Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Pengorbananku sia-sia


__ADS_3

Pukul 01.05 wib. Yasir masih berada di kantor polisi. Dia membuat aduan tentang perampokan dan pengeroyokan yang dialaminya dan menyerahkan penjahat yang berhasil mereka ringkus.


"Baik pak, ini akan kami proses dan tindak lanjuti secepatnya." Ucap seorang Polisi yg bertugas piket malam itu.


"Terima kasih." Ucap Yasir. Dia pun pergi meninggalkan kantor Polisi Melajukan mobilnya menuju rumahnya di area perkebunan.


Masih butuh setengah jam lagi untuk sampai di rumah Yasir dari pusat kota G. Karena rumah Dia berada di areal perkebunan kelapa sawitnya.


Setelah sampai di rumah, Dia langsung membersihkan tubuhnya dibawah shower yang memancurkan air hangat. Sekilas kejadian perampokan tadi terlintas dipikirannya yang membuatnya sedikit tegang, Dia pun menarik napas dalam dan menghembuskannya.


Setelah selesai mandi Yasir merebahkan tubuhnya di ranjang empuknya yang berukuran besar itu.


Dia tidak bisa memejamkan matanya. Wanita yang sangat dicintainya Rili, mengganggu pikirannya. Ada rasa sakit dan Rindu yang menggelora dihatinya, jikalau Dia mengingat wanita itu.


Bagaimana tidak sakit, setelah begitu banyak masalah yang dihadapinya, Dia harus menelan pil pahit. Disaat Dia datang ke rumah Rili. Orang tua Rili mengatakan bahwa wanita yang sangat dicintainya itu sudah menikah sehari sebelum kedatangannya. Dia hanya telat satu hari.


Hati Yasir sakit mendengar berita itu. Dada terasa sesak, Dia cemas sekaligus stres. tubuhnya mengeluarkan keringat, tangan menjadi dingin, kepala menjadi tegang, pandangan kabur.


Dia ingin pingsan saat itu, tapi Dia menahannya. Ibu Rili mengatakan bahwa Rili sudah melupakannya karena Yasir tidak ada kabar selama 6 bulan. Dan Rili menikah dengan pria yang dicintainya. Kalau tidak cinta bagaimana mungkin Dia mau menikah. Begitulah cerita ibu Rili kepada Yasir.


Yasir menjelaskan semua alasan kenapa Dia putus kontak dengan Rili. Ibu Rili terkejut mendengarnya. Ibu Rili pun menangis mendengar cerita Yasir. Tapi semua sudah terlambat.


Yasir memohon-mohon agar ibu Rili memberikan alamat suami Rili, Dia ingin bertemu dengan Rili.


Ibu Rili sangat terkejut mendengar permintaan Yasir. Dia tidak mungkin memberi tahu keberadaan Rili. Ibu Rili menolak keras permintaan Yasir.


Ibu Rili bilang, tidak ada lagi gunanya. Itu sama saja akan membuat Rili menderita. Rili juga sudah sangat membencimu. Kalau kamu memang masih mencintainya, biarkan Dia bahagia dengan pernikahannya. Dia menikah dengan pria yang Sholeh dan baik.


Ibu Rili bahkan memohon-mohon kepada Yasir. Agar jangan mencari dan mengganggu hidup putrinya Rili. Karena kehadiran Yasir akan membuat masalah.


Ucapan-ucapan Ibu Rili selalu terngiang-ngiang di telinganya. Ucapan-ucapan Ibu Rili itu seperti sembilu berbisa yang membuat hati Yasir hancur.


Yasir pulang ke perumahan elitnya dengan keadaan memprihatinkan. Dia lemas tak bertenaga, Dia Munmen ( Muntah mencret ). Dengan cepat Dia menghubungi Yusuf teman sekaligus Asisten sementaranya itu.


Yusuf datang ke Rumah Yasir dan kemudian menghubungi Dokter. Setelah diperiksa, Dokter mengatakan bahwa asam lambungnya meningkat yang dipicu karena setres.


Yasir menceritakan tentang kedatangannya ke rumah Rili. Yasir meminta Yusuf untuk mencari informasi mengenai Rili.


Akhirnya Yusuf menghubungi Windi. Ternyata Windi mengatakan jangan ikut campur. Keluarganya saja sudah menutupi keberadaan Rili dari Yasir.


Yusuf pun membungkam mulutnya, tentang apa yang diketahuinya tentang Rili. Tapi satu hal Dia memang tidak tahu menahu mengenai Rival suami Rili.


Ya, setelah Yasir pulang dari Rumah orang tua Rili. Mamanya Rili langsung menghubungi Windi, agar bekerjasama untuk menjauhkan Rili dari Yasir.

__ADS_1


Memang hanya orang tua Rili, kerabatnya dan Windi yang tahu asal usul Rival. Teman kerja Rili saja tidak ada yang tahu bahwa Rival berasal dari daerah mana. Karena Rival dan Rili menikah mendadak.


Yusuf menasehati Yasir, Kalau benar kamu mencintainya. Ikhlaskan Dia. Jangan mengganggu rumah tangganya.


Walau dengan berat hati dan introspeksi diri selama satu hari akhirnya Yasir mengikuti saran Yusuf. Untuk bisa menghilangkan Rili dari pikirannya Dia harus menyibukkan diri. Dengan terjun langsung untuk mengevaluasi Perusahaan Perkebunan sawitnya di kota G. Yang akhir-akhir ini bermasalah.


"Aku akan Mencoba melupakanmu, Mengikhlaskanmu kalau memang kamu bahagia. Pengorbananku selama ini sia-sia." Gumam Yasir dalam hati. Dia pun akhirnya tertidur.


🌻🌻🌻


Suara ribut membangunkan Rival. Ya, mamanya marah-marah membangunkan pasangan suami istri itu yang tengah tidur di ruang tengah dengan beralaskan karpet dalam kelambu. Dimana Rival memeluk tubuh Rili dari belakang.


"Astaghfirullah.... Sudah hampir jam 6, kenapa kalian belum bangun? Rili, Rili... Bangun...!" ucap Bounya sambil menggoyang-goyangkan kelambu.


Sebenarnya Rival sudah bangun saat Ibunya masuk ke rumah, tapi rasanya badannya sakit semua ditambah tadi malam Dia baru bisa tidur setelah pukul 3 dini hari. Sehingga Dia tetap memejamkan matanya.


Dia malah mengeratkan pelukannya dipinggag Rili, yang membuat Rili tersadar ditambah suara Bounya yang merepet.


Rili membuka matanya, dan mendapati wajah Bounya tepat dihadapannya dengan mata melotot, tetapi masih dibatasi oleh kelambu.


Dug....dug....dug..... dug..... Jantungnya rasanya mau copot disaat Dia mengetahui bahwa Rival memeluknya dari belakang. Dan Bounya menyaksikannya.


Rili dengan cepat memindahkan tangan kekar Rival. Dia langsung berdiri dan keluar dari kelambu. Dia tidak berani lagi menatap Bounya. Dia bergerak cepat ke kamar mandi umum, dan keluar dari pintu depan tanpa membawa tempat sabunnya.


Dia membuang urinenya, kemudian berwudhu. Dia masuk lagi ke rumah untuk melakukan sholat shubuh di ruang tengah.


"Bu, tadi itu tidak seharusnya Ibu marah-marah, kalau hanya untuk membangunkan kami." Ucap Rival sambil meminum air putih hangatnya yang tinggal setengah gelas lagi.


"Kalian kenapa telat bangun dan tidur diluar?"


"Kasur basah Bu, ternyata atap di kamar Rival makin parah bocornya. Tadi malam kami baru bisa tidur setelah pukul 03.00 pagi." Ucap Rival.


"Iya, iya. Cepat sana sholat shubuh!" ucap Mama Rival.


Rival pun bangkit dari tempat duduknya. Dia mengambil tempat sabun, handuk dan kain salin. Dan pergi menuju kamar mandi umum.


"Dasar menantu tidak tahu diri dan tidak punya malu. Pasti ide Dia itu tidur di ruang tamu. Supaya Dilihat orang Dia bermesraan. Jam 3 baru tidur? mungkin Dia ketagihan ditambah cuaca mendukung." Ucap Ibu Rival merepet sambil menyalakan api ditungku.


Rili mendengar ucapan Bounya itu saat sholat. Sungguh sholat Rili shubuh ini tidak khusuk. Dia sepertinya melakukannya hanya untuk memenuhi kewajibannya saja.


Rili pun berdoa, Meminta ampun kepada Allah. Dia meminta kehidupan yang terbaik. Jikalau menikah dengan Rival adalah hal yang baik untuk dirinya. Dia memohon semoga Allah segera membuka hatinya untuk suaminya. Karena Dia sangat tersiksa dalam pernikahan ini, hatinya sangat sakit mengabaikan dan tidak bisa memberi nafkah batin buat suaminya yang hatinya begitu baik itu.


Kalau memang dihatinya hanya ada Yasir, harusnya Dia menikah dengan Pria kejam saja. Sehingga Dia tidak merasa bersalah mengabaikan suaminya. Hati Rili rasanya sangat sakit, ngilu, dan nyut-nyutan.

__ADS_1


"Kapan ini berakhir Ya Allah?" Apa sebenarnya yang terjadi dengan diriku. Kenapa begitu sulit melupakan Abang Yasir.". gumam Rili dalam hati, Dia bangkit dan meletakkan mukena, sajadahnya di rak mukena.


Dia pun berjalan menuju dapur. Mertuanya masih merepet didekat tungku api yang menyala.


Rili pun bingung harus berbuat apa. Sehingga Dia mengeluarkan pertanyaan yang membuat Bounya marah lagi.


"Bo...u, kita masak apa hari ini?" ucapnya dengan gugup sambil berdiri didekat meja makan.


"Masak sup daging lembu!" jawab Bounya ketus dan beranjak dari duduknya.


"Daging lembunya mana Bou?" tanya Rili dengan polosnya.


"Itu tuh... itu.... lembunya di kandang Orang." Ucap Bounya dengan intonasi tinggi, sambil menarik lengan sebelah kanan Rili keluar dari dapur menuju belakang Rumah. "Itu lembunya. Nampak kan?" Bou Rili menunjuk kandang lembu orang. Dia pun pergi ke sungai untuk BAB.


Rili lama mematung di belakang Rumah Rival. Air matanya jatuh, tanpa isakan. Rasanya Dia sudah tidak tahan lagi tinggal di rumah itu. Walau punya suami baik, tapi kalau mertua seperti itu, bisa mati mendadak Rili karena selalu kena serangan jantung.


Rili pun akhirnya tersadar dari lamunannya setelah Rival mengejutkannya.


"Ngapain disini dek? Apa kamu mau ke sungai?"


"Tidak bang." Jawabnya singkat dan berlalu pergi meninggalkan Rival.


Dia masuk ke dapur. Dia memeriksa keranjang yang tergantung di atas tungku. Ternyata ada ikan teri dan ikan lele yang kering atau nama lainnya ikan lele sale.


Rival masuk ke dapur, dan membantu Rili memasak. Mereka akan memasak sambal ikan teri, gulai ikan lele sale campur terong dan kecombrang.


"Jadi pagi ini Abang ke Perusahaan Perkebunan itu?" tanya Rili sambil menghaluskan cabai di penggilingan.


"Iya dek, setelah Abang pikir, Apa salahnya dicoba. Mana gajinya gede. Kalau banyak dapat uang, nanti bisa bangun Rumah buat adek. Rumah yang bagus. Yang tidak bocor." Ucap Rival terseyum sambil mengukur kelapa.


Sebelum tidur, Rival bercerita kepada Rili bahwa Dia menyelamatkan seorang pengusaha perkebunan. Tapi, Rival tidak memberitahu nama Pria yang diselamatkannya. Rili pun tidak tertarik untuk menanyainya. Karena Dia saat itu sangat ngantuk.


"Apa nama perusahaannya bang?" tanya Rili.


"Peru..."


"Rival.... kesini sebentar!" Ucap Ibunya yang baru datang dari sungai.


Bersambung...


Mohon beri like, coment positif. Rate bintang 5 dan jadikan novel ini sebagai favorit.


Jangan lupa VOTE nya kak, biar lebih semangat lagi authornya.

__ADS_1


Terima kasih



__ADS_2