Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Ditawari jadi Asisten


__ADS_3

"Namaku Yasir Kurnia." Ucapnya sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


Rival pun mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Yasir, Mereka berdua saling tersenyum.


Kedua pria tampan itu nampak duduk dipinggir jalan untuk mengistirahatkan tubuhnya. Jantung mereka masih belum stabil bekerja. Karena adegan perkelahian tadi yang begitu menegangkan dan menguras tenaga.


"Rasanya sangat melelahkan, karena sudah lama sekali tidak berkelahi." Ucap Rival, Dia masih menstabilkan emosinya dengan menarik napas yang panjang lalu menghembuskannya.


"Iya bang, sekali lagi Aku ucapkan terima kasih banyak. Abang sungguh sangat baik, mau menolong orang yang tidak Abang kenal. Tadi ada juga sepeda motor yang lewat, tapi mereka tidak mau berhenti." Ucap Yasir dengan memandang Rival yang duduk disebelahnya.


"Tadi tiba-tiba saja ada wanita berpakaian daster dan berhijab menyetop mobilku. Dia mengatakan tiba-tiba penyakit suaminya kumat saat mereka hendak pulang setelah berkunjung ke rumah saudaranya. Ya, memang dipinggir jalan sedang tergeletak seorang pria. Aku pun akhirnya ingin membantu. Ternyata mereka segerombolan perampok. Dan yang kukira wanita ternyata laki-laki." Ucap Yasir. Dia menjelaskan kejadian kenapa Dia sampai akan kena rampok.


"Orang takut berhenti, karena mereka tidak mau mati. Perampok disini terkenal kejam. Makanya disini sering sekali ditemukan mayat." Jawab Rival. Dia berdiri dan meregangkan otot-ototnya.


"Aku harus cepat pulang, istriku sedang menunggu."


"Oohh iya, tunggu sebentar ya bang Rival!" ucap Yasir, Dia berjalan cepat menuju mobilnya, Dia nampak mengambil amplop dari laci mobil. Dia memasukkan sejumlah uang ke dalam amplop tersebut.


Yasir berjalan ke arah Rival, Dia meraih tangan Rival dan langsung menempelkan amplop tersebut kepada Rival.


"Apa ini?" tanya Rival dengan melihat amplop coklat ditangannya dan kemudian melihat Yasir.


"Maaf bang, jangan tersinggung. Aku hanya bisa membalas kebaikan Abang dengan memberikan itu saat ini. Jumlahnya tidak banyak, karena kebetulan yang cash hanya sedikit di dompetku." Ucap Yasir


"Aku tidak bisa menerimanya, Aku tulus membantu."Ucap Rival dan memberikan amplop itu kembali kepada Yasir.


"Kumohon bang! terima lah." Yasir nampak sangat kecewa karena Rival menolak pemberiannya.


"Kalau Abang tidak mau uang, Abang mau nya saya balas kebaikan Abang dengan apa?" tanya Yasir. Mereka kini sudah berdiri di dekat mobil Yasir.


"Tidak usah dibalas. Saya ikhlas." Ucap Rival.


"Ayo kita angkat aja penjahat ini ke dalam mobilmu. Tapi, Aku tidak bisa menemanimu lagi ke kantor polisi. Istriku sendiri di rumah." Ucap Rival.


Mereka pun akhirnya mengangkat penjahat yang tidak berdaya tersebut. Penjahat itu di tempatkan dibagian belakang. Dimana jok belakang mobil dilipat terlebih dahulu.


"Sepertinya kamu bukan orang sembarangan." Ucap Rival kepada Yasir setelah mereka selesai mengangkat penjahat ke mobil Yasir.

__ADS_1


"Aku hanya Orang biasa Bang. Oh ya, aku ada baju ganti di mobil, kalau abang mau Abang boleh memakai bajuku." Ucap Yasir.


"Tidak usah, Terimah kasih."


"Tapi, pakaian Abang sudah basah, perjalanan Abang masih jauh kan?" tanya Yasir.


"Udah dekat, 45 menit lagi sudah sampai."


"Emang Abang tinggal di mana? tanya Yasir.


"Di kota G. Tapi, Aku tinggalnya di desanya bukan di kota itu. Masih masuk ke dalam dari jalan lintas." Ucap Rival yang kini nampak mengambil mantelnya yang tergeletak di tanah.


"Aku juga mau ke kota G." Ucap Yasir. Dia nampak merogoh dompetnya untuk mengambil kartu namanya.


"Abang simpanlah kartu namaku. Siapa tahu suatu saat Abang perlu denganku. Kau akan membantu." Ucap Yasir dan memberikan kartu namanya kepada Rival.


Rival menerima kartu nama tersebut dan memasukkannya ke dalam dompetnya.


"Besok, Aku tunggu Abang ya di kantorku. Siapa tahu Abang berniat bergabung dengan Perusahaan Perkebunan milik saya. Kalau Abang berniat bergabung. Aku ingin menjadikan Abang sebagai Asisten ku!" Ucap Yasir penuh harap. Dia memegang kedua bahu Rival.


Rival terdiam. Dia sedikit terkejut ditawari jadi Asisten Pribadi.


"Iya bang."


"Bagaimana mungkin, saya diangkat langsung jadi Asisten. Padahal Anda belum mewawancarai dan men test kemampuan saya?" tanya Rival dengan bingungnya dengan sedikit tertawa.


"Kejadian malam ini, sudah cukup buatku menilai kinerja Abang. Apa Abang PNS? atau memang punya kerjaan tetap?" tanya Yasir.


Rival diam saja. Dia memang tergolong pengangguran. Kerja di retribusi pasar pun gajinya hanya 200 ribu per bulan.


"Kalau Abang berminat, saya tunggu besok sekitar jam 9 pagi. Gaji di awal Rp. 20 juta. Dan itu langsung saya kasih besok." Ucap Yasir dan memandang lekat wajah Rival yang bingung.


Suasana malam yang dingin seolah tidak dirasakan mereka, karena percakapan yang begitu menarik itu.


"Baiklah, Saya pikirkan dulu malam ini." Ucap Rival Dia kembali memakai mantelnya, walau tidak hujan. Mantel itu dipakainya kembali, untuk menghalau angin masuk ke tubuhnya yang basah.


"Kita beriringan saja, Kamu di depan dan Aku dibelakangmu." Ucap Rival.

__ADS_1


"Baiklah." Ucap Yasir. Dia pun menaiki mobil mewahnya.


"Kalau bisa kita ngebut aja." Ucap Rival.


"Ok!" Jawab Yasir yang sudah di dalam mobilnya sambil memegang stir mobil.


Merekapun melanjutkan perjalanannya, dimana Rival berada dibelakang mobil Yasir.


Setelah berkendara selama 45 Menit, Rival pun sampai ke persimpangan masuk ke desanya. Dia mengklakson beberapa kali, sebagai pertanda mereka akan berpisah.


Hanya butuh 10 menit Rival sudah sampai di depan Rumahnya.


Sebenarnya jarak dari jalan besar ke simpang masuk kampung Rival hanya 3 km. Tapi, karena jalannya masih berbatu sehingga tidak bisa cepat membawa kendaraan.


Rili yang belum tidur dari tadi, dibuat sedikit legah. Karena mengetahui Rival sudah pulang. Dengan cepat Dia bangkit dari tempat tidur yang setengahnya sudah basah.


Dia membuka pintu kamar dan mendapati suaminya sudah berada di ruang tengah dengan memegang handpone yang sudah menyala karena menggunakan aplikasi senter.


Mereka secara bersamaan menyenter. Rival menyenter wajah istrinya. Rili pun menyenter wajah Rival.


Cahaya senter Rili turun ke arah badan Rival. Dia Melihat pakaian Rival kotor, banyak bercak tanah.


Rili mendekat, "Kenapa pakaian Abang kotor begini?" tanya Rili dengan masih mengarahkah cahaya senternya ke badan Rival.


"Nanti aja Abang jelasinnya. Abang ambilkan lampu cemprong dulu." Ucap Rival, Dia pun berjalan ke dapur. Rili mengikutinya dari belakang.


"Koq ikutin Abang?" tanya Rival dan menoleh ke arah Rili dibelakangnya.


"Rili takut." Ucapnya sambil bergedik.


Akhirnya Rival pun menyalakan 3 lampu cemprong Atau lampu Dian. Satu lampu Rival letakkan di dapur, satu di ruang tengah dan satu lagi dibawanya ke kamar.


Rili masih mengekori pergerakan Rival, Dia memegang ujung kemeja Rival dari belakang. Saat masuk kamar, Rili pun tetap memegang ujung kemeja Rival. Rival ingin mengganti pakaiannya. Tetapi, tangan Rili masih memegang Unjung baju Rival.


"Koq baju Abang dipegangin terus? atau Adek yang bukain baju Abang?" ucap Rival dan berbalik menghadap Rili dengan kancing baju yang sudah terbuka. Tetapi Rival masih memakai kaos dalam.


Deg.... Jantung Rili berdetak cepat. Dia jadi ketakutan. Dia pun memalingkan wajahnya dari tatapan Rival.

__ADS_1


"Ti..dak...tidak... Aku tidak mau membukanya." Ucap Rili dengan sedikit gugup.


Rili bingung, entah mau pergi kemana. Mau ke ruang tengah gelap. Dikamar ini menyaksikan Rival ganti baju rasanya sangat aneh. Coba tadi itu Yasir yang mau buka baju. Mungkin Rili akan dengan senang dan sedikit mesum membukanya.


__ADS_2