
Seorang pria nampak begitu bahagia duduk di kursi dorong. Walau rencana awalnya berubah, karena Dia tertidur, sampai perawat membangunkannya. Dia tetap optimis mendatangi ruang rawat inap Istrinya. Setelah Dia diperiksa Dokter dan minum obat.
Saat Rival berada di koridor rumah sakit menuju ruangan Mely. Perawat yang biasa menangani Mely, menegurnya.
"Selamat pagi Pak Rival?" Ucap Perawat ramah, berhenti sebentar disebelah Rival.
"Selamat pagi." Jawab Rival ramah, tidak sabar untuk masuk ke ruangan Mely.
"Mau kemana kalian Yudha?" bisik perawat perempuan kepada perawat laki-laki yang mendorong Rival, yang ternyata bernama Yudha itu. Walau berbisik, Rival masih mendengar ucapan Perawat perempuan itu.
Dan Dia baru mengetahui bahwa nama perawat laki-laki itu adalah Yudha. Rival yang tidak fokus itu. Tidak pernah menanyakan atau membaca name tag Perawat yang menjaganya.
"Menemani Pak Rival ke ruangan Istrinya." Jawabnya dengan ekspresi biasa saja.
"Ibu Mely?" tanya Perawat yang menjaga Mely.
"Iya, sudah ya. Kami jalan dulu." Jawabnya, mulai mendorong kursi roda Rival.
"Eehhh, tunggu dulu. Ibu Mely tidak ada lagi di ruangannya. Ibu itu sudah keluar sekitar tiga puluh menit yang lalu." Ucapan perawat itu, sontak membuat Rival terkejut. Raut wajah ketakutan langsung mendominasi wajahnya yang tampan.
Perawat Yudha menghentikan aksinya mendorong Rival. Karena perintahnya Rival.
Rival menatap tidak percaya kepada perawat wanita itu. Tidak mungkin istrinya itu keluar dari rumah sakit ini, tanpa memberitahunya.
Rival yang mulai panik itu, ingin memastikan sendiri. Benarkah istrinya sudah chekout. Dia refleks mendorong kursi rodanya sendiri dengan tangannya. Tapi, perawat langsung mengambil alih kursi roda dan mendorong nya masuk ke kamar Mely yang ternyata hanya ada petugas cleaning servis di ruangan itu.
Mendapati kenyataan itu. Rival langsung lemas. Apakah istrinya itu sebenci itu, kepadanya sehingga pulang pun tidak memberi kabar kepadanya?
Rival mulai cemas dan khawatir. Jantung nya juga sudah berdetak cepat tak beraturan. Dia takut, peristiwa empat bulan yang lalu terulang lagi. Mely pergi meninggalkannya.
"Dek, ayo kita cepat ke ruangan ku!" titah Rival dengan tidak tenangnya. Dia harus menelpon supirnya, agar datang menjemputnya.
Sesampainya di kamarnya, Dia yang masih dalam keadaan sakit. Bangkit dari kursi roda yang masih diawasi oleh Perawat. Dia meraih ponselnya dari laci meja dekat kulkas. mulai melakukan panggilan kepada Rudi supirnya, Dia harus pulang. Memastikan istri nya benar di rumah.
"Pak Rudi, Bapak dimana?" tanya Rival dengan panik. Badannya yang sakit semua seolah tidak rasakannya lagi. Terganti oleh rasa takut berlebihan. Dia tidak mau kehilangan anak dan istrinya itu
"Saya di parkiran Pak." Jawab Rudi. Ya, Pak Rudi, selalu stainbye di rumah sakit. Dia hanya sebentar ke rumah untuk berganti baju dinasnya. Pak Rudi adalah supir Rival.
"Tunggu Aku di parkiran Pak. Kita ke rumah." Rival menyambar tas selempang nya yang berisi dompet dan semua kartu berharganya. Keluar dari ruangan. Tapi, langkahnya langsung dihentikan oleh perawat.
"Bapak mau kemana?" tanya perawat menahan lengan Rival yang terasa dingin dan bergetar. Rival benar-benar dalam keadaan lemah tidak bertenaga. Tapi, Dia memaksakan dirinya untuk bergerak menyusul istrinya ke rumah.
"Saya mau menyusul istri saya ke rumah." Jawab Rival dengan panik. Tubuhnya sudah gemetar.
__ADS_1
"Bapak sedang sakit, tidak boleh keluar dari rumah sakit ini. Bapak tanggung jawab kami." Ucap perawat, masih menahan tangan Rival.
Rival merogoh kembali ponselnya yang ada di tasnya. Dia pun mulai melakukan panggilan kepada Febri. Dia ingin menanyakan tentang anaknya.
Ya, semua kontak penting sudah ada di ponselnya.
Ternyata no ponsel Febri tidak aktif. Rival melakukan panggilan kepada no ponsel Mely. Tidak aktif juga. Dia menghubungi semua orang di rumah nya tapi satu pun no ponselnya tidak ada yang aktif.
Dia semakin takut dan panik. Dia tidak mau, Istrinya itu pergi lagi dari hidupnya.
"Pegang ini, Sebentar lagi akan ada yang mengurus semua biaya administrasinya. Aku harus pergi, jangan larang saya. Kalau kamu masih menghalangi. Jangan menyesal, kalau kamu tidak bisa memakai seragam mu ini lagi." Ucap Rival, memberi dua lembar uang tukaran dua ratus ribu kepada perawat itu.
itu ancaman Rival membuat nyali perawat ciut. Dia tidak mau berurusan panjang dengan orang Kaya. Bisa-bisa Dia nantinya dipecat. Dan dicekal tidak bisa bekerja di rumah sakit manapun.
Rival kemudian nampak kembali menelpon.
"Kamu ke rumah sakit sekarang." Ucap Rival kepada asisten barunya di kantor.
Sejak Mely melahirkan, Dia melimpahkan semua urusan pekerjaan kepada asisten nya itu.
Perawat tidak tega, melihat Rival yang berjalan sempoyongan. Dia pun Akhirnya membantu Rival berjalan menuju parkiran. Di sana Pak Rudi sudah siap sedia menunggu majikannya itu.
Melihat majikannya datang berjalan ke arahnya dengan dipapah. Pak Rudi berlari, membantu perawat menuntun Rival berjalan. Saat itu juga sebuah mobil sedan merk Mercy. Parkir tepat disebelah mobilnya Rival.
"Abang Rival...?" ucap Yasir, Kini Dia dan Rili tepat berada dihadapan Rival yang ingin masuk ke mobilnya. Rival hanya menoleh ke arah asal suara yang memanggilnya. Saat ini Dia sedang kacau. Bahkan Dia tidak tahu lagi, apa yang terjadi. Karena tubuhnya langsung drop mengetahui istrinya pulang tanpa diketahui nya.
"Yasir," ucapnya dengan suara bergetar. Kedua tungkai kakinya seolah lemas, tidak bisa dilangkahkan untuk masuk ke dalam mobil Pajero sport nya. Karena mobil itulah yang dibawanya pulang ke kampung halamannya.
Pandangan Rival pun jadi buram, kepala sakit luar biasa. Dia pun pingsan dalam rengkuhan Perawat Yudha.
Mendapati pasiennya pingsan. Perawat Yudha menyerahkan Rival kepada Pak Rudi. Pak Rudi, yang kurus tidak bisa menahan bobot tubuh Rival yang kekar. Sehingga Yasir ikut menopang tubuh Rival agar tidak terjatuh di tanah. Sebelum perawat Yudha datang membawa bed dorong.
Rili yang melihat kondisi Rival jadi kasihan, Rival yang dulunya kuat. Nampak tidak berdaya dihadapannya. Sungguh, nasib seseorang kedepannya tidak ada yang tahu.
Yasir yang sudah menganggap Rival seperti saudara. Tersentuh hatinya untuk menjenguk Rival ke rumah sakit. Karena Dia dapat informasi itu dari Yusuf dan Windi.
Yasir yang tadinya ada niat memutus hubungan silaturahmi dengan Rival. Karena sangkut paut kehidupan masa lalu Rival dan Rili. Mengurangkan niatnya itu. Terlalu kekanak-kanakan, gara-gara itu. Hubungan kekeluargaan yang pernah terjalin harus putus. Sehingga Yasir berusaha membujuk Rili untuk menjenguk Rival. Tentu saja dengan pertimbangan yang matang. Rili menyanggupinya.
Yasir berhutang nyawa kepada Rival. Tidak mungkin, Dia tidak menjenguk orang yang pernah menyelamatkannya dari penjahat yang ingin menghabisinya.
"Sayang, kita masukkan dulu Abang Rival ke dalam mobil. Kasihan juga melihatnya seperti itu." Ucap Rili dengan muka kesakitan. Dia seolah bisa merasakan sakit yang dirasakan Rival. Kalau tidak sakit sekali, kenapa Rival bisa pingsan.
Yasir menoleh ke arah Pak Rudi. Pak Rudi yang seolah mengerti maksud Yasir. Akhirnya melepaskan tangan Rival dari pundaknya
__ADS_1
Sehingga kini tubuh Rival berada dalam rengkuhan Yasir.
Benar juga kata Rili. Rival yang pingsan ini, perlu didudukkan atau dibaringkan. Karena Perawat Yudha batang hidungnya tidak nampak keberadaan nya. Tidak mungkin bed dorong stoknya kosong.
Lagian cahaya matahari mulai terik di tempat mereka sekarang. Karena sudah menunjukkan pukul sembilan pagi.
Setelah Rival dibaringkan di bangku mobilnya. Perawat Yudha pun datang dengan bed dorongnya. Lagi-lagi Yasir membantu Rival keluar dari mobil dan menempatkannya di bed dorong.
Perawat Yudha pun mendorong Rival dengan cepat menuju ruang IGD. Sedangkan Yasir dan Rili mengekori nya.
Yasir dan Rili bertanya-tanya dalam hati, kenapa pasien yang masih dalam keadaan parah, ingin keluar dari rumah sakit?
Yasir yang melihat kebingungan di wajah cantiknya Rili yang tangannya sedang digandengnya itu. Akhirnya merangkul Istrinya itu.
"Jangan banyak berfikir. Abang tidak mau wajah anak kita nantinya lahir, dalam keadaan. Keningnya sudah berkerut tiga belas. Karena Mamanya yang tidak mau tenang." Ucap Yasir, kini merapatkan rangkulannya dan mencium pelipis Rili dengan gemes. Kenapa sih, Istrinya itu selalu wangi diindera penciumannya?
"Sudah dong, jangan cium-cium. Malu tuh dilihat orang." Ucap Rili saat mereka melewati koridor rumah sakit menuju IGD. Karena, banyak orang duduk di bangku panjang Stainles itu.
"Biarin, sama istri sendiri koq." Jawab Yasir malah semakin mengeratkan rangkulannya dari samping kepada Rili.
Mereka pun duduk di kursi tunggu depan IGD itu dengan sedikit gelisah. Berharap Rival baik-baik saja.
"Coba hubungi Istrinya Rival. Kenapa Abang Rival dibiarkan pingsan di luar." Ucap Yasir kepada Rili.
"Adek gak ada nomor ponselnya Bang." Ucap Rili.
"Bentar, Abang mintain ke supirnya." Ucap Yasir, berjalan ke arah Pak Rudi. Yang duduk diseberang mereka dengan panik.
Pak Rudi yang sudah pernah dimarahi Rival, karena tidak menyimpan nomor ponsel majikannya. Akhirnya sesampai di kota M. Dia pun menyimpan semua kontak yang ada dikeluarga majikannya itu.
"Pak, Aku minta no ponselnya istri nya Abang Rival." Ucap Yasir tersenyum. Berdiri dihadapan Pak Rudi yang duduk.
"Iya Dek. Sebentar." Pak Rudi pun merogoh saku celananya. Dia pun menyebutkan nomor ponselnya Mely dan Yasir langsung mensavenya di kontak ponselnya.
"Ayo Adek telepon!" titah Yasir kepada Rili. Sejenak Rili berpikir. Kenapa harus Dia yang menelpon. Nanti istrinya cemburu lagi.
"Apa bagus kita yang hubungi?" tanya Rili, yang membuat Yasir berfikir sejenak.
"Sebaiknya jangan kita yang hubungi keluarganya sayang. Nanti istrinya salah paham lagi. Itukan ada supirnya. Sepertinya akan lebih baik, jika beliau yang memberikan kabar tentang Abang Rival sekarang." Ucap Rili dengan raut wajah serius. Tapi, tetap cantik dimatanya Yasir.
Ucapan Rili ada benarnya juga. Akhirnya Yasir bergerak ke arah Pak Rudi.
"Pak, coba Bapak hubungi Istrinya Abang Rival, pakai ponsel Bapak. Aku tidak punya pulsa soalnya." Ucap Yasir...😀🤠Pak Rudi tertawa dalam hati, masak orang kaya tidak ada pulsa.
__ADS_1
Sementara di waktu yang sama, tapi di tempat yang berbeda. Setelah satu jam menunggu keputusan Mely. Akhirnya Pak Firman pun kembali melajukan mobilnya.