
"Bagaimana keadaan istri saya Bu Bidan?" tanya Rival dengan ekspresi wajah sedih dan khawatirnya. Gara-gara Dia istrinya jadi pingsan. Dia menatap lekat wajah Mely yang masih pucat itu.
"Dari hasil pemeriksaan Saya, Istri Bapak tekanan darahnya sangat rendah 70/60 mmHg. Dan asam lambung istri Bapak naik." Jawab Bu Bidan, yang berbadan tinggi besar yang berusia sekitar 40 tahun. Dia kembali memeriksa tekanan denyut nadi Mely.
"Apa Adek merasa mual dan pusing?" tanya Bu Bidan, menatap Mely yang menanggapi ucapan Bu Bidan dengan anggukan.
"Mungkin karena istri saya melewatkan makan siangnya tadi Bu, Dia jadi masuk angin." Rival mengelus puncak kepala Mely dengan terseyum. Tapi Mely menatap suaminya itu dengan tatapan datar.
"Bisa jadi, tapi tunggu sebentar. Aku periksa lagi perut Adek ya? Apa masih banyak udara terperangkap di perutnya." Bu Bidan kembali memeriksa lambung MeLy, mengecek udara di dalamnya.
"Iya, Adek memang masuk angin. Dan juga asam lambung naik. Tapi, saya sedikit penasaran dengan kondisi tubuh Adek. Coba angkat kedua kakinya Adek dan ditekuk." Mely mengikuti instruksi Bu Bidan.
Dengan pelan Bu Bidan meraba perut Mely bagian bawah.
"Kapan Adek terakhir datang bulan?" tanya Bu Bidan dengan tersenyum. Ucapan Bu bidan itu, membuat Rival penasaran. Sedangkan Mely mengingat-ingat tanggal menstruasinya.
"Pertengahan Desember Bu Bidan." Ucap Mely.
"Tanggal berapa pastinya?" cerca Bu Bidan.
"Aku kurang ingat Bu Bidan. Aku memang siklus menstruasinya mau mundur, kalau banyak pikiran dan kecapean. Tapi biasanya hanya mundur satu bulan, tidak pernah tiga bulan." Ucap Mely, menatap Rival yang kini menampilkan wajah khawatir di sebelahnya.
"Apa Adek merasa mual atau pusing akhir-akhir ini?" tanya Bu Bidan lagi. Dia kini sudah selesai mengecek perut Mely bagian bawah.
"Sampai tadi pagi tidak ada Bu. Tapi, sejak bangun tidur sore ini. Aku merasa mual dan pening. Terus pingin buang air kencing terus. Padahal yang dikeluarkan hanya sedikit. Tapi rasanya sesak banget." Ucap Mely, memegang pelipisnya. Dia merasa kepalanya kembali sakit.
"Ooohh...!" ucap Bu Bidan manggut-manggut dengan tersenyum.
"Selain gejala itu, apa yang Adek rasakan perubahan dalam tubuh Adek." Pertanyaan Bu Bidan. Membuat Mely sedikit bingung. Dia tidak merasa banyak perubahan dalam dirinya. Tapi, dua bulan terakhir ini, Dia selalu ingin berhubungan intim dengan suaminya. Dan juga *********** makin kencang, besar dan padat.
"Aakkuu merasa ini ku bertambah ukurannya." Ucap Mely, menyentuh buah dadanya. Rival melihat buah dada istrinya itu. Dia tersenyum, ya benar Rival juga mengakui itu, buah dada istrinya itu, semakin besar dan padat sekali.
"Sepertinya Adek ini hamil."
"Apa...!?" teriak Mely kaget. Sungguh Dia tidak percaya kalau Dia hamil.
__ADS_1
"Benarkah Bu Bidan?" tanya Rival tak kalah antusiasnya. Dia menatap wajah Mely yang juga terkejut itu. Dia ingin mencium Mely saat itu juga. Tapi, karena Rival punya sifat yang sungkan, Dia pun menahan keinginannya itu untuk mencium istrinya itu.
Kalau benar Mely hamil, Dia lah orang paling bahagia Di dunia ini. Ini hal yang sangat dinanti-nanti nya. Secara umurnya sudah 37 tahun.
"Iya Pak Rival. Tapi, untuk lebih jelasnya. Bapak bisa lakukan pengecekan ke Dokter obgyn." Ucap Bu bidan.
Bu Bidan nampak memegang jarum suntik, yang sudah diisi cairan warna merah.
"Coba miringkan tubuhnya sebelah kanan."Ucap Bu Bidan. Mely pun memiringkan tubuhnya.
"Bu Bidan, Apa Aku mau disuntik?" tanyanya dengan ketakutan. Rival pun membantu Mely menurunkan celananya, agar Bu Bidan lebih gampang men injeksi bokongnya.
"Iya Dek, agar Adek bertenaga dan kepalanya tidak pening." Bu Bidan bicara sambil men injeksi Mely. Yang akhirnya tubuh Mely bergetar. Sungguh Dia tidak suka disuntik.
Rival Kembali menaikkan celana istrinya itu, membantu Mely terlentang. Dia memberikan senyuman yang sangat manis kepada istrinya itu. Dia bahagia sekali. Dan dengan tak sabarnya Dia mengecup kening Mely dihadapan Bu Bidan, yang membuat Bu Bidan tersenyum.
"Ini vitamin untuk istrinya. Kalau mau diperiksa. Kalau sudah sore begini. Biasanya Rumah Sakit sudah tutup. Jadi Bapak bisa ke praktek kandungan." Ucap Bu Bidan dengan tersenyum. Mengemasi alat medisnya. Bu Bidan pun keluar dari kamar, setelah Rival membayar jasa Bidan tersebut.
Dengan mata berbinar-binar, senyuman menghiasi wajah tampannya. Rival langsung memeluk tubuh istrinya yang masih terlentang itu. Dia menghadiahi banyak kecupan di wajah Mely. Bibir Rival itu secara perlahan turun ke bawah dan berhenti tepat di perut Mely.
"Ada anak kita disini Sayang." Rival menghentikan bibir kenyalnya menciumi perut Mely. Dia menatap istrinya itu. Yang kini kedua matanya sudah berkabut. Sehingga Mely melihat sedikit buram, karena matanya sudah mulai tergenang oleh air yang siap tumpah ruah. Karena bahagia nya.
"Maafin Abang ya sayang, Adek jangan ngambekan lagi. Sudah ada debat disini yang selalu ingin bundanya bahagia." Rival kembali mencium kening Mely berkali-kali. Aksinya terhenti, disaat Ibu, Firman dan Sekar masuk ke kamar itu.
"Bagaimana keadaan Mely nak?" tanya Ibu Rival dengan mencoba menampilkan raut wajah bahagia. Dia sebenarnya masih merasa bersalah kepada Rival.
"Ibu akan mendapat cucu lagi. Saya akan jadi Ayah." Ucapnya dengan mata berkaca-kaca. Hatinya Rival sangat bahagia saat ini.
"Oohh syukurlah, Sayang... jangan banyak pikiran ya. Buang jauh-jauh pemikiran negatif yang menguras tenaga mu. Percaya sama suamimu. Dia ini Anak Ibu paling baik dan bertanggung jawab. Tadi Ibu sempat dengar perdebatan kalian. Kamu jangan terbawa perasaan. Kamu lihat kan bagaimana sayangnya Rival kepadamu. Jadi mulai saat ini. Jangan membahas masa lalu, yang bisa buat kita down." Ucap Ibunya Rival. Dia memeluk menantunya itu dengan sayangnya.
Sungguh hati Rival bergetar, melihat bijaknya sikap Ibunya kali ini. Ibunya sangat banyak berubah.
"Iya Bou. Mely akan kuat dan sabar." Ucapnya meraih jemari Rival yang tergeletak disebelahnya. Rivalpun mengeratkan genggaman tangan istri nya itu. Dengan tersenyum.
"Asyik... sebentar lagi Aku punya keponakan." Ucap Sekar. "Kak mau makan apa? biar Sekar masakin." Sekar naik pelan ke atas ranjang. Dia ingin memeluk kakak iparnya itu.
__ADS_1
"Sana kalian turun saja. Sekar tidak usah peluk-peluk kakak mu." Cegat Rival, menghalau Sekar dengan tangannya saat Sekar ingin memeluk Mely yang terbaring.
"Apaan sih Bang?" ketus Sekar, tidak suka Abangnya itu menghalangi dirinya untuk memeluk Mely.
"Kakakmu masih lemah, jangan dipeluk-peluk. Nanti Dia kekurangan oksigen." Ucap Rival dengan berseloroh.
Sekar mendengus kesal. Dia turun dari ranjang itu. "Aku akan memasak ikan sore ini, agar Abang rasakan pembalasanku." Sekar keluar dari kamar, begitu juga dengan Firman.
"Silahkan, nanti Abang sama Kakak mu mau makan diluar sama si kembar." ledek Rival. Dia sungguh sangat bahagia. Sehingga tingkahnya pun berubah jadi sedikit kekanak-kanakan.
"Dasar mentang-mentang sudah punya uang. Dulu aja waktu kere. Sekali setahun juga tidak pernah makan di rumah makan." Cetus Sekar, berlalu pergi meninggalkan kamar itu.
"Kita berangkat sekarang ya?" ucap Rival menatap lembut istrinya itu. Dia juga membelai pipi Mely yang masih pucat.
"Mau kemana?" jawab Mely sendu.
"Periksa kandungan Adek. Mau memastikannya. Terus mau tahu keadaan mereka." Rival mengecup kening Mely dengan sayangnya. Yang membuat Mely begitu bahagia.
"Bisakah Abang seterusnya bersikap seperti ini kepadaku?" ucap Mely sendu. Ucapan istrinya itu menghentikan kegiatan Rival yang menciumi perut datarnya isteri itu.
Rival menatap lekat wajah Mely yang kini sudah mengeluarkan air mata itu.
"Kapan Abang tidak bersikap lembut dan sayang kepada Adek. Seingat Abang, Abang selalu bersikap seperti ini." Ucapnya melap air mata Mely dengan jemarinya.
"Tadi pagi, Abang jutek dan mendiamkan Adek sampai sore ini. Bahkan Abang tega tidak mengajakku makan siang." Ucapnya semakin menguatkan tangisan nya.
Rival pun diam, merenungi sikapnya tadi pagi.
"Maaf ya sayang. Tadi memang Abang sepertinya kesambet penunggu pohon kelapa itu. Jangan diambil hati ya. Abang janji tidak akan membuat permintaan kepada Adek lagi. Jikalau Abang menginginkan sesuatu dari Adek. Abang akan tahan, jikalau Adek tidak berkenan." Ucapnya dengan ekspresi wajah mengibah. Sehingga Mely tersenyum melihat tingkah suaminya itu.
"Apa Abang akan mencintaiku? Aku kan sudah mengandung anak Abang?" tanya Mely apa adanya. Yang membuat Rival melongo dengan pertanyaan aneh istrinya itu.
"Adek bicara apa sih? Adek itu istri Abang, ya pastilah Abang cinta."
"Tadi katanya masih cinta mantannya. Sekarang bilangnya cinta Adek." Mely merengut.
__ADS_1
"Aduuhh.... kembali ke laptop. Itu-itu saja pun dibahas. Malas Abang. Kalau Adek bahas itu lagi, Abang tidak akan tanggapinnya." Rival membaringkan tubuhnya di sebelah Mely. Memeluknya erat dan menghujani wajah dan kepala Mely dengan ciuman.