
Di Perkebunan kelapa sawit, Rival dan kedua kawannya sedang mengaso. Mereka istirahat sebentar karena tangan Rival tertusuk duri sawit yang begitu besar masuk ke sela-sela daging dan kukunya.
Mereka bertiga sedang duduk bersandar di dinding pondok dari kayu yang hanya tertutupi dua lembar papan.
Rival mengobati luka tusuk duri dijari tengah sebelah kanannya dengan menggunakan kulit buah kelapa sawit yang sudah masak. Sehingga kulitnya apabila diremas akan mengeluarkan air yang sedikit berlendir. Kulit kelapa sawit yang sudah matang tersebut dipercaya bisa mengambil bisa dari jari Rival yang kena tusuk duri sawit.
"Hari ini, kamu banyak melamun. Lihatlah tanganmu sampai kena duri sawit." Ucap Budi Utomo salah satu teman Rival yang sebaya dengannya tapi sudah mempunyai anak 5.
"Udah pukul 15.03 Wib. Harusnya kita sudah memanen 5 ton sawit. Ini masih 4 ton." Ucap Budi lagi sambil melihat handpone tulnit tulnitnya yang model jadul. Yang apabila dilempar kena kepala orang, pasti orang itu akan pingsan. Karena besarnya.
"Entah kenapa Aku merasa tidak bertenaga, kurang fit." Ucap Rival sambil terus mengoleskan kulit batu sawit kejarinya yang kena tusuk duri.
"Ya jelaslah kurang bertenaga, orang tenagamu pasti terkuras habis tadi malam." Ucap Anto temannya Rival yang satu lagi, Dia tertawa renyah mengejek Rival sambil mengisap rokoknya.
"Haihaiahai.... benar juga, Aku jadi teringat 15 tahun yang lalu saat malam pertama dengan Ayu istriku. Kami sampai shubuh melakukannya terus. Sampai 8 Ronde." Ucap Budi sambil tertawa dengan bangganya.
"Rasanya bikin nagih. Lagi, lagi dan pingin lagi." Ucap Budi melanjutkan ceritanya dengan senyum-senyum.
"8 Ronde?" tanya Anto dengan terkejut. Dia nampak mengubah posisi duduknya.
"Iya, namanya kami menikah masih muda. Nafsunya lagi menggebu-gebu. Waktu itukan Ayu masih umur 18 tahun dan Aku 19 Tahun." Ucap Budi sambil menatap lurus kedepan, Dia teringat kisahnya yang indah saat belah duren.
"Kamu tadi malam berapa ronde Rival?" goda Anto sambil menepuk punggung Rival dari belakang.
Rival terkejut mendengar pertanyaan temannya itu.
Rival diam saja, Dia tetap melanjutkan mengobati jarinya yang kena tusuk duri.
"Kalau Rival sepertinya 10 ronde itu?" timpal Budi sambil tertawa terbahak-bahak.
"Iya 10 ronde, angka satunya dihilangkan." Jawab Rival dengan tertawa, menutupi kisah malam pertamanya yang begitu menyedihkan.
Budi dan Anto saling pandang, mereka tidak percaya dengan ucapan Rival. Budi yang sebaya dengan Rival dan teman mainnya bahkan mandipun selalu sama di sungai dari kecil sampai remaja, mereka tahu betul kalau anu nya Rival lebih besar dan panjang dari anak-anak sebaya mereka waktu itu. Pasti siapapun yang menjadi istrinya Rival bisa dibuat puas dan ketagihan. Ditambah wajah Rival yang tampan dan tubuh yang kekar. Yang menambah daya tarik dan bisa membuat wanita lebih bergairah.
__ADS_1
"Haaaah! serius belum jebol?" tanya Budi dengan terkejut matanya melotot ke arah Rival.
Rival gelagapan menanggapi pertanyaan kawannya Tersebut.
"Tidak baik menceritakan urusan ranjang kita sendiri. Itu namanya sama saja kita menelanjangi diri kita dan pasangan kita." Ucap Rival dan kemudian tangannya meraih jeringen yang berisikan air minum dan meneguknya setelah dituang ke cangkir plastik.
"Udah... jangan bahas begituan. Nanti kalian pingin lagi. Gak capai target nanti kita. Asyik otak kalian gak bisa konsentrasi kerja.
"Ayokk kita kerja lagi, biar mencapai target." Ucap Rival, Dia pun bangkit dari duduknya, turun dari pondok kemudian mengambil egreknya.
Mereka nampak berjalan menuju lokasi pemanenan, Rival memegang egrek, Budi Dodos dan Anto menyorong Beko.
💮💮💮
Rili baru selesai memasak. Di meja makan yang sederhana. Dia sudah menata masakannya. Ada Ayam semur, ikan sambal, tumis kangkung. Mie goreng. "Eeuummmmm yummy," Rili memakan mie goreng buatannya dari piringannya. " Moga Bou menyukainya." Ucap Rili sambil menghabiskan mie goreng masakannya.
Rili mencuci piring kotor dibelakang rumah, kemudian Dia menyapu seluruh ruangan yang terdapat di rumah Rival. Kecuali kamar mertuanya. Dia juga mengaku halaman.
Saat Dia menyapu halaman anak-anak gadis yang di make overnya tadi menghampirinya.
Mendengar kata sungai. Bahu Rili bergedik. Dia teringat dengan monyet yang menjahilinya.
"Kakak mandi di kamar mandi umum aja ya dek!" Jawab Rili dan kemudian melanjutkan kegiatan menyapunya.
"Mandi di sungai asyik kak. Yuk lah!" Rina tak pantang menyerah untuk mengajak Rili. Anak-anak gadis tersebut sudah merasa akrab dengan Rili.
"Olo kakak, Keta le maridi tu aek. Di Aek non Hita bisa marlange-lange!" ucap si Butet. Dia menggunakan bahasa daerah yang artinya ( iya kak, ayok lah mandi ke sungai. Di sungai kita bisa berenang-renang).
Rili sedikit bingung dengan ucapan Si Butet karena Dia tidak mengerti.
"He Butet, Anggo get mangecet ho Unang baen bahasa kampung, Inda mangarti kakak on i. Baen bahasa persatuan do Dabo, Bahasa Indonesia." Ucap Rina memperingati si Butet. ( Artinya. He Butet, kalau mau ngomong jangan pakai bahasa kampung, kak Rili tidak mengerti. Pakai bahasa persatuan ya yaitu Bahasa Indonesia)
"Inda malo AU marbahasa Indonesia." ( Tidak pandai Aku pakai bahasa Indonesia)." Ucap Butet merajuk karena merasa dicaci oleh kawannya.
__ADS_1
"Sudah dek, jangan berantem. Besok aja kak ikut ke sungai ya! Kak mesti ke sawah jemput Bou kak." Jawab Rili dengan tersenyum. Sungguh Dia sangat terhibur melihat wajah anak-anak remaja Tersebut.
Apalagi melihat si Butet, diantara mereka si Butet lah yang lebih kecil. Mungkin umurnya sekitar 6 tahun. Butet nampak menarik ulur ingusnya yang naik turun dari lobang hidungnya. Rambutnya tegang, mukanya juga komeng-komeng. Kakinya jorok karena tidak pakai sendal. Bajunya juga penuh dengan getah yang sudah lengket dibajunya sehingga warna bajunya Kumal sekali.
Rili nampak kasihan melihat si Butet. Kapan-kapan Dia akan mengajak si Butet jalan-jalan dan belanja ditemani suaminya.
Akhirnya gerombolan anak-anak yang mau ke sungai tersebut meninggalkan Rili. Rili dengan cepat menyelesaikan pekerjaannya menyapu halaman, kemudian mengangkat pakaian dari jemuran.
Dia mandi di kamar mandi umum, syukur di kamar mandi umum lagi sepi, jadi Dia dengan cepat menyelesaikan mandinya.
Setelah mandi Dia sholat Ashar di Rumah. Dia pun memoles wajahnya dan menguncir rambutnya sampai ke atas.
Dengan cepat Dia turun dari rumah, lalu menaiki sepedanya menuju ke sawah. Untuk menjemput mertuanya.
10 menit bersepeda, Dia pun akhirnya sampai di Sawah. Ternyata mertuanya sudah menunggu di pinggir batangan sawah.
"Rili turun dari sepedanya dan menghampiri mertuanya.
"Kamu lama sekali datangnya, Bou sudah lama menunggu." Ucap mertua Rili dengan kesal. Dia menepis tangan Rili yang mencoba membawa Kandangan mertuanya.
"Sabar....sabar.... hanya 3 Minggu. Setelah ini terlewati. Aku tidak akan mau lagi datang ke kampung ini. Bisa makin banyak dosaku lama-lama bersama mertuaku ini." Gumam Rili sambil menaiki sepedanya.
Dia duduk di bangku sepeda, kedua tangannya di stang dan kaki kirinya sebagai penopang dan kaki kanan siap mengayuh sepeda.
"Udah Bou, kita jalan ya?" ucap Rili berbasa-basi. Dia menggigit bibir bawahnya setelah bicara dengan Bou nya. Dia benar-benar sangat takut kepada Bou nya.
"Udah dari tadi Bou siap. Ayo jalan!" ucap Ibu mertua Rili dengan menepuk punggung Rili yang membuat Rili terkejut. Dia nampak memengangi dadanya saking terkejutnya.
Bersambung..
Mohon beri like, coment positif, vote, rate bintang 5 dan jadikan novel ini sebagai favorit.
Author akan sangat senang dan semangat menulis jika dapat Vote.
__ADS_1
Terima kasih