Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 Extra chap


__ADS_3

"Ma--ma," ucap Mely pelan, dengan perasaan berkecamuk. Tubuhnya bergetar, karena merasa takut kepada Mamanya yang menatapnya dengan tatapan tajam.


Apakah Mamanya mengetahui kalau Rival dan dirinya sedang bersama? apakah Mamanya akan memarahinya.


"Ma---ma, ka--lian sudah pu-lang?" ucapnya terbata-bata. Kini Dia sudah berdiri disisi Ranjangnya.


Mely meremas-remas selimut yang membalut tubuhnya dari bagian dada sampai bawah itu. Keningnya mengeluarkan bintik-bintik air. Sebagai tanda, kalau Dia sedang takut dan gugup, melihat Mamanya berjalan ke arahnya dengan tatapan mata tajam tanpa berkedip.


"Ma, Aku. Ma, itu..," Mely semakin panik, tidak tahu harus berucap apa. Tatapan mata Mamaya masih lekat menatapnya. Sepertinya Mama Maryam akan mengulitinya. Kalau sampai tahu, bahwa mereka baru saja melakukan pergumulan panas.


Mely mengusap wajahnya kasar. Menarik napas dalam. Dia sedang mempersiapkan dirinya untuk menghadapi Mamanya yang akan memarahinya itu.


Mama Mely kini sudah tepat berada di hadapannya. Wanita itu, memegang bahu putih Putri nya yang terekspose. Karena tidak ditutupi sehelai benang pun.


"Kamu kenapa sayang? apa yang terjadi?" ucapan Mama Maryam, membuat hati Mely sedikit tenang. Mely yang beranggapan, Ibunya itu akan memarahinya. Malah ternyata mengkhawatirkannya.


"Ruang tamu berantakan, Gucci dan vas bunga pecah." Ucap Mama Maryam panik. Kini mata Mama Maryam beralih ke leher Mely yang penuh dengan tanda merah. Melihat leher putrinya penuh dengan cupan*gan. Mama Maryam semakin takut.


Apakah putrinya itu, telah dinodai orang jahat?


"Mely sayang, kamu kenapa? ini apa sayang?" Mama Maryam, menyentuh leher Mely yang penuh dengan tanda merah. Bahkan tanda merah di lehernya, panjang dan lebar seperti Habis dikerok pakai koin. Jelas saja seperti itu, Rival sepertinya menyedot penuh dengan nafsu. Seolah Dia ingin menelan wanita itu, saking gemesnya.


Tubuh Mely semakin bergetar Dia menjauhkan lehernya dari jangkauan Mamanya. Dia takut dengan pertanyaan Mamanya itu. Tidak mungkin, Dia mengatakan bahwa Dia baru selesai bercocok tanam dengan Rival.


"Apa yang terjadi?" ucap Mama Maryam histeris. Pikiran negatif tentang putrinya membuatnya hilang akal. Apakah ada penjahat yang melecehkan putrinya?


Mely menangis, Dia pun mendudukkan tubuhnya di tepi ranjangnya. Dia merasa dadanya sangat sesak. Kenapa harus seperti ini pertemuannya dengan Rival. Bagaimana caranya menjelaskan kepada Mamanya. Yang jelas-jelas saat ini sangat membenci Rival.


Tidak mendapat jawaban dari Mely. Mama Maryam mengendarakan pandangan nya ke seluruh sudut ruangan. Betapa terkejutnya Dia mendapati pakaian pria berceceran di lantai dan sebagian di atas ranjang.


Seerr-.... Darah Mama Maryam berdesir hebat, yang membuat dadanya naik turun karena syok, mendapati putrinya dalam keadaan tidak baik-baik saja.


"Apa yang terjadi? kamu jangan diam saja? apakah ada orang jahat telah menodai mu?" ucap Mama Maryam, sambil menggoyang-goyangkan bahu Mely yang kini sedang menangis tersedu-sedu.


Krekkk....

__ADS_1


Saat itu juga pintu kamar mandi terbuka. Mata Mama Maryam Langsung tertuju ke pintu itu. Mata Mama Maryam melotot penuh, melihat ada pria penuh dengan brewok dan kumis tebal, berdiri di ambang pintu kamar mandi. Dengan handuk putih, membelit di pinggangnya. Rambut pria yang cepak itu, masih terlihat basah. Seperti baru selesai keramas.


"Siapa Dia? apa yang kamu lakukan?" teriak Mama Maryam, kembali menggoncang bahu Mely. Dia tidak bisa melihat kenyataan, kalau putrinya itu membawa seorang pria ke rumah. Disaat mereka sedang keluar rumah.


Apa putrinya begitu kesepiannya, sehingga Dia mengundang pria untuk memenuhi hasrat birahinya?


Mama Maryam, tidak sampai pikirannya. Kalau pria yang masih berdiri di depan kamar mandi itu adalah Rival menantunya.


"Apa Dia pria yang kamu ceritakan akhir-akhir ini? apa kamu menjual tubuhmu, untuk mendapatkan uang darinya?" teriak Mama Maryam. Dia tidak habis pikir putrinya itu melakukan dosa besar itu, hanya karena ingin dapat bantuan modal. Untuk membangun usaha rekreasi perkebunan strawberrynya.


Surrrrrr blash...


Rival dibuat terkejut dengan ucapan Mama Maryam. Benarkah istrinya itu, sudah mendapatkan gantinya? sehingga istrinya itu, tidak ingin kembali lagi padanya. Tapi, mengingat pergumulan panas yang mereka lakukan tadi. Rival yakin, Mely merindukannya.


Hati Rival jadi mencolos mendengar ucapan Mama Maryam. Dia tidak mau kehilangan wanita itu lagi.


Mely semakin mengencang tangisannya. Kenapa akhir-akhir ini, Mamanya selalu marah-marah saja. Dia pun menatap Mama Maryam dengan kesal. Kemudian beralih menatap Rival, yang masih diam mematung di ambang pintu kamar mandi.


Tidak mendapat jawaban dari Mely, Mama Maryam mendekati Rival.


"Tega sekali kau memanfaatkan putriku yang Sedang sendiri di rumah. Aku akan melaporkan mu ke kantor polisi." Ucap Mama Maryam dengan berapi-api. Dia sungguh tidak mengenali Rival.


"Silahkan laporkan, dan Mama juga akan saya laporkan. Karena membawa kabur anak dan istriku." Ucap Rival dengan penuh penekanan, Dia pun berjalan ke arah Mely yang masih menangis terduduk di tepi ranjang.


Duarr---- jantung Mama Maryam rasanya seperti disambar petir. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak menyangka pria yang berada di kamar putrinya adalah Rival.


"Apa? ka---mu, kamu Rival?" ucap Mama Maryam, tidak percaya, kedua bola matanya berputar dan mengerjap-ngerjap. Dia berbalik badan, berjalan menghampiri Rival, yang kini berada di sebelah Mely. Kenapa Rival menemukan mereka. Padahal mereka sudah mengganti identitas mereka.


"Kamu bersiap-siap, kita harus pulang malam ini juga." Ucap Rival menatap Mely yang masih menangis.


Mely mendongak, menatap Rival dengan menggelengkan kepalanya. Rival belum menjelaskan apa-apa. Seenaknya saja, Dia meminta ikut dengannya. Kalau benar, di rumah mereka sudah ada wanita selingkuhannya. Mana mungkin Dia sudih kembali kepada Rival.


Rival menatap Mama Maryam yang masih mematung, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Rival benar-benar berubah.


"Apa Mama mau melihat ku berganti pakaian? sehingga Mama masih berdiri disitu?" ucap Rival dengan melototkan matanya. Rival begitu kecewa kepada Mama Maryam yang menurutnya egois.

__ADS_1


Ucapan Rival benar-benar tidak bersopan. "Keluar kamu dari rumah ini." Tegas Mama Maryam, menunjuk pintu kamar.


"Tentu saja saya akan keluar." Rival menarik lengan Mely. Saat itu juga terdengar suara tangisan sikembar dan suara gaduh.


Mely yang syok dengan kejadian ini. Hanya bisa mengikuti gerakan Rival yang menarik lengannya. Tenaganya seolah habis untuk berdebat. Dia seperti orang linglung.


Mama Maryam berdecak kesal, melihat Mely menurut saja ditarik oleh Rival. Putrinya itu tidak peduli lagi dengan penampilannya yang hanya membelitkan selimut di tubuhnya. Sedangkan Rival masih memakai handuk yang membelit di pinggangnya.


Di ambang pintu kamar, Pak Firman menghadang Rival. "Kita bicara baik-baik." Firman masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu kamar itu.


Rival masih mematung di tempat, tidak tertarik dengan tawaran Pak Firman untuk bicara baik-baik. Dia sudah begitu kecewa kepada Mama Maryam dan Pak Firman, yang telah ikut campur dalam urusan rumah tangganya.


Rival sangat menghormati Mama Maryam, tapi setelah kejadian ini. Baginya tidak ada lagi nilai tawar untuk Mama Maryam dan Pak Firman.


"Tidak ada yang perlu dibicarakan. Saya hanya ingin menjemput istri dan anakku." Rival menekan handle pintu kamar Mely. Sedangkan Mely hanya bisa menangis.


"Jangan keluar, biar kami yang keluar dari kamar ini. Kalian bicaralah dengan baik-baik." Ucap Firman, menarik lengan istrinya.


"Apa maksudmu Bang? Mely tidak boleh kembali kepadanya. Dia tidak mencintai Mely. Mely tidak akan pernah bisa bahagia bersamanya. Yang Dia bisa hanya membuat Mely menangis. Mely berhak bahagia, Dia masih muda." Ucap Mama Maryam dengan histeris. Dia menghempaskan tangan Firman yang ingin menggereknya.


Rival terhenyak mendengar ucapan Mama Maryam. Mungkin benar, Mely sering menangis karena terlalu mencintainya. Tapi, keadaanlah yang membuat Mely sering merasa tersakiti. Itu semua juga, karena Mely yang masih kekanak-kanakan dan belum punya pengalaman dalam hal mencintai. Jadi, setiap sikap dan tindakan Rival yang tidak sesuai dengan pemikirannya. Maka Mely akan sedih.


Banyak masalah dalam rumah tangga. Tapi, pasangan itu mau sabar menjalaninya. Bukannya main kabur dari masalah, seperti yang dilakukan Mely saat hamil.


Rival meriah kedua tangan Mely, menatap lekat istrinya itu. "Saya mencintainya." Rival menatap ke arah Mama Maryam. Kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Mely. "Mas mencintaimu, hanya saja Mas telat menyadarinya." Tatapan Rival yang penuh ketulusan membuat, tubuh Mely bergetar karena menahan tangis.


"Mas tidak pernah selingkuh. Mas dijebak." Jelas Rival dengan menarik napas panjang. Dia sangat berharap Mely percaya padanya. Tidak perlu lagi memperpanjang masalah.


"Mas sudah pernah menceritakannya kepada Pak Firman di Mushollah saat di Rumah Sakit, bahwa Mas tidak mengkhianati cinta kita. Mas dijebak, dan wanita gila itu sudah mendapatkan hukuman atas kejahatannya." Ucap Rival dengan sendu, menatap kedua bola mata Mely yang sudah memerah karena menangis.


Mendengar ucapan Rival, Firman terdiam. Wajar Firman tidak percaya, Karena saat itu, Dia merasa Rival pasti membela diri.


"Stop omong kosongmu. Di video jelas, kamu melakukannya penuh penghayatan." Mama Maryam hendak menyamperin Rival. Dia ingin mendorong pria itu dari putrinya. Tapi, aksinya langsung ditahan oleh Firman.


"Ayo kita keluar. Beri mereka kesempatan untuk bicara." Firman merayu Maryam, agar meninggalkan kamar itu.

__ADS_1


"Mereka sudah bicara, bahkan mereka sudah melampaui batas. Lihat keadaan mereka." Ketus Mama Maryam. Dia ingin menjambak Rival. Entahlah, sejak hamil. Mama Maryam jadi galak.


"Iya, iya. Karena itulah. Kita harus keluar sekarang. Di luar lebih gawat lagi. Banyak orang yang datang. Sepertinya suruhan Rival." Bisik Firman, yang membuat Mama Maryam melotot kan kedua bola matanya.


__ADS_2