Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 Extra chap. Rindu dan Benci


__ADS_3

Pendaratan yang sempurna membuat Mely merasa rileks dan nyaman dalam rengkuhan lengan kokoh seorang pria yang sangat dirindukannya. Dia menyakini, pria misterius yang mengajaknya terbang itu, adalah Rival suaminya.


Dia sangat merindukan pria itu, sehingga Dia sering memimpikan Rival. Jenis mimpinya beragam, mulai dari mimpi sedih, bahagai, bahkan sampai mimpi melakukan hubungan intim. Seperti kali ini, Mely meyakini apa yang terjadi padanya hanyalah sebuah mimpi.


Terlalu memikirkan pria itu, membuat alam bawah sadarnya bekerja saat tidur. Dia akan bermimpi indah bersama Rival, disaat sebelum tidur Dia mengingat kenangan manis mereka. Dia akan bermimpi buruk, disaat Dia mengingat perselingkuhan yang dilakukan Rival. Dia benar-benar tidak ada dalam hati suaminya itu. Yang membuatnya sedih, karena merasa tidak dicintai.


Mely terseyum dalam tidurnya, karena Dia masih memimpikan Rival sedang bermain dengan anak-anaknya, sambil tertawa bahagia. Dalam mimpi itu, Dia berharap masih bisa bersama dengan suaminya itu.


"Aku merindukanmu, sangat merindukanmu." Ucap Mely dalam keadaan mata terpejam. Dia semakin menenggelamkan kepalanya di dada bidang pria misterius itu dan mengeratkan pelukannya. Dia tidak peduli lagi, siapa sebenarnya pria itu. Yang penting, Dia merasa pria itu sudah membuatnya bahagia malam ini. Memenuhi rasa dahaganya yang berkepanjangan.


Merasa dirinya diinginkan, pria misterius itu merasa bahagia sekali. Dia menatap lekat wajah Mely, sembari mengelus-elus lengan dan pipi mulusnya.


Hingga Mely pun terbangun karena, merasa lengannya di elus-elus. Begitu juga dengan pipinya. Dia yang sudah terbangun, tidak bertenaga untuk membuka matanya. Tubuhnya terasa remuk. Dia pun kembali mencoba merilekskan tubuh dan mencoba mengingat, mimpi-mimpi indahnya yang seperti nyata. Sambil mengeratkan pelukannya ke benda di sebelah nya. Yang dianggapnya adalah guling.


"Hanya mimpi, itu hanya mimpi." Ucapnya dengan mata masih terpejam. Sesaat Dia tersadar, kenapa gulingnya sekarang berubah jadi keras saat dipeluk. Biasanya gulingnya empuk saat dipeluk.


Perlahan Dia mengumpulkan kesadarannya. Menyatukan separuh nyawanya yang masih tercecer, Karena mimpi mesumnya. Dia meraba-raba gulingnya yang keras dan bertanya-tanya dalam hati. Kenapa gulingnya jadi keras, sembari mencoba membuka sebelah matanya.


Deg


Ada debaran cepat yang terasa di rongga dadanya. Disaat mata buramnya, menangkap sosok pria berambut cepak dengan wajah dihiasi brewok lebat tersenyum kepadanya.


Mely mengucek-ucek kedua matanya, guna memperjelas penglihatannya. Ya, matanya masih bagus. Dia juga tidak salah melihat. Yang dihadapannya adalah pria misterius yang membawanya terbang meraih surga duniawi.


Pria itu kini tersenyum simpul dihadapannya, penuh ketulusan dan kerinduan. Yang membuat Mely speechless. Dia tidak percaya apa yang terjadi kepadanya.


Pria itu menjulurkan kedua tangannya, merangkum wajah Mely yang mematung itu. "Akhirnya kamu bangun juga." Ucapan pria itu membuat Mely kembali mengerjap-ngerjapkan mata indahnya. Dia tidak bermimpi, jemari pria misterius itu kini terasa nyata, membelai pipinya.


Mely masih diam mematung, menerima perlakuan lembut pria dihadapannya yang masih mengelus-elus pipinya dan kepalanya. Dia sedang memperhatikan dengan seksama wajah pria dihadapannya dengan sedikit mendongak.


Ya, pria misterius dalam mimpinya, adalah nyata. Dia adalah Rival suaminya.

__ADS_1


Menyadari semuanya, Mely merasa takut. Dia pun mendorong kuat dada Rival. "Ka---mu, kaaaamu--," ucapnya dengan terbata-bata. Belum yakin dengan apa yang terjadi.


Mendapat perlakuan seperti itu dari Mely, membuat Rival terdiam. Dia yang kini sudah terduduk dengan bertelanjang dada itu, hanya bisa memandangi wajah Mely yang masih syok. Mely juga sedang memeriksa tubuhnya yang dalam keadaan polos.


"Ka--mu, kamu siapa? kenapa kamu di sini? apa yang kamu lakukan---?" teriak Mely, sambil berusaha menutupi tubuhnya yang polos dengan selimut. Dia pun kini sudah duduk menjauh dari Rival yang masih bengong. Mely merasa tidak yakin. Pria dihadapannya adalah Rival suaminya. Karena, penampilannya sungguh berbeda.


Tidak mendapat jawaban. Mely turun dari ranjang dengan membelitkan selimut ditubuhnya. Bahkan Dia hendak terjatuh saat turun dari ranjang. Tapi, Dia dengan cepat menyeimbangkan tubuhnya.


"Tolong---tolong----!" teriak Mely dengan perasaan takut, serta bingung. Siapa sebenarnya pria di kamarnya.


Rival yang merasa sedih, ternyata perpisahan yang lama, tetap tidak mengubah perasaan istrinya itu kepadanya. Istrinya itu masih membencinya.


Rival merasa lelah dan prustasi. Dia pun akhirnya memilih membaringkan tubuhnya di ranjang dengan keadaan polos tanpa sehelai benang menutupi tubuhnya. Yang membuat Mely tidak sanggup menatapnya.


"Teriaklah, teriaklah sekencang-kencangnya. Semoga, orang banyak berdatangan. Dan memintaku mempertanggung jawabkan semuanya. Agar kita menikah. Kamu kan tidak mengenal saya. Maka teriaklah!" ucap Rival tegas, tapi penuh kelembutan. Dia masih saja memandangi Mely yang tidak berani menatapnya. Mungkin Mely tidak sanggup nya. Karena Dia yang tidak mengenakan pakaian itu.


Hening---- Seperti kuburan.


Mely yang membelakangi Rival akhirnya memilih masuk ke kamar mandi. Dia mengunci pintu kamar mandi, dan menjatuhkan tubuhnya, bersandar di pintu kamar mandi sambil menangis.


Lama Mely menangis tanpa isakan, mengingat semua moment bersama dengan Rival. Yang membuatnya tidak tahan, dan akhirnya lepas juga. Dia menangis kencang sambil berteriak.


"Kenapa---? kenapa kamu tidak pergi dari hidupku untuk selamanya---?" teriaknya, sambil memukul lantai kamar mandi.


Rival bangkit dari ranjang, berlari menuju pintu kamar mandi, karena mendengar suara Mely yang menangis dan berteriak.


"Mely, sayang, ini Mas Rival. Buka pintunya!" ucap Rival, sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi. " Aku bisa terima kamu tidak mengenaliku lagi. Aku juga akan menerima semua keputusan darimu. Jikalau kamu tidak ingin, kita bersama lagi. Tapi, izinkan Aku menjelaskan semuanya." Ucap Rival dengan frustasi, masih terus menggedor-gedor pintu kamar mandi.


Mendengar ucapan Rival, malah membuat Mely semakin mengencangkan tangisannya. Apa coba maksud ucapannya. Akan terima, jika Dia tidak ingin bersama lagi. Tidak adakah usahanya untuk bertahan. Apakah Rival mencarinya hanya ingin memberi penjelasan. Tidak sungguh-sungguh untuk kembali bersama.


Mely akui, berpisah selama setahun membuat sakit hatinya kepada Rival sudah menguap, hilang sudah. Mungkin, karena rasa cinta yang begitu besar kepada suaminya itu. Sehingga rasa kecewa, hanya bisa dirasakan sebentar saja.

__ADS_1


"Mely sayang, Mas sangat mencintaimu. Tolong, beri Mas kesempatan untuk menebus semua kesalahan Mas. Tolong, jangan pergi lagi meninggalkan Mas. Mas salah, ya Mas salah. Tolong--- jangan buat hidupku menderita lagi." Ucap Rival dengan terisak, Dia sudah rapuh sekarang, harapan untuk hidup tidak ada lagi. Apalagi penyakit yang diidapnya susah sembuh, karena tidak ada semangat nya untuk sembuh.


Tubuhnya kurus, karena penyakit tifus yang dideritanya sudah menyerang sumsum tulang belakangnya. Dia tidak boleh makan nasi. Padahal mulai dari kecil Dia biasa makan nasi.


"Tolong, buka pintunya. Kita bicara baik-baik. Maafkan Mas! Hanya maaf darimu yang Mas tunggu. Apa Adek tidak kasihan kepada Mas? Apa kamu tidak melihat bagaimana berubahnya Mas saat ini." Ucap Rival, ikut terduduk, bersandar lemas di pintu kamar mandi dalam keadaan polos.


"Kamu dan anak-anak harapan Mas. Tolong, bukalah pintunya. Mari kita bicarakan baik-baik." Ucap Rival dengan lemah.


Mendengar ucapan Rival yang mengibah membuat Mely kasihan. Ya benar, suaminya itu begitu berubah. Tubuhnya jadi lebih kurus. Walau masih nampak berotot. Rival nampak tidak terurus.


Ceklek---


Pintu yang dibuka tanpa aba-aba itu, membuat Rival terjerambab. Karena Dia menyandarkan tubuhnya di pintu yang tiba-tiba terbuka itu.


Rival mendongak, melihat Mely dihadapannya berdiri dengan selimut masih membelit di tubuhnya. Sesaat tatapan mereka bertemu. Kemudian Mely mengalihkan pandangannya. Tidak sanggup melihat keadaan Rival yang polos dan seperti tidak tahu malu itu.


Mely masuk kembali ke kamar mandi. Mengambil handuk yang tergantung di rak gantung. Kemudian memberikan nya kepada Rival dengan membuang muka. Tidak sanggup melihat tubuh polosnya Rival. Apa yang sebenarnya terjadi? kenapa suaminya itu, seperti tidak punya malu? atau suaminya itu, ingin menggodanya?


Rival meraihnya, membelit kan handuk itu kepinggangnya.


"Mas belum mandi. Bolehkah Mas menumpang mandi?" ucap Rival sendu. Mely pun akhirnya menoleh kepada Rival dengan mengangguk. Dia melangkah kan kakinya ingin keluar dari kamar mandi.


"Kamu juga belum mandi." Ucapan Rival membuat Mely menghentikan langkahnya.


"Mas saja duluan." Ucap Mely dengan perasaan kacau. Dia merasa kejadian malam ini, seperti mimpi.


"Baiklah." Ucap Rival, menutup kamar mandi. Mely pun menghela napas dalam.


Dia mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang, mencoba untuk menenangkan dirinya. Mely yang sekarang jauh berbeda dengan Mely yang dulu. Wanita itu sekarang sudah lebih dewasa dan tenang. Tidak seperti dulu yang bersikap sesuka hatinya.


Mely menitikkan air mata, mengingat penampilan Rival suaminya yang benar-benar berubah. Benarkah, mengikuti saran Mama Maryam, adalah sebuah kesalahan? buktinya, setelah berpisah dengan Rival. Dia juga tidak merasa bahagia. Bahkan setiap malamnya Dia sering menangis. Merindukan pria itu, walau Dia membencinya juga.

__ADS_1


Saat melamun, suara ribut diluar terdengar. Sepertinya Keluarganya sudah datang. Saat Mely hendak, bangkit dari duduknya suara pintu dibuka pun terdengar.


Mama Maryam, sudah berdiri di ambang pintu dengan tatapan mata sulit diartikan.


__ADS_2