
Dengan penasarannya, tangan Rival bergetar menjulur untuk meraih bingkai yang di dalamnya ada foto Pak Ali dan anak kecil yang sangat mirip dengannya. Hatinya berdebar, disaat bingkai yang berisikan Foto Pak Ali dan anak yang mirip dengannya itu, kini berada di tangannya.
"Iii..niii seperti diriku sewaktu kecil, kalung yang dipakai anak ini juga sama dengan kalung yang diberikan Ayah padaku. Aku sangat yakin, anak kecil ini adalah diriku. Keee..naapa, ada foto diriku dengan Pak Ali?" ucap Rival terbata-bata dengan hati berdebar dan begitu penasaran nya. Dia mendudukkan tubuhnya dengan lemah di kursi meja kerja Pak Ali.
Tangannya masih bergetar mengusap-usap foto itu, seolah ingin melihat lebih jelas foto yang ada di dalam bingkai itu. "Apa Pak Ali adalah Ayahku? apa ini adalah keluarga ku?" ucapnya dengan suara yang semakin bergetar. mata Rival berembun, Dia mematung dalam keadaan terduduk sambil memegang bingkai foto itu.
"Aku sangat yakin, ini adalah diriku." Ucapnya pelan, setelah lama mematung. Memikirkan semua kisah hidup yang dilaluinya. Kalau benar Pak Ali adalah orang tua kandungnya. Ini sangat kebetulan sekali.
"Apa yang harus ku lakukan? haruskah Aku menceritakan tentang diriku kepada Pak Ali dan menanyakan foto anak kecil ini?" ucapnya lagi, sambil memikirkan, tindakan apa yang harus dilakukannya.
"Jikalau Aku menanyakan foto ini kepada Pak Ali. Dan dugaan ku tidak benar. Aku takut, Dia nantinya menganggap ku mengarang cerita." Ucapnya dengan hati tidak tenang, was-was dan penuh kekhawatiran terlihat jelas diraut wajahnya kini.
Dia kembali mencari bukti atau foto lainnya, di laci meja kerja Pak Ali. Untuk meyakinkan dirinya. Bahwa Foto itu adalah dirinya. Tapi Rival tidak menemukan foto lain.
Rival berpikir keras sikap apa yang harus diambilnya. "Kalung, kalung ku." Ucap Rival dengan paniknya, Dia baru ingat, kalau kalungnya yang ada di ransel nya sudah dibakar oleh istrinya Mely. Tentulah kalung itu, sudah di tempat sampah. Walau mungkin tidak akan terbakar. Karena kalung itu terbuat dari emas putih. Tapi, mana mungkin kalung itu masih ada di tempat itu.
"Hanya itu tanda pengenal diriku. Tapi, bukti itu pun sudah tidak ada lagi. Bagaimana Aku bisa menanyakannya kepada Pak Ali?" kini Rival sudah berdiri, sambil memegangi bibirnya. Memikirkan perjalanan hidupnya yang tidak pernah mulus.
"Mely, istriku." Gumamnya sambil menutup mulut nya dengan tangannya.
__ADS_1
"Kalau benar Aku adalah anak dari keluarga ini. Itu berarti Mely adalah saudara perempuan ku. Dia Adikku, Dia adikku...! Ya Tuhan, kehidupan apa yang kau gariskan di tangan ku ini." Ucapnya frustasi, menahan gejolak kekesalan di hatinya. Rival yang kini sedang berdiri di dekat meja kerja Pak Ali. Mengusap wajahnya kasar, setelah meletakkan bingkai foto itu, di tempat semula.
DiaTerdiam, mematung. Mencoba menikmati rasa sakit yang membaur dalam hatinya. Kenapa permainan takdir begitu kejam kepadanya. Baru tiga hari Dia merasakan kebahagiaan, karena akan mendapatkan anak dari istri nya Mely. Tapi Mely kan saudaranya.
"Ya Allah..... Apa salahku, kenapa
Kau hukum Aku seberat ini. Aku menikahi Adikku sendiri. Aku menggauli saudara perempuan ku sendiri. Kenapa kamu berikan azab yang begitu besar kepadaku. Apakah karena Aku menceraikan Rili secara verstek." Gumam Rival dalam hati. Kini Dia merasa tubuhnya seperti tidak berdaya. Tulang nya seolah lepas dari sendi-sendi nya. Sungguh fakta yang belum jelas kebenarannya ini, membuat kepalanya sangat sakit, pusing tujuh keliling. Perutnya juga serasa di aduk-aduk. Hatinya perih, sakit.
Dia yang tiba-tiba saja tidak berdaya. Melorotkan tubuhnya, sehingga punggungnya bersandar di meja kerja Pak Ali. Dalam ketidak berdayaannya. Dia menikmati rasa sakit yang menikam tepat pada hatinya. Seperti ada bongkahan besar yang menukik pada hatinya. Seperti ada beribu anak panah yang menusuk hatinya. Fakta ini sangat menyakitkan Sekali.
Rival yang terduduk di lantai mengkilap itu, nampak lemah tak berdaya. Dia menepuk-nepuk dadanya yang terasa sakit seperti disayat sembilu berbisa. Sakit.... sekali. Ingin rasanya Dia mengeluarkan rasa sakit di dadanya itu dan membuangnya cepat. Karena Dia tidak tahan lagi dengan kejutan-kejutan yang sakitnya luar biasa dalam hidupnya.
Rival pun sudah tidak tahan lagi, Dia harus mengeluarkan muntah nya itu. Dia mencoba berdiri, untuk berjalan ke kamar mandi. Tapi, kakinya terasa layu tidak bertenaga dan masih gemetar. Dia tidak sanggup untuk berdiri. Dia pun mencoba merangkak, tidak mungkin Dia muntah di ruang kerja Pak Ali.
Sari yang kebetulan lewat dari ruang kerja Pak Ali, dibuat heran melihat pintu kerjanya tidak tertutup. Ya karena Rival tidak menutupnya.
Dia pun bermaksud untuk menutupnya. Dia melangkahkan kakinya ke ambang pintu. Betapa terkejutnya Dia melihat Rival. Pria yang dicintainya. Berjalan merangkak menuju kamar mandi.
Sari tidak tega melihat Rival yang merangkak, dan mengeluarkan suara seperti ingin muntah. Dia pun mendekat ke arah Rival
__ADS_1
Meraih bahunya, menuntun Rival untuk masuk ke kamar mandi. Rival tidak menolak pertolongan Sari, karena Dia memang sedang butuh pertolongan saat ini.
Rasa cemas yang berlebihan itulah yang membuat nya jadi sangat ingin muntah. Namun tetap tak ada yang berhasil dikeluarkan keluarkan dari perut Rival.
"Abang kenapa?" tanya Sari heran dan sedih. Kenapa tuannya itu tak berdaya seperti ini. Mana sosok Rival yang kuat seperti yang dikenalnya. Dia memijat-mijat tengkuk Rival. Membantu nya untuk muntah. Tapi, tidak ada juga yang keluar dari mulutnya
Ternyata Rival mengalami dry heavy atau muntah kering.
Berbeda dengan muntah pada umumnya, muntah kering tidak akan membuat Anda memuntahkan apa pun. Anda hanya merasa mual parah dan berusaha keras untuk mengeluarkannya.
"Abang kenapa sebenarnya. Apa perlu ku hubungi Nona Mely untuk datang kesini. Dia harus mengetahui kondisi suaminya." Ucap Sari, masih membantu Rival untuk muntah. Tapi, tetap tidak ada yang keluar dari mulutnya.
"En...tahlah, ja..ngan menghubunginya. Dia sedang istrirahat." Jawab Rival, dengan terbata-bata. Dia tidak mau merepotkan Mely, apalagi Mely sedang hamil.
"Baiklah tuan, saya ambilkan air hangat dulu." Sari berjalan cepat menuju dapur. Mengambil air hangat.
Sari meninggalkan Rival, yang masih muntah-muntah Tapi, satu nasi pun tidak ada keluar dari perut Rival. Padahal butiran-butiran air sudah membasahi kening Rival.
Sari datang membawa segelas besar air hangat yang kira-kira volume satu liter. Dia membatu Rival untuk berkumur-kumur dan menghabiskan air yang diberikan oleh Sari.
__ADS_1