
"Kalau Aku anaknya siapa Ma? Ayah kandungku siapa dan ada di mana Ma?' Duarrr.... Mata Mama Maryam melotot penuh menatap putrinya yang kini berdiri dihadapannya.
Pak Ali yang masih belum menyelesaikan ceritanya, dibuat terkejut sekaligus terhenyak dengan pertanyaan Mely. Kini tatapan Pak Ali beralih kepada Mely. Apa yang terjadi dengan pasangan ini? Pak Ali membathin.
"Ma, Aku ini sebenarnya anaknya siapa?" tanya nya lagi menatap lekat kedua bola mata Mamanya yang kini tidak berkedip sama sekali.
"Mely sudah tahu, kalau Aku bukan anak kandungnya Ayah." Mely menatap Pak Ali yang kini juga masih menampilkan ekspresi terkejut. Karena Mely yang sudah dianggapnya anak menanyakan Ayah Biologis nya.
"Ma, jawab Ma!?" Mely meraih kedua tangan Mamanya, menggenggamnya dan menatap penuh tanya wanita yang melahirkan nya itu.
Mama Maryam membisu, Dia menatap suaminya itu dengan mata berkaca-kaca. Kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Rival.
"Ma..!" ucap Mely lagi, dengan wajah memelas.
"Kita bahas di rumah saja ya. Ayo Rival, bantu Ayah berjalan ke parkiran." Ucap Mama Maryam, mengalihkan pembicaraan. Wanita paruh baya itu merasa tidak tepat rasanya dibahas di Rumah Sakit ini. Apalagi Pak Ali sudah waktunya pulang.
"Iya sayang, nanti di rumah kita bahas semuanya. Mas juga masih penasaran dengan kisah Mas yang hilang. Ayah belum selesai cerita, sudah kamu potong." Ucap Rival, mengusap lembut lengan istrinya yang kini sedang gundah gulana. Kini Dia merasakan juga jadi Rival, yang putus asa karena tidak mengetahui siapa Ayah kandungnya.
Mely menyeka air mata yang jatuh di pipi putihnya. Dia sedikit kecewa kepada Mamanya yang seperti nya tidak akan mau mengatakan siapa Ayah Biologisnya.
*
*
*
Malam harinya, setelah makan malam bersama. Kini mereka duduk di ruang keluarga. Rival yang baru pertama kali datang ke rumah itu, dibuat kagum melihat dekorasi dan interior rumah mereka yang mewah itu.
Hatinya menghangat disaat melihat fotonya ternyata waktu kecil banyak dipajang di setiap sudut ruangan di rumah itu. Tak terkecuali di ruang keluarga tempat mereka berkumpul sekarang.
__ADS_1
Rival berjalan menuju sebuah meja dekat perapian. Di atas meja itu, ada fotonya bersama Ibunya. Tangannya bergerak mengambil bingkai itu. Matanya berkaca-kaca melihat fotonya bersama Ibunya yang sangat cantik sedang menggendongnya.
Pak Ali hanya melihat Rival yang begitu lekat menatap fotonya dengan Ibunya itu. Dia ingin bercerita banyak hal dengan putranya itu. Tapi, malam ini, biarlah mereka membahas siapa ayahnya Mely sebenarnya.
"Ma, ceritakanlah Ayah ku sekarang ada di mana?" Mely menatap Mamanya yang duduk di sofa tepatnya dihadapannya. Wanita itu sedang membantu Pak Ali meminum obatnya.
"Eehhmmm.... Mama tidak tahu di mana Ayahmu sekarang sayang. Untuk apa kita membahas masa lalu lagi. Toh sebelum kamu lahir kamu sudah punya Ayah yang begitu baik. Inilah Ayahmu sayang." Mama Maryam memegang tangan Pak Ali yang duduk di sebelahnya.
"Ma, Mely juga ingin tahu siapa Ayah kandungku, Ayah Biologis ku?" Mely memelas, kini Dia berpindah tempat duduk, ke sebelah Mamanya. Sehingga Mama Maryam berada di tengah mereka.
"Tidak ada gunanya kamu tahu Sayang. Nanti sakit hati yang akan kamu dapatkan. Kamu lagi hamil, Mama tidak mau membebani pikiran mu dengan kisah Mama yang begitu tragis." Mata Mama Maryam mulai berkabut, sekilas kisah hidupnya sebelum menikah dengan Pak Ali melintas.
Mely terdiam, hatinya belum tenang. Dia sangat ingin mengetahui Ayahnya. Tapi Mamanya seolah tidak mau mengatakan dimana Ayahnya Sekarang.
"Jadi Mama tidak mau mengatakan nya?" tanya Mely merajuk, wajahnya cemberut membuat Rival jadi gemes. Dia pun menghampiri istri nya itu. Dia mengelus pundak Mely.
"Iya Mely. Kamu tidak mau ya mengakui Ayah ini Ayahmu?" cercah Pak Ali. Yang membuat Mely merasa tidak enak kepada Pak Ali.
"Bukan begitu Ayah. Aku hanya ingin tahu saja. Tapi, kalau Mama tidak mau memberi tahunya. Mau gimana lagi." Ucapnya menatap Rival yang masih berdiri di sampingnya.
"Nanti juga kamu akan tahu. Dia sendiri yang akan mencarimu." Ucap Pak Ali, sambil menguap. Mely heran dengan ucapan Pak Ali. Apa maksudnya Ucapan nya itu. Ayahku sendiri Yang akan mencariku?
"Maksud Ayah apa? Mely jadi bingung." Ucap Mely.
"Iya, kamu sabar. Ayah yakin suatu saat Ayah kandungmu pasti akan mencarimu. Jadi, untuk saat ini. Kamu fokus sama cucu Ayah saja. Tidak usah kamu pikirkan Ayahmu yang keberadaannya tidak kita ketahui. Ayahmu saja, tidak pernah mencari keberadaan mu. Untuk apa kamu sibuk mencari-cari nya." Ucap Pak Ali Kembali menguap. Dia merasa sangat kantuk sekali.
Mely hanya bisa melongo dengan ucapan Pak Ali. Kenapa Mamanya tidak mau mengatakan siapa Ayahnya. "Apa ada kesepakatan antara Mama dam Ayah kandung Mely, sehingga Mama tidak mau mengatakan siapa Ayah Biologis ku. Kalau Mama tidak mau cerita. Katakan saja siapa namanya Ma?" ucap Mely kembali memelas dihadapan Mamanya juga Pak Ali.
"Tidak ada gunanya kamu tahu. Kita lupakan masalah ini." Ucap Mama Maryam, "Kami pamit tidur duluan. Kalian pun cepatlah tidur. Ibu hamil tidak boleh terlalu capek dan setres." Ucap Mama Maryam. Mengelus pelan perut Mely yang belum buncit itu. Dia dan Pak Ali masuk ke kamarnya meninggalkan Mely yang masih penasaran setengah mati.
__ADS_1
"Kenapa Mama tidak mau bercerita?" tanya Mely kepada suaminya yang kini duduk di sofa yang sama dengannya.
"Mungkin Mama tidak sanggup menceritakan masa lalunya." Ucap Rival menyambut Mely yang ingin dipeluk.
"Bobo di kamar saja yuk Dek?!" ucap Rival.
"Ayo, sekalian pijitin ya Say. Tiba-tiba badanku pegal-pegal." Ucap Mely manja, mendongak menatap suaminya.
"Iya," ucap Rival. Mereka pun berjalan menuju kamar mereka.
"Mas, tadi di pesawat kenapa muntah-muntah?" tanya Mely yang sedang berbaring di ranjang, kaki putih dan halusnya sedang dipijat oleh Rival, tepatnya jari kakinya.
"Sebenarnya tadi, setelah pesawat take off. Mas kepikiran tentang status Mas yang ternyata adalah Anaknya Ayah. Otak Mas sempat berpikiran negatif kalau Ayah akan tidak percaya, jika Mas mengatakannya. Hal itulah yang membuat mas ingin muntah.
"Ternyata yang Mas pikirkan sangat berbeda jauh dengan apa yang terjadi di Rumah Sakit. Malah Ayah yang seolah takut Aku marah, disaat Ayah mengatakan Aku ini Anaknya. Lucu sekali hidup ini mempermainkan kita satu keluarga." Ucap Rival tersenyum kecut, masih setia melanjutkan aktifitasnya memijat tubuh istrinya yang mulus itu.
"Iya benar, tapi syukurlah Abang tidak sempat gila dan semuanya sudah terselesaikan." Mely tertawa karena Rival menggelitik telapak kakinya. Rival kesal kepada Mely yang mengatakannya hampir gila. Dia pun tidak mau menghentikan kelakuannya menggelitik Mely. Sampai Mely terkencing-kencing. Gimana tidak terkencing-kencing, Rival pandai sekali menggelitik. Ditambah Mely yang sedang hamil, tidak bisa menahan air seninya.
"Stop, stop Mas. Stooopp....!" teriak Mely memegang bagian bawahnya yang sudah basah. Rival pun menghentikan kitikannya. Dengan cepat Mely turun dari ranjang berjalan cepat ke kamar mandi. Rival pun akhirnya tertawa mengetahui istrinya ngompol.
"Dasar Mely, hobbynya ngompol." Gumam Rival dalam hati. "Tidak mungkin kan? krannya Sudah los?" ucapnya cekikian. "Dia mungkin memang kebelet pipis kali ya?" ucapnya lagi geleng-geleng kepala.
TBC
Tinggalkan jejak dengan like coment dan vote. 🤗❤️🙏
Selamat menunaikan ibadah puasa, buat yang melaksanakannya. 🙂
"
__ADS_1