Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Penuh dengan teka-teki


__ADS_3

Yasir melangkah kan kakinya dengan lemas, menuju ruang kerjanya. Dia mendudukkan bokongnya di kursi kerjanya yang empuk dan menyandarkan kepalanya ke badan kursi dan memejamkan mata. Kepalanya rasanya mau pecah, memikirkan ucapan Rili yang mengatakan Dia seorang pria ingkar janji. Sedangkan suaminya pria baik.


"Pria baik? mana ada pria baik yang tega menganiaya istrinya." Ucap Yasir dengan begitu kesal. Dia mengepalkan tangannya dan menggebrak meja kerjanya dengan kuat.


Yasir mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja kerjanya. Dia melakukan panggilan kepada karyawan yang diperintahkan untuk mengurus masalah Rili.


"Sudah sampai mana perkembangannya?" tanya Yasir kepada karyawannya, dengan menggunakan panggilan telpon.


"Pelakunya sudah ditangkap Bos. Sekarang sudah dijebloskan ke penjara."


"Bagus. Kamu urus dengan baik. Suaminya harus mendekam di penjara. Setidaknya satu tahun." Ucap Yasir.


"Tapi Bos, yang ditangkap adalah mertua Nona Rili. Sedangkan suaminya, tidak diketahui keberadaannya. Kata Ibunya sedang ke luar kota.


"Jadi, Dia melarikan diri keluar kota setelah menganiaya istrinya?" tanya Yasir geram.


"Sepertinya begitu Bos."


"Ok. Kamu urus Masalah ini dengan baik. Pelaku penganiayaan terhadap Rili harus mendapat hukuman yang setimpal." Ucap Yasir dan langsung mematikan ponselnya.


Yasir memijat-mijat keningnya. Sambil menarik napas dalam-dalam, kemudian menghembuskan perlahan. Kalau keadaan Rili masih emosional. Dia tidak akan sanggup menceritakan semuanya.


Akhirnya Yasir memutuskan untuk memberi waktu kepada Rili untuk menenangkan dirinya sendiri.


Dia turun ke lantai satu. Kemudian menemui pembantunya yang sudah datang sekitar satu jam yang lalu.


"Bibi lagi masak apa?" tanya Yasir, yang sedang berdiri di dekat kulkas. Dia ingin mendinginkan kerongkongannya yang sudah terasa kering itu, dengan minum air es.


"Masak soto tuan, seperti perintah tuan tadi pagi, saat menelpon bibi." Ucap bibi Siti, sambil melanjutkan pekerjaannya mengupas kentang.


"Iya Bi, masak yang enak ya. Setelah selesai masak. Bibi langsung antar makanannya ke kamar utama." Ucap Yasir, Dia pun duduk di kursi meja makan, kemudian meneguk air es dari botol sampai habis tak tersisa.


"Tuan mau makan di kamar?"


"Tidak Bi. Aku makan diluar. Ada janjian dengan investor."


"Jadi yang mau makan di kamar siapa tuan?" tanya Bi Siti dengan bingungnya. Dia sampai menghentikan kegiatannya memotong-motong kentang berbentuk dadu.


"Calon istri saya Bi. Dia lagi sakit. Jadi, Bibi harus bujuk Dia agar makan banyak. Seumpama Dia tidak mau makan. Bibi bilang saja. Kalimat yang akan membuat Dia jadi iba kepada Bibi." Ucap Yasir, masih setia duduk di kursi meja makan.


"Maksud tuan apa? Saya kurang mengerti tuan." Ucap Bibi Siti dengan sopan. Dan melihat ke arah Yasir.


"Bibi bilang aja. Kalau Nyonya tidak mau makan. Maka, saya akan dipecat. Tolong Nyonya makanlah. Aku masih ingin bekerja dengan Tuan Yasir. Aku masih punya anak yang harus saya nafkahi. Suami saya lagi sakit. Bibi bilang saja seperti itu. Dia pasti akan memakan makanannya. Ok, Bibi mengertikan?" ucap Yasir dengan tersenyum. Dia tidak ingin menunjukkan kepada orang. Kalau hatinya sedang porak poranda.


Yasir pun keluar dari rumah dan melajukan mobilnya menuju perkebunan.


Di kota Pekanbaru, Rival sedang serius menuntaskan pekerjaannya. Sesuai dengan saran teman satu timnya. Kalau target tercapai. Maka mereka bisa pulang jam 3 sore. Kalau dihitung lamanya perjalanan dari kota Pekanbaru ke kota Rival tinggal, maka akan memakan waktu perjalanan darat sekitar 7-8 jam.


Dia sangat mengkhawatirkan istrinya. Yang dari semalam tidak bisa dihubungi. Dia juga sangat merindukan Rili. Setelah mereka tinggal di Mes perkebunan sampai habis masa cuti Rili. Dia sangat berharap. Hubungan mereka bisa lebih intim. Layaknya pasangan suami istri lainnya.


"Keluar... Ada yang mencari kalian." Ucap petugas lapas.


Dua orang wanita yang berbeda generasi nampak berjalan menuju ruang besuk. Wajah garang yang biasanya menghiasi Bounya Rili. Kini berubah menjadi ciut dan menunduk. Begitu juga dengan Rayati.


Karena terlalu menurutkan keserakahan. Kedua wanita ini, sampai melakukan perbuatan keji. Mereka tidak tahu ini negara hukum. Setiap manusia punya hak azasi.


Bou Rili dan Rayati duduk di depan Yasir yang dibatasi oleh meja.


"Saya tidak perlu memperkenalkan diri saya kepada Ibu dan kamu wanita yang tidak punya hati. Seorang Ibu itu, harusnya menyayangi menantunya. Karena seorang menantu, selalu menganggap mertuanya adalah Ibunya juga. Yang harus dihormati dan disayangi. Tapi, itu tidak ada dihati Ibu.


"Kalau anak Ibu sudah keluar dari persembunyiannya. Tolong bilang sama anak Ibu. Bahwa Rili sudah aman bersama saya. Dia tidak perlu mencarinya lagi. Jikalau suatu saat Dia menyesali perbuatannya. Karena, ada saya yang akan menjaganya seumur hidup saya." Ucap Yasir dengan tegas dan tersenyum sinis kepada kedua wanita yang dihadapannya itu.

__ADS_1


"Bukti KDRT yang dialami Rili Askana sudah sangat kuat. Jangan pernah bermimpi bisa keluar dari penjara ini." Ucap Yasir. Dia pun pergi meninggalkan lapas tersebut.


Sepeninggalan Yasir. Bounya Rili dan Rayati. Menangis histeris dan berteriak-teriak di dalam sel. Sehingga penghuni sel lainnya keberatan dengan gan tingkah mereka yang seperti orang setres. Mereka tidak menyangka. Perbuatan mereka akan berbuntut panjang dan menyakitkan seperti ini. aaaa


"Hei.... Mak lampir. Jangan berisik. Nanti ku robek mulut mu itu. Mengganggu orang yang sedang tidur saja." Ucap seorang wanita yang badannya penuh dengan tato yang berusia sekitar 40 tahunan


"Anakku Rival..... Tolong Ibu. Keluarkan Ibu dari penjara ini. Ibu sangat takut disini." Ucapnya menangis tersedu-sedu, sambil memengangi jeruji besi


Sedangkan Rayati hanya bisa duduk dipojok ruangan sel.Dia menangis dalam diam. Dia tidak berani lagi mengeluarkan suara tangisannya. Karena, sudah dapat peringatan dari penghuni sel lainnya. Orang tuanya tidak bisa menjamin kebebasannya. Karena, kekuasaan Yasir di kota itu sangat berpengaruh. Sehingga tidak ada yang bisa melanggar keinginannya. Yasir ingin. Pelaku kejahatan harus diberi hukuman yang setimpal. Agar memberi efek jera.


Ceklek....


Bibi Siti, memasuki kamar Rili dengan membawa nampan. Rili yang melihat wanita paruh baya masuk ke kamarnya. Akhirnya mengubah posisi tubuhnya menjadi duduk bersandar di head board tempat tidur.


"Siang Nyonya. Maaf.... maaf sekali, makan siangnya telat." Ucap Bibi Siti. Dia meletakkan makan siang Rili di meja yang terdapat disudut kamar tersebut.


"Ibu ini siapa?" tanya Rili dengan suara parau. Dia heran. Tadi pagi kan tidak ada pembantu disini.


"Perkenalkan Nyonya, saya bibi Siti. Saya ditugaskan tuan untuk menjaga Nyonya dan memastikan Nyonya untuk makan dan minum obat.


"Apa Ibu pembantu baru?" tanya Rili sambil memperhatikan gerak-gerik Bibi Siti yang mendekat kepada Rili.


"Tidak Nyonya. Saya sudah hampir satu tahun disini bekerja. Sejak rumah ini dibangun."


"Tapi, tadi pagi saya tidak melihat Ibu di rumah ini?"


"Iya Nyonya, saya pulang ke rumah semalam. Suami saya kurang sehat. Nyonya mau makan di sini atau ke meja tempat saya meletakkan makanan?" tanya Bi Siti dengan tersenyum.


"Saya tidak lapar. Abang Yasir mana Bu?" tanya Rili dengan suara parau dan mata berkaca-kaca. Rili merasa hidupnya benar-benar hancur saat ini. Mana mungkin Dia tinggal di rumah Yasir. Padahal Dia sudah punya suami.


"Tuan sudah berangkat bekerja Nyonya."


"Nyonya kenapa menangis?" tanya Bi Siti. Dia memegang kaki Rili yang sedang berseloncor.


"Sudah saya bilang, jangan panggil saya Nyonya. Saya bukan Nyonya di rumah ini." Ucap Rili sambil melap air matanya dengan jarinya.


"Tapi, tuan memerintahkan kami seperti itu Nyonya." Ucap Bi Siti. Dia juga menjadi sedih melihat Rili menangis.


"Bentar, Bibi ambil saja makanannya. Biar Nyonya makan disini saja. Biar Bibi suapi." Ucap Bi Siti dan hendak beranjak berjalan menuju meja tempat Dia meletakkan makanan untuk Rili.


"Tunggu Bi, Aku makan di sana saja." Ucap Rili. Dia pun turun dari ranjang berjalan menuju meja yang terdapat disudut kamar tersebut dekat jendela.


"Bi, boleh Saya pinjam uang. Rp. 50.000." Ucap Rili. Setelah Dia menghabiskan makanannya. Dia memang harus makan banyak. Karena Dia berniat lari dari rumah itu. Dia merasa Yasir, tidak memberi jawaban yang diinginkannya. Jadi, jelas sudah. Kalau sebenarnya Yasir sudah punya istri.


Bi Siti heran mendengar permintaan Rili. Kenapa pula majikannya meminta uang kepadanya. Tuan Yasir kan orang kaya.


"Bukannya tuan punya banyak uang Nyonya. gajiku saja disini 5 juta/bulan. Tuan sangat baik. Tidak mungkin, Dia tidak mau memberi uang kepada Nyonya." Jawab Bi Siti dengan bingung dan terheran-heran.


"Panjang ceritanya Bi. Aku ingin pulang ke rumah Mama. Aku tidak punya ongkos. Tas dan ATM ku, tidak ku tahu dimana sekarang keberadaannya.


"Tolong... Tolong... Aku Bi? Aku takut disini. Aku takut dilabrak dan dimarah-marahi lagi." Ucap Rili sambil menangis. Dia memegang tangan Bi siti dan memohon.


"Siapa yang akan melabrak dan memarahi Nyonya?"


"Istrinya Abang Yasir. Aku tidak mau dianggap menjadi perusak rumah tangga orang." Ucap Rili, Dia menatap lekat wajah Bibi Siti dengan wajah memelas.


"Apa tuan sudah menikah? setahuku belum. Tapi, tidak tahu juga ya? orang kaya memang biasanya istrinya banyak dan ada di setiap kota." Gumam Bibi Siti dalam hati.


"Aku bisa memberi uang kepada Nyonya. Tapi, Nyonya tidak bisa pergi dari rumah ini. Kalau Nyonya kabur, maka kami akan kena pecat semuanya. Jadi saya mohon. Niat Nyonya untuk kabur dibatalkan saja. Nyonya bicara baik-baik saja kepada Tuan. Tidak mungkin Tuan melarang Nyonya untuk berkunjung ke rumah orang tua Nyonya. Tuan itu orang baik." Ucap Bi Siti. Dia pun keluar dari kamar dan pintu kamar tidak dikuncinya.


Rili lama terdiam dikursi empuk yang didudukinya. Akhirnya Dia kepikiran untuk menghubungi Windi kembali. Ya, ponsel Yasir masih berada di kamar tempat Rili sekarang.

__ADS_1


Rili melakukan panggilan ke no Windi, tapi tetap tidak aktif. Windi juga melakukan panggilan ke Yusuf. Jawabannya sama tidak aktif juga. "Kenapa no kedua orang ini tidak aktif." Ucap Rili, masih mengotak-atik ponsel Yasir.


Rili melihat daftar kontak diponsel Yasir. Ternyata ada no Mamanya disitu. Dia sangat ingin menghubungi Mamanya itu. Tapi, Dia tidak sanggup untuk bicara dengan mamanya. Dia pasti akan menangis. Yang akhirnya akan membuat Mamanya khawatir. Akhirnya niatnya untuk menghubungi Mamanya diurungkannya.


Rili memeriksa semua aplikasi yang ada diponsel Yasir. Yasir punya sosmed FB dan YM. Aplikasi YM(Yahoo messenger) aplikasi itu sangat banyak digunakan orang untuk chating pada saat itu.


Rili membuka aplikasi itu, yang ternyata tidak di logout. Dia heran dengan nama penggunanya. @Ryan Perdana.


"Bukannya ini nama cowok yang mengaku orang Sumbar, teman chatingan ku yang paling baik dan sopan itu. Bahkan Aku mencurahkan semua uneg-uneg dihatiku kepadanya mengenai perasaanku kepada teman sekantorku yaitu Abang Yasir." Ucap Rili, Dia ngomong sendiri seperti orang gila. Dia menscrol isi chatingannya lagi. Memang benar ini Dia Abang Ryan Perdana.


"Astaga, berarti selama ini, Aku chatingan dengan Abang Yasir. Dia menyamar. Untuk apa Dia melakukan itu?" Ucap Rili, Dia nampak memegang-megang hidungnya. Hatinya juga menjadi was-was. Semua rahasianya sudah diketahui Yasir. Betapa malunya Dia, menceritakan perasaannya sendiri kepada Yasir yang menyamar menjadi Ryan.


"Hadeuhhhhh.... Dia pasti ke GR an selama ini. Aku pikir Dia duluan yang suka kepadaku. Makanya Dia menembakku di pantai. Tapi, ternyata Dia sudah mengetahui isi hatiku sebelumnya. Dimana mau ku sembunyikan wajahku ini. Aku malu sekali. Saat dipantai Aku sok jual mahal, tidak langsung menjawab pernyataan Cintanya. Tentu Dia menertawaiku, saat itu. Karena Dia memang sudah tahu kalau Aku ada rasa kepadanya." Ucap Rili, Dia sekarang nampak mondar-mandir. Setelah makan sepertinya Dia sudah bertenaga.


"Kenapa begitu banyak misteri yang kamu ciptakan Abang Yasir. Baiklah. Aku akan ikuti permainanmu. Aku harus bisa tenang. Biar Dia bisa bicara. Semakin Aku berontak. Sepertinya Dia akan semakin mengekangku." Ucap Rili dalam hati. Dia kembali membaca isi chatingannya dengan Ryan perdana yang ternyata akun YM nya Yasir.


Rili senyum-senyum sendiri. Dia kembali membaca isi chat mereka. Karena memang saat chating dengan Ryan Perdana yang tak lain Yasir Kurnia. Sosok Ryan disitu sangat lucu dan sopan.


Bosan memainkan ponsel Yasir. Akhirnya Rili memutuskan untuk turun ke lantai satu. Dia akan melakukan wawancara kepada Bibi Siti. Siapa tahu Bibi Siti. Mengetahui banyak hal mengenai Yasir.


Dia melihat Bibi Siti sedang membersihkan daging ayam di wastafel. Bibi Siti tersenyum kepada Rili. Saat Rili menghampirinya.


"Ibu mau masak apa?" tanya Rili, Dia sedang berdiri disebelah Bi Siti.


"Mau masak sate Nyonya."


"Jangan panggil Nyonya. Karena saya tidak akan pernah menjadi Nyonya di rumah ini. Saya sudah menikah Bu." Ucap Rili, yang membuat Bi Siti terkejut.


"Nyonya sudah menikah?" tanya Bi Siti dengan mata melotot dan menghentikan aksi mencuci daging ayamnya.


"Koq bisa begitu? tadi tuan bilang. Nyonya akan jadi istrinya. Padahal Nyonya juga sudah menikah." Ucap Bi Siti. Dia nampak sangat kebingungan.


"Begitulah Bu, ceritanya. Itu jangan kita bahas lagi. Membuat kepala jadi pusing." Jawab Rili. Dia membantu Bi Siti mengupas bawang dan bumbu-bumbu lainnya. Ternyata Bi Siti akan masak semur ayam dan sate ayam.


"Yang mau kita masak ini, semua makanan kesukaanku loh Bu." Ucap Rili. Dia merasa suasana hatinya sedikit lebih baik. Karena, Dia sangat cocok dengan Bi Siti saat berkomunikasi. Dia merasa menemukan sosok Mamanya saat bersama Bisa Siti.


Setelah memasak, Rili kemudian membersihkan dirinya dengan berendam air hangat yang diberi aromaterapi lavender. Dia sangat menyukai aroma itu.


"Enak ya jadi orang kaya. Tapi, biasanya orang kaya banyak istrinya. Aku mah ogah dibuat jadi simpanan. Biarlah miskin harta, tapi kaya hati. Cintanya dan kasih sayangnya tercurah kepada hanya satu pasangan saja." Ucap Rili sambil memainkan busa yang menutupi seluruh tubuhnya.


"Abang Rival, Dia suami sempurna. Walau tidak kaya. Tapi, Dia baik dan penyabar. Seandainya kita bertemu sebelum hati ini dipenuhi oleh Abang Yasir. Mungkin Akulah wanita yang beruntung itu bisa mempunyai suami seperti Abang Rival. Bou? Bou tidak menyukaiku." Ucap Rili sedih. Saat Dia mengingat Bounya yang kejam itu.


Setelah mandi, Rili kembali lagi menyusuri setiap ruang di rumah itu. Dia heran, kenapa tidak ada foto pernikahan Abang Yasir di rumah itu. "Apa ini rumah diperuntukkan untuk istri simpanan ya?" gumam Rili dalam hati. Kakinya akhirnya berjalan menuju ruang kerja Yasir.


Saat pertama masuk ke ruang kerja Yasir. Rili sangat menyukai desain interior ruangan kerja Yasir. Cat nya bernuansa putih dan coklat. Saat melihat-lihat ruangan tersebut. Matanya tertarik melihat sebuah lukisan yang terdapat disalah satu dinding ruangan kerja Yasir.


Lukisan itu bertema pantai, yang didalamnya ada seorang gadis kecil sedang tersenyum sambil menjujung nampan. Rili semakin mendekatkan langkahnya ke lukisan tersebut. Dia sangat mengenali gadis kecil dilukisan itu. "Ii.ni. kan Aku?" Ucap Rili sambil menutup mulutnya dengan jemarinya.


"Kenapa ada diriku dilukisan ini?" ucap Rili sambil memperhatikan detail lukisan tersebut. "Apa ada orang yang melukisku dulu saat Aku masih remaja saat berjualan gorengan di pantai?" Mata Rili berkaca-kaca melihat lukisan tersebut. Hatinya menduga-duga yang membuatnya semakin penasaran.


Rili merasa tubuhnya mendadak lemas dan pundaknya terasa panas. Sehingga Dia mendudukkan tubuhnya di kursi kerja milik Yasir. Dia meletakkan kedua tangannya di meja kerja Yasir. Kemudian Dia menarik napas sedalam-dalamnya dengan menutup mata. Setelah merasa tenang. Dia membuka matanya perlahan-lahan.


Saat membuka mata. Deg....jantungnya berdetak cepat dan keras. Mata Rili melotot penuh dan hampir saja lepas dari tempatnya. Saat Di melihat sebuah foto dirinya dengan teman masa kecilnya yang bernama Andre Dermawan. Dalam sebuah bingkai kerang-kerang kecil.


Bersambung


Mohon beri like, coment positif. Rate bintang 5 dan jadikan novel ini sebagai favorit.


Jangan lupa VOTE nya kak! Karena itu adalah amunisi untuk membuat semangat menulis.


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2