
Rili terbangun karena mendengar suara adzan yang begitu merdu. Dia tidak mendapati Rival disebelahnya.
"Apa Abang Rival yang sedang adzan itu?" gumam Rili dalam hati.
Baru saja hendak turun dari tempat tidur. Pintu kamar Rili sudah digedor-gedor oleh ibu mertua.
Tok....tok....tok.....
"Bangun.... Bangun.....! jadi istri bangunnya lama sekali? suamimu saja sudah ke Mesjid, kamu belum juga keluar dari kamar." Ucap Ibu mertua Rili dengan kesalnya.
Rili yang sudah bangun di dalam kamar itu ketakutan sampai mati. Jantungnya berdetak cepat dengan tubuhnya gemetar.
Masih shubuh Ibu mertuanya sudah marah-marah kepadanya.
"Istri itu harus lebih dulu bangun daripada suami. Kamu itu harus memasak dan menyiapkan bekal untuk suamimu. Bangun.... bangun...!" Ibu Rival masih menggedor-gedor pintu kamar dengan marah-marah.
"Iiiii..yaa Bu, Aku sudah bangun!" ucap Rili dengan gugup dan ketakutan.
Syukur Dia hanya 3 Minggu di kampung Rival untuk menghabiskan cutinya. Sempat Dia lama tinggal bersama mertuanya ini, bisa ikut gila si Rili.
Ceklek.... Rili membuka pintu kamarnya. Sedangkan Ibu mertuanya masih berdiri di depan pintu kamar mereka.
"Bu?" ucap Rili dengan gugup dan lembut.
"Aku bukan Ibumu, jadi jangan panggil Aku Ibu. Tutur sapa di kampung ini. Kamu itu manggil saya itu dengan panggilan BOU. dan suami saya atau Ayah Rival kamu panggil AMANGBORU. Si firman kamu panggil ADIk. Si Mila dan Sekar kamu panggil EDA.
"Di kampung ini, orang-orangnya ramah dan pandai bertutur sapa. Jangan buat malu keluarga suamimu dengan kamu yang menyamakan semua panggilan dengan IBU, BAPAK, TANTE, KAKAK, NENEK dan sebagainya. Masih banyak lagi tutur sapa. Kamu harus belajar. Biar orang kampung tahu bahwa menantuku ini orang pintar yang tahu adat dan sopan santun." Ucap Ibu Rival menjelaskan tutur sapa untuk keluarga besarnya Rival.
Rili diam saja mendengar ucapan mertuanya itu.
"Satu lagi, kamu jangan dekat-dekat dengan suaminya si Mila. Itu tidak baik dilihat orang. Karena Dia OPUNG BAYO mu. Kamu paham? kalau belum paham kamu belajar dari Rival.
"Cepat kamu mandi, karena sebelum kamu mandi wajib kamu itu tidak boleh melakukan pekerjaan." Kamu tahu hukum fiqih di agama kita kan?" ucap Ibu mertuanya dengan menatap tajam Rili yang masih mematung di depan kamar.
"Iya, Rili ngerti Bu!"
"Baah....baahhhhh! kenapa masih panggil Ibu? Tadikan udah saya jelaskan tutur sapanya!" ucap Ibu Rival kesal.
"Iiii...yyaaa.... BAU!" ucap Rili dengan tidak percaya diri. Dia sudah lupa tutur sapa yang dijelaskan ibunya Rival. Jelas Dia lupa toh gurunya yang mengajarinya yang tak lain adalah Ibunya Rival sangat menakutkan sekali.
"Aapa..! apa kamu bilang? BAU? Siapa yang BAU? Haaahhh...!?" tanya Ibu Rival makin kesal.
Rili semakin takut saja, Dia ingin sekali pergi meninggalkan mertuanya itu, tapi jika itu Dia lakukan maka tamatlah riwayat Dia.
"Rili lupa tutur sapa untuk Ibu mertua." Ucap nya dengan mata berkaca-kaca.
"Panggil saya dengan sebutan 'BOU' ayo coba bilang BOU!"
"BOU," ucap Rili dengan wajah tertunduk masih dalam posisi berdiri.
__ADS_1
"Ulangi lagi,"
"BOU," ucap Rili.
"Ada apa ini Bu? kenapa suara ibu kedengaran sampai ke Mesjid?" tanya Rival yang baru saja pulang dari Mesjid menunaikan sholat shubuh.
"Ini nih istrimu ini, susah kali diajarin." ucap Ibu mertua Rili dengan menunjuk-nunjuk Rili yang sedang menunduk.
"Ibu mau mengajari apa masih shubuh begini. Apa ibu sudah sholat shubuh?" tanya Rival yang sedang berdiri disebelah kiri ibunya.
"Belum nak, Ibu tadi bangunkan istrimu. Mungkin kalau tidak dibangunkan, Dia tidak akan bangun-bangun." Ucap Ibu Rival kesal.
Rival hanya bisa geleng-geleng kepala dan menghembuskan napasnya dengan kasar. Sungguh Ibunya ini sangat menyebalkan sekali.
"Ibu sholat dulu, mengenai istri Rival. Biar Rival yang mengajarinya ya Bu?" ucap Rival lembut, untuk menghormati dan menghargai Ibunya di depan Istrinya.
Ibu Rival meninggalkan ruangan tersebut dengan kesal sambil memiringkan mulutnya.
"Hhhheemmmmuumm!" Ibu Rival mendengus dan melaksanakan sholat shubuh Di Ruang sholat sebelum dapur.
Rival mengangkat wajah istrinya yang dari tadi menunduk itu, jelas saja. Air mata sudah membasahi pipi Rili.
"Maafkan Ibu ya? Ibu memang begitu karakternya. Kata-katanya jangan diambil hati." Ucap Rival sambil melap air mata Rili dengan jemarinya.
"Ayok, kita ke sungai saja. Kalau kamu mandi di kamar mandi umum sekarang. Nanti kamu canggung karena jam segini orang sudah pada antri dikamar mandi umum." Ucap Rival lembut.
"Iya, Aku ambilkan pakaian ganti dulu." ucap Rili dan masuk ke dalam kamar.
Rili sedikit bingung, mendengar ucapan Rival yang mengatakan ada musholla kecil didekat sungai. Seingat Dia semalam tidak ada mushollah di sekitar sungai.
Mereka nampak berjalan menuju sungai, dimana Rili berjalan didepan, sedangkan Rival dibelakang nampak memegang ember plastik warna hitam yang berisi kain kotor dan senter untuk pencahayaan karena hari masih sedikit gelap. Walau sebenarnya bulan masih purnama.
Sesekali Rili menoleh kebelakang untuk memastikan bahwa Rival tidak lari meninggalkannya sendirian di jalan menuju sungai yang mereka lewati yang merupakan kebun karet warga.
"Dek, belok kanan." Ucap Rival.
Rili menghentikan langkahnya.
"Koq belok, kemarin seingatku waktu ke sungai bersama Sekar, jalannya lurus aja bang." Ucap Rili bingung.
"Iya, itupun jalan ke sungai. Belok kanan pun nanti ke sungai juga. Tapi, tempat yang Abang maksud ini tempat favorit Abang dan orang jarang mandi atau mencuci disana.
Keseringan orang ke sungai tempat yang kalian datangi kemarin bersama Sekar. Kalau kita ke tempat yang kemarin, disana ramai itu. Kamu pasti malu dan canggung." Ucap Rival dan memberi kode dengan menyenter ke jalan belok kanan yang dimaksudnya.
Rili belok kanan, sepanjang perjalanan Dia sedikit was-was. Berduaan di sungai dengan Rival membuat pikiran Rili piktor. Dia memikirkan hal-hal buruk, apakah Rival akan mengambil kesempatan dalam kesempitan di sungai yang sepi, tapi kan semalam mereka sudah sepakat, kontak fisik terjadi apabila Rili sudah Ikhlas untuk disentuh.
Rili cepat-cepat membuang pikiran kotor itu dari otaknya.
"Piu....piu...piu.. cussss .... Melayang!" ucap Rili sambil menggerak-gerakkan jarinya di dekat kepalanya.
__ADS_1
Setelah berjalan sekitar 30 meter, Rili melihat sebuah mushollah kecil yang seperti bangunan lama, tapi masih bersih.
"Letakkan aja baju gantinya di mushollah ini dek!" ucap Rival.
"Iya bang," ucap Rili. Dia meletakkan baju ganti dan mukenanya yang berada di dalam tas ranselnya.
Kemudian mereka berjalan sedikit menurun untuk sampai ke bibir sungai. Dipinggir sungai banyak ditumbuhi bambu.
"Eehmmmm.... segarnya!" ucap Rili sambil menghirup udara yang masih tergolong shubuh tersebut sambil menatap ke atas, melihat dahan-dahan bambu yang saling bertemu dari sisi kiri dan kanan pinggir sungai yang tergolong kecil dan tidak dalam tersebut yang masih diterangi cahaya bulan purnama.
Betapa terkejutnya Rili melihat dahan bambu bergoyang-goyang seperti ada makhluk yang sedang bergantungan di dahan bambu tersebut.
Mata Rili membulat, Dia melihat samar-samar 🐒 monyet melompat dan bergantungan di dahan bambu.
Tangan yang tadinya direntangkannya, menikmati sejuknya udara pagi, akhirnya turun pelan dengan mata masih melotot menatap monyet yang begitu banyak di pohon bambu.
"Aaada...aada.... Monyet!" ucap Rili dengan gugup dan takut.
"Rival yang dari tadi sudah mulai mencuci pakaian mereka hanya menjawab."Iya, monyet!"
"Apa? Abang bilang Aku monyet?" tanya Rili kesal.
"Tidak, disini memang banyak monyet. Monyetnya pada berdatangan ke kampung ini. karena tempat mereka tinggal sudah hancur dibuat orang kaya sebagian perkebunan dan juga hutan banyak yang terbakar." Ucap Rival sambil tetap melanjutkan kegiatan mencucinya.
Rili bengong, Dia kembali menatap ke atas. Ternyata ada monyet jantan yang genit. Monyet itu nampak melototi Rili dan tersenyum.
"Iiittuuu... itu monyetnya menatap Aku terus, Monyetnya juga tersenyum bang." Ucap Rili ketakutan.
"Makanya cepetan mandinya. Itu Monyetnya udah naksir sama Adek. Monyetnya bisa nekat itu bila adek sendirian disini. Dia bisa ngejar-ngejar Adek." Ucap Rival sambil terus melanjutkan kegiatan mencucinya.
Rili bergedik ngeri, tubuhnya gemetar membayangkan dirinya dikejar-kejar monyet.
Rili nampak membuka pakaiannya dan memakai kain salin.
"Awas monyetnya ngintip itu!" ucap Rival sambil terkekeh.
"Aal..ahhh.. bilang aja Abang yang ngintip."
"Abang untuk apa ngintip. Abang udah lihat koq." Ucap Rival sambil mengangkat pakaian dalam Rili yang sama direndam diember.
"Ini, apa Abang juga yang nyucinya?" tanya Rival sambil merentangkan BRA Rili warna cream yang dihiasi renda dipinggirnya.
Rili cepat berjalan sambil menyaut BRA nya. Dia kemudian mencucinya.
Rival terkekeh melihat tingkah istrinya itu.
"Adek cepat mandinya. Udah mau habis waktu shubuh ini." Ucap Rival.
Bersambung
__ADS_1
Mohon beri like, coment positif, vote, rate bintang 5 dan jadikan novel ini sebagai favorit.
Terima kasih