
Kesempatan itu seperti matahari terbit. Ketika Anda menunggu terlalu lama, Anda akan kehilangan.
Tepat pukul lima shubuh, Rival terbangun. Dia memang akan bangun dari tidurnya, diwaktu itu. Karena memang sudah terstel seperti alarm otomatis ditubuhnya.
Dengan menahan sakit di tubuhnya, Dia turun dari bednya. Dia ingin ke kamar mandi. Perawat yang melihatnya turun, membantunya berjalan ke kamar mandi. Kali ini, perawat yang menemaninya adalah perawat laki-laki. Entah kapan perawat laki-laki masuk ke kamar itu. Padahal sebelum Dia tidur. Yang menjaga nya adalah perawat wanita.
Perawat laki-laki itu benar-benar membantu Rival bersih-bersih. Walau Dia tidak mandi. Dia pun berwudhu.
"Apa Bapak akan sholat?" tanya Perawat sedikit merasa aneh, melihat Rival yang sakit tapi masih ingin sholat.
"Iya Dek." Ucap Rival pelan. Sekujur tubuhnya masih terasa sakit. Entah sampai kapan nyeri otot ditubuhnya akan hilang.
"Tapi, Bapak masih sakit? apakah orang sakit diharuskan sholat?" tanya perawat itu lagi.
"Menunaikan salat bagi orang sakit tetap wajib hukumnya, selama masih berakal dan sudah baligh." Ucap Rival, mulai mengganti pakaian nya dengan yang bersih, yang tetap dibantu oleh perawat tersebut.
Rival senang, kalau yang menemaninya di ruangan ini adalah perawat yang berjenis kelamin laki-laki. Dia merasa lebih bebas berekspresi, dari pada satu ruangan dengan wanita yang bukan muhrimnya. Walau itu sekalipun petugas medis.
"Catatan amal diangkat dari tiga jenis orang: orang yang tidur hingga ia bangun, anak kecil hingga ia baligh, dan orang gila hingga ia berakal." Ucap Rival, mengutip kalimat yang pernah dibacanya dari salah satu buku Fiqih.
"Berarti orang gila gak harus sholat ya Pak?" tanya perawat itu lagi, dengan penasarannya.
Dia kini membersihkan ambal yang akan dibuat Rival sebagai alas lantai untuk sholat. Kemudian Perawat itu merentangkan sajadah di atas ambal itu.
"Orang gila tidak sah sholatnya. Tentunya melaksanakannya tidak akan dapat pahala." Jawab Rival mulai duduk di atas sajadah. Dia tidak sanggup berdiri untuk melakukan sholatnya, karena tubuhnya yang masih terasa sakit semua.
"Cepat sana kamu berwudhu juga. Ikut sholat." Ajak Rival menatap lembut Perawat laki-laki itu, yang kini duduk cengir kuda di sofa.
__ADS_1
"Adek agama Islam kan?" tanya Rival, yang ditanyai mengangguk.
"Ayo kita sholat!" Ajak Rival lagi. Masih menatap perawat itu. Sehingga dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu. Perawat itu pun menuruti, ajakan Rival. Dia pun berwudhu. Dan mereka melaksanakan sholat masing-masing.
Dalam sholatnya Rival memasrahkan semuanya kepada Allah, yang bisa dilakukannya adalah saat ini berusaha untuk menjelaskan semuanya.
Setelah sholat Dia merasa pikirannya tenang. Rival kembali berbaring di ranjangnya. Menatap langit-langit kamar itu dengan pikiran yang menerawang. Haruskah sekarang Dia pergi ke ruangan Istrinya Mely dirawat? Tapi, ini masih terlalu pagi sekali. Takutnya Mely masih istirahat. Dan akan terganggu, karena kehadirannya.
"Sebaiknya Aku ke ruangannya, jam tujuh pagi saja. Sepertinya jam segitu, Mely sudah terbangun." Ucapnya dalam hati. Tanpa disadarinya, Dia pun terlelap terbang ke alam mimpi.
❤️❤️❤️
Tidak ada yang bisa kembali dan memulai awal yang baru, tetapi siapa pun dapat memulai hari ini dan membuat akhir yang baru.
Setelah Dokter memeriksa Mely, dan menyatakan Mely boleh melanjutkan perawatannya di rumah. Mereka pun meninggalkan rumah sakit itu. Yang terlebih dahulu telah menyelesaikan urusan administrasi.
"Ma, apakah Mas Rival tahu kalau kita pulang hari ini?" tanya Mely, setelah Dia mendudukkan bokongnya di kursi mobil tepat disebelah Bi Ida. Sedangkan Mama Maryam duduk di sebelah supir. Yang menjadi supirnya adalah Ayahnya Firman.
"Tidak perlu diberitahu, Dia juga nanti pasti tahu." Jawab Mama Maryam datar.
Setengah jam mobil melaju, Mely yang berbaring santai itu, melihat keluar jendela. Memperhatikan jalan yang dilintasi mereka dengan sedikit bingung dan bertanya-tanya. Karena jalur yang mereka lewati berbeda dengan jalan mau ke rumah mereka.
"Ma, kita mau ke mana ini Ma?" tanyanya masih santai dalam posisinya berbaring di kursi mobilnya.
Mama Maryam tidak menjawab, tatapannya fokus ke badan jalan.
"Ma, kita kenapa lewat jalur sini. Bukannya ini jalur mau ke arah kota B?" tanya Mely lagi, Dia pun berusaha untuk duduk tegak. Bi Ida pun dengan sigap bergerak menyetel tempat duduknya. Mely kembali celingak-celinguk memperhatikan sekelilingnya.
__ADS_1
Mama Maryam tidak menjawab, Dia melirik Firman disebelahnya. Memberi kode agar memberhentikan mobil mereka di tempat yang aman untuk menepi.
Hening
Setelah mobil menepi dipinggir jalan lintas yang sepi, yang disekelilingnya terhampar persawahan yang luas di kiri dan kanan badan jalan.
Mely menatap bingung Mamanya yang kini menatapnya dengan sendu dan prihatin itu.
"Mama beri kamu waktu berpikir setengah jam, untuk mengambil keputusan tentang hidupmu kedepan. Sebelum kita melanjutkan perjalanan ini. Setelah Mama merenung selama tiga hari ini. Mama memutuskan akan mengajakmu tinggal di rumah kita di kota B." Ucap Mama Maryam tetap menatap putrinya itu dengan sendu.
"Maksud Mama apa?" tanya Mely bingung. Kenapa mereka harus pindah. Dan rumah di kota B. Kapan mereka punya rumah di kota itu?
"Mama ingin kebahagiaanmu. Sejak kecil, Mama selalu menuruti kemauanmu. Agar kamu merasa senang dan bahagia. Kamu mempunyai Hobby seperti anak cowok. Mama tidak melarang. Semuanya Mama turuti." Ucapan Mama Maryam terhenti. Karena Dia merasa dadanya sesak memikirkan nasib putrinya yang setelah menikah tidak bahagia.
Penjelasan Mama Maryam yang panjang lebar itu, malah membuat Mely semakin bingung.
"Iya, Mely sadar Mama itu sangat baik kepada Mely. yang membuat bingung, kenapa kita ke kota itu Ma?" tanya Mely, menatap Bi Ida, yang diam membisu.
"Kita akan pergi jauh dari kehidupan Rival. Ini keputusan sudah Mama pikirkan matang-matang untuk kebaikan dirimu. Sejak kamu menikah dengannya. Mama lihat kamu tidak pernah bahagia. Sebentar saja, tidak ada ketenangan dalam kehidupan rumah tangga kalian. Jadi kesimpulannya, kamu tinggalkan Rival. Mari kita mulai kehidupan yang baru dengan si kembar." Ucap Mama Mely tegas.
Mely merasa seperti disambar petir dipagi yang cerah ini. Mama nya yang selalu mensuport hubungannya dengan Rival memintanya untuk pisah dari pria itu. Benarkah, tindakan Mamanya ini adalah tepat dan baik untuk kehidupan semuanya. Tidak pernah Mamanya mengatur hidupnya selama ini. Mamanya itu selalu menuruti keinginannya.
Suasana didalam mobil kembali hening. Suasana ketenangan jelas terasa. Bagaimana bisa Mely bisa mengambil keputusan dalam waktu setengah jam untuk kelanjutan biduk rumah tangganya.
Walau Dia membenci Rival karena perselingkuhan. Tapi, saat ini tidak pernah terpikir di otaknya untuk pisah dari Rival. Karena Dia masih fokus untuk kesembuhannya.
"Mama tahu ini sulit untukmu. Tapi, ini sudah Mama pikirkan dengan baik dan matang. Kamu tidak cocok dengan Rival. Rival yang orangnya santai, dan tidak mau mengerti dengan dirimu. Akan membuat hatimu kelak semakin sakit, apabila terus bersamanya.
__ADS_1
"Apalagi Mama tahu betul karaktermu yang cemburuan kepadanya. Apa kamu bisa menerima kenyataan dirinya yang selingkuh?" ucap Mama Maryam lagi. Dia sedang memegang kendali saat ini. Firman yang ingin buka suara saja, langsung dibungkam Mama Maryam dengan matanya yang melotot.
Mely terdiam, memang benar apa yang dikatakan Mamanya itu. Haruskah Dia menuruti perkataan Mamanya, yaitu pergi dari kehidupan Rival untuk selamanya?