juga dengan Ayah. Sempat Ayah merasa Dia itu Firman. Tapi, mana mungkin walau Dari usianya yang Ayah baca juga dari data yang diisi di kantor Polisi juga sama.” Ucap Ayahnya Mely dengan sedih, mengingat putranya yang sudah meninggal.
“Maaf, gara-gara Mama Ayah jadi sedih.” Ucap istrinya dan menggenggam tangan suaminya itu. Dia pun bersandar di bahu Pak Ali, dengan kedua tangan mereka masih bertautan. Sedangkan Mely masih ngorok dibelakang.
Mely dan krang tuanya juga melaporkan kasus yang dialaminya dan akan diusut tuntas pihak yang berwajib. Ternyata di dalam tas Mely, ada kotak berisi rekaman video pembunuhan yang diselipkan pria yang sekarat itu yang ditemukan Mely di semak-semak saat mau Trekking.
🌿🌿🌿🌿
DI Rumah Pak Ali Amsa.
Mely nampak kegirangan di kamarnya. Memutar lagu rok sekencang-kencangnya sambil berjingkrak –jingkrak tidak jelas. Dia bahagia sekali, ternyata pernikahan yang diadakan di kantor polisi itu tidak berlanjut, buktinya pria yang dinikahkan dengannya sudah menghilang. Dia masih mau bebas, tidak mau dipusingkan dengan tugas-tugas istri, seperti yang dilakukan Mamanya terhadap Ayahnya.
Sifat bandelnya muncul lagi, padahal saat penjahat mengejar-ngejarnya dia menciut .
__ADS_1
Sedangkan Rival yang sudah sampai di kota terbesar di Sumatera itu, nampak kebingungan disaat alamat yang dituju, penghuni rumahnya sudah berganti. Padahal sebulan yang lalu, saat Rival mau menikah. Mereka masih komunikasi. Temannya itu mengajak Rival untuk merantau lagi ke kota itu. Karena memang dulu Rival pernah merantau ke kota M. Rival sedikit kecewa dan merasa putus asa. Jauh-jauh datang dari kampung, orang yang dituju sudah hilang rimbanya.
Seruan untuk sholat Magrib pun berkumandang. Rival melangkahkan kaki lebarnya menuju Mesjid terdekat. Dia pun melaksankan sholat Magrib. Setelah sholat Magrib, Dia duduk-duduk di teras Mesjid, menunggu sampai tiba waktu sholat Isya. Dia merogoh dompetnya dari tas ranselnya, memeriksa sisa uang yang dimilikinya, ada Rp.900.00 lagi. “Malam ini Aku tidur dimana? Kalau nginap di Hotel atau tempat penginapan, tentunya Rp. 100.00 tidak kemana.” Ucap Rival sambil memegangi sisa uangnya.
Setelah Dia memasukkan Dompetnya ke dalam tas. Dia menatap bulan purnama, Dia melihat wajah Rili tersenyum. “Abang kangen Dek. Kamu lagi apa sekarang? Apa kamu lagi mengobrol dengan Yasir? Apa maksud pertemuan kalian itu?” Ucapnya pelan masih memandangi langit yang indah yang ditaburi bintang yang kerlap-kerlip.
“Abang menyesal meninggalkanmu.” Gumamnya dalam hati. Seandainya Rival masih punya ponsel Dia akan menghubungi istrinya itu. Menanyakan semuanya, ternyata lari dari masalah. Malah menambah masalah.
Lama melamun memikirkan rencana apa yang harus dilakukannya malam ini dan seterusnya. Dia pun dikejutkan oleh seorang pria tua yang berusia sekitaran 65 tahun. Pria itu duduk disebelah Rival.
“Dari kampung Nak?” tanya si Bapak.
“Iya Pak.” Ucap Rival ramah, dan menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan. “Nama Saya Rival Pak.” Ucapnya.
“Oohh… Berarti asal Bapak dari Kabupaten ini Ya?” Ucap Rival menyebutkan nama salah satu kabupaten yang banyak memiliki marga itu.
“Iya Nak. Apa Nak Rival kampung disana?” tanya Pak siregar dengan ramah. Dia merasa familynya bertambah karena satu kampung.
“ Iya Pak.” Jawab Rival ramah. Obrolan tentang kampung pun mereka bahas. Pak Siregar sudah lama tidak pulang kampung. Karena sanak familynya juga sudah pada merantau. Orang tua juga sudah tidak ada.
“Nak Rival mau kemana ini?’ Tanya Pak Siregar. Rival diam, Dia pun tidak tahu mau kemana.
“Belum tahu Pak, alamat yang saya mau datangi, penghuninya sudah pergi pula. Malam ini pun, Aku tidak tahu mau menginap dimana. Aku sebenarnya datang ke kota ini mau mencari pekerjaan Pak. Aku baru tiga minggu menikah. Aku ingin mencari kerja disini, untuk mengubah perekonomian.” Ucapnya dengan nada sedih, hatinya yang berbohong membuatnya merasa bersalah.
Memang sejak Rival tidak bekerja lagi di perusahaan Yasir. Dia menjadi pengangguran. Tapi, kalau Dia tetap di kampungnya atau tinggal di tempat Rili, Dia tidak akan pengangguran. Bisa saja Dia kerja ke ladang upah harian atau dodos sawit orang.
__ADS_1
“Kalau tidak ada tempat yang dituju, Nak Rival Boleh menginap atau tinggal di Mesjid ini. Di bagian belakang ada kamar itu, yang bisa ditempati.” Ucap Pak siregar.
“Benarkah Pak?” tanya Rival dengan sumringah.
“Iya Nak.”
“Terima kasih Banyak Pak, Aku akan memebrsihkanMesjid ini dan pekarangannya Pak.” Rival merasa mendapat pertolongan dari Allah, setidaknya, Dia punya tempat tidur malam ini. Dia akan membersihkan Mesjid sebelum sholat shubuh, dan membersihakn pekarangannya setelah sholat shubuh. Paginya Dia akan mencari pekerjaan. Jika Dia sudah punya uang yang cukup, Dia akan membeli handpone.
Waktu sholat Isya pun tiba, karena yang muazinnya tidak datang. Maka Bapak Siregar memintanya untuk Adzan. Rival pun Adazan dengan khidmat dan hati yang begitu bahagia. Karena masih ada orang yang berbaik hati untuk menolongnya.
****
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, sudah dua bulan Rival di kota Medan. Tapi sama sekali Dia tidak mendapatkan pekerjaan tetap. Dia melamar ke berbagai perusahaan bermodalkan Ijazah tamatan S3( Sd, SMP dan SMA) hehhehe.. author mau melucu, tapi gak lucu.
Jangankan untuk menjadi karyawan, menjadi cleaning service pun tidak ada yang menerimanya. Akhirnya, terkadang Dia ikut kerja bangunan, habis kerja bangunan Dia juga pernah ikut gali sumur. Semua pekerjaan dilakukannya. Agar bisa punya uang, Dia akan pulang saja ke kota Rili. Dia akan meminta maaf, karena meninggalkan istrinya itu selama dua bulan, tanpa kabar dan tidak memberi nafkah. Dia sudah menjadi suami jahat yang tidak bertanggung jawab. Rasa cemburunya yang menumpuk, membuat hatinya jadi gelap. Besok Dia akan pulang langsung ke kota Rili, menaiki Bus Makmur.
TBC.
Mampir juga ke novel ku yang tidak kalah serunya, yang berjudul Dipaksa menikahi Pariban.
Jangan lupa sumbangin vote rekomendasi nya ya kak
Terimakasih 🙂😍🤗🙏
__ADS_1