Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 Sakitnya luar biasa


__ADS_3

"Mama... cepat...!" Rival berteriak memanggil Mama Maryam agar lebih cepat berlari menyusulnya. Mama Maryam pun mempercepat langkahnya yang diikuti oleh Rili yang panik mau ikut dengan mobil siapa. Mobil Yasir kah atau naik ke mobil Rival. Akhirnya Dia memilih ikut naik ke mobil yang dibawa oleh Rival.


Dengan pelan Rival membaringkan tubuh Mely di kursi barisan kedua. Dia pun menyempatkan mencium kilat kening istrinya itu. Dia sudah sangat merindukan istrinya itu. Mama Maryam langsung duduk dan membuat pahanya sebagai bantal kepala Mely. Dan Mama Maryam melemparkan sarung Rival ke bangku sebelah Rival. Tapi, Rival tidak sempat lagi untuk memakainya. Dia tancap gas.


Sedangkan Rili duduk di bangku barisan kedua bersama Mama Maryam. Dia pun mengangkat kedua kaki Mely dan menempatkannya di atas pahanya. "Sabar ya Dek. !" ucap Rili dengan mata berkaca-kaca. "Semuanya akan baik-baik saja." Ucapnya sedih, menatap wajah Mely yang pucat dan banyak mengeluarkan keringat.


Mely menatap sendu Rili sekaligus menahan sakit. Dalam menahan kesakitannya. Hatinya sempat-sempatnya memuji Rili. "Pantas Mas Rival cinta mati kepadanya, wanita ini sangat baik. Benarkah mereka sudah bersama, sehingga Dia bersama Mas Rival sekarang." Mely membathin. Air mata terus saja mengalir deras membasahi pipinya yang pucat.


Membayangkan Rival kembali kepada wanita yang ada dihadapannya, membuatnya sedih. Dia pun akhirnya tidak sabar lagi. Dia menangis sejadi-jadinya. "Sakitnya luar biasa Ya Allah... Kenapa kamu hukum Aku sesakit ini. Harusnya Aku tidak melihat mereka berdua dalam keadaanku yang memprihatinkan ini." ucap Mely, sepertinya Dia sudah hilang akal, Dia memukul-mukul sandaran kursi mobil.


"Sayang... Sabar ya. Aa..dek akan baik-baik saja." Ucap Rival dengan suara bergetar. Dia sungguh tidak tahan melihat kondisi Mely saat ini. Perut Mely sungguh besar sekali. Rival tidak tahu, Mely histeris seperti itu. karena ada Rili bersama Rival juga.


"Cepat sedikit Nak Rival!" ucap Mama Maryam panik.


"Iya Ma, habis ini belok kiri atau kanan Ma? Aku tidak hapal dimana rumah sakitnya." Ucap Rival panik dan penuh khawatirnya.


"Belok kanan, kalau kau nanti belok kiri, jadinya nyampai ke danau." Ketus Mama Maryam.


Sedangkan dibelakang mereka nampak mobil


Yasir yang membawa Pak Firman dan barang-barang mereka.


Mely terus saja meringis menahan sakit. Dia tidak bisa lagi bicara saking sakitnya. Keringat sebesar biji jagung membasahi wajah dan seluruh tubuhnya.


Mama Maryam melap keringat Mely.


"Ma, sepertinya aku akan lahiran ni Ma. Bagaimana caranya Ma?" ucap Mely menangis sambil menahan sakit.


"Iya sayang.. sabar ya?" Mama Maryam kalut. Dia tidak mungkin meminta Mely untuk mengejan. Dia juga takut terjadi apa-apa pada putrinya itu. Ini bukan bidangnya.


"Ma... Aku sudah tidak tahan, sepertinya akan keluar Ma..!" teriaknya kuat.


"Iya sayang.... Kamu tenang. Coba mengejan seperti mau BAB sayang." Ucap Mama Maryam panik, kalut, takut serta khawatir. Jangan tanya, Rili yang berada tepat di kakinya Mely lebih kalut lagi. Sedangkan Rival sudah takut setengah mati. Dia berdoa dalam hati semoga istrinya dan anaknya lahir selamat.


"Rili, coba buka Rok ce*lananya dan juga CD nya." Ucap Mama Maryam panik. Rili dengan refleks melakukan perintah Mama Maryam. Mely menekuk kakinya dan membuka sedikit melebar.


"Tante, se..pertinya ssuuu.dah mau lahir. A..ku melihat seperti kepala bayi yang masih terbungkus seperti selaput." Ucap Rili terbata-bata karena takut.


"Sabar Dek, kita sudah sampai." Ucap Rival tancap gas memasuki gerbang Rumah sakit yang tergolong masih kecil itu. Gedung IGD tepat berada dibagian depan. Rival menekan klakson mobilnya, meminta orang minggir yang ada di koridor ruang IGD tersebut. Sehingga mobil Rival masuk ke lorong ruang IGD. Dia menyetop mobilnya tepat di ruang IGD.


Rival turun dari mobilnya, Dia tidak sadar lagi dengan penampilannya yang memakai baju Koko tapi pakai kolor saja. Dia membuka handle pintu. Rili langsung turun. Dengan cepat Rival masuk dan membopong Mely.


"Dibawa kemana istriku ini. Mana ruangannya. Istriku akan melahirkan...!" teriaknya.


Para perawat yang tadinya akan marah, karena ada orang kaya yang tidak tahu aturan memasukkan mobilnya sampai ke lorong ruang IGD. Akhirnya bergerak cepat, setelah Rival meminta tolong, dan berteriak agar Mely segera ditangani. Karena kepala bayi sudah nampak.


Tapi penampilan Rival yang aneh, mengundang tawa penghuni ruangan IGD itu. Dia tidak memperdulikan tatapan orang yang mungkin menganggapnya gila.


Dengan cepat Rival dituntun perawat masuk ke ruang IGD. Dan perawat lainnya memanggil Dokter kandungan.


"Cepat pasang infus kepada Ibu ini!" pinta Dokter umum yang kasihan melihat Mely.


Sambil perawat memasang infus, dimana pembuluh darah Mely sangat susah diketemukan. Dokter umum itu membantu persalinan Mely. Sebelum Dokter Obgyn datang.

__ADS_1


Rival yang gaya berpakaiannya aneh, membuat sebagian perawat ingin tertawa kembali. Tapi mereka urung menertawakannya. Karena melihat ada seorang ibu yabg sedang bertarung nyawa dihadapan mereka.


Tangan kanan Rival menggenggam tangan kanan Mely, sedangkan tangan kirinya, mengelus-elus puncak kepala Mely.


"Iya Bu, coba mengejan disaat datang sakit yang luar biasa. Gimana Bu. Apa sakit yang luar biasa itu terasa?" tanya Dokter umum yang berjenis perempuan itu.


"Dok, Aku tidak bisa lagi membedakan mana sakit yang luar biasa dan tidak biasa. Ini sakit semua Dok..... Aku tidak mengerti maksud Dokter. " Ucap Mely dengan muka meringis.


"Sabar sayang, Adek tenang ya." Ucap Rival, tapi Mely tidak mengubris ucapan Suaminya itu. Dia masih kesal kepada Rival.


"Baiklah, coba ibu atur napas. Ini sudah pembukaan sepuluh. Sudah saatnya bayi dilahirkan. Sekarang Ibu mengejan. peluk paha dengan melingkarkan tangan ke bawah paha sampai siku dan menarik paha ke arah dada.


"Tangan Ibu jangan menarik baju bapak terus. Nanti kancing baju bapak lepas semua. Bisa-bisa orang yang ada di ruangan ini pada kabur. Kabur mendekat maksud saya, terutama Ibu-ibu yang tidak tahan nanti melihat si Bapak." Dokter itu masih saja bisa bercanda. Dia tidak tahu apa, Mely sudah merasakan sakit yang luar biasa.


"Iya Dok." Jawab Rival.


" Aku mengejan ya Dok...!" Mely mulai mengejan. Wajah putihnya yang pucat jadi memerah. Kedua matanya jadi nampak menyipit. Dia merasakan sakit yang luar biasa, saat merasakan bayinya menyumpal di lubang kemal*uannya.


Karena tidak tahan dengan sakitnya. Mely melepas tangannya yang memegang pahanya. Kini Dia meraih baju Koko yang dikenakan Rival. Mely menarik baju Koko Rival dengan kuatnya. Sehingga tubuh Rival ikut menunduk karena tarikan tangan Mely. Dia pasrah saja, bajunya ditarik-tarik. Oleh Mely.


Dokter Obgyn pun datang. Dia memeriksa bagian bawahnya Mely.


"Baik Bu, kepalanya sudah nampak. Ibu harus kuat dan tenang ya!" ucap Dokter kandungan yang berjenis kelamin laki-laki itu.


Dokter itu pun menekan-nekan bagian bawahnya Mely, seolah-olah ingin memperlebar jalan lahir.


"Iya Dok, terus tekan dibagian situ Dok. Kalau Dokter menekan bagian itu. Rasa sakitnya sedikit berkurang Dok." Ucap Mely apa adanya. Dokter yang menekan-nekan lubang va*gina Mely sebagai upaya, agar jalan lahir semakin besar. Yang ternyata membuat Mely merasa enak dan ketagihan.


Dokter dan perawat yang ada diruangan itu tersenyum. Sedangkan Rival dibuat malu dengan ucapan istrinya itu. Bisa-bisanya istrinya itu meminta Dokter memainkan tangannya dibagian bawahnya itu. Aduhhh... Mely kamu polos banget.


"Dok, apa sebaiknya kita lakukan Episiotomi?" tanya perawat. Memperhatikan jalan lahirnya Mely yang sempit.


Dokter yang menekan-nekan bagian bawahnya Mely agar melebarkan jalan lahir, Akhirnya pun setuju episiotomi dilakukan. Perawat membius bagian bawahnya Mely, setelah bius dirasa sudah bereaksi. Perawat membuat sayatan pada perineum atau area antara va*gin*a dan an*us.


"Oke Bu, sekarang coba mengejan. Baju Bapak jangan ditarik-tarik Bu. Peluk paha dengan melingkarkan tangan ke bawah paha sampai siku dan menarik paha ke arah dada, dan pandangan Ibu lurus ke perut. Ikuti instruksi saya. Kapan Ibu harus mengejan atau tidak." Ucap Dokter lembut.


Mely pun mengejan sekencang-kencangnya, hingga Dia merasakan pahanya sakit.


"Dok, saya sudah tidak tahan lagi." Ucapnya lemah. Rival diam saja, bibirnya seolah terkunci, melihat pemandangan yang mengerikan dihadapannya. Begitu sakit kah yang melahirkan itu.


"Ibu harus semangat. Ya sekarang coba Ibu mengejan. Ibu jangan sungkan, kalau ada perasaan ingin BAB, keluarkan saja Bu. Tidak apa-apa, itu biasa terjadi saat melahirkan." Terang Dokter ramah.


Mely menarik napas dan menghembuskannya. Dia pun kembali mengejan, dengan dagu berada di dada dan tatapan fokus kedepan.


"Iya Bu, terus Bu jangan putus mengejannya Bu. Iya Bu, Ibu pasti bisa." Ucap Dokter. Dia pun mengambil pinset. Menjepit selaput yang membungkus bayi itu dan keluarlah air ketuban. Yang merembes membasahi bagian bawah Mely sampai ke punggungnya. Dengan cepat perawat melap air ketuban itu dengan kain.


"Iya Bu, terus Bu, terus mengejan..!" titah Dokter.


Mely pun mengerahkan semua tenaganya. Dokter menarik kepala bayi itu. Saat Bayi itu terasa ditarik. Mely merasa sakitnya berkurang sedikit. Dia bisa merasakan anaknya ditarik keluar.


Bayi berjenis kelamin laki-laki pun lahir. "Mana perlengkapan bayi Ibu?" tanya perawat kepada Mely.


"Sepertinya diluar sus." Jawab Mely menahan sakit. Perawat pun keluar meminta perlengkapan bayi. Mama Maryam masuk ke dalam dan membawa tas tempat perlengkapan bayi nya Mely. Dengan cepat perawat menangani bayi Mely dengan membedongnya.

__ADS_1


Rival menangis dan menghadiahi banyak ciuman di wajah Mely yang basah karena keringat. Bahkan Rival merasa wajah Mely terasa asin.


"Coba mengejan lagi Bu. Agar plasentanya keluar." Ucap Dokter ramah.


Mely mengejan pelan, keluar lah Ari-ari bayi pertama.


"Ok Bu, sekarang tenang ya. Janin Ibu kembar. Tinggal satu bayi lagi. Semangat ya Ibu yang cantik." Ucap Dokter itu tersenyum dan melirik Rival yang bingung dan panik.


"Dok, Aku sudah merasakan sakit lagi." Ucap Mely lemah. Dia merasa mulutnya sudah kering.


"Ok Bu, itu bagus sekali. Baiklah, sekarang tarik napas dulu Bu. Setalah itu Ibu lakukan seperti anak pertama tadi." Ucap Dokter ramah.


"Aku sudah lupa Dok, Aku tidak tahan lagi Dok." Ucap MeLy meringis kesakitan.


"Baiklah letakkan dagu ibu di atas dada, kedua tangan letakkan dibawah paha. Ibu harus menarik paha nya seperti tadi Bu." Intruksi Dokter. Mely pun melakukannya.


Dia ingin cepat anak itu lahir, karena Dia sudah tidak tahan lagi. Dia mengejan sekencang-kencangnya sesuai instruksi Dokter. Rival tidak henti-hentinya mengelus-elus kepala Mely yang tidak menganggapnya ada. Ada rasa bersalah dan sedih luar biasa yang dirasakan Rival saat ini. Istrinya sepertinya tidak menginginkannya lagi.


Sudah dua kali Mely mengejan, tapi janin itu tak kunjung keluar. Tapi, kepalanya sudah nampak. Rival yang penasaran, akhirnya memberanikan diri, melihat dengan jelas. Kepala anaknya yang sudah nongol di jalan lahir. Dia sungguh tidak sanggup melihatnya. Karena darah sudah banyak keluar saat anak pertama lahir.


Mely kembali mengejan, akhirnya Bayi kedua berjenis kelamin perempuan pun lahir. Dokter dengan cepat memotong tali pusat. Rival memperhatikan janinnya dengan menitikkan air mata. Dia ingin melihat anak kembarnya itu. Tapi Dia juga masih ingin menemani Mely, menyelesaikan proses melahirkan yang sangat menyakitkan ini. Apalagi plasenta anak kedua belum keluar.


"Alhamdulillah Ibu. Ibu sangat hebat." Puji Dokter menyemangati Mely yang sudah nampak lemas dan tidak bertenaga. Mungkin kalau Dia tidak diinfus, Dia sudah pingsan.


"Coba mengejan lagi Bu dengan pelan. Agar Ari-arinya keluar." Titah Dokter, Mely pun mengejan. Tapi, plasenta anak keduanya tidak mau keluar. Dokter dan perawat mulai panik. Kasus plasenta tidak mau keluar, sering mengakibatkan pendarahan dan membahayakan nyawa si Ibu.


"Coba mengejan lagi Bu." Titah Dokter itu mulai panik. Sempat plasentanya tidak keluar dan naik ke atas bisa berbahaya untuk Ibu yang melahirkan.


Mely kembali mengejan, tapi plasenta itu tak kunjung mau keluar.


"Dok, kenapa tidak mau keluar. Dok, Aku takut." Ucap Mely mulai tidak tenang dan menangis.


"Tenang sayang, semuanya akan baik-baik saja." Ucap Rival lembut. Mengelus kepala Mely.


"Pergi kamu dari sini. Bukannya ini yang kamu mau, melihatku mati. Pergi kamu dari sini. Aku tidak butuh pria tidak punya perasaan seperti kamu." Ucap Mely histeris dan memukul-mukul perut dan lengan Rival. Dokter dan perawat yang ada disitu dibuat tercengang, ternyata pasangan yang nampak serasi ini sedang bertengkar.


Rival meraih kepala Mely kepelukannya. "Maafkan Mas.!" ucapnya dengan menitikkan air mata. Walau Mely bersikap dingin kepadanya. Dia tidak bisa untuk bersikap yang sama kepada istrinya itu. Karena sekarang ini, nyawa Mely terancam.


"Coba diulangi Bu mengejannya." Titah Dokter. Mely pun melakukan perintah Dokter. Tapi, plasenta bayi kedua tak kunjung keluar juga. Rival mulai panik dan kesal. Dia meninju dinding dekat Mely berbaring. Dia menangis. Tidak bisa membayangkan kalau istrinya itu meninggalkannya.


Dokter sudah mulai putus asa, sebaiknya dilakukan operasi. Atau menjemput plasenta ke dalam rahim.


"Bagaimana ini Dok, haruskah kita melakukan operasi untuk mengambil plasentanya?" tanya perawat yang kini juga nampak tidak tenang. pasalnya pasien mereka semalam ada yang meninggal, karena plasenta tidak kunjung keluar dan naik ke atas.


Akhirnya Dokter melakukan tindakan menjemput plasenta ke dalam rahim.


"Coba tenang Bu. Tarik napas." Perintah Dokter, Mely pun melakukannya. Tangan besar Dokter berjenis kelamin laki-laki itu, masuk ke liang jalan lahirnya Mely.


Mely mengaduh kesakitan, sakitnya luar biasa. Lebih sakit daripada melahirkan.


"Aaaaauuhh... Mama.... Mely tidak tahan Ma..."


TBC.

__ADS_1


Tinggalkan jejak dengan like coment positif dan Vote 🙏❤️🤗


Mampir juga ke novelku yang lainnya say.


__ADS_2