
"Maafkan kami Nak Yasir!" ucap Ayah Rili dengan nada yang lemah. Dia merasa bersalah kepada Yasir. Mata pria tua yang memakai Lobe putih itu nampak berkaca-kaca. Tangan Yasir bergetar membalas pelukan pria yang sangat dihormatinya itu. Yasir dengan lemnut mengelus punggung Ayah Rili, yang masih memeluknya.
"Niat tulusmu dulu untuk mempersunting Rili, harusnya kami Terima. Sehingga ini semua tidak akan terjadi." Ucap Ayah Rili masih dalam keadaan memeluk Yasir.
Sungguh Yasir merasa seperti bermimpi. Dia tidak menyangka akan disambut sehangat ini. Padahal ada sedikit ketakutan dihatinya. Dia takut orang tua Rili menyalahkannya, karena Rili diceraikan Rival.
"Ayo masuk dulu Nak Yasir!" ucap Mamanya Rili yang kini sudah berada diambang pintu. Raut wajah wanita yang melahirkan Rili itu nampak sedih.
Ayah Rili mengurai pelukannya dari Yasir. Kedua pria berbeda generasi itu memasuki rumah yang diikuti oleh Asisten Jef.
Kedua orang tua Rili duduk bersebelahan di sofa panjang, sedangkan Yasir duduk di sofa dihadapan kedua orang tua Rili yang dibatasi oleh meja tamu. Sedangkan Asisten Jef, berdiri disebelah kanan Yasir.
Melihat Asisten Jef, berdiri maka orang tua Rili meminta Jef duduk di sofa sebelah Yasir.
Yasir duduk dengan menyilangkan kedua kakinya. Dia masih nervouse. Degupan jantungnya juga belum stabil. Dia masih was-was dan harap-harap cemas. Walau, orang tua Rili sudah Wellcome terhadapnya.
"Seandainya dari awal, kami mengetahui semua tentang kisah kalian mungkin ini semua tidak akan terjadi. Ayah yang belum mengenal Nak Yasir sepenuhnya, jelas merasa khawatir saat Nak Yasir pernah meminta untuk menikahinya secara siri waktu itu." Ucap Ayah Rili dengan mata berkaca-kaca. Istrinya yang sedang duduk disebelahnya dengan lembut dan sabar nampak menenangkan suaminya dengan memegang tangan kanan suaminya tersebut.
"Iya Ayah, semuanya sudah terjadi. Tidak ada lagi yang perlu disesali. Mungkin beginilah takdir yang harus kami lalui, sehingga bisa bersama. Yang jadi ganjalan dihatiku saat ini adalah. Apakah Rili menikah lagi, setelah Abang Rival menceraikannya?" Yasir sangat tidak sabar menunggu jawaban kedua orang tua Rili. Sungguh jantungnya kembali dag Dig dug. Dia sampai mengubah posisi duduk menjadi duduk tegap dan kaki terbuka lebar.
"Sejak Nak Rival menceraikannya, Dia berubah menjadi sosok yang tidak kami kenal. Dia biasanya sering mengeluh dan menangis kepada Ibunya. Tapi, itu tidak pernah dilakukannya. Dia nampak tegar dan ikhlas. Tapi, Dia sangat trauma dan terpukul. Itu jelas terlihat dari ekspresi tubuhnya.
"Dia menjadi menutup diri kepada lawan jenisnya. Sikapnya itu membuat kami sangat takut. Kalau Dia terus bersikap seperti itu, Dia pasti akan menjadi janda selamanya. Dia juga melarang kami untuk menghubungi Nak Yasir." Ucap Ayah Rili dengan berusaha menenangkan dirinya yang tiba-tiba emosional itu.
"Rili dimana sekarang Ayah?"
"Dia sedang bekerja di Hotel Nak Yasir. Ada acara pelatihan yang diadakan di Hotel Nak Yasir." Ucap Ayah Rili.
"Ayah, Aku ingin menikahi Rili hari ini juga!" ucap Yasir dengan tegas. Tangan kanannya bergerak cepat dan memegangi dadanya yang dag dig dug itu. Rasanya jantungnya mau copot, disaat Dia mengatakan itu.
__ADS_1
Kedua orang tua Rili saling pandang, merdeka sangat terkejut mendengar ucapan Yasir. Mereka tidak menyangka, Yasir mau menikahi putrinya yang sudah berstatus janda itu. Mata Mamanya Rili melotot dengan mulut sedikit menganga. Sungguh permintaan Yasir, untuk menikahi Rili hari ini juga diluar pemikiran mereka.
Ayah Yasir berdiri dari tempat duduknya, Dia berjalan menuju Yasir. Melihat Orang tua Rili berjalan ke arahnya. Dia pun berdiri dari tempat duduknya. Dengan cepat Ayah Rili memeluk Yasir, yang membuat tubuh Yasir sedikit bergoyang, karena Ayah Rili saat memeluk Yasir, menjatuhkan tubuhnya ke Yasir.
"Nak, tadinya kami yang berniat menawarkan putri kami untuk kamu nikahi. Kami sangat takut, kamu menolak putri kami yang sudah janda. Tapi, ternyata kamu malah datang untuk menikahinya. Terimakasih banyak Nak, kami orang tuanya tidak bisa membahagiakannya. Kebahagiaannya hanya padamu." Ucap Ayah Rili. Dia kemudian melepas pelukannya dari Yasir.
"Ayah akan mempersiapkan semuanya. Pak KUA disini teman akrab Ayah. Semua bisa Ayah atur." Ucap Ayah Rili yang masih berdiri dihadapan Yasir, kedua tangannya masih memegang bahu Yasir. Yasir pun kembali memeluk calon mertuanya itu. Sungguh ada kelegahan dihatinya saat ini. Senyum kebahagiaan terpancar diwajah tampannya, yang membuat Asisten Jef, ikut bahagia.
"Jef, Bantu Ayah untuk mempersiapkan semuanya. Kamu hubungi pihak Hotel untuk mengantar mobil untukmu, Saya akan ke Hotel sekarang." Ucap Yasir dengan semangat, senyum selalu menghiasi wajah Yasir saat ini. Hatinya sangat bahagia. Tapi, Jantungnya masih berdegup kencang, Dia masih nervouse untuk berjumpa dengan Rili.
Sepanjang perjalanan menuju Hotel, Yasir terus saja berusaha menstabilkan degupan jantungnya yang tidak normal itu. Dia berulang kali menarik napas dalam dan menghembuskannya kembali. Dia juga tertawa kecil sambil senyum-senyum sendiri, Dia sangat bahagia. Sesekali tangannya mengusap bibirnya yang sedang merekah tersenyum bahagia itu.
Dia selalu melirik jam tangan yang melingkar dipergelangan tangan kirinya. Sungguh Dia merasa perjalanan ini terasa lama, padahal jarak tempuh dari rumah Rili ke pantai, hanya memerlukan waktu 20 menit. Tapi, Dia merasa sudah hampir satu jam bokongnya duduk dijok mobil yang ditumpanginya.
"Pak, lebih cepat sedikit!" ujarnya dengan tak sabaran. Yasir merapikan rambutnya dengan sisir kecil yang selalu ada di dompetnya. Dia juga kembalikan merapikan kemeja warna putih yang dikenakannya. Padahal kemeja yang dikenakannya sudah rapi dan wangi.
Dia juga mengendus ketiaknya. Dia merasa ketiaknya tidak wangi lagi, padahal Dia masih fresh. Maka Yasir kembali menyemprotkan parfum ke seluruh badannya. Yang membuat aroma mobil wangi semerbak. Syukur parfum Yasir harganya mahal. Coba kalau parfum murahan. Mungkin pak supir udah muntah mencium aroma mobil yang dipenuhi wangi minyak senyongnyong.
Bulatan matahari yang menguning, membiaskan cahaya merah di atas permukaan laut dan semburat jingga sunset di pantai, seakan membius siapa pun yang memandang.
Pemandangan sore di pantai sangat indah. Ombaknya yang menabrak dipadukan dengan matahari yang sedang terbenam. Orang-orang tertawa dan bermain di bawah matahari terbenam.
Rili memilih menyendiri, Dia tidak ikut bergabung dengan tim kerjanya saat bakar-bakar ikan. Ruslan, menghentikan langkah Rili. Dia menawarkan Diri untuk menemani Rili berjalan-jalan dipinggir pantai sambil menikmati indahnya ciptaan Tuhan sore ini. Tapi, Rili menolak.
Lelah berjalan-jalan dipinggir pantai, sambil memikirkan kisah hidupnya yang tidak kunjung bahagia. Akhirnya Dia pun mendudukkan bokongnya di atas pasir tanpa alas. Kedua bola matanya yang berkaca-kaca, menatap lurus ke arah hamparan laut luas.
Butiran pasir menyentuh kakinya perlahan melalui jari-jarinya ketika Dia menggerak-gerakkan kakinya. Semilir angin yang berhembus membelai rambut Rili yang tergerai menambah kesejukan dihatinya yang lagi galau.
Berpisah dari Yasir, mengalami kegagalan dalam pernikahan memang cukup membuat Rili trauma. Dia tidak ingin menjalin hubungan dengan laki-laki lagi. Bahkan Dia ragu suatu saat akan bisa jatuh cinta kembali, Karena hanya Yasir dihatinya.
__ADS_1
Rili terduduk dengan menekuk kedua kakinya. Terkadang posisi duduknya berubah, dimana Dia menekuk satu kakinya dan satu lagi berseloncor. Tangan kanannya menggoreskan sebuah nama di pasir putih.
Yasir Kurnia, begitulah tulisan yang ditorehkan oleh Rili di atas pasir. Dimana tulisan di atas pasir itu terdapat dalam simbol π.
"Aku sangat merindukanmu!" ucapnya dengan terisak. Air mata berhamburan jatuh di pipih putihnya. "I Love You...!" ucapnya lagi sambil menyentuh nama Yasir yang ditorehkannya diatas pasir. Tentu, air mata Rili semakin deras saja mengalir. Dia menundukkan kepalanya, bertumpu dilututnya. Kali ini tangisan Rili pecah, Dia tidak bisa mengontrol emosinya. Degupan jantungnya juga semakin cepat saja terasa.
"Kamu menangis?" Rili seperti sedang mendengar suara Yasir. Tapi, Dia menepis anggapan itu.
"Aku terlalu merindukanmu, sehingga disaat mengingatmu pun Aku seolah mendengar suaramu." Ucap Rili masih masih dalam keadaan membenamkan kepalanya diantara kedua lututnya. Dia masih terus saja menangis. Sambil berusaha menstabilkan jantungnya yang detakannya semakin cepat saja.
"Aku juga sangat merindukanmu." Rili kembali mendengar suara Yasir. Untuk kali ini Dia sangat kesal dengan dirinya. Dia ingin berteriak dan berlari sekencang-kencangnya. Dia sungguh frustasi. Dadanya semakin sesak saja dirasanya. Sore ini bukan hanya wajah Yasir saja yang menguasai pikirannya. Tapi, suara Yasir juga terdengar dimana-mana.
Tanpa menoleh siapa yang dihadapannya. Rili meraih sepatu yang sempat dilepasnya. Dia dengan cepat memakainya. Dia harus pergi dari tempat penyendirian ini. Dia bisa gila, karena terus dibayang-bayangi oleh Yasir.
Rili belum menyadari keberadaan Yasir yang tepat berada sekitar 50 cm dihadapannya. Dia sibuk sendiri memsang sepatunya sambil mengusap air matanya.
"Aku mencintaimu, Aku sangat merindukanmu, Aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi." Ucap Yasir dengan suara beratnya. Dia sedang menahan dirinya untuk tidak menangis.
Rili yang sudah selesai memakai sepatunya, merasa suara itu benar adanya. Matanya perlahan-lahan menatap lurus ke dapan. Dia melihat bayangan pria tepat dihadapannya. Dia kembali menggerakkan matanya ke atas, sehingga kepalanya juga ikut terangkat.
"Aaahhkk...!" Mulutnya menganga, matanya melotot melihat sosok Yasir yang berada dihadapannya. Dengan cepat tangan kirinya menutup mulutnya yang terkejut itu. Dia merasa jantungnya berhenti berdetak, sehingga tubuhnya sempat hendak terjatuh kebelakang. "Aku bermimpi?"
Rili mengucek-ucek kembali matanya. Dia ingin memastikan bahwa yang dihadapannya adalah benar Yasir. Ternyata, memang benar itu Yasir. Penglihatannya tidak rusak. Matanya masih normal. Dia tidak rabun.
"Dek," ucap Yasir. Tapi, anehnya Yasir juga salah tingkah. Dia lebih aneh lagi. Ingin rasanya Dia memeluk Rili dan menciumi Rili. Tapi, tubuhnya berkata lain. Yasir hanya mematung dihadapan Rili.
Mohon beri like, coment positif, rate π 5 dan jadikan novel ini sebagai favorit
__ADS_1
Tetap votenya kuharapkan kakak2 cantik πβΊοΈ