Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 Berdamai


__ADS_3

Rival sungguh tidak tahan untuk tidak mengeluarkan gelak tawanya. Akhirnya Dia pun tertawa. pppffff....Sungguh cara Mely memperagakan dirinya saat pelepasan begitu lucu. Harusnya Dia malu, ternyata ekspresinya begitu bodoh merasakan orga*asme itu.


"Kenapa malah tertawa? Abang benar-benar ya tidak merasa bersalah. Abang tidak tahu hatiku sangat sakit, saat nama itu yang Abang ucapkan.!" Mely kembali menangis, sambil terus melap air matanya.


Rival pun menghentikan gelak tawanya. Dia diam berfikir sejenak dan mengingat-ingat kembali aktifitas mereka saat itu. Benarkah Dia menyebut nama Rili? kalau benar seperti itu, jelas saja Dia salah. Tapi, itu Dia lakukan saat tidak sadar.


Memang benar Dia masih mencintai mantan istrinya itu. Apalagi mereka berpisahnya dalam keadaan tidak baik. Banyak hal yang belum tuntas, sehingga Dia masih sering memikirkan Rili mantan istrinya. Tapi, bukan berarti Dia berniat main-main dengan Mely.


"Maaf,!" Rival meraih dagu Mely yang menunduk dan masih menangis itu. Dia kesal sekali kepada Rival yang menertawakannya.


Kedua mata mereka bersitatap, Kemudian Rival melap air mata Mely dengan jemarinya.


"Maaf ya, kalau benar seperti itu adanya. Abang tidak sadar mengucapkannya. Tapi, bukan berarti Abang tidak serius dengan hubungan kita ini. Perlahan Abang akan melupakannya dari pikiran Abang. Bodohnya Abang jikalau mengingat-ingat masa lalu. Padahal sudah jelas masa depan Abang ada dihadapan Abang sekarang." Rival masih menatap lekat kedua mata Mely. Kemudian tangannya merapikan rambut Mely dengan menyisipkannya ke daun telinga Mely dengan lembut, yang membuat Mely menatap wajah Rival yang meneduhkan itu. Dia sungguh merindukan suaminya itu.


Mely semakin mengencangkan tangisan yang membuat Rival kelabakan. Dia pun langsung menarik Mely kepelukannya. Dia mengusap lembut punggung Mely yang menangis dan sudah membasahi bajunya itu. Bahkan Mely menarik kaos yang dikenakan Rival di bagian dadanya guna melap ingusnya. Tapi Rival tidak mempermasalahkan sikap Mely tersebut. Dia terus saja mengusap-usap punggung Mely sampai tangisan wanita liar itu reda.


"Apa Abang cemburu melihat ku diboncengi pria lain?" tanya Mely setelah Dia puas menangis dipelukan Rival. Kini Dia mengusap-usap dada Rival yang bidang.


"Sangat cemburu." Ucap Rival singkat, yang membuat Mely mendongak, sehingga mereka bersitatap.


"Kalau cemburu, kenapa sikapnya biasa saja tadi pagi dan malah ingin kita pisah." Mely cemberut, Dia sampai memanyun-manyunkan bibirnya.


"Emang Adek maunya sikap Abang bagaimana? marah-marah tidak jelas gitu ya?" Rival gemes melihat tingkah Mely yang memanyun-manyunkan bibirnya itu dalam dekapannya, Rival pun mentoel hidung Mely yang mancung itu.

__ADS_1


"Ya gitu dexh. Soalnya Adek lihat di TV. Kalau pasangan cemburu akan marah-marah, kecuali Dia tidak punya perasaan kepada pasangan nya itu."


"Oohh.... itu kan cerita, yang dibuat se dramatis mungkinlah biar penonton ikut terhanyut di dalam ceritanya. Kalau kita kan tidak lagi main sinetron." Ucap Rival dengan tersenyum. Dia semakin mengeratkan pelukannya.


Rival tersenyum gemes, Dia teringat cara Mely yang mempraktekkan dirinya saat pelepasan. 'Apa ekspresi diriku seperti? memalukan sekali.' Gumamnya dalam hati.


"Apa Adek masih mau mengeluarkan susu kental itu? atau Adek ingin merasakannya juga?" bisik Rival di telinga Mely dengan lembut yang membuat debaran jantung Mely berantakan dan bulu Roma Mely meremang.


Dia pun mengurai pelukan suaminya itu. "Gak mau.!" ucapnya cepat dan beranjak dari tempat tidur. Tapi Rival menarik kuat lengan Mely sehingga Dia ambruk dan menimpa tubuh Rival. Dug...dug... dug.... Mely sungguh dibuat jantungan dengan sikap Rival yang mesum malam ini. Baru kali ini sikap Rival sangat menggoda, yang membuat Mely takut bahkan Dia kesusahan menelan ludahnya sendiri.


Mely dengan cepat bertumpu di dada Rival. Sambil berusaha bersikap tenang. Saat mata keduanya bersitatap. Sorotan mata keduanya memancarkan gairah. Tapi, Mely langsung menepis hasratnya itu. Disaat Dia mengingat Rival menyebut nama mantan istrinya.


Mely berontak, dengan berusaha melepas tangan Rival yang membelit pinggangnya.


"Sama istri sendiri, emang salah?" Rival tersenyum genit dan mengedipkan sebelah matanya. Yang membuat Mely terperangah dengan perubahan sikap Rival. Kedua bola mata membulat. Dia kemudian meletakkan punggung tangannya di dahi Rival.


"Abang tidak lagi minum obat kuat kan?" ucapnya setelah melepas punggung tangannya dari kening Rival. Kemudian meletakkan punggung tangannya itu kembali ke keningnya. Mely melakukan itu, karena Dia merasa suhu tubuhnya sudah naik. Karena Dia merasa tongkat sakti di area ************ Rival ada yang siap menerjang.


"Abang tidak perlu obat kuat. Abang ini masih kuat. Perlu bukti." Ucap Rival dan langsung membalik posisi mereka sehingga kini Mely berada dibawah kungkungan tubuhnya.


Mely terdiam dan tidak bisa berkutik. Sikap Rival membuatnya mati gaya.


"A,.pa kita akan main kuda-kudaan?" ucap Mely dengan sedikit gugup dengan menatap bibir Rival yang menurutnya sangat menggoda. Tapi ucapan Mely itu sungguh menggelitik hati Rival. Dia merasa sangat lucu dengan kamus yang diucapkan istrinya itu.

__ADS_1


"Boleh? siapa yang jadi kudanya? Adek?" ucap Rival memancing. Rival beranggapan Mely sudah sering melakukan itu. Secara gaya hidup Mely yang bebas.


"Terserah Abang, gantian pun jadi penunggangnya, baagiiiku tidak masalah." Ucap Mely dengan terbata-bata. Sungguh Dia sudah mulai panas dingin.


Rival kembali tertawa dalam hati. Kenapa setiap kata yang diucapkan istrinya ini membuatnya ingin tertawa.


"Baiklah, karena ini yang pertama untuk Abang, jadi Abang ingin Adek mengajari Abang." Ucapnya mengusap lembut kepala Mely.


Mely terkejut mendengarnya. Bukannya suaminya itu duda. Kenapa mengaku baru pertama kali ini akan melakukannya.


"Apa Abang menganggap ku sudah sering melakukan itu?" tanya Mely menatap Rival dengan kecewa. Dia menyayangkan penilaian suaminya itu yang menilainya buruk.


Rival menghentikan aksinya mengusap-usap kepala Mely. Dia mengangguk, Mely mendorong tubuh Rival. Sehingga Rival ambruk disampingnya. Mely dengan cepat membelakangi Rival. Sangat wajar Rival beranggapan seperti itu. Secara kelakuan Mely selama ini nampak liar.


Mely menangis tersedu-sedu. "Apa Abang salah lagi?" tanyanya dan menarik Mely dan mendekapnya. Mely tidak menjawab. Dia malah semakin menangis tersedu-sedu.


Rival menciumi kepala Mely. "Jangan menangis lagi sayang. Abang tidak mempermasalahkannya. Masa lalu tidak perlu kita bahas. Yang penting sekarang kita sudah saling terbuka. Jangan ulangi lagi kabur dari rumah ya?" Ucapnya kini Rival mulai mengecupi semua bagian dari wajah Mely yang membuat Mely menutup mata dan menikmati setiap sentuhan hangat bibir kenyal suaminya itu.


Getaran dan gelombang pasang birahi pun mulai menerjang keduanya. Semoga tidak terjadi tsunami malam ini. Sehingga tidak mengganggu tidur nyenyak para ART.


TBC


Tinggalkan jejak dengan like coment dan vote ya kak.😍🤗🍁

__ADS_1


__ADS_2