Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Apa Dia punya saudara


__ADS_3

Dengan tangan bergetar, jantung yang berdegup kencang. Rili meraih bingkai foto yang terpampang di atas meja kerja Yasir. Dia memperhatikan dengan detail foto di dalam bingkai tersebut. Dia meraba foto dirinya bersama teman kecilnya itu dengan mata berkaca-kaca.


"Inikan diriku dan Abang Andre. Kenapa foto kami ada disini?" Rili bicara sendiri, sambil terus memandangi foto itu dengan mata berkaca-kaca.


Kejadian 16 tahun yang lalu, terlintas lagi di memori Rili. Saat itu setelah dagangan Rili habis terjual. Mereka bermain-main ombak dipinggir pantai, sambil kejar-kejaran. Andre yang memang selalu membawa kameranya, selalu mengabadikan moment-moment kebersamaan mereka. Bahkan, Andre selalu mengambil potret Rili. Baik diambil secara diam-diam oleh Andre, atau Dia meminta Rili berfose lalu menjepretnya.


Sore itu Dia masih ingat. Andre meminta kepada seorang pria bule untuk mengambil foto mereka. Mereka berdua berlari sambil bergandengan tangan, menghindari kejaran ombak. Tertawa bahagia.


Rili terus saja mengusap lembut foto dibingkai itu, air mata tak henti-hentinya mengalir membasahi pipi putihnya.


"Apakah Abang Yasir adalah teman masa kecilku? Teman masa kecil yang melupakan janjinya." Ucap Rili, kali ini air mata makin deras bercucuran membasahi wajahnya.


"Iya, Aku yakin. Andre Dermawan dan Yasir Kurnia adalah orang yang sama. Sifatnya juga sama. Pandai berjanji. Tapi, lupa dengan janjinya." Rili melap air matanya dengan jarinya. Hatinya sakit, perih. Seperti disayat sembilu. Dia merasa menjadi wanita paling bodoh. Karena mencintai pria yang selalu mengingkari janjinya.


"Kenapa Aku selalu mempercayai janji-janjinya." Dia teringat janji Andre. Setiap libur sekolah. Abang akan datang ke kota ini. Kita akan berjumpa lagi. Tapi, Andre tak pernah kunjung datang. Kemudian Rili teringat janji Yasir. Abang akan datang lagi, hanya 3 bulan Abang ke luar kota. Abang akan melamar Adek setelah urusan Abang selesai. Tapi, nyatanya Rili melihat Yasir sudah punya pasangan.


"Kalau benar Andre dan Abang Yasir adalah orang yang sama, kenapa Dia harus mengganti namanya. Terus wajahnya memang mirip. Apalagi matanya. Aku tidak akan pernah lupa tatapan matanya itu." Gumam Rili dalam hati.


Sambil menduga-duga mengenai Yasir yang penuh misteri, Rili terus saja memandangi potretnya bersama pria teman masa kecilnya itu. "Apakah kamu tahu Abang Andre, kalung pemberianmu selalu ku pakai. Sampai akhirnya Aku melepasnya disaat, Pria yang mirip denganmu, mengatakan mencintaiku. Tapi, kami tidak berjodoh. Aku sekarang sudah menjadi istri seorang pria yang baik juga." Ucap Rili dengan mata berkaca-kaca. Dia sudah seperti orang gila saja, tertawa, terseyum dan menangis menceritakan kisahnya sendiri sambil memandangi potretnya dengan Andre.


"Atau Abang Andre adalah saudaranya Abang Yasir?" gumam Rili dalam hati. Otaknya terus saja memunculkan Praduga-praduga yang membuat Dia pusing dan dada terasa sesak. Terlalu banyak kejutan yang diketahuinya. Disaat prahara rumah tangganya akan dimulai.


"Kalau Aku meminta Abang Yasir, untuk mengantarku ke rumah. Apakah Dia mau? Atau, jika Aku meminta uang kepadanya, untuk ongkos pulang. Apakah Dia akan memberinya?" Ucap Rili, Dia masih memandangi fotonya dengan Andre.


"Sepertinya Dia tidak akan mengizinkannya. Kenapa Dia mengurungku dan mengatakan kepada pembantunya. Kalau Aku ini Nyonya di rumah ini? Aaahhhcccc.....kepalaku pusing memikirkannya!" ucap Rili, Dia pun menelungkupkan kepalanya di atas meja.


Lama Rili berada di ruangan Yasir. Dia terus saja memandangi lukisannya dan potretnya bersama Andre. Yang akhirnya suara Adzan pun berkumandang.


Dengan perasaan kacau dan bingung. Rili turun ke lantai satu. Dia duduk di sofa empuk di ruang keluarga. Dia melihat ada lukisannya juga di ruang keluarga tersebut.


"Lukisanku banyak juga dirumah ini." Ucap Rili, tangannya bergerak melihat rak tempat album foto. "Astaga, inikan fotoku semua." Ucap Rili dengan wajah terkejut. Dia menutup mulutnya dengan tangannya. Kemudian tangannya tersebut merapikan rambutnya dengan menarik sedikit kebelakang.


"Nyonya, apa Nyonya mau sholat magrib juga?" tanya Bi Siti, setelah selesai melaksanakan sholatnya dari ruangan sholat.


"Tidak Bi. Saya lagi tidak bisa sholat." Jawabnya, sambil terus melihat-lihat fotonya di album tersebut. Dia semakin penasaran saja dengan apa yang ditemukannya di rumah ini.


"Bi, apa Bibi tahu foto ini milik siapa?" Rili menunjukkan album foto yang ditemukannya di rak penyimpanan yang terdapat di ruang keluarga tersebut.


"Semua barang-barang yang ada disini, milik tuan Yasir, Nyonya." Ucap Bi Siti, dengan tersenyum. "Foto di album ini, mirip Nyonya. Aku baru memperhatikannya." Bi Siti, membolak-balikan isi album foto yang isinya foto Rili dan Andre.


"Apa Abang Yasir, punya saudara Bi?"

__ADS_1


"Kalau soal itu, Bibi kurang tahu. Tapi, sejak Bibi bekerja di rumah ini, tidak pernah ada yang datang yang mengaku saudara. Palingan yang sering datang Ayah dan Ibunya tuan Yasir." Bi Siti, memperhatikan wajah Rili yang bingung.


"Ayo makan Nyonya, tadi tuan Yasir menelpon. Nyonya harus makan dan minum obat." Bi Siti, berjalan menuju ruang makan yang diikuti Rili.


"Bi, Apa Abang Yasir tidak pulang?" tanya Rili, Dia pun membantu Bi Siti, menghidangkan makanan di meja makan.


"Soal itu Aku kurang tahu nyonya." Bi Siti yang perawakannya mirip Mamanya Rili tersebut, menemani Rili makan sampai selesai.


"Apa hanya Bibi ART di rumah sebesar ini?" tanya Rili, Dia masih duduk di kursi tempat Dia makan sambil memperhatikan Bibi Siti mencuci piring di wastafel.


"Tidak Nyonya. Ada putri saya yang bantuin. Tapi, Dia sekarang lagi di rumah jagain ayahnya sakit." Ucap Bi Siti dengan wajah sedih. Dia teringat suaminya yang ditinggalkannya tadi pagi. Tapi, karena Tuannya Yasir memintanya datang. Dia pun tidak bisa menolak.


"Tuan juga meminta saya untuk cari ART di rumah ini, tapi belum dapat." Akhirnya Bisa Siti dan Rili berbincang-bincang sampai dapat waktu isya. Rili senang ada temannya ngobrol yang karakternya seperti mamanya.


Perbincangan Bi Siti dan Rili pun diakhiri. Karena Bi Siti, akan pamit pulang. Ya, Bi Siti sudah minta izin kepada Yasir. Kalau malam Dia pulang ke rumah. Dan esoknya datang lagi.


Rili kembali memasuki kamarnya. Dia melihat jam yang menempel di dinding kamar sudah menunjukkan pukul 21.00 Wib.


"Kenapa Abang Yasir belum pulang juga. Aku sangat ingin menanyakan semuanya. Apa Dia menginap di rumah istrinya?" Ucap Rili, Dia pun berulang kali menguap, menahan ngantuk. Mungkin efek obat. Jadi Dia sangat mengantuk. Dia pun membaringkan tubuhnya. Di ranjang empuk milik Yasir Tersebut.


💐💐💐


"Bahagia yang mana yang dimaksud Ibu. Apa Ibu tidak tahu bahwa Rili menderita dengan pernikahannya?" ucap Yasir, Dia pun memijat keningnya, kemudian menyisirkan jarinya ke rambutnya sampai belakang. Dia berfikir keras sampai mengetuk-etukkan pena yang ditangannya ke meja kerjanya.


"Aku harus mendapatkan suami kurang ajarnya itu. Akan ku beri pelajaran kepadanya. Pria macam apa yang tega menganiaya istrinya sendiri." Ucap Yasir geram. Dia menggebrak meja dengan sangat kuat. Sehingga Dia merasakan sakit ditangannya.


Tok....tok...tok...


"Bos.... Bos... Apa anda masih di dalam?" ucap Rival. Dia dan tim nya baru sampai di kantor. Dari perjalanan. Kedua temannya meminta Rival mengantarkan kawannya ke Mes perkebunan dulu, kemudian Rival pulang ke rumahnya dengan mobil perusahaan yang mereka bawah selama perjalanan Dinas ke luar kota.


Rival yang melihat mobil Yasir di parkiran. Akhirnya memutuskan untuk mendatangi ruangan Yasir. Dia ingin memastikan Bos nya itu. Apa benar masih dikantor. Padahal sudah pukul 22.00 Wib.


"Ya, silahkan masuk." Ucap Yasir. Dia pun nampak mengangkat bokongnya, untuk mengubah posisi duduknya.


Rival masuk ke ruangan Yasir, dengan sedikit terheran-heran. Dia melihat mata Yasir berkaca-kaca, seperti menahan air mata. Yasir juga sedang memain-mainkan asap rokok yang dihisapnya. Dibuang ke udara berbentuk gumpalan bola-bola.


"Tidak biasanya Bos, sudah larut begini masih di kantor." Ucap Rival. Dia pun mendudukkan bokongnya di sofa yang terdapat di ruangan kerja tersebut. Dia meregangkan otot-ototnya yang kaku, karena lelah diperjalanan.


Yasir meninggalkan tempat duduknya. Dia mematikan puntung rokoknya dengan menekan keras ke asbak berwarna hitam. Dia menghampiri Rival dan mendaratkan bokongnya di sebelah kanan Rival.


"Bagaimana tugas kalian, sukses?" tanya Yasir. Dia pun menyandarkan punggung di badan sofa.

__ADS_1


"Lancar. Bos sepertinya sedang ada masalah?" Rival memperhatikan Yasir yang nampak kacau tersebut.


Yasir menghela napas. Dia pun akhirnya menegakkan tubuhnya. Matanya yang nampak memerah seperti habis menangis. Menatap ke arah Rival dengan begitu menyedihkan.


"Apa yang akan kamu lakukan, apabila wanita yang saaaa...nggggatttttt kamu cintai, sayangi, kamu rela mengorbankan semuanya untuknya dan pada akhirnya kamu melihatnya menderita." Ucap Yasir, dengan menatap lekat ke arah Rival.


"Maksudnya apa Bos? Maaf. Aku kurang mengerti." Jawab Rival dengan sedikit bingung.


"Begini, saya mencintai seorang wanita. Wanita itu juga mencintai saya. Tapi, takdir berkata lain. Dia menikah, karena ada unsur perjodohan. Dengan berat hati, akhirnya saya mengikhlaskannya. Karena kata orang tuanya Dia bahagia. Tapi, nyatanya Dia tidak bahagia.


"Coba kamu bayangkan, bagaimana sakitnya ku rasa. Disaat saya menemukannya di tengah malam. Di bawah guyuran hujan deras. Wajahnya penuh dengan luka dalam keadaan pingsan. Suaminya tega mengusirnya." Ucap Yasir dengan penuh amarah. Setiap Dia mengingat keadaan Rili malam itu darahnya pasti mendidih.


"Melihat Dia menderita seperti itu. Hatiku sangat sakit. Aku ingin memilikinya kembali. Tapi, Dia masih saja membela suaminya dan mengatakan bahwa Aku lah pria pria yang selalu menyakitinya. Dan suaminya katanya pria baik. Kalau baik, kenapa Dia ditelantarkan suaminya?


"Aku sangat kesal. Dia tidak merasakan sedikit pun, besarnya cintaku kepadanya." Ucap Yasir. Sikunya bertumpu dipahanya, sedangkan kedua tangannya menutup wajahnya dan kemudian, kedua tangannya tersebut menyisir rambutnya sampai belakang.


Rival sebenarnya sangat tidak tertarik mendengarkan curhatan Yasir. Karena, dipikirannya sekarang hanya istrinya.


"Menurutku, Bos tidak usah ikut campur dalam masalah rumah tangga mantannya Bos. Karena Dia sudah punya kehidupan sendiri."


"Kalau benar Dia bahagia, Aku tidak akan mengusiknya. Tapi, Dia menderita. Aku tidak tahan melihatnya. Tujuan hidupku, adalah untuk membahagiakannya." Ucap Yasir geram, Dia pun akhirnya berdiri dan mengambil rokok yang berada di meja kerjanya. Dia memantiknya, kemudian menyesapnya dalam-dalam dan mengeluarkan asapnya dari mulutnya. Yasir menyandarkan tubuhnya di sisi meja kerjanya. Kaki kanannya nampak menyilang ke kaki kirinya.


Rival pun bingung harus berbuat apa. Dia ingin sekali cepat pulang.


"Itu gampang Bos, penjarakan aja suaminya dan Bos menikahi wanita yang Bos cintai itu."


"Tapi, sepertinya Dia tidak mau meninggalkan suami berengseknya itu." Ucap Yasir. Dia pun memutar lehernya menatap Rival.


Rival menggaruk kepalanya yang tak gatal itu. Dia sudah sangat lelah, Dia juga sangat mengkhawatirkan istrinya. Dan Dia malah terjebak tidak bisa pulang cepat, gara-gara mendengarkan curhatan Bosnya. Yang menurutnya tidak penting.


"Santai ajalah Bos. Kalau memang jodoh tak kan kemana. Sebaiknya Bos pulang, Istirahat. Untuk masalah ini. Besok aku cari solusinya untuk Bos. Ayo Bos kita pulang saja! Aku sudah sangat merindukan istriku saat ini." Ucap Rival dengan sedikit bercanda. Akhirnya mereka pun pulang. Sepanjang perjalanan. Yasir terus saja mengoceh. Tapi, Rival Hanya menanggapinya dengan senyuman.


Setelah Pak Satpam membuka gerbang pagar. Mobil Yasir langsung masuk dan berhenti tepat di depan Rumah. Mobil itu dikendarai oleh Rival


Bersambung


Mohon beri like, coment positif. Rate bintang 5 dan jadikan novel ini sebagai favorit.


Jangan lupa VOTE nya kak!


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2