
Keesokan harinya.
Rival dan Mely sedang sarapan di ruang makan. Sari nampak semangat pagi ini. Karena Dia masih bisa melihat wajah tampannya Rival. Dia seperti seorang istri saja, yang dengan cepat memberikan apa yang diinginkan Rival saat sarapan.
Tentu saja Mely sangat kesal melihat tingkah ART nya yang bocor halus itu. Tapi, Dia tidak mempermasalahkan nya kali ini. Dia tidak mau energinya habis terkuras, gara-gara cemburu kepada ART.
"Sari, buatkan saya juice Alpukat." Ucap Mely, mengusir Sari secara halus dari ruang makan itu.
"Baik Non." Ucapnya dengan wajah yang ditekuk. Dia tahu Nona mudanya itu sengaja menyuruhnya. Agar Dia bisa pergi dari ruang makan itu.
"Sekalian panggilkan Bi Ina kesini!" titah Rival.
"Baik Abang." Jawab nya centil, yang membuat Mely mau muntah dibuatnya. Mata Sari berkedip-kedip, dengan bibir yang digigit-gigitnya bagian bawahnya.
Mely dan Rival selesai sarapan. Kini mereka akan mengintrogasi pembantu Ayahnya itu.
"Bi, sudah berapa lama kerja disini?" tanya Rival, menatap Bi Ina, yang duduk dengan canggung nya di kursi meja makan itu. Tepat di sebelahnya Mely.
"Emang kenapa tuan muda?" tanya nya, Bi Ina merasa heran. Kenapa Rival menanyakan masa kerjanya.
"Jawab saja Bi." Ketus Mely.
"Sudah 21 tahun tuan muda." Jawabnya dengan menyimpan rasa penasaran nya dihati.
"21 tahun?" tanya Mely kembali ingin meyakinkan.
"Iya Non, saat saya mulai bekerja disini. Nyonya lagi hamil tua. Nyonya lagi mengandung Non Mely." Jawabnya tegas, Dia menilik kedua majikannya itu, dengan begitu banyak pertanyaan di hatinya. Untuk apa Tuan dan Nona mudanya menanyakan masa kerjanya. Akan kah Dia kan dipecat. Membayangkan itu, membuat dahi Bi Ina berkeringat.
"OHH.. Baiklah Bi. Saya hanya ingin menanyakan itu." Ucap Rival Kembali tidak tenang, sepertinya Mely benar Adiknya. Menanyakan langsung ke Pak Ali melalui sambungan telepon, Ayahnya itu lagi sakit. Memang benar kata Mely, mereka harus melakukan test DNA kepada istrinya itu.
"Nanti malam, Abang tidur di kamar Adek ya. Anakmu ini sudah kecanduan, selalu pingin dielus-elus saat tidur. Semalaman ini Adek gak bisa tidur jadinya." Ucap Mely manja, menatap sendu suaminya yang sedang fokus menyetir.
Rival menoleh ke arah Mely, melihat wajah istrinya yang memang nampak seperti kurang istirahat itu. Membuat hatinya sedih. Dia sungguh tidak tega sebenarnya. Dia juga ingin menjadi suami serta Ayah yang baik. Tapi, kalau benar Mely adalah Adiknya, Dia tidak bisa lagi sesuka hatinya menjamahnya.
__ADS_1
"Kita akan tidur seranjang lagi, kalau kita benar-benar tidak bersaudara. Adek sedih, Abang lagi lebih bersedih. Abang juga ingin mengunjungi anak kita. Adek pikir Abang tidak kangen dengan Adek. Tapi, itu semua harus Abang tahan. Karena, saat ini Adek itu sudah Abang anggap saudara." Ucapnya, sesekali menatap Mely kemudian menatap lurus ke badan jalan.
"Adek yakin sekali, kalau Aku ini bukan saudara nya Abang. Lihat saja wajah kita tidak ada mirip-mirip nya. Kalau Abang memang benar-benar mirip Ayah." Ucapnya getol, masih menatap Rival yang fokus menyetir.
"Iya, semoga saja. Agar Abang bisa tenang. Abang juga tidak bisa bayangkan kalau benar kita bersaudara, bagaimana nasib anak-anak kita." Ucap Rival, setiap membayangkan mereka adalah saudara, maka Rival akan tidak tenang.
*
*
*
"Besok hasilnya sudah keluar kan Pak?" tanya Rival dengan tidak sabaran nya.
"Itu Dia yang mau saya katakan, tapi keburu Bapak tanya duluan. Hasilnya baru bisa dikeluarkan setelah satu Minggu Pak Rival." Jawab petugas medis dengan raut wajah sedih.
"Kenapa begitu? bukannya kemarin hasil tes DNA yang kulakukan selesai dalam satu hari?" cercah Rival, Dia mulai panik dan tidak akan tenang. Kalau menunggu hasilnya sampai satu Minggu.
"Ini kami juga sedang melakukan penyelidikan Pak. Tolonglah siapkan besok." Pinta Mely, akhirnya Dia tidak bisa menahan diri untuk tidak ikut andil.
"Tidak bisa Bu. Yang kemarin saja gara-gara test DNA pak Rival. Saya sudah ditegur pimpinan. Katanya menyalahi aturan." Ucapnya berkata jujur.
Rival melirik ke arah Mely yang sudah mulai kesal itu. Mereka tidak bisa menunggu satu Minggu lagi.
"Tolong lah Pak. Kalau Bapak tidak bisa menolong kami. Maka nanti dosa kami Bapak yang menanggung." Ketus Mely, membuat petugas itu bingung. Kenapa pula Dia yang akan menanggung dosa pasangan ini.
"Tidak bisa Bu. Apalagi untuk menanggung dosa Bapak dan Ibu. Saya tidak mau." Jawabnya tegas.
"Kalau begitu, tolong lah Pak. Besok harus bisa keluar hasilnya. Sebenarnya kenapa kami ingin hasil itu keluar cepat. Karena..... " Mely menceritakan semuanya. Termasuk Dia sudah merindukan Suami nya itu. Dia sudah sangat ingin disentuh suaminya. Tapi, karena suaminya menganggapnya Adik kandung. Suami nya itu pun tidak mau menyentuhnya.
Rival dibuat tercengang dengan sikap Mely yang seperti tidak tahu sopan itu. Kenapa Dia tidak punya rasa malu sedikit pun. Mengatakan bahwa Dia sudah tidak tahan lagi untuk berhubungan intim dengan suami nya itu. Rasanya Rival ingin masuk ke dalam kuburan saja. Saking malunya.
Sedangkan petugas medis itu, hanya tersenyum dan sedikit kaget mendengar ucapan Mely. "Dasar tidak punya sopan"
__ADS_1
"Baiklah Pak Rival, akan saya usahakan. Tapi saya tidak bisa janjikan ya selesai besok. Karena prosesnya itu sangat banyak." Ucapnya yang dianggukan oleh Rival.
Mely berdiri dari duduknya, "Ini Pak, besok selesai ya Pak." Mely langsung menyalam tempel petugas medis dengan cengir kuda.
❤️❤️❤️
Setelah selesai urusan dari rumah sakit. Rival mengantar Mely ke rumah orang tua mereka dan Rival berangkat ke kantor. Sudah banyak pekerjaan yang menumpuk karena Dia dua hari tidak bekerja.
Ada kelegaan sedikit dihati Rival, setelah Dia mengatakan masalah yang dihadapinya kepada Mely. Semoga hasil test mengatakan bahwa mereka bukan saudara. Tapi, kalau bukan saudara, dimana Ayahnya Mely?
Saat hendak pulang dari kantor, Rival dikejutkan dengan ponselnya yang berdering disaku celananya. Saat ini Dia sedang di dalam mobilnya. Siap-siap melaju.
"Assalamualaikum... Aapq Dekk?" tanya Rival saat Mely menelponnya.
"Belikan Aku rujak yang ada di simpang jodoh." Ucapnya manja. Ya Mely pingin sekali makan rujak.
"Dimana itu simpang jodoh?" tanya Rival. Dia belum hapal betul jalan di kota M.
Mely pun memberi petunjuk jalan, dan panggilan pun terputus.
Mely sudah tidak sabar untuk memakan rujak yang sangat diinginkannya. Entah kenapa sejak tadi siang hingga sekarang, Dia merasa banyak mau nya. Setelah pingin rujak, malam ini Dia ingin minum es dawet. Apa ada penju es dawet malam-malam?
Melihat mobil Rival memasuki gerbang, Mely langsung beranjak dari duduknya. Dia sampai berlari menghampiri Rival ke garasi. Dia tidak sabar lagi, ingin mencium aroma rujak itu.
"Kenapa mengejar Abang, kalau jatuh Bagaimana?" ucap Rival, turun dari mobil dan menenteng banyak bungkusan yang berisi rujak petis itu.
"Kangen," ucapnya polos. Ucapan Mely membuat Rival menjaga jarak. Dasar Istri nya itu tidak bisa dibilangin.
"Kenapa menjauh sih? buat kesal aja. Emang Aku bangkai yang harus dijauhi. Adek tidak perduli lagi, mau Abang itu saudaraku atau bukan. Pokoknya sekarang Abang kuanggap suamiku. Pekara dosa, nanti saja diakhirat dibahas. Lagian Aku juga sudah banyak dosanya. Biar saja nambah lagi. Aku inginnya dekat terus sama Abang." Rengek Mely memegang lengan Rival. Hingga kantong yang Rival genggam terjatuh karena Mely terlalu kencang menggoyang tangan suami nya itu.
TBc
Tinggalkan jejak dengan like coment positif dan Vote 🙏❤️🤗
__ADS_1