Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 Main ular tangga


__ADS_3

Rival menghentikan aksinya, karena Dia melihat Mely menikmati permainannya. Dia ingin melihat ekspresi wajah Mely disaat Dia berhenti menyentuh bagian-bagian yang membuat Mely mendesah itu. Merasa tidak ada sentuhan, Mely membuka matanya. Betapa malunya Dia melihat wajah suaminya yang tersenyum menggoda itu mengedipkan matanya. Mely jadi salah tingkah, wajah putihnya berubah warna menjadi bak kepiting rebus.


“Kenapa berhenti?” tanya Mely dengan malu-malu, dia nampak menarik napas untuk menenangkan dirinya yang sudah mulai panas dingin itu.


“Adek suka?”tanya Rival masih menatap gemes Mely dibawah tubuhnya. Mely mengangguk malu. Sungguh tingkah Rival membuatnya gemes. Entah kenapa Mely merasa sangat malu malam ini. Tapi rasa malu itu pun sirnah karena terjangan getaran dan gelombang rindu yang tersimpan selama satu minggu ini, membuat Mely tidak bisa mengendalikan dirinya lagi.


Dengan lembut Mely merangkum wajah Rival, Dia pun memberikan sentuhan-sentuhan kenikmatan di setiap inchi wajah Rival yang tampan itu. Sehingga Rival memejamkan matanya menikmati cumbua*n istrinya itu.


Mely merasa ada sesuatu yang kuat menuntut dari dalam dirinya untuk disalurkannya melalui sentuhan kepada suaminya itu.


Dengan tidak sabarannya Dia melepas kaos yang dikenakan Rival, yang membuat Rival refleks membantunya agar pakaian Rival terlepas. Melihat tubuh kekar suaminya. Mely langsung mendekapnya. Aroma tubuh Rival yang maskulin membuat Mely begitu nyaman dan ketagihan, tanpa sadar Mely mengendus-endus leher Rival, menghirupnya dalam lalu menghembuskannya pelan.


Sungguh perlakuan Mely membuat desiran hebat didalam tubuhnya Rival. Dia ingin lebih, Dia akan melakukannya malam ini. Walau Dia belum yakin dengan perasaannya kepada istrinya itu. Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini lagi. Rival sudah menilai bahwa Mely memang benar-benar mencintainya. Semoga dengan kebersamaan mereka dan dengan sentuhan fisik ini, bisa membuatnya melupakan mantan istrinya itu.


Seperti pepatah orang jawa bilang “Witing tresno jalaran saka kulina” Cinta bisa tumbuh karena sering terbiasa bersama. Yang awalnya biasa-biasa saja kemudian menjadi terasa istimewa karena banyak waktu dan kesempatan yang dihabiskan bersama.


Permaianan pun berlanjut, tentunya Mely masih memegang kendali, walau begitu tangan Rival sudah bergrilya menyusup kedalam piyama yang dikenakan Mely, menyentuh bagian tubuh Mely yang disukainya, tentu saja bagian itu juga disukai Mely.


Permaiannpun semakin panas, hingga ruangan ber AC itupun tidak bisa meredam gejolak kerinduan yang membuncah yang dirasakan Mely. Hingga Aksi keduanya terhenti, disaat ponsel Rival yang berada di dalam kantong celananya bergetar dan berdering.


Awalnya Dia tidak menggubris panggilan telpon itu, karena Dia merasa terganggu dengan panggilan itu, apalagi ini sudah tengah. Tapi, ponselnya terus saja berdering. Rival menggulingkan tubuhnya disamping Mely. Dia merogoh ponselnya dari saku celananya dalam keadaan terlentang, sedangkan Mely dengan perasaan malu-malu mau, mendekap suaminya itu. Mereka berdua melihat ke layar ponsel yang menghubungi.


“Ayah,” ucap Mely melihat ke arah Rival. Rival mengangguk. Mely berdeecak. "Ayah mengganggu saja." Gumamnya dalam hati.


“Abang terima panggilan Ayah dulu.” Ucapnya sambil mengelus kepala Mely dengan tangan kanannya yang digunakan Mely sebagai bantal. Rival tersenyum melihat Mely yang kesal itu, karena Ayahnya menelpon.


“Assalamu alaikum Ayah.” Ucap Rival setelah Dia menarik napas, untuk menstabilkan dirinya yang masih dipenuhi gejolak birahi.


“Walaikum salam… Kamu di rumah Nak?” terdengar suara Pak Ali begitu khawatirnya dari sambungan telepon.


“Iya Ayah.” Jawab Rival dengan menahan tawa, karena Mely menggelitik pinggang Rival.


Dasar Ayah mengganggu.” Ucap Mely pelan yang hanya bisa didengar oleh Rival. Rival pun tersenyum mendengar umpatan istrinya itu.

__ADS_1


“Apa kamu dan Mely sedang bersama?” tanya Pak Ali.


“Emang ada apa Ayah?” tanya Rival, sambil menepis tangan Mely yang meraba-raba perut sixpacknya.


“Tadi Pak Budi SMS, katanya Mely mengamuk. Ayah baru buka Handpone.” Ucap Ayah Mely masih penuh dengan rasa khawatir.


“AAUUWWWwww… “Rival mengaduh kesakitan, disaat Mely yang iseng menimpah kaki Rival yang baru sembuh itu dengan kakinya dengan kuat.


“Aduhh…. Maaf ya Bang. Adek tidak sengaja” Ucap Mely panik, Dia bangkit dan terduduk di sebelah paha Rival, dengan cepat Dia membuka celana kain yang dikenakan Rival.


Mely ingin memeriksa paha Rival yang ditimpahnya apakah serius atau tidak.


Dug…dug..dug… Darah Mely berdesir melihat ular kobra yang masih tertutup karung itu siap mempatuk, siapa saja yang mengganggunya. Mely sampai kesusahan melan ludahnya.


Rival yang lagi meredam rasa sakitnya, tidak memperdulikan lag Mely yang menatap ular kobranya dan Ayah nya yang memanggil-manggil dari sambungan telepon. Hingga Mely pun mengambil ponsel yang sudah tergeletak di atas ranjang, karena Rival menjatuhkannya.


“Ayah, kami baik-baik saja. Sudah Ya Ayah. Kami lagi lembur Ayah.” Tut… Mely memutus panggilan, Dia menggerutu dalam hati, karena Ayahnya yang menelpon aksi penyatuan keduanya terhenti. Mely memperhatikan tungkai Rival yang baru sembuh itu. Dia menegelusnya pelan yang membuat Rival kaget karena Geli dan menggerakkan kakinya.


“Abang tidak apa-apa kan?” Ucapnya setelah Rival menarik selimut menutupi tubuh bagian bawahnya. Tiba-tiba saja Dia malu melihat Mely.


“Koq pakai baju? Tidak jadi main kuda-kudaannya?” ucap Mely dengan wajah kecewa dan sedihnya. Dia sampai cemberut.


“Mana bisa main kuda-kudaan lagi, kaki Abang sudah nyeri. Sekarang kita main raba meraba saja.” Ucap Rival. Dia membaringkan tubuhnya dan menarik Mely ke dalam pelukannya.


“Kenapa tidak jadi acara raba-meraba?” Ucap Mely sambil mengelus-elus tangan Rival yang ada di atas dadanya.


“Abang mengantuk.” Ucap Rival malas, Dia memang sudah sangat mengantuk sekali. Hasratnya pun tiba-tiba menguap dan digantikan dengan rasa ngantuk. Akhirnya mereka berdua pun tertidur dalam posisi berpelukan.


🌻🌻🌻


Rival terbangun tepat pukul lima pagi, Dia membuka matanya dan melirik Mely yang memeluknya dengan melingkarkan lengannya di dada Rival yang bidang. Rival tersenyum, Dia tidak menyangka dirinya akan merasakan dicintai seperti ini. Bangun dari tidur mendapati seseorang memeluk kita dengan hangat rasanya membahagiakan sekali. Rival mencium kening Mely, kemudian mentoel pipi Mely dengan gemes. Mely menggeliat, karena kelakuan Rival yang mengganggunya. Dia pun membuka matanya, sehingga mata keduanya bersitatap.


“Selamat pagi sayang ku yang sok kuat?!” Ucap Mely dengan menggoda dan mengejek. Dia sampai menjulurkan lidahnya.

__ADS_1


“Pagi istriku yang kuat.” Ucap Rival tersenyum.


“Apa Adek kuat?” tanya Mely heran. Rival mengangguk .


“Kuat dalam hal apa?”


“Kuat marah-marah tidak jelas. Sudah Ayo bangun, kita sholat shubuh dulu.” Ucap Rival, Dia menyibak selimut yang menutupi keduanya.


“Setelah sholat, apa kita bisa lanjutkan main ular tangganya?” Ucap Mely, Rival menghentikan kakinya yang hendak masuk ke kamar mandi.


"Ular tangga? main Ludo maksud Adek?" tanya Rival.


"Iya main Ludo, ular tangga. Dadunya di aduk-aduk dulu. Kemudian ularnya bermain." Ucap Mely dengan cekikan yang membuat Rival geleng-geleng kepala. Banyak sekali istilah istrinya ini.


Rival hanya tersenyum menanggapi ucapan istrinya itu. Dia melangkahkan kakinya cepat menuju kamar mandi, dan Mely menyusul Rival ke dalam kamar mandi, tapi Rival menguncinya.


“Kenapa dikunci? Aku juga ingin masuk?” Ucap Mely teriak, dari balik pintu.


“ Abang mau menabung dulu. Apa kamu mau menghirup aromanya, sehingga kamu mau masuk juga.” Ucap Rival dengan nada keras.


“Ogahh….!” Ucap Mely, tiba-tiba saja Dia merasa perutnya juga mules.


“Bang cepetan dong… Sepertinya Aku juga ingin menabung.” Ucapnya dengan berteriak sambil memegangi perutnya yang mules itu.


Rival yang memang belum selesai, malah meminta Mely menabung saja di kamar mandi lainnya.


“Adek cari tempat menabung lainnya, kan banyak WC di rumah ini.” Ucap Rival dari balik kamar mandi.


Karena Mely memnag sudah kebelet, akhirnya Dia pun berlari ke kamar Rival. Dia juga sekalian mandi di kamar mandi Rival tersebut.


Cinta memang tak mengenal waktu. Ketika hati bicara, sirnalah segala logika Rasa memang tak pernah salah. Begitupun cinta. Tetapi hidup adalah pilihan. Keputusan mencintai seseorang adalah sebuah pilihan. Berikut dengan segala resikonya. Baik atau buruk.


TBC.

__ADS_1


Mohon beri like, coment positif dan Vote ya kak.😍🤗🙏


__ADS_2