
"Pak, Pak Polisi bukan seperti itu, Bapak salah penafsiran dan salah menyimpulkan. Kami bukan pasangan mesum. Kami memang belum saling mengenal Pak.” Ucap Mely dengan panik, bahasa tubuhnya tidak tenang saat memberi klarifikasi terhadap Pak Polisi.
“Bukti kalian pasangan mesum sudah ada, dengan mata kepala kami sendiri melihat kalian. Sudah, cukup sekian untuk penjelasan ceritamu. Kalian boleh istirahat, besok pukul 11 siang acara nikah massalnya dilaksanakan.” Ucap Pak Polisi, sembari menyusun berkas-berkas bio data pasangan mesum dan surat pernyataan, bahwa mereka bersedia dinikahkan besok pagi.
Mely menghela napas kasar, Apa yang tidak diinginkannya terjadi juga. Bagaimana mungkin Dia menikah dengan pria yang tidak dikenalnya. Memang sih dari penilaiannya pria yang menolongnya itu adalah orang baik. Tapi, Dia tidak sejahat itu, melibatkan pria itu dalam masalahnya.
“Untuk pria silahkan istirahat di ruang sebelah sana. Sedangkan untuk wanita disini saja.” Ucap Pak Polisi. Keluar dari ruangan itu, diikuti oleh pria yang terjaring razia mesum.
Sebelum Pak Polisi menghilang dari ruangan, Mely memangilnya.
“Ada apa Dek? Mau minta bantal? Tidak ada bantal.” Ucap Pak Polisi tegas.
“Bukan Pak, Mau meminjam ponsel atau telepon di kantor ini. Saya mau menghubungi orang tua saya.” Ucap Mely dengan lesunya. Dia akan menghubungi Mamanya Malam ini. Dia harus memohon kepada Mamanya , Agar pernikahan ini tidak terlaksana. Dia memang hapal betul no ponsel Mamanya.
“Ini sudah tengah malam, besok pagi kami yang akan menghubungi orang tua Adek.” Jawab Pak Polisi dengan menguap.
“ Pak tolong, minjam ponselnya sebentar saja. Kalau besok orang bapak menghubungi orang tua saya, belum tentu mereka bisa datang cepat. Saya tinggalnya di Kota M Pak. Jarak nya dari sini kan jauh, 4 jam perjalanan.” Mely berjalan mendekat kepada Pak Polisi, menunjukkan wajah puppy eyesnya.
“Baiklah.” Pak Polisi memberikan ponselnya kepada Mely.
Mely yang hanya hapal no ponselnya Mamanya itu langsung menekan angka-angka di benda pipih itu dan melakukan panggilan suara.
Panggilan pertama langsung terhubung, ternyata Mamanya tidak bisa tidur malam ini. Karena ponsel Mely mulai dari sore tidak bisa dihubungi. Sedangkan Mamanya yang menghubungi temannya Trekking mengatakan Mely, tidak bersama mereka. Bahkan mobil Mely masih ditempat mereka menitipkannya.
Walau Mama Mely tidak mengetahui siapa yang menelponnya, karena no baru. Dia langsung mengangkatnya. Terdengar suara wanita menangis, jelas itu suara putrinya.
“Ma…Mama… Tolong putrimu ini Ma?!!!” Ucapnya menangis kenceng, yang membuat penghuni ruangan terusik.
“Mely, Mely sayang, Ini kamu sayang?" Suara Mama Mely terdengar begitu kkhawatir dan ketakutan dari sambungan telpon.
“Iya Ma, Ini Mely.” Jawabnya masih terisak, sambil melap ingusnya dengan tangannya. Kebanyakan menangis, membuat hidung Mely banyak memproduksi cairan pengatur keseimbangan.
Di dalam kediaman Mely, Ayah Mely yang sedang tidur terusik, karena istrinya tiba-tiba histeris mendapat telepon dari putrinya.
“Mama Berisik sekali, Papa mau tidur ini. Besok Pagi mau rapat pemegang saham.” Ucap Ayah Mely, memandang kesal kepada istrinya itu.
“Ini Mely Pak, Dia menelpon sambil menangis, Mama sangat khawatir Pa.” Ucap Mama Mely dan ikut-ikutan menagis.
__ADS_1
“Tumben anak itu menghubungi kita dan menangis Ma? Biasanya Dia menghilang selama satu minggu juga, kalu tidak dihubungi duluan, Dia mana mau memberi kabar.” Ucap Ayah Mely. Dia mengubah posisinya menjadi bersandar di head bodr tempat tidur.
“Ma, Mama… Kenapa Aku dicuekin. Malah kalian ngobrol lagi. Ini Pak polsisi sudah mintain ponselnya.” Ucap Mely kesal.
“Pak Polisi?” tanya Mama Mely bingung dan sedikit takut, kenapa pula putrinya berhubungan dengan polisi tengah malam begini.
“Iya Ma, Aku sekarang ditahan di Kantor Polisi Ma.” Jawab Mely.
“Apa? Kamu sedang dikantor Polisi?” Mama Mely syok, Dia mendudukkan tubuhnya di pinggir tempat tidur mereka. Wanita itu gemetar, sambil menutup mulutnya dengan tangannya. Suaminya yang melihat ekspresi istrinya yang terkejut itu menjadi penasaran.
“Kenapa Ma?” tanya Ayah Mely dengan memegang bahu istrinya.
“Mely sekarang di kantor polisi Pa.” Jawab Mamanya, masih melakukan sambungan telepon dengan Mely.
“Masak sich Ma? Jangan-jangan penipuan hipnotis suara itu Ma. Matikan saja itu Panggilan teleponnya Ma.”
“Tidak Pa, ini beneran suara putri kita.”
“apa no yang menghubungi ponsel Mama no nya Mely?” tanya Ayah Mely sambil menguap.
“Bukan Pa, bukan No nya. Tapi No lain.” Menatap ke arah suaminya dengan perasaan tidak tenang.
“Apa sich Ayah? Orang lagi serius malah mesum.” Ucap Mama Mely dan menggerakkan bahunya, protes atas aksi suami mesumnya itu.
Sementara di kantor polisi, Mely sibuk halo-halo memanggil Mamanya.
“Iya sayang.” Jawab Mama Mely.
“Mama datang sekarang kesini, Ke kantor polisi.” Ucapnya lalu melihat ke arah Pak polisi.
“Pak Polisi, ini di daerah Mana ya alamat kantor Polisinya?” ucap Mely dengan tersenyum, Dia sudah melihat ekspresi Pak Polisi yang sudah kesal menunggunya lama bertelepon dengan Mamanya. Pak Polisi mengatakan alamat Kantor Polisi.
Mely mengatakan alamat kantor polisi, dan meminta Mamanya untuk datang. Dia juga menceritakan sekilas masalah yang dihadapinya, yang membuat Mamanya takut mendengar cerita putrinya itu.
Setelah Mely memutus panggilannya. Dia berterima kasih kepada Bapak Polisi dan berjalan menuju ruangan mereka, berbaring di atas tikar plastik tanpa bantal.
Sementara dikediaman Mamanya Mely, wanita yang masih tergolong muda itu nampak panik dan mondar-mandir. Dia ketakutan mendengar cerita putrinya itu.
__ADS_1
“Mama kenapa masih mondar-mandir. Cepetan beres-beres, kita berangkat sekarang.” Ucap Ayah Mely, yang nampak sudah berganti pakaian. Mama Mely pun langsung mengganti pakaiannya.
"Apa Ayah ikut? Ayah kan besok pagi ada rapat?" tanya istrinya.
“ Iya, Ayah tidak tenang kalau tidak mengurusnya. Moga rapatnya masih bisa Ayah hadiri. Memang anak itu selalu buat masalah, dan mengganggu.” Gerutu Ayah Mely dalam hati. Karena niatnya untuk menggauli istrinya tidak jadi. Pasangan beda usia itupun akhirnya berangkat menuju ke tempat yang dikatakan putrinya.
Masih di dalam jeruji besi yang ada di kantor polisi itu, Rival yang tidak bisa tidur. Karena meratapi nasibnya. Dia melirik jam yang terpampang di dinding bangunan kantor Polisi itu, sudah saatnya Sholat Shubuh. Dia pun ingin melaksanakn sholat shubuh. Walau Takdir selalu tidak adil buatnya, bukan berarti Dia harus menjauh dari Sang Khalik. Mungkin beginilah suratan takdirnya. Yang bisa dilakukannya adalah memohon kepada Allah, agar dirinya masih selalu terhindar dari perbuatan keji dan Munkar.
“Pak, Pak Polisi. Pak Polisi..!” ucap Rival dengan nada keras, memanggil Pak Polisi yang piket saat itu, lagi tidur di meja yang ada di depan jeruji besi, tempat Rival ditahan.
Pak Polisi pun terbangun, karena suara teriakan Rival yang kuat. Dia mengucek matanya, meregangkan otot-ototnya dan berjalan ke arah Rival, yang sedang berdiri sambil memegangi jeruji besi.
“Ada apa Bang? Ganggu tidur orang saja.”Ucap Pak Polisi dengan sedikit kesal, sambil menguap.
“Pak, Aku ingin melaksanakan sholat shubuh.” Ucap Rival memandang Pak Polisi yang masih saja menguap.
Pak Polisi terkejut mendengarnya.” Wah, kamu selain suka berzina, tapi rajin sholat juga ya?” Ucap Pak Polisi sinis. “Setahuku, kalau sudah rajin sholat, berarti kamu harusnya menghindari perbuatan keji dan munkar.” Pak Polisi masih ngerocos, memvonis Rival manusia munafik.
Rival tidak menanggapi ucapan Pak Polisi, untuk apa berdebat, walau kita benar. Bagaimana pun Rival menjelaskan, orang tidak akan percaya, karena memang jelas mereka seperti tertangkap basah.
“Terserah Bapak mau mengatakan apa. Tapi, tolong keluarkan Aku sebentar untuk menunaikan sholat.” Ucap Rival dengan wajah memelas. Dia memang harus menampakkan muka tidak berdaya, karena biasanya Polisi, semakin dilawan akan semakin keras.
Pak Polisi membuka gembok jeruji besi, Rival keluar dari jeruji besi dengan menyandang ranselnya, berjalan menuju mushollah yang selalu diawasi Pak Polisi. Rival membersihkan tubuhnya denga mandi cepat dan berwudhu. Dia mengganti pakaiannya yang ternyata masih ada yang kering di plastik.
“Bapak tidak sholat ?” tanya Rival kepada Bapak Polisi yang selalu mengawasinya.
“Tidak, saya Non muslim.” Ucap Pak Polisi, Dia mulai kagum dengan sikap Rival yang ramah dan santun itu.
“Maaf ya pak. Saya tidak tahu. Bapak tidak usah khawatir, saya tidak akan kabur.” Ucap Rival, Dia masuk ke dalam Mushollah. Melihat waktu sholat Shubuh pun tiba. Dia pun mengumandangkan Adzan dengan merdu dan sangat sahdu.
Saat Adzan, Dia tiba-tiba melankolis. Dia teringat perjalanan hidupnya yang selalu menyedihkan. Rival yang adzan sukses menyedot perhatian penghuni kantor polisi dan lingkungan sekitar yang bisa mendengar suara Rival yang merdu.
Saat itu juga kedua orang tua Mely sampai di parkiran Kantor Polisi. Mendengar suara Adzan yang merdu dan sahdu itu. Membuat ayah Mely tersentuh. Dia turun dari mobil mewahnya, berjalan menuju Mushollah untuk melaksanakan sholat shubuh. Sedangkan istrinya masuk ke dalam kantor Polisi, menjumpai petugas piket.
TBC.
Mohon beri like, coment, jadikan novel ini sebagai favorit ya kak.🙂
__ADS_1
Hadiah bunga dan kopinya juga sangat ku harapkan kak.🙂🤗