Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 Terlambat menyadari


__ADS_3

Suasana di dalam kamar jadi begitu mencekam, penghuninya pada panik melihat Ibu dan anak pingsan secara bersamaan. Darah yang keluar dari kem*aluan Mely sudah merembes dan meninggalkan bekasnya di seprei.


Dalam ketegangan dan kecemasan itu, si kembar pun seolah merasakan ketidakberesan yang terjadi, anak kembar itu serentak menangis. Yang membuat Febri dan Ririn gerak cepat mendiamkan si kembar.


Masih dalam menggendong di Raynan, Febri meminta Bi Ida, memanggil Pak Budi. Pak Budi adalah supir di rumahnya Rival. Dengan cepat Bi Ida keluar dari kamar itu, menuju kamar Pak Budi, yang berada di belakang, tempat para supir tidur.


"Pak, kita harus bawa nyonya dan non Mely cepat ke rumah sakit." Ucap Febri sedih dan panik. Walau baru bekerja satu Minggu, Dia merasa sudah dekat dan nyaman dengan keluarga itu. Dia masih terus berusaha menenangkan Putranya Rival itu. Sebelum ART selesai membuat susu formula nya anak kembar itu.


"Iya," Jawab Firman ikut panik. Dia sangat mengkhawatirkan Mama Maryam yang suhu tubuhnya sangat tinggi. Begitu juga dengan Mely putrinya.


Pak Budi pun masuk ke ruangan.


"Pak Budi gendong Non Mely ke mobil, kita ke rumah sakit." Ucap Firman, Dia pun langsung menggendong Mama Maryam. Kedua pria yang bekerja sebagai supir itu, dengan cepat dan merasa tidak berat dengan kedua wanita yang mereka angkat. Mungkin dipengaruhi suasana yang mencekam, sehingga semuanya jadi kuat, padahal pak Budi sudah berusia 55 tahun.


"Bapak di rumah saja, nanti seumpama ada yang perlu bantuan, ada Bapak yang cepat menyupir." Ucap Firman, setelah Mama Maryam dan Mely berada di mobil Pajero warna silver itu.


Di dalam mobil ada Bi Ida dan putrinya yang menemani Mely dan Mama Maryam. Mama Maryam di tempatkan di bangku barisan kedua dibelakang supir yang ditemani Indah putri BibIda. Sedangakan Mely dibarisan ketiga, ditemani oleh Bi Ida. Mobilpun melaju dengan kencang. Tentunya mobil itu dinyalakan Firman dengan membunyi sirine.


Di sebuah perkampungan di Kota G, Rival yang tidak bisa tidur itu, memilih untuk berserah diri kepada Allah. Dia pun memasuki kamar mandi untuk berwudhu. Dia akan melakukan sholat tahajud.


Dia berharap setelah sholat, Dia bisa memejamkan matanya. Tapi, nyatanya tetap juga Dia tidak bisa tidur. Dalam kebingungannya itu, Dia teringat kepada Mely istrinya.


Dia teringat pertemuan mereka pertama kali di bus. Dia tersenyum, karena mengingat bagaimana agresifnya Mely meluma*t habis bibirnya. Kemudian Rival mengingat bagaimana bencinya Mely kepadanya setelah mereka menikah massal di kantor polisi. Ekspresi wajah Mely saat itu begitu frustasi, tapi nampak lucu.Tapi seiring berjalannya waktu, Mely jadi bucin akut kepada nya.


Rival pun akhirnya keluar dari kamarnya. Dia memilih untuk duduk di gazebo taman belakang rumah mereka. Tentunya Dia akan ditemani oleh sebungkus rokok dan minuman kopi yang dibuatnya sendiri.


Dalam keheningan malam itu, hawa dingin serasa tidak dirasakan Rival. Karena, hatinya menghangat mengingat semua tingkah konyol Istri nya Mely, yang berusaha mencari perhatiannya. Mulai dari Mely yang berhias. Tapi hasil make up nya malah membuatnya seperti makhluk astral.


Mely yang memakai pakaian haram di depannya. Sexy sih membuat gairah Rival tersulut. Tapi, karena Mely tidak biasa memakai pakaian haram itu. Dia jadinya nampak lucu.


Sesaat Rival mengingat semua moment kebersamaan mereka. Dia tersenyum, Dia baru menyadari kalau istrinya itu begitu istimewa dibalik sifat childistnya yang menyebalkan.

__ADS_1


Senyum Rival semakin mengembang saja, disaat Dia mengingat moment dimana mereka melakukan malam pertama di atas rerumputan di alam bebas di atas bukit. Sungguh hidup bersama Mely memberi begitu banyak warna dalam kehidupan Rival.


"Aku sangat-sangat merindukanmu." Ucapnya menatap langit yang tidak berbintang itu, sepertinya esok hari cuaca akan mendung.


"Maafkan Aku, Aku tidak menyadari sifatmu yang over posesif itu, adalah bukti bahwa besarnya cintamu padaku. Aku bodoh, menyia-nyiakan cintamu yang begitu besar untukku. Kamu begitu mencintaiku. Aku terharu sekali. Ternyata masih ada wanita yang mencintaiku sebesar itu." Ucapnya dengan melap air matanya yang kini jatuh di pipinya.


Malam ini Rival merasa melankolis sekali.


"Bodohnya Aku sibuk memikirkan mantan istriku, sibuk memikirkan masa laluku, karena merasa bersalah dan kasihan kepada mantan istri. Dan menyia-nyiakan cinta yang datang untukku dari istriku sendiri yaitu Mely." Ucapnya , bicara sendiri. Rival merasa lega, kalau uneg-uneg dihatinya diucapkan. Dia curhat kepada angin malam, yang tidak akan memprotes setiap kalimat yang keluar dari mulutnya.


"Sabarlah sayang, esok lusa kita akan berjumpa. Aku akan membalas rasa cintamu itu, seribu kali lipat dari cinta yang kau berikan kepadaku selama ini. Aku akan sabar menghadapi sifat manja dan kekanak-kanakan mu itu." Ucapnya lagi tersenyum. Rival sudah tidak sabar untuk pulang dan menjumpai istrinya itu.


Dia juga teringat ucapan Mely, saat dirinya hendak pulang ke kampung. Mely mengatakan tidak perlu menunggu tiga hari untuk menunggunya berubah. Hari itu juga Dia akan berubah.


"Sayang, istriku Mely. Mungkin harus pisah darimu sejenak, baruku bisa merasakan cintamu yang tulus dan besar itu. Esok lisa dan selamanya kita akan bahagia. Cintamu yang besar itu, akan ku balas lebih besar lagi." Ucap Rival, Dia mengelus-elus dadanya, yang tiba-tiba bergetar saat mengingat Mely.


"Setelah selesai acara kenduri dan takziah Ibu besok malam. Saat itu juga Abang akan pulang." Ucapnya dengan hati berbunga-bunga. Dia baru sadar, bahwa cara istrinya mencintainya tidaklah salah. Tapi, caranya menyikapi cinta Istrinya yang besar itulah yang salah, karena masih terperangkap dengan kisah masa lalu dengan Rili mantan istrinya.


❤️❤️❤️


"Bagaimana kondisi putri dan istri saya Dok?" tanya Firman, setelah Dokter keluar dari ruang IGD. Rili dan Mama Maryam langsung dibawa masuk ke IGD, karena tidak sadarkan diri.


Firman sebenarnya takut, mengaku-nhaku jadi suami Mama Maryam. Tapi, ludahnya Yang tidak bertulang itu, langsung ngerosos saja.


"Kondisi kedua pasien serius. Terutama Nona Mely. Dia pendarahan hebat. Kalau Sampai besok siang Dia tidak sadar. Bisa dipastikan Nyawa Nona Mely tidak tertolong." Ucap Dokter, dengan ekspresi memprihatinkan, Dia pun melepas kaca matanya.


Firman dibuat tercengang dengan hasil pemeriksaan Dokter itu. Dia jadi takut, Dia tidak mau putrinya itu meninggal.


"Kalau istri saya kondisinya bagaimana Dok?" tanya Firman lagi dengan paniknya. Dia refleks memegang tangan Dokter yang masih muda itu.


"Kalau Istri Bapak, tidak terlalu serius. Karena cepat dibawa ke rumah sakit. Istri Bapak, kena gejala tifus." Jawab Dokter, menepuk pelan bahu Pak Firman, memberinya semangat. Tentu Firman sangat tertekan, orang yang disayangi nya dalam memprihatinkan.

__ADS_1


Firman lemas terduduk di bangku tunggu yang ada di koridor itu. Putrinya pendarahan hebat. Sedangkan Menantunya Rival tidak bisa dihubunginya.


Pertengkarannya dengan Mama Maryam sore itu, masih menyisakan sakit di hati. Ditambah kenyataan istri dan anaknya sama-sama masuk rumah sakit. Membuatnya semakin down saja.


"Balak harus kuat, harus semangat." Dokter itu ternyata masih berdiri dihadapan Pak Firman yang nampak tidak berdaya itu.


Firman menoleh kepada Dokter itu.


"Kenapa bisa putri saya pendarahan Dok? padahal putri saya mendapat perawatan dan obat yang bagus." Ucapnya tidak percaya. Kenapa Mely bisa pendarahan. Padahal setelah sholat isya. Dia masih menyempatkan masuk ke kamar putrinya. Bercanda dengan Mely yang memang nampak murung dan sedih. Tapi, saat itu masih bisa tertawa.


"Ibu Mely mengalami perdarahan pasca melahirkan sekunder, ini bisanya terjadi setelah 24 jam hingga 6 minggu pascamelahirkan. Nah, Ibu Mely masuk dalam kategori ini. Karena Ibu Mely pendarahan setelah seminggu pasca melahirkan." Jelas Dokter, masih Berdiri dihadapan Pak Firman.


"Kenapa bisa terjadi pendarahan Setalah satu Minggu?" tanya Firman dengan penasarannya. Dia menatap lekat Dokter. Tidak sabar mendengarkan penjelasannya.


"Banyak penyebabnya Pak, tapi Umumnya, kondisi ini diakibatkan oleh infeksi pada rahim (endometritis), yang merupakan penyebab kematian tersering pada ibu melahirkan.


"Selain endometritis, retensi plasenta dan kantong air ketuban yang masih tersisa di dalam rahim juga dapat menyebabkan perdarahan pasca melahirkan sekunder. Pasalnya, plasenta atau kantong air ketuban yang masih tersisa di dalam rahim dapat membuat rahim tidak bisa berkontraksi secara normal untuk menghentikan perdarahan.


"Ada beberapa faktor yang membuat wanita berisiko mengalami perdarahan pasca melahirkan abnormal, yaitu:


Memiliki riwayat perdarahan pada kehamilan sebelumnya, Memiliki berat badan berlebih atau obesitas, Berusia lebih dari 40 tahun saat melahirkan, Melahirkan anak kembar, Mengalami plasenta previa, Menderita preeklamsia, Mengalami anemia saat hamil, Menjalani persalinan dengan operasi caesar, Menjalani persalinan dengan induksi, Menjalani proses persalinan lebih dari 12 jam, Melahirkan bayi dengan berat badan di atas 4 kilogram." Jelas Dokter panjang lebar. Yang membuat Firman semakin takut saja.


"Iya Dok, putri saya melahirkan anak kembar dan prosesnya juga sangat susah. Karena plasentanya tidak keluar." Ucap Firman sedih.


"Iya Pak, kita berdoa saja, semoga Istri dan anak Bapak cepat sehat. Sebentar lagi, pasien akan dibawa ke ruang rawat inap." Jelas Dokter. Dokter yang amanah itu pun meninggalkan Pak Firman yang masih syok itu.


Dia tidak bisa membayangkan kalau anak dan istrinya, meninggalkan nya. Dia baru seminggu merasakan seperti punya keluarga.


TBc


like, coment positif dan Vote say 😊😍🙏

__ADS_1


__ADS_2