Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 Berakhir sudah


__ADS_3

Selesai melaksanakan sholat Dzuhur di Mushollah kantornya. Rival nampak duduk merenung di Mushollah itu. Dia menyesalkan kejadian yang mereka lakukan tadi malam. Kalau benar mereka adalah saudara, betapa banyaknya dosa yang mereka dapatkan.


Huuffttt.... Rival menghela napas dalam, Dia bangkit dari duduknya. Membenahi penampilan nya dan keluar dari Mushollah dan berjalan cepat menuju ruang kerjanya. Rasanya waktu lama sekali berputar, Dia sungguh tidak sabar menunggu sore hari tiba. Karena kata petugas medis, test DNA nya bisa diambil pukul lima sore.


Saat Rival masuk ke ruang kerjanya, Dia sudah dikejutkan oleh istrinya yang duduk manis di kursi kerjanya.


"Adek disini?" Rival berjalan menuju istrinya yang masih duduk dengan santainya di kursi kerjanya. Menyandarkan tubuhnya di badan kursi empuk itu.


"Iya, Adek mau ikut nanti ke Rumah Sakit." Mely masih betah saja duduk di kursi kerjanya Rival. Sedangkan Rival berdiri disebelahnya.


"Masih lama, nanti jam lima sore baru bisa diambil." Rival meraih file yang ada di meja kerjanya. Membolak-balik nya dan masih berdiri dihadapan Mely yang sedang duduk di kursinya.


Dasar istrinya gak peka, sudah tahu suaminya mau bekerja. Tapi, tetap saja betah duduk di kursi kerjanya. Rival mau mengusirnya, gak tega. Jadilah Dia mencek laporan dengan berdiri dihadapan Mely.


Mely menikmati pemandangan dihadapannya. Tubuh atletis Rival selalu bisa membuat darahnya berdesir.


Tapp...


Mely langsung memeluk tubuh kekar Rival dari belakang. Perlakuan Mely yang mendadak, membuat Rival terkejut. Rasanya jantungnya hampir copot dari tempatnya. Dia sampai memegangi dadanya itu.


"Adek buat terkejut saja." Ucap Rival mencoba melepas kedua tangan Mely yang membelit di pinggangnya.


"Biarin seperti ini, jangan dilepas. Adek masih kangen." Ucapnya semakin mengeratkan tautan tangannya yang mengunci pergerakan Rival.


"Abang lagi kerja Dek. Jangan begini." Rival tetap berusaha melepas belitan tangan Mely di pinggangnya.


"Iya Adek tahu. Seumpama kita beneran saudara. Hari ini adalah hari terakhir Adek bisa sedekat ini dengan Abang. Jadi, please..... Izinkan Adek berlama-lama memeluk Abang." Ucapnya sendu, menahan sakit di hatinya. Dia tidak akan sanggup berpisah dengan suaminya itu.

__ADS_1


Rival diam, melanjutkan pekerjaannya. Sedangkan Mely masih betah memeluk Rival dari belakang. Sambil mengendus-endus aroma tubuh Rival yang sangat wangi menurut nya.


"Sampai kapan kita berdiri begini. Nanti Adek capek kelamaan berdiri. Sudah ya, lepas ya Sayang." Ucap Rival membujuk Mely


Dia juga merasa tidak nyaman dengan posisi ini.


Perlahan Mely melepas belitan tangannya dari pinggang Rival. Dia senang Rival mengeluarkan kata sayang untuknya. Rival berbalik, sehingga mereka berhadap-hadapan. Keduanya lama bersitatap, dengan mulut keduanya bungkam, tidak tahu harus berbicara apa. Sehingga kecanggungan itu pun berakhir dengan masuknya sekretaris Rival.


"Maaf Pak, ini saya hanya mengantar berkas yang bapak minta tadi." Ucapnya canggung, karena merasa kehadirannya mengganggu keromantisan Bos nya. Padahal Rival sangat senang dengan kedatangan sekretaris nya itu. Setidaknya kecanggungan yang tercipta antara dirinya dan Mely berakhir.


"Mana berkasnya?" Rival memberi kode dengan tangannya agar Indah Sekretaris nya berjalan ke arah meja kerjanya. Saat ini Rival sudah duduk di kursinya dan Mely memilih berjalan menuju Sofa yang ada di ruangan itu.


Rival pun mulai bekerja, sedangkan Mely duduk bersantai di sofa dengan memainkan ponselnya. Tak terasa waktu pulang pun tiba.


*


*


*


Keduanya sedang dilanda suasana hati yang harap-harap cemas. Ketegangan jelas terlihat di wajah keduanya. Hasil test ini adalah penentu lanjut atau berakhirnya hubungan mereka sebagai pasangan suami istri.


"Ayo turun!" ucap Rival membuyarkan lamunan Mely. Dia tidak sadar kalau mereka sudah sampai di parkiran Rumah Sakit.


"Sudah sampai ya?" tanya nya polos celingak-celinguk melihat sekitar.


"Adek ngelamunin apa?" tanya Rival menatap istrinya dengan bingung, Ternyata Mely belum sadar sepenuhnya dari lamunannya.

__ADS_1


"Adek takut, kalau hasilnya mengatakan kita adalah saudara kandung. Bagaimana Bang?" tanya nya, memegang lengan suaminya itu. dengan tubuh gemetar.


"Ya gimana lagi, kita harus berpisah." Jawab Rival sedih. "Ayo cepat turun!" titah Rival Kembali.


Akhirnya dengan hati berdebar-debar keduanya berjalan bersamaan menuju ruang yang mereka tuju.


Rival dan Mely masuk ke ruang administrasi tempat mengambil hasil test DNA itu. Petugas medis, meminta mereka duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Mereka pun duduk dengan bersebelahan, petugas medis mendekat dan meletakkan hasil testnya di atas meja, tepat berada dihadapan mereka.


"Alhamdulillah akhirnya hasilnya keluar dalam satu hari. Terimakasih banyak ya Pak atas bantuannya." Ucap Mely ramah, mencoba menutupi rasa khawatirnya.


Dia pun meraih amplop coklat yang tergeletak di atas meja tersebut. Setelah amplop berada di tangannya. Dia melirik ke arah Rival. Seolah meminta izin, untuk membukanya.


"Kita buka di rumah saja." Ucap Rival, menatap Mely, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah petugas medis. Rival merasa tidak enak hati, kalau mereka berlama-lama duduk di sofa itu.


"Tidak apa-apa Pak. Kalau Nona ingin mengetahui nya sekarang. Sebaiknya dibuka saat ini juga." Ucap nya ramah.


Mely kembali melirik suaminya yang duduk disebelahnya, kemudian Dia pun memberanikan diri untuk membuka amplop berwarna coklat itu.


Tentu saja, tangannya sedikit gemetar membukanya. Dia seolah tidak siap dengan hasil yang akan dibacanya. Kini kertas berwarna putih itu sudah dibukanya. Dia melihatnya sekilas, kemudian melirik Kembali Suaminya itu, sebelum membacanya.


Mely menarik napas dalam, kini kedua bola matanya sedang fokus membaca kertas yang sudah dihiasi tinta hitam itu. Dimana pada bagian atas kertas tertulis kop surat, tempat Rumah sakit mereka melainkan test DNA. Kemudian bola matanya yang indah dan masih jelas penglihatannya itu, mulai membaca isi test DNA itu.


Ini pertama kali Dia membaca isi surat seperti itu. Di akhir tulisan Dia membaca pernyataan yang mengatakan hasil test DNA nya dengan Pak Ali tidak cocok. Seketika kedua bola mata Mely membeliak hendak keluar dari tempatnya, saat membaca kata tiap katanya. Debaran jantung berdetak cepat seketika. Tidak percaya apa yang dibacanya.


"Iiiinnnii beneran hasilnya Pak?" tanya nya dengan gugup, dengan ekspresi wajah yang terkejut. Mely melirik Rival disebelahnya. Kini mata indah yang tadinya membeliak itu, berubah jadi berkabut. Dia mengucek matanya yang berkabut itu, guna memperjelas penglihatannya.


Melihat ekspresi yang ditampilkan Mely dengan bersedih, membuat Rival sangat yakin. Kalau hasilnya memang benar mereka adalah saudara. Dia pun menghela napas dalam. Menerima lembaran putih itu yang disodorkan Mely kepadanya.

__ADS_1


"Berakhir sudah,...!" ucap Mely dengan terisak.


__ADS_2