
Deg.....
"Abang Rival?" Gumam Rili dalam hati. Wajahnya yang ceria dan bahagia, langsung berubah menjadi buram dan ketakutan. Bukankah hal yang kita takuti, apabila berada dihadapan kita maka akan membuat kita jantungan? begitulah yang dirasakan Rili saat ini. Dia sangat takut, terjadi lagi pertengkaran di kedai ini.
Dengan berusaha menenangkan diri dan mengontrol detakan jantung yang tidak normal itu. Rili melirik suaminya, berharap Yasir mengajaknya pergi dari situ. Rili menggenggam tangan Yasir, mengajak Yasir yang tak kunjung bereaksi. Kedua pria itu malah saling bersitatap dan terkadang Rival mengalihkan pandangannya ke arah Rili.
"Silahkan duduk, kalau mau gabung." Jawab Rival datar. Tapi, jangan tanya jantungnya juga sedang marathon. Melihat mantan istri bersama dengan pasangannya, tentunya membuat dada Rival rasanya sangat sesak. Secara Dia belum bisa melupakan mantan istrinya itu.
Yasir tersenyum kepada Rival. Melihat Yasir tersenyum, Rival melirik Rili sekilas. Tapi Rili dengan cepat Rili mengalihkan pandangannya. Sehingga Rival memutar lehernya, kembali menikmati sarapannya.
"Kita gabung saja dengan Abang Rival." Ucap Yasir lembut dan menarik lengan Rili yang seolah enggan untuk semeja dengan Rival. Bukan apa-apa Rili takut terjadi pertumpahan darah di tempat itu.
Mau tidak mau Rili akhirnya duduk semeja dengan suami dan mantan suaminya. Berada semeja dengan dua pria yang pernah mewarnai hidupnya itu membuat Rili tidak tenang. Dia tidak bisa mengendalikan detakan jantungnya. Ini benar-benar acara sarapan yang membuat jadi penyakit saraf.
Lama ketiganya diam, sehingga pelayan mengantarkan pesanan Yasir dan Rili.
Rival sebenarnya ingin meluruskan masalah yang terjadi kemarin sore. Tapi, Dia takut penjelasannya malah akan berbuntut panjang. Menghindari perdebatan lebih baik, walau kita benar. Ya, saat ini Rival merasa ucapannya semalam tidak salah. Dia hanya ingin mengatakan yang dirasakannya dan meminta maaf, serta memberi uang sebagai ganti. Karena Dia tidak menafkahi Rili, semasa berstatus istrinya.
Rival tersenyum kepada pengantin baru itu. Rival pun tidak ingin bertanya banyak lagi. Kapan Yasir dan Rili menikah. Dia beranjak dari duduknya. Hendak melangkah.
"Abang Rival, Ada yang ingin saya bicarakan?" ucap Yasir, yang membuat Rival menghentikan niatnya mau melangkahkan kakinya. Sedangkan Rili sudah pucat dan gemetar. Dia tidak sanggup lagi menyaksikan pertempuran ketiga kalinya kedua pria tampan dan baik itu.
Rival menoleh kepada Yasir. "Duduklah Bang." Ucap Yasir memberi kode kepada mantan asistennya itu.
Jauh di lubuk hati paling dalam Yasir. Dia sangat menghormati mantan suami istrinya itu. Hanya satu kekecewaan Dia, Rival meninggalkan Rili juga. Padahal Yasir pernah memintanya untuk meninggalkan Rili. Tapi, Rival tidak mau.
Rival mendudukkan bokongnya kembali dihadapan pasutri itu. Dia melihat Rili yang wajahnya sudah pucat. Sedangkan Yasir tersenyum penuh kemenangan. Karena Rili akhirnya Kembali ke pelukannya.
Rival diam, Dia menunggu Yasir bicara.
"Apakah perusahaan Abang yang akan melanjutkan kontrak dengan perusahaan saya?" tanya Yasir serius. Dia kembali menyendok lontong ke mulutnya. Dia juga meminta istrinya untuk makan lontongnya. Tadi Asisten Jef, mengirimkan file perpanjangan kontrak.
__ADS_1
"Iya." Jawab Rival singkat. Sebenarnya Dia tidak tahu, bahwa orang tuanya menjalin kerja sama dengan perusahaan Yasir. Dia hanya melanjutkan kontrak perjanjian. Dia dipercaya Ayahnya mengurus proyek ini. Makanya Dia datang ke kota S dan meninggalkan istri di Kota Medan. Karena istrinya sedang hamil.
"Dunia ini sangat sempit Abang Rival. Untuk itu, kita janganlah mempersempit hati dan pikiran kita lagi. Aku minta maaf, kalau selama ini ada salah kepada Abang!" ucap Yasir dengan ramahnya. Dia menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan.
Yasir melakukan itu, bukannya takut kehilangan relasi kerja. Tapi, memang Dia sadar. Mantan suami istrinya ini pria baik. Sudah terbukti, hampir sebulan Rival dan Rili menikah. Rival tidak memaksa Rili melayaninya di ranjang. Pria mana yang bisa melakukan itu, hanya pria yang baik dan sabarlah yang bisa berdamai seperti itu. Dan dihati yang paling dalam Yasir berterima kasih kepada Rival. Karena Rival sudah menjaga Rili. Coba Rili menikah dengan orang lain. Mungkin Dia tidak akan bisa bersatu dengan Rili seperti sekarang ini.
Rival terkejut dengan sikap Yasir itu. Dia beranggapan Yasir akan marah dan cemburu kepadanya. Tapi, nyatanya Yasir mengajak berdamai.
Rili yang berada di tempat itu tidak kalah terkejutnya melihat sikap suaminya yang menurutnya sangat dewasa itu. Kecemasan, rasa was-was dan ketakutan hilang dari hati Rili. Kini yang ada adalah perasaan terbaru serta sangat bangga terhadap Yasir. Dia merasa menjadi wanita yang sangat beruntung mendapatkan cinta yang begitu besar dari Yasir.
Rili akhirnya mengangkat kepalanya yang dari tadi tertunduk. Dia melirik Yasir. Yasir juga sedang melihat Rili dengan tersenyum.
Yasir menggoyang tangannya yang lama mengatung di udara. Dengan tersenyum Rival berdiri, Yasir juga berdiri akhirnya mereka berjabat tangan. Mereka pun berpelukan dengan hangat dan tertawa kecil yang masih dibatasi oleh meja makan. Sedangkan Rili benar-benar terharu melihat pemandangan yang ada dihadapannya. Matanya berkaca-kaca, hatinya begitu bahagia. Akhirnya semua kesalahpahaman terjawab sudah.
Kedua pria tampan itu mengurai pelukannya. Kini tatapan Rival beralih ke arah Rili. Rili menatap Rival sekilas kemudian menatap Yasir. Rili berdiri, dengan sayang Yasir merangkul Rili.
"Eehhmmmm.... Boleh minta izin gak Yasir?" tanya Rival dengan wajah tidak tahu malu.
"Bukan. Mau minta izin memeluk mantan istri untuk terakhir kalinya." Ucap Rival tertawa aneh. Yang membuat Rili menyergit, sedangkan Yasir tertawa.
"Tidak boleh bang. Makanya cepat selesaikan tugas dan pulang sana, peluk istrinya." Ucap Yasir tertawa. Dan Rival pun ikut tertawa, sedangkan Rili malu-malu dan merasa kikuk. Karena dibuat jadi bahan ledekan oleh kedua pria yang berstatus suami dan mantan suami itu.
Puas tertawa Yasir memulai percakapan.
"Abang kenapa tidak sarapan di Hotel tempatnya menginap?"
"Tidak selera makanan Hotel. Pinginnya makanan kampung. Namanya juga sudah lama jadi orang kampung. Lidah ini pun cocoknya kuliner kampung." Jawab Rival dan menyeruput teh manisnya.
"Jodohnya pun sebenarnya cocoknya sesama orang kampung. Bukan begitu dek Rili?" ucap Rival berseloroh yang membuat Rili tersedak, saat memakan sarapannya.
Melihat Rili tersedak, Yasir dengan cepat meminumkan air putih kepada Rili.
__ADS_1
"Sudah dong Abang Rival becandanya." Ketus Yasir. Rival pun meminta maaf kepada Rili.
Selesai sarapan, mereka pun meninggalkan kedai menuju Hotel Yasir. Tentunya Rival dengan mobilnya sendiri.
"Bagaimana rasanya berjumpa dengan mantan?" tanya Yasir tersenyum menggoda kembali istrinya itu.
"Eehhmmmm.... Bagaimana ya? rasanya tidak jauh beda dengan saat kita jatuh cinta." Ucap Rili, Dia tidak mau kalah. Dia juga harus bisa memanas-manasi suaminya itu.
"Dug....dug...dug.... begitu ya sayang?" tanya Yasir sambil fokus menyetir.
"Ya begitu dech." Jawab Rili cepat.
"Kalau begitu yang Adek rasa. Berarti samalah dengan yang Abang rasa saat berjumpa dengan mantan pacar Abang." Ucap Yasir serius, yang membuat Rili cemburu.
"Emang Abang punya mantan?"
"Adalah, banyak lagi. Orang tampan masak tidak punya mantan." Ucap Yasir serius. yang membuat Rili berubah menjadi tidak semangat.
"Katanya hanya mencintaiku dari dulu, tapi sekarang pengakuannya punya banyak mantan." Gumam Rili dalam hati.
"Buanglah mantan pada tempatnya ya sayang. Jangan deg deg an lagi kalau bertemu Abang Rival ya?" ucapan Yasir tidak digubris Rili. Hatinya sudah tidak tenang dan semangat lagi. Mendengar pengakuan Yasir.
TBC
Mohon like coment rate 🌟 5 dan vote ya kak.🤗😍🤭
TBC
Mampir juga ke novel ku yang berjudul
PARIBAN I HATE YOU
__ADS_1
Happy reading