Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 kalah saing


__ADS_3

"Sayang, kita berhenti dulu nanti di Mall ya, mau belikan pakaian buat sikembar." Ucap Rili, menatap Yasir yang serius menyetir.


"Iya sayang, nanti kita belinya di Mall yang ada di kota M saja." Ucap Yasir, Rili Mengangguk.


Rili memundurkan kursinya, Dia ingin tidur. Dia merasa sangat kantuk dan lelah.


"Adek mau tidur?" tanya Yasir memperhatikan istrinya itu menyetel tempat duduknya.


"Iya Yachay... kantuk bener. Gak apa-apa kan, Adek tidur dan tidak ada yang nemenin Abang nyetir." Ucap Rili menatap Yasir sendu. Walau katanya mereka seperti liburan. Tapi Rili merasa sangat lelah. Seperti baru habis mendaki gunung saja. Badan pegel semua.


"Iya sayang, tidak apa-apa. Mau ditemani tidur dengan suara Abang yang merdu?" tanya Yasir mengedipkan sebelah matanya kepada Rili.


"No..No.....!" Rili menggerakkan tangannya sebagai aksi penolakan. Yasir suaranya hancur banget. Kayak kaleng rombeng. Tidak seperti suara Rival yang merdu dan syahdu.


"Musik juga jangan dinyalakan. Adek pingin yang hening dan tenang." Ucapnya mulai memejamkan mata.


"Kalau lagi di jalan begini mana ada yang hening dan tenang sayang. Yang ada ribut suara deru mesin kenderaan dan suara klakson." Ucapnya melirik Rili yang sepertinya sudah tertidur.


Yasir tersenyum, tangannya menjulur untuk membelai pipi Rili yang mulus. Dan kemudian Dia fokus menyetir.


Sepanjang perjalanan Rili bener-bener tidur dengan pulasnya. Bahkan Dia tidak terbangun disaat Yasir menepikan mobil mereka setelah mengisi minyak dan ke toilet untuk buang air kecil. Bahkan sudah Sampai ke kota Medan. Rili masih tertidur.


Yasir yang sudah parkir di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota itu, akhirnya membangunkan istrinya itu juga.


Sebelum Dia membangunkan Rili. Yasir berlama-lama menatap wajah ayunya Rili yang tertidur pulas. Yasir tidak pernah bosan memandangi wajahnya Rili, walau mereka setiap hari bersama. Bahkan semakin hari, Yasir semakin merindukan istrinya itu.


"Richay.... Bangun.... Bangun sayang, kita sudah sampai." Ucap Yasir lembut, mengelus-elus pipi Rili dan jemari Istrinya itu.


Rili terbangun, karena merasakan tangannya disentuh. Dia membuka matanya. Berusaha menyelaraskan cahaya matahari yang menembus kaca mobil.


"Kita sudah dimana ini sayang?" tanyanya mengucek-uvek kedua matanya dan mendudukkan tubuhnya tegak.

__ADS_1


"Kita sudah sampai di Mall. Jadi beli buah tangannya?" tanya Yasir memberikan tisu kepada istrinya itu.


"Untuk apa memberi tisu?" tanya Rili, masih berusaha mengumpulkan nyawanya yang masih tertinggal didalam mimpi.


"Itu mau melap iler ada yang tertinggal di bibir bawah." Ucap Yasir serius, yang membuat Rili percaya. Dia langsung meraba mulutnya, memastikan benarkah ucapan suaminya itu.


Merasa tidak mendapatkan ileran, Dia pun. mengambil tasnya. Merogoh bedak padatnya yang juga ada cermin di wadahnya. Rili memperhatikan dengan seksama pantulan wajahnya di cermin. "Tidak ada Iler." Ucapnya meninju lengan Yasir gemes.


Yasir tertawa, "Rese banget sih sayang?" ucap Rili merapikan penampilan nya yang sebenarnya masih nampak rapi. Dia juga memoles sekilas wajahnya dengan bedak, dan mengoles lipstik warna soft di bibir sexy nya.


"Sudah cantik, jangan ditebalin lagi make up nya. Nanti Abang Rival klepek-klepek lagi sama Adek." Ucap Yasir berniat berseloroh. Tapi Rili kesal mendengar nya.


"Kalau tidak mau Abang Rival melirikku. Kenapa masih memintaku untuk menjumpai mereka. Sebel." Rili membuang muka, kalau masa lalunya diungkit-ungkit. Dia pasti akan sedih.


Tanpa permisi air mata itu lolos membasahi pipi putihnya. Sungguh, jika membahas Rival, Dia akan mengingat Ibu mertuanya yang sangat kejam itu. Hatinya masih sakit sampai saat ini, jika mengingatnya.


Bagaimana Dia harus mempertahankan dirinya, dari hantaman Rayati di sawah. Bagaimana Dia menahan sakit, disaat dihajar Ibu mertuanya dan Rayati di rumah. Wajahnya babak belur, karena dibenturkan ke tiang Kosen pintu. Dia diusir tengah malam dibawah guyuran hujan. Ponselnya dihancurkan. Sampai kapanpun Rili tidak bisa melupakan kejadian itu. Bahkan Dia jadi traumah. Dia akan histeris apabila melihat orang dipukul.


"Sayang, maafkan Abang. Abang hanya bercanda. Maaf ya, maaf sayang." Yasir menarik Rili dalam pelukannya. Mencium lembut puncak kepala Rili.


"Sudah ya sayang, kota turun yok..!" Yasir menyeka air matanya Rili dan mencium keningnya.


"Maaf sayang. Jangan menangis ya?" Yasir merangkum lagi wajah istrinya itu dan kembali mengecupnya.


Mereka pun turun dari mobil, berjalan bergandengan menuju pusat perbelanjaan itu. Mereka masuk ke toko perlengkapan bayi.


"Ada yang bisa dibantu Pak Ibu?" tanya SPG begitu ramahnya. Karena Dia melihat pengunjungnya adalah orang kaya. itu jelas terlihat dari penampilan Rili sekarang nampak semakin berkelas saja. Walau saat gadis pun gayanya sudah nampak modis.


Rili yang memakai dres berbahan silk yang berlengan Sampai siku dan panjang dresnya pas di lutut, dengan aksen pita dipinggang nya membuatnya, nampak berkelas dengan kalung, gelang dan cincin berlian yang simple tapi nampak mewah, semakin membuat Rili semakin cantik dan elegant.


"Mau cari perlengkapan untuk bayi kembar. Tapi sepasang." Ucapnya ramah, menyembunyikan kegelisahan dan kegundahan hatinya.

__ADS_1


SPG pun menunjukkan barang untuk bayi kembar. Mukai dari baju, kaos kaki, topi dan sepatu. Rili membeli 5 pasang dengan model dan warna yang berbeda.


"Sayang, kita makanan dulu ya? sudah pukul dua siang ni?" ucap Yasir menenteng barang belanjaan ditangan kiri dan tangan kanan menggenggam tangan Rili. Dia seolah ketakutan kehilangan istrinya itu. Dari tadi genggaman tangannya tidak pernah lepas.


Mereka pun makan di restoran yang menawarkan menu makanan dari Negri Korea. Dua porsi Bibimbap.


Rili sangat menyukai menu itu. Karena memiliki warna beragam, karena sayur yang jadi lauknya disusun rapi di pinggir dan kuning telur ditempatkan di tengah.


💔💔💔


"Koq kita ke alamat ini sayang?" tanya Rili, melihat rumah gedong dihadapannya. Temboknya tinggi dihiasi batu alam.


Yasir tersenyum dan membunyikan klakson. Nampak pak Satpam membuka pagar.


"Bukannya kita mau ke rumahnya Abang Rival?"


tanyanya bingung. Memperhatikan rumah bertingkat tiga dihadapannya. Rumah ini sih besar. Tapi lebih besar lagi rumah Yasir yang di kota S.


"Ini rumah Abang Rival sayang. Yang kita datangi seminggu yang lalu adalah rumah Pak Ali. Ayahnya Abang Rival." Jelas Yasir, menekan pedal gas, melewati gerbang untuk masuk ke dalam.


Saat Sampai dihalaman rumah nya Rival. Dia ternyata sudah menunggu pasangan suami istri itu.


"Ayo masuk Yasir, Rili " ajak Rival dengan perasaan yang senang tiada Tara, karena Rili mau juga datang untuk bertemu dengan istrinya.


Mereka pun masuk ke kamarnya Mely yang ada di lantai satu.


Melihat Rili ada diambang pintu, membuat Mely tercengang. Ternyata mantan istri Suaminya itu, mau juga datang. Itu berarti, mantan istri suaminya itu, tidak menganggap Rival ada lagi dihatinya.


Mely asyik tercengang, akhirnya Rili masuk menghampiri Mely yang terduduk dan bersandar di headboard tempat tidur nya.


Rili tersenyum, "Apa kabar Dek Mely?" tanya nya menjulurkan tangan nya. Mely pun menyambut tangan itu, mereka bersalaman kemudian Rili memeluknya. Tak lupa cipika-cipiki.

__ADS_1


"Baik kak Rili." Jawabnya dengan sedikit gugup. Dia merasa kalah saing dengan Rili yang anggun dan ramah itu. Beda dengan dirinya yang slengek an. Pantesan suaminya itu susah move on. Sungguh daya pikatnya Rili luar biasa dahsyatnya.


"Yasir, yuk ke ruang keluarga." Rival merangkul Yasir. Yasir tidak enak hati meninggalkan istrinya dengan Mely.


__ADS_2