Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Naas


__ADS_3

Suasana makan malam di ruang makan sederhana dikediaman Rili nampak hening. Setelah selesai makan malam. Ayah Rili nampak pergi ke ruang keluarga, sedangkan mamanya menemani Rili mencuci piring.


"Mama senang lihat kamu kembali seperti semula. Udah tidak melewatkan makan malam lagi." Ucap mama Rili dengan membantu Rili meletakkan piring yang dicuci putrinya ke rak piring di dekat wastafel pencuci piring tersebut.


"Iya ma, jangan terlalu memikirkan putrimu ini. Putrimu ini udah dewasaloh ma." Ucap Rili dengan tersenyum dan mencium sekilas pipi mamanya yang tengah berdiri disebelah Rili.


Mama Rili tersenyum melihat tingkah putrinya yang sudah kembali seperti biasanya. Mama Rili sebenarnya ingin membahas Yasir, tapi niatnya itu diurungkan, karena mama Rili berpikir pasti Rili sudah mendengar kabar tentang Yasir sekarang.


"Ok ma, Rili ke kamar aja ya? capek mau tidur." Ucap Rili sambil melap tangannya dengan kain lap yang tergantung di atas wastafel.


"Iya nak." Ucap mama Rili sambil mengelus lengan putrinya tersebut.


Rili sedang duduk di kursi meja riasnya dan sedang memainkan ponselnya. Dia mau singgah sebentar di dunia Maya.


Setelah login ke aplikasi favoritnya, ternyata ada pesan dari Rival.


"Pa kabar dek? Koq tidak pernah angkat telpon Abang?"


Rili hanya membaca pesan dari rival dan tidak ada niat membalas pesan tersebut.


Setelah puas berselancar di dunia Maya, Rili bergegas menuju kamar mandi. Wanita itu ingin membersihkan wajah dan giginya dan kemudian melaksanakan sholat isya.


Rili membaringkan tubuhnya sambil memeluk bantal sedangkan kaki disilangkan. Bosan dengan posisi itu dia memiringkan tubuhnya. Akhir-akhir ini Dia sangat susah untuk tidur.


Bayang-bayang Yasir masih selalu menghiasi pikiran dan hatinya, tapi wanita yang ditinggal kekasihnya ini sudah bisa menerima kepergian Yasir. Walau kadang, setiap mengingat Yasir air mata selalu keluar tanpa permisi dari mata indahnya.


Mengingatmu membangkitkan pusara kesedihan, membuat tetes demi tetes air mata jatuh dan begitu menyesakkan dada.


******


Hari berganti hari, seminggu sudah berlalu sejak Rili menyaksikan tontonan yang menyesakkan dada dimana Yasir duduk mesra dengan seorang wanita.


Tadi pagi, mama Rili mengingatkan putrinya bahwa hari ini mereka akan kedatangan tamu yang tak lain Rival Youman. Rili sedang tidak bersemangat untuk berkenalan dengan pria saat ini, bahkan dengan Rival sekalipun, pria yang selalu dipuji-puji Tante Mirna yang katanya Sholeh, baik dan tampan itu.


"Ma, Rili izin ke rumah Windi bentar ya!" ucap Rili yang menyamperin mamanya yang sedang duduk di kursi meja makan sedang mengiris bawang merah.


"Ngapain nak ke rumah Windi? inikan hari libur. Bantuin mama masak mie goreng saja, nanti siang nak Rival datang. Kamu tidak lupakan nak?" ucap mama Rili dengan menghentikan kegiatannya mengupas bawang merahnya.


"Mau print laporan kinerja bulanan ma. Iya, Rili gak lupa koq ma. Sebelum Zuhur Rili da pulang." Ucapnya.


"Baiklah." Ucap mama Rili sambil melanjutkan kegiatannya mengupas bawang merah.


Setelah dapat izin dari mamanya. Rili memacu motornya dengan santai dan sedikit mengkhayal. "Rasanya Dia kurang semangat untuk jumpa dengan Abang Rival. Sungguh Dia belum bisa membuka hati untuk pria lain.

__ADS_1


Diapun heran kenapa mamanya semangat sekali kalau membahas Si Rival. Padahal mamanya belum pernah ketemu dengan Rival.


Akibat mengendarai motor dengan tidak konsentrasi, rumah Windi malah kelewatan. Akhirnya Rili mutar balik.


Ting nong.... Ting nong...ting nong.


Bunyi bel terdengar nyaring di dalam rumah Windi setelah wanita itu yang tak lain Rili berulang kali menekan bel yang menempel di dinding rumah mewah tersebut.


"Koq lama sekali sih membuka pintunya? apa tidak ada orang di rumah ini? Windi kan sudah tahu aku mau datang, kenapa pintunya belum dibuka juga." Rili berbicara sendiri sambil terus menekan bel rumah tersebut.


Ting nong....ting nong....


"Ya, sebentar!" ucap Windi sedikit berteriak dari dalam rumah.


ceklek.... Windi membuka pintu rumahnya yang berwarna putih tulang tersebut.


"Lama banget sih buka pintunya, kaki ku udah pegel yang berdiri menekan bel terus." Ucap Rili sambil berjalan mengekor Windi masuk ke dalam kamar sahabatnya tersebut.


"Aku tadi kebelet." Jawab Windi dengan berbalik badan dan tersenyum kepada sahabatnya itu.


"Koq sepi, om dan Tante ke mana?" tanya Rili.


"Bokap nyokap lagi ke kondangan." Jawab Windi sembari mendaratkan tubuhnya di karpet bulu yang lembut berwarna ungu tersebut.


"Jadi calon suamimu datang hari ini?" tanya Windi sembari berdiri mengambil cemilan yang ada di meja yang terletak di sudut kamar tersebut.


"Calon suami?" tanya Rili dengan bingungnya.


"Iya, semalam kan kamu cerita ada cowok yang akan dikenalin Tante Mirna itu." Ucap Windi sembari menyodorkan kacang tojin kehadapan Rili.


"Kalau ngomong jangan asal, Dia bukan calon suamiku!" jawab Rili dengan kesal sambil menyambar toples kacang tojin tersebut.


"Aku tidak mau mempermainkan perasaan orang. Aku gak ada feel sama Dia. Jadi, nanti kalau bener dia datang ke rumah, aku akan bilang langsung sama dia perkenalan ini cukup sudah sampai hari ini." Ucap Rili dengan serius.


Windi yang mendengar ucapan sahabatnya itu hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Apa salahnya kamu buka hatimu kepada orang lain. Kamu juga berhak bahagia. Jangan si Yasir itu saja yang kamu pikirkan." Ucap Windi sembari memegang tangan sahabatnya tersebut.


"Aku tidak memikirkannya lagi. Tapi, saat ini aku ingin sendiri."


"Sampai kapan kamu ingin sendiri? sampai menopause? Ucap Windi dengan kesal.


"bilangin orang aja kamu bisanya. Kalau kamu kapan mau kawinnya?" tanya Rili dengan nada mengejek.

__ADS_1


"Kawin apa nikah nih?" ucap Windi sambil tertawa.


"Hee..... jangan bilang ya kalau kamu udah pernah kawin? tanya Rili dengan nada terkejut.


"Enak aja kamu, aku ini masih perawan tingting." Jawab Windi dengan bangganya.


"Aku yakin koq." Ucap Rili sambil memasukkan tangannya ke toples kacang tojin.


"Kalau kamu udah ngapain aja sama Abang Yasir?" tanya Windi dengan senyum-senyum sambil mentoel lengan Rili.


"Maksud pertanyaanmu itu apa coba?" ucap Rili sambil beranjak dari duduknya dan berdiri didekat jendela kamar Windi.


"Aku penasaran aja, selama pacaran satu bulan sama Yasir, kamu diapain dia?" tanya Windi kepo.


Mendengar pertanyaan sahabatnya itu, kejadian di pulau kembali lagi melintas dipikiran Rili, yang membuat emosinya jadi tidak stabil. Tapi, wanita itu masih bisa menguasai dirinya sehingga air mata hendak jatuh dipipi putihnya masih bisa ditahannya. Dia tidak mungkin menceritakan aibnya sendiri.


"Eehhmmmm...." Ucap Rili sambil menarik napas dalam-dalam. Lalu mendudukkan kembali bokong di karpet bulu tersebut.


"Minta tolong print laporan kinerjaku dong?" ucap Rili dengan sedikit memelas.


"Baiklah, kalau kamu gak mau cerita gak apa-apa koq." Ucap Windi sambil berjalan ke meja kerjanya, guna memprint laporan sahabatnya tersebut.


"Makasih ya Windi." kamu udah naik banget samaku." Ucap Rili dan berjalan menuju meja kerja Windi.


"Iya, sama-sama. Kalau benar tidak terjadi sesuatu yang intim dengan Yasir, harusnya kamu bisa cepat melupakannya." Ucap Windi dan meletakkan tugas tersebut di atas meja kerjanya.


"Iya bawel." ucap rili dengan kesal. Rili ingin cepat-cepat pulang, karena dia lagi malas membahas Yasir.


Setelah selesai memprint tugas laporan kinerja, maka sudah saatnya Rili pulang.


"Aku pulang ya, terima kasih banyak ya Windy!" ucap Rili dengan tersenyum.


"Iya, sama-sama." Ucap Windi.


Kini Windi mengantar sahabatnya tersebut ke luar rumah. Windi pun masuk lagi ke dalam rumah, setelah Dia memastikan sahabatnya itu sudah melajukan motornya.


Disepanjang perjalanan, wanita itu kembali mengkhayal. Dia tidak mengira akan ada mobil Avanza berwarna hitam yang tiba-tiba berhenti di depannya. Sehingga kejadian naas pun tidak bisa dielakkan lagi.


Brakkkk.... Rili terpelanting karena menabrak mobil yang berada di depannya.


Bersambung....


Mohon beri like, coment dan vote ya kak.

__ADS_1


Terima kasih.


__ADS_2