Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 mengejar yang tak pasti


__ADS_3

Rival meraih Mely dalam pelukannya, "Biarkan Mas memelukmu ya?" Menghembuskan napas lemah.


"Ayah sudah berpulang ke Rahmatullah." Ucap Rival lirih dengan mata berkaca-kaca dan hatinya begitu sakit mengatakan itu. Dia sangat bangga memiliki sosok Ayah seperti Pak Ali. Karena Pak Ali punya hati yang baik dan dermawan. Bahkan relasi bisnisnya menghormati Pak Ali.


Walau Rival sempat kecewa kepada Pak Ali, karena Pak Ali lah yang mendesak dan mempengaruhi nya agar bercerai dengan Rili, disaat dirinya lagi rapuh. Tapi, Dia tetap menghormati Ayahnya itu.


"Tidak.... itu tidak mungkin. Kalian berbohongkan? Ayah masih di Australia kan?" ucapnya terisak sambil menarik keras kaos yang dikenakan suaminya itu. Sebagai pelampiasan, sesak di dada dan sakit di hatinya.


Rival mengeratkan pelukannya, sembari mengelus lembut punggung istrinya itu. Berusaha menenangkan Mely yang histeris.


"Pasti gara-gara Aku Ayah meninggal. Iya kan?" ucap Mely terisak, mendongak melihat Rival suaminya yang kini matanya sudah berkaca-kaca.


"Tidak, mana mungkin gara-gara kamu sayang. Itu sudah suratan takdirnya Ayah. Kematian, jodoh dan rezeki adalah rahasia Allah." Rival merangkum wajah istrinya yang dibanjiri air mata. Dia pun menyeka air matanya Mely dengan jemarinya. Dan ikut menitikkan air mata juga. Walau mereka masih dalam suasana berkabung. Tapi, kehadiran sikembar di dunia ini, harus disyukuri.


"Itu pasti gara-gara Aku. Aku yang pergi, dan tidak ada kabar. Pasti membuat Ayah kepikiran. Terus struk ayah kambuh. Iya kan?" Ucap Mely menatap lekat mata Rival yang sudah basah itu.


Rival kembali menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin Dia mengiyakan pernyataan Mely. Walau sebenarnya begitu kenyataannya. Pak Ali setres karena kepikiran kepada Mely yang menghilang disaat hamil.


"Ini gara-gara kamu. Kalau kamu tidak menjumpai mantan istrimu itu. Aku tidak akan pergi dari rumah dan Ayah pasti masih ada. Ayah.....!" Mely mendorong Rival dengan kuat. Sehingga Rival hendak terjatuh dari ranjang.


Sambil menangis, Mely terus mendorong tubuh Rival hingga terjatuh dan terduduk di lantai kamar. Mely merasa begitu bersalah dan tertekan. Dia pun turun dari ranjangnya, dengan menahan sakit dibagian bawahnya. Dia berjalan dengan sempoyongan untuk keluar dari kamar itu. Dia ingin mencari Pak Ali.


Baru dua langkah, Rival sudah meraih Mely kepelukannya. "Sayang, jangan banyak bergerak. Jahitannya nanti bisa lepas." Ucap Rival memeluk Mely dengan erat.


"Ayah...... ! Maafkan Mely, Ayah..... kamu begitu baik kepadaku. Padahal Aku bukan anak kandungmu. Kenapa kamu pergi secepat itu. Ayah.....!" teriaknya sekencang-kencangnya. Dan berusaha lepas dari dekapan Rival.

__ADS_1


Saat itu juga, si kembar terbangun dan menangis sekeras-kerasnya. Ibu dan anak itu, seolah berlomba dalam melengking kan tangisnya.


Rival bingung, anak dan istrinya serentak menangis. Akhirnya Dia hanya bisa melihat anak nya, karena Dia masih memeluk Mely.


"Lepas, lepasin... kamu jahat----, Kau tidak pernah menghargai perasaanku. Kamu bangga, mengetahui Aku cinta sama kamu kan? sehingga seenaknya jidatmu saja bersikap kepada ku. Aku hamil anakmu, tapi kamu selalu memikirkan mantan istrimu itu.


"Aku sudah melarangmu untuk jangan pergi, tapi kamu ngotot pergi. Aku minta ikut, tapi kamu tidak mengizinkanku ikut denganmu. Kamu jahat---- Kamu jangan ke GR an, sekarang sedikit pun tidak ada rasa cinta lagi untukmu. Aku benci kamu----!" teriaknya sambil menangis, meronta-ronta ingin lepas dari pelukan Rival.


Sehingga Rival pun melepaskannya. Karena kalau terus Dia memeluk istrinya itu. Maka istri nya itu bisa kehabisan tenaga. Karena Meronta-ronta ingin dilepaskan.


"Dasar laki-laki bodoh, mengejar yang tidak mungkin didapat nya dan mengabaikan yang sudah jelas miliknya." Ucap Mely seperti orang kesurupan.


Ceklek....


Febri dan Pak Firman langsung berlari menuju Box bayi. Menggendong si kembar dan mendiamkannya. Tapi, tangisan si kembar semakin menjadi-jadi saja. Sepertinya si kembar merasakan sakit yang dialami Ibunya.


"Ada apa ini? Mely sayang, kamu kenapa Nak?" ucap Mama Maryam dengan ikut menangis. Dia langsung memeluk putrinya yang terduduk dilantai dengan kaki yang dirapatkan. Dia sungguh kasihan dengan nasib putrinya itu.


Sedangkan Rival juga terduduk dengan bodohnya, di dekat tempat tidur.


"Ma, bawa Aku dan anak-anak ku dari rumah ini. Kita pergi dari sini Ma. Kita disini orang asing Ma. Aku bisa gila bila melihatnya Ma. Gara-gara Dia Ayah meninggal Ma." Ucapnya masih menangis dalam pelukan Mamanya.


Ucapan Mely yang penuh kebencian untuknya terasa begitu menyakitkan. Sakitnya seperti sembilu berbisa yang menancap dihatinya. Sakit, perih, nyeri dan berdenyut.


"Iya sayang, kita akan pergi. Tapi kamu sembuh dulu ya sayang. Kamu harus kuat dan cepat sembuh. Kamu sayang anak-anakmu kan? lihat lah sudah dua hari mereka lahir kedunia ini. Tapi mereka belum mendapatkan ASI. Kamu harus tenang dan sabar. Buang semua pikiran negatif. Jangan mengingat-ingat hal menyakitkan kamu. Lihat anak-anak mu Sayang." Mama Mely menciumi puncak kepala putrinya itu. Dia mengelus-elus punggung Mely dalam dekapannya. Mencoba menenangkan putrinya yang tertekan. Karena merasa bersalah.

__ADS_1


"Non, tidak boleh banyak pikiran. Asi Non harus cepat keluar. Agar anak-anak Non mendapatkan imun tubuh. Karena di Asi itu ada zat anti bodinya." Febri mencoba memberi pengertian kepada Mely. Sambil menggendong si Raynan, yang kini sudah tidak menangis lagi. Tapi, bayi laki-laki itu seperti mencari-cari sesuatu ke dada Febri. Si Raynan Sepertinya haus.


Pak Firman hanya mematung di ruangan itu sambil menggendong si Raina Dia juga merasa bersalah. Seharusnya Dia memaksa Mely waktu itu untuk pulang. Atau setidaknya Dia memberi kabar kepada suaminya dan Mama Maryam. Pak Firman pun akhirnya mengecup pipi cucunya itu.


"Pak, tolong gendong si Raynan. Agar Aku buatkan susu formula nya mereka. Si Raynan tidak mau diletakkan di box." Ucap Febri, memberikan si Raynan kepada Ayahnya. Rival pun meraih putranya itu dengan tangan gemetar. Dia tidak bisa membayangkan, bahwa Mely dan anak-anaknya akan pergi dari hidupnya.


Kenapa semua istrinya menderita bersamanya? Rili pun menderita, Mely pun mengaku menderita, sampai tidak ingin hidup bersama nya dan melarikan diri. Haruskah Dia hidup sendiri?


Mely yang masih menangis itu, dituntun Mama Maryam berjalan pelan menuju ranjang, Mely pun berbaring di ranjang empuk itu.


"Kamu harus sabar ya sayang, jangan ikuti kebencian Yang ada dihati. Besok akan ada acara tujuh hari kematian Ayah. Menangis, menyiksa dan menyalahkan diri, itu akan membuatmu semakin merasa terpuruk dan akan berakibat kepada anak-anakmu. Ayah juga tidak senang melihatmu menangisi nya. Saat ini yang diharapkan nya adalah hanya Doa dari mu sayang." Ucap Mama Maryam, melap wajah Putrinya yang kini berbaring dengan tisu basah yang diambilnya dari meja riasnya Mely.


"Ma Aku ingin ziarah ke makam Ayah. Aku ingin minta maaf Ma..!" Mely kembali menangis tersedu-sedu.


"Iya, untuk sekarang kamu tidak boleh kesana. Kami sembuh dulu. Baru kita ziarah. Kamu sekarang sudah jadi Ibu sayang. Kamu harus bisa lebih sabar lagi. Masalah mu dengan Nak Rival menurut Ibu tidaklah berat. Jadi tidak usah dipermasalahkan sayang." Ucapan Mama Maryam membuat Mely berang.


"Tidak berat Mama bilang, berat Ma----- Sangat berat. Mama tahukan bagaimana perasaan ku kepadanya dulu. Tapi Dia tega Ma, tega meninggalkanku saat hamil lima bulan, hanya untuk menjumpai mantan nya yang tidak pernah mencintainya. Aku sudah minta ikut Ma. Tapi tidak diperbolehkan nya." Ucap Mely dengan terisak dan kesalnya. Dia sampai memukul seprei.


"Tapi sayang, Nak Rival masih bersamamu. Itu sudah jelas bahwa Dia masih memikirkan keluarganya." Jelas Mama Maryam.


"Dia kembali, karena ditolak mantan istrinya lah. Jadi Dia kembali kesini. Coba mantan istrinya itu mau menerimanya." Ucapnya masih menangis, menatap kesal Rival yang kini ada didepannya.


"Kalau mantan istrinya itu mau rujuk, Dia kasti akan menikahinya dan tidak memikirkan Perasaan ku. Iya kan?" ucapnya kepada Mama Maryam dan Rival yang ada dihadapannya.


Rival terdiam, yang dikatakan Mely memang benar. Jikalau Rili belum menikah dengan Yasir. Maka Dia akan kembali rujuk kepada Rili.

__ADS_1


__ADS_2