
Rival dan Jelita yang mendengar rengekan anak itu saling pandang. "Kasih aja, Aku yang bayar." Ucap Rival pelan dan terseyum. Perhatiannya kembali kepada ponselnya, dengan menghela napas panjang, akhirnya Dia pun memberanikan diri mengangkat telepon Mely setelah panggilan ke enam kali.
Tak ada suara yang terdengar dari sambungan telepon itu. Rival yang merasa enggan dan takut saat mengangkat telepon dari Mely. Malah memilih diam. Menunggu Mely duluan yang bicara. Padahal diujung sana, Mely yang sedang sedih itu, berharap Rival duluan yang menyapanya. Karena saat ini hati Mely benar-benar panas dan terluka, rasanya sakit sekali. Karena Dia menerima pesan yang mengatakan Rival sedang selingkuh.
"Sa--yang---- Aku mau itu..!" terdengar suara wanita yang nyaring begitu manjanya. Wanita itu sedang berada dihadapan Rival, menggandeng lengan kekasihnya. Wanita itu ingin kekasihnya membelikan gorengan untuknya. Saat itu Jelita sedang melayani pembeli seorang Ibu beserta anaknya.
Suara manja seorang gadis yang berada dihadapan Rival, didengar jelas oleh Mely. Dia menyakini Rival benar sedang bersama dengan seorang wanita. Berarti SMS yang menerornya dari satu jam tadi adalah benar. Bahkan Mely sudah mendapat sebuah foto. Yaitu foto Rival beserta seorang wanita yang wajahnya tidak jelas kelihatan. di foto itu, Rival sedang memegang pundak seorang wanita.
Sekilas foto itu menampilkan kesan romantis.
Tutt.... panggilan pun terputus, Rival belum sempat menyapa Mely. Rival melihat ponselnya kehabisan baterai.
"Aakhhh sial, ponselku kehabisan daya." Ucapnya berdecak kesal. "Harusnya tadi Aku bicara, bukannya membisu." Rival semakin frustasi saja. Menyesali sikapnya yang lambat. Dia bangkit dari duduknya, berjalan ke tepi danau. Meninggalkan Jelita yang dikerumuni pembeli. Rival mengira panggilan terputus, karena ponselnya yang kehabisan baterai. Tapi, sebenernya Mely yang memutus panggilan dan berketepatan ponsel Rival kehabisan baterai.
Rival berusaha menghidupkan ponselnya, tapi mana bisa. Karena baterainya benar-benar habis. Dengan kesalnya, Dia memasukkan ponselnya ke dalam kantong celana jeans yang dikenakannya dengan asal. Dia meluapkan kekesalan hatinya dengan meneriaki danau yang airnya tenang itu. Kesal bukan main dalam hatinya.
Sesekali Dia melempar batu kecil ke atas permukaan air danau. Dimana batu kecil yang pipih itu melompat sampai empat kali lompatan di atas permukaan air dan akhirnya tenggelam.
Dia akhirnya penasaran dengan Mely yang menelponnya berulang kali. Sepertinya ada hal penting. Kenapa tadi hatinya tidak terdorong untuk mengangkat teleponnya. Giliran tidak bisa bertelepon malah Dia penasaran.
"Aku harus mencas ponselku di mobil." Ucapnya pelan, Dia pun melangkahkan kakinya ke parkiran. Dia membuka pintu mobil dengan tidak sabarannya. Mengambil charger dari dashboard untuk menchas ponselnya. Saat Dia merogoh kantong celananya, Dia terkejut ponselnya tidak ada di kantong celananya itu. Dengan panik dan tidak sabaran nya, Dia berulang kali merogoh kembali kantong celana jeans nya. Tapi, ponselnya memang tidak ada.
"Astaghfirullah... Pasti terjatuh." Ucapnya, Dia keluar dari mobilnya. Menutup pintunya dengan keras, Karena terbawa emosi. Berlari menuju tempatnya tadi meluapkan amarahnya di pinggir danau. Dia mencari keberadaan ponselnya di tempat itu. Tapi, nihil. Ponselnya sudah raip. Sepertinya sudah diambil orang. Karena saat ini tempat itu sudah ramai pengunjung.
Rival semakin kesal saja. Kenapa selalu ada saja masalah dan rintangan yang datang, disaat masalah akan selesai. Dia menendang udara dengan emosinya. Mengguyar rambutnya sampai kebelakang dan berdecak kesal.
Puuukkk... Tepukan di pundaknya membuatnya terlonjak kaget. Dia menoleh kesamping, ternyata Jelita yang mengagetkannya.
"Kamu kenapa?" tanya Jelita penasaran. Dia memperhatikan raut wajah Rival yang begitu frustasi.
"Ponselku hilang." Jawabnya dengan menghela napas panjang.
"Koq bisa? bukannya tadi kamu baru memegangnya saat bertelepon dengan istrimu?" tanya Jelita dengan bingungnya. Kenapa secepat itu ponsel Rival hilang.
"Apa dicambret orang dari tanganmu?" tanya Jelita, masih memperhatikan Rival yang kesal itu.
"Gak, sepertinya jatuh saat aku memasukkan nya ke kantong celanaku." Jawabnya malas dan berdecak kesal.
"Oohh... Apa kamu sudah jadi bicara dengan istrimu? tadi ku dengar kamu mengeluh karena ponselmu tiba-tiba mati." Tanya Jelita penasaran.
Rival menggeleng, "Belum sempat bicara, ponselnya sudah mati dan sekarang ponselnya hilang." Jawabnya malas dan sedih.
"Kamu jangan sedih gitu. Kamu telpon lagi dari ponsel kamu yang lain. Biasanya orang kaya banyak ponselnya." Jelas Jelita. Memberi usul kepada Rival.
Rival menoleh kepada Jelita dengan tatapan kaget. Dia baru sadar kalau Dia hanya membawa satu ponsel. Ponsel lainnya tinggal di ruang kerjanya di rumah mereka.
__ADS_1
"Aku hanya bawa ponsel yang satu itu saja." Jawabnya, bergerak dari tempat itu menuju mobilnya yang diikuti oleh Jelita, yang sebelumnya Dia memberesi dagangannya.
"Ayo masuk!" Ajak Rival dengan raut wajah tidak tenang. Jelita masih berdiri di dekat mobil Rival. Sedangkan Rival sudah duduk di belakang kemudi.
"Aku jalan kaki saja, tidak jauh koq." Tolak Jelita, Dia enggan satu mobil dengan Rival. Secara Dia janda, nanti orang kampung bisa salah menilainya melihatnya turun dari mobil mewah. Tahu sendiri, mulut orang kampung yang selalu sibuk mengurusi orang lain.
Rival yang memang buru-buru ingin secepatnya berkomunikasi dengan istrinya itu memilih meninggalkan Jelita di pinggir jalan.
Setelah mobil Rival hilang dari jangkauan mata indahnya Jelita, Dia pun mulai melangkahkan kakinya menuju rumahnya. Yang jaraknya ada sekitar satu kilo meter. Jelita sebenarnya punya sepeda motor. Tapi, kalau berdagang ke Danau, Dia lebih sering jalan kaki. Karena sepanjang jalan, Dia juga menjajakan dagangannya. Kecuali Kalau Dia berjualan di pasar. Maka Dia akan naik motor. Dan mengepak jualannya di keranjang.
💔💔💔
Di dalam sebuah kamar, seorang wanita sedang menangis dengan tersedu-sedu dalam pangkuan Ibunya. Dia adalah Mely. Dia menangisi dirinya sendiri. Dia benci kepada dirinya yang begitu mencintai suaminya itu yang tak lain adalah Rival
Sebelum mengenal dan merasakan jatuh cinta. Hidupnya penuh dengan kebahagiaan dan keceriaan. Walau Dia sering dimarahi Almarhum Pak Ali. Dia menganggap amarah Pak Ali adalah bumbu-bumbu kehidupan yang membuatnya semakin menarik dan menantang. Tapi sekarang, hidupnya tidak pernah tenang.
Kata orang cinta membawa kebahagiaan, tapi kenapa Dia tidak bisa merasakan itu. Apa karena Dia tidak bersyukur dengan apa yang didapatkan nya? atau Dia sebenarnya belum mencintai dirinya sendiri. Tapi menuntut agar orang mencintainya. Karena Dia berpikir, apabila bisa dicintai pria yang juga dicintainya adalah indikator sebuah kebahagiaan.
"Ma, apa benar Mas Rival kembali lagi kepada mantannya?" tanya Mely, Dia masih menangis dengan tersedu-sedu. Berbaring di ranjang empuknya berbantalkan paha Mama Maryam.
"Kenapa sih, Dia itu selalu terobsesi kepada mantannya? Dia waras gak sih Ma?" ucapnya lagi dengan melap ingusnya dengan tisu yang ada ditangannya, tisu sudah disediakan didekatnya.
Mama Maryam hanya diam sembari berfikir, apa benar Rival pulang ke kampung untuk kembali dengan mantannya, sekalian mengurus keluarga Ibu Durjanna setelah kepergian wanita tua itu.
"Kamu jangan langsung percaya dengan pesan yang dikirim orang yang tidak bertanggung jawab itu. Kita tunggu Rival datang dan menanyakan semuanya." Ucap Mama Maryam, mengelus kepala putrinya memberinya kekuatan.
"Tapi, isi pesannya itu menyakinkan sekali Ma. Apalagi foto yang dikirim juga sangat meyakinkan. Ditambah tadi saat Aku menelponnya. Dia tidak mengangkat nya, hingga panggilan ke enam kali baru diangkat. Setelah diangkat, yang terdengar suara wanita. Sepertinya mereka sedang bermesraan. Atau Sedang berzina." Ucap Mely kesal, Sempat suaminya itu benar-benar mengkhianati nya. Dia tidak akan sudih melihat wajahnya.
Mama Maryam menelan ludahnya dengan susah. Kalau benar Rival seperti itu. Dia juga tidak akan mengampuni menantunya itu. Dan sebaiknya mereka pergi saja dari rumah ini.
Mama Maryam menghela napas dalam, mencoba menenangkan dirinya. Dari masa yang tak habis-habisnya datang di keluarga nya.
"Kami jangan terpancing ya sayang. Mungkin saja ada orang yang iri kepada kita. Kita tunggu Rival pulang, nanti kita tanyakan baik-baik. Kalau benar Dia seperti itu. Kamu jangan sedih, karena Rival bukan yang terbaik untuk kehidupan mu. Jangan kamu pusing mikirin Dia terus. Kamu masih muda. Masa depanmu masih panjang.
"Janda juga laku koq, apalagi kamu cantik. Mama aja dulu masih laku. Dapat suami kaya lagi. Pokoknya kita jangan lupa berdoa meminta petunjuk kepadaNYA." Ucap Mama Maryam, masih mengelus-elus kepala Mely dengan sayangnya.
Mely mengubah posisi tubuhnya sehingga kini Dia bisa melihat wajah Mama Maryam yang juga ikut sedih.
"Kalau ngomong itu memang gampang Ma. Tapi, kenyataan nya tidak segampang itu." Jawab Mely sedikit kesal. Kenapa Mama nya itu bicara seolah-olah semuanya mudah untuk dijalani.
Jadi Single parent di usia yang muda itu sulit.
"Itu semua tergantung cara berfikir dan perasaan kita Nak. Kalau kamu menghabiskan waktumu hanya untuk memikirkan Rival. Ya jelas, kamu akan rugi. Masih banyak pria baik diluar sana. Kalau Rival benar-benar selingkuh. Lupakan saja Dia. Kita akan pergi dari rumah ini, membawa sikembar. Kita mulai hidup baru. Mama akan selalu ada buatmu. Kita rawat bersama si kembar." Ucap Mama Maryam, memberi keyakinan kepada Mely. Tapi, dihati kecil Mely, Dia tidak mau berpisah dengan Rival
Dia sangat mencintai suaminya itu. Tapi, Dia tidak mau dimadu.
__ADS_1
"Aku tadi kesal, saat ku telpon malah mendegar suara wanita. Makanya telponnya langsung ku matikan. Tak berapa lama Aku coba hubungi lagi, tapi tidak diangkat. Aku terus coba telpon lagi. Malah dinonaktifkan. Berati benar Ma, Dia sedang bersenang-senang dengan mantannya saat ini." Mely semakin mengencangkan tangisannya. Air mata yang jatuh, menetes hingga ke bibirnya. Dia bisa merasai air matanya itu, asin.....
"Iya, kamu jangan menangis lagi. Ingat anak-anak mu. Jangan pikirkan Dia lagi. Kalau kamu sakit, kamu yang rugi. Dia disana lagi senang-senang." Ucap Mama Maryam mulai emosi, Dia kesal kepada Mely yang tidak bisa dibilangin.
"Mama koq malah marah. Kenapa sih semua orang jahat kepadaku. Bahkan suamiku juga tidak pernah mau baik kepadaku. Aku selalu salah dimatanya." Mely bangkit dari pangkuan Mama Maryam, Dia duduk dengan rambut yang acak-acakan. Mely benar-benar frustasi.
Mely wajar bersikap seperti itu, ini baru pertama kali Dia merasakan jatuh cinta. Jadi, hatinya belum ada pengalaman merasakan patah hati.
"Mama tidak marah, Mama hanya ikut kesal saja. Sikap mu ini membuat kamu rugi. Kalau kamu sakit dan setres. Siapa yang susah, ya Mama. Jadi sayang, please.... Tenang lah." Ucap Mama Maryam. Menangkup wajah Mely dan merapikan rambutnya dengan menyisipkan ke belakang daun telinga nya.
"Aku juga tidak ingin begini Ma. Tapi, Aku tidak bisa membuangnya dari pikiranku. Aku sangat mencintai nya Ma. Dan Aku tidak mau mengetahui kenyataan kalau Dia berselingkuh." Ucap Mely dengan mengencangkan tangisannya yang membuat kedua anak kembarnya ikut menangis.
Mama Maryam turun dari ranjang, menghampiri cucunya di dalam box. Dia meraih Raina yang tangisan lebih kencang dari Raynan.
"Susui anakmu." Mama Maryam menyodorkan Raina. Dengan tangan gemetar Mely meraih anaknya itu dalam dekapannya dan mulai menyusuinya.
Mama Maryam menggendong Raynan, membawanya keluar dari kamar. Dia ingin memanggil Febri dan Ririn.
"Astaghfirullah.. kalian buat terkejut saja." Ucap Mama Maryam di depan pintu kamar Mely. Ternyata Febri dan Ririn sedang berdiri di dekat pintu. Saat Mama Maryam membuka pintu. Kedua Babysitter itu sudah berada tepat dihadapan Mama Maryam.
"Maaf Nyonya." Ucap Febri yang diikuti oleh Ririn.
"Jaga baik-baik si kembar dan Mely. Hibur Dia, Kamu kan jago melawak Febri." Ucap Mama Maryam dan menyodorkan Si Raynan kepada Febri. Sedangkan Ririn sudah masuk ke dalam kamar Mely.
"Iya nyonya, siyapp... tugas dilaksanakan." Ucapnya dengan tertawa kecil, berusaha sedikit melawak dihadapan Mama Maryam yang wajahnya nampak berlipat-lipat itu.
"Bagus. Saya keluar sebentar. Kalau ada apa-apa atau hal penting. Telepon saja nanti." Ucap Mama Maryam, Dia mencium pipi cucunya yang sudah terdiam dalam dekapan Febri.
"Ok Nyonya." Jawab Febri cepat. Dengan memberi simbol menggunakan jemarinya. Tanda OK.
Mama Maryam meninggalkan kamar Mely, Febri memasuki kamar Mely dan mendapati majikannya itu, menangis sambil menyusui putrinya.
Pemandangan didepan mata Febri, membuatnya ikut sedih. Dia ingin memberi semangat kepada majikannya itu. Tapi urung dilakukan nya. Dia takut dicap sok ikut campur dengan urusan majikannya.
Dengan perasaan marah dan sedih, Mama Maryam masuk ke dalam kamarnya. Dia berjalan ke meja riasnya. Duduk di kursi meja riasnya. Tangannya menjulur meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja rias itu.
"Aku akan menelpon Rival." Ucap Mama Maryam, Dia pun mulai melakukan panggilan. Tapi, ponsel Rival tidak aktif. Mama Maryam kembali mengulang-ulang panggilannya. Tapi ponsel Rival tetap tidak aktif juga.
"Kenapa ponselnya tidak aktif? benarkah Dia sedang selingkuh?" praduga-praduga negatif itu membuat kepala Mama Maryam terasa panas dan pusing.
"Aku tidak akan biarkan si Rival menyakiti perasaan putriku lagi. Selama ini Aku selalu mendukung nya. Berfikir Dia memang pria yang baik. Tapi sepertinya penilaian ku salah. Apa Rili meninggalkannya dulu, karena Dia memang suka main perempuan? tapi, dari Ceritanya tidak seperti itu. Aaahhkkkk......?" teriak Mama Maryam. Dia keluar dari kamarnya dengan kesalnya.
Dia ingin merilekskan pikiran nya. Dia pun memilih pergi ke taman belakang yang menjadi tempat favoritnya dikala suntuk.
Dengan menghela napas dalam, Dia pun mendudukkan bokongnya di bangku panjang yang terbuat dari besi itu. Dia menaikkan kedua kakinya ke atas meja yang ada dihadapannya dan menyilangkannya. Dia menautkan kedua tangannya di perutnya, matanya hendak dipejamkannya. Tapi, saat itu juga Dia mengurungkannya. Karena melihat pemandangan menjijikkan dihadapannya.
__ADS_1