Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 Extra chap persidangan


__ADS_3

Ruang keluarga rumahnya Mama Maryam, dijadikan sebagai tempat diadakannya persidangan, untuk membuktikan kebenarannya. Bahwa, Rival tidak pernah mengkhianati Mely.


Semua orang-orang yang bersangkutan duduk berkumpul membentuk lingkaran dengan pembagian dua kubu. Yaitu kubu Mama Maryam yang beranggota Pak Firman dan Mely yang duduk berdekatan. Dan kubu Rival yang beranggotakan Dodi dan Jelita.


Sedangkan sebagai penengahnya adalah Yasir, yang sengaja dimintai tolong oleh Rival untuk ikut ambil dalam masalah ini. Walau sebenarnya Yasir sangat keberatan ikut campur. Tapi, Rival yang memelas, membuat Yasir enggan menolaknya. Apalagi Yasir pernah berhutang nyawa Kepada Rival.


Suasana di ruangan itu nampak mencekam dan masih hening. Hanya suara detakan jarum jam yang terdengar jelas. Karena memang saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 22.35 Wib.


Kedua bola mata Rival tak pernah lepas dari Mely. Yang membuat Mely grogi. Dia akan mengalihkan pandangannya, apabila mata mereka beradu pandang. Dia masih merasa sangat canggung kepada suaminya itu.


Mama Maryam yang merasa benar, menatap tajam Rival, yang selalu menatap Mely.


"Eehhmmmm...!" suara deheman Yasir menyita perhatian penghuni ruangan. Sehingga semua mata tertuju kepadanya.


Yasir menarik napas panjang. Dia sedang menyiapkan dirinya, agar tenang dan tidak terpancing emosinya nantinya. Apabila, tidak didapat kesepakatan yang baik.


"Assalamualaikum warahmatullahi Wabarakatuh. Selamat malam semuanya. Pertama-tama saya meminta maaf kepada Bapak, Ibu dan Adek Mely, Jikalau kehadiran saya tidak berkenan di hati." Ucap Yasir menatap ke arah kubu Mama Maryam. Yang ditatap hanya tersenyum kecut. Merasa heran dengan kehadiran Yasir.


"Abang Rival meminta saya untuk membantunya keluar dari masalahnya. Merasa terpanggil untuk membantu, karena sebenarnya Dek Mely, kita ternyata tetanggaan." Ucap Yasir dengan tersenyum kepada Mely dan Mama Maryam. Karena saat ini ekspresi wajah Mama Maryam begitu terkejut mendengar ucapan Yasir, yang mengatakan mereka tetangga.


Saat itu juga Mely mengalihkan pandangannya kepada Rival, yang dari tadi masih setia menatapnya intens.


"Saya harap Dek Mely bisa memaafkan kesalahan Abang Rival, jikalau memang Abang Rival ada salah Atau sebaliknya, Abang Rival harus memaafkan Adek Mely. Jikalau Abang Rival ada salah kepadanya dan kembali bersama." Ucap Yasir dengan ragu. Dia tidak tahu harus berbicara apa lagi. Dia bukan orang pemangku adat atau yang dituakan dalam ruang lingkup masalah domestik rumah tangga dalam satu RT atau kampung.


"Saya hadir disini bukan untuk menggurui, saya juga masih proses belajar. Dalam berumah tangga itu masalah pasti akan selalu ada. Pertengkaran dalam sebuah hubungan tentunya menjadi salah satu hal yang bisa kalian jadikan pelajaran berharga. Sebab adanya pertengkaran seringkali bisa menyadarkan kalian arti pentingnya kepercayaan, kesetiaan, ataupun perhatian." Ucap Yasir menatap ke arah Rival, kemudian memalingkan pandangannya ke arah Mely.


Yang di pandang hanya diam membisu, tapi dari raut wajah keduanya bisa dibaca. Kalau bathinnya sedang berbicara.


"Setiap rumah tangga itu bermasalah, yang perlu diselesaikan itu masalahnya bukan rumah tangganya." Ucapan Yasir terhenti, karena Mama Maryam mencelanya.


"Tidak usah banyak cerita, saya hanya ingin kebahagiaan putriku. Bersamanya putriku tidak bahagia. Dia tidak mencintai putriku." Ucap Mama Maryam penuh penekanan. Memandang Rival penuh kebencian. Yang dipandang menampilkan ekspresi menyedihkan.

__ADS_1


"Bu, maaf sebelumnya. Bagusnya memang dalam ikatan pernikahan, pasangan itu harus saling mencintai, menyayangi dan mengasihi. Tapi, ada pasangan yang belum merasakan itu, tapi tetap menjalani biduk rumah tangganya dengan baik.


"Yang membuat hancurnya pernikahan itu, selain masalah ekonomi tentu saja karena adanya orang ketiga. Orang ketiga ini, tidak meluluh kekasih gelap atau selingkuhan. Anggota Keluarga dari kedua belah pihak bisa jadi orang ketiga. Seperti Ibu, yang ikut campur dalam urusan rumah tangga putrinya. Harusnya Ibu mendamaikan anak Ibu. Bukannya memisahkan mereka." Ucap Yasir telak. Mama Maryam sudah kesal tingkat tinggi. Mendegar ucapan Yasir yang menyalahkannya. Itu jelas terlihat dari ekspresi wajahnya.


"Kamu tidak usah ikut campur, dulu juga saya selalu dukung Dia agar rumah tangganya tetap harmonis. Tapi, memang Dia yang tidak bersyukur. Dia sepele Kepada putri saya, karena Dia tahu putri saya begitu mencintainya. Kamu tidak tahu apa. Dia itu mencintai istri anda. Istri anda namanya Rili kan?" ketus Mama Maryam, menunjuk-nunjuk ke arah Yasir.


Mendengar ucapan Mamanya, dada Mely langsung berdetak cepat. Dia jadi merasa was-was, Kenapa pula Mamanya mengungkit masa lalu.


Yasir menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu. Sepertinya Dia tidak bisa jadi penengah. Istrinya disebut-sebut lagi dalam masalah ini.


"Kami datang kesini bukan lagi ingin berdebat, kami ingin berdamai. Abang Rival ingin kembali kepada Istri dan anak-anaknya. Dari situ kita bisa menilai, kalau Dia mencintai istri dan anak-anaknya." Ucap Yasir tegas, memberi kode penolakan kepada Mama Maryam yang ingin mencela ucapannya. Karena Mama Maryam, tidak ingin putrinya kembali kepada Rival.


"Dek Mely, Abang Rival sudah datang dengan segala penyesalannya. Karena pernah mengecewakanmu. Maafkanlah semua kesalahannya. Marilah kalian kembali bersatu, membina rumah tangga yang penuh cinta kasih, untuk membesarkan buah hati kalian.


"Jangan egois, ingat ada anak-anak yang butuh kasih sayang kedua orang tuanya. Tidak ada manusia yang tak luput dari kesalahan. Jadi, saya harap, sudihlah kiranya Dek Mely kembali kepada Abang Rival." Ucapan Yasir dikalimat terakhir melunak, dan menatap Mely lekat.


Mely menitikkan air matanya. Dia sangat mencintai suaminya itu. Tapi, Dia takut kembali kepada Rival. Karena Rival tidak pernah menghargai cinta yang diberikannya.


"Sebaiknya kalian pulang. Ini sudah hampir tengah malam. Mely tidak akan kembali kepada pria munafik ini. Dia juga sudah berzina. Aku tidak mau punya menantu kotor seperti nya." Ucap Mama Maryam, sembari menunjuk pintu keluar.


Rival yang bingung harus berbuat apa, akhirnya memohon kepada Mama Maryam dengan mengatupkan kedua tangannya. Serta bersumpah bahwa Dia tidak selingkuh. Tapi, Dia dijebak.


"Ma, Aku tidak selingkuh. Aku bisa menunjukkan bukti-bukti nya." Rival langsung berdiri, menatap Dodi dan Jelita. Meminta bantuan untuk dijelaskan.


"Tenang, tolong Bu Maryam, beri kesempatan kepada Abang Rival untuk menjelaskan nya." Ucap Yasir, menuntun Rival kembali duduk di tempatnya.


Setelah keadaan cukup tenang, Dodi menempatkan laptopnya dihadapan Kubu Mama Maryam. Di layar laptop sedang di putar, proses berjalannya persidangan Rayati.


Mely membungkam mulutnya dengan tangannya. Karena menyaksikan proses persidangan. Air mata terus saja keluar membasahi pipi pucatnya. Sedangkan Mama Maryam, dibuat tercengang dengan apa yang ditonton nya.


Rayati terbukti melakukan kesalahan pelecehan, pemerasan dan perampokan. Rival lah yang jadi korban.

__ADS_1


Sesaat Mama Maryam tersadar, bahwa Rival tidak bersalah. Dia pun mengalihkan pandangannya kepada Rival yang keadaannya sekarang cukup memprihatinkan. Karena bobot tubuhnya yang turun drastis.


"Abang Rival tidak bersalah, Dia dijebak oleh Rayati. Wanita iblis. Saya lah yang datang menggagalkan aksi keji Rayati. Seperti yang kalian tonton di persidangan." Ucap Dodi menambahkan keterangan dengan penuh keyakinan.


"Aku tidak ingin banyak bicara lagi. Kiranya video persidangan sudah bisa membuktikan bahwa Abang Rival adalah korban. Jadi, saya harap. Adek Mely, maafkanlah sahabat ku ini. Sudah cukup kamu menghukumnya selama satu tahun. Dia sedang sakit tapi, semangatnya sekarang datang lagi. Karena menemukanmu. Terimalah Rival kembali. Anak-anak butuh figur seorang Ayah." Ucap Dodi menatap lekat Mely yang menunduk dalam keadaan menangis.


Dodi mematikan laptopnya. Kembali mendekati Rival dan memeluknya. Memberi semangat kepada Rival yang mulai nampak putus asa. Karena melihat Mely hanya diam membisu. Wanita itu hanya menangis tersedu-sedu


"Pasangan kita bukan malaikat. Suatu saat pasti berbuat kesalahan. Bicarakan tanpa menghakimi. Dan maafkan!" Ucap Yasir tegas, menatap Mely yang kini juga sedang menatap ke arahnya. Yasir pun beranjak dari duduknya. Sudah saatnya Dia pulang. Dia sudah kangen dengan istri dan anaknya.


"Keputusan di tanganmu Dek Mely." Masih menatap Mely. "Tolong Bu Maryam, jangan ikut campur." Tegas Yasir dengan memberi peringatan dengan telunjuknya.


Maryam yang ingin protes, langsung ditahan oleh Firman.


"Tolong, dikondisikan istrinya dengan bijak Pak Firman." Ucap Yasir.


Melihat Yasir, Dodi dan Jelita bangkit dari duduknya. Rival mulai panik, Dia merasa masalahnya belum beres. Belum dapat kesepakatan atau jawaban dari Mely. Tapi, sahabat-sahabat nya itu, sudah ingin pergi.


"Kalian jangan pergi dulu, belum ada titik terangnya." Ucap Rival penuh permohonan.


Yasir menepuk bahu Rival dan berbisik. "Istri Abang mau itu baikan. Lihatlah, Dia hanya diam tanpa protes. Berjuanglah, bujuk Dia." Yasir tersenyum. Dia pun memeluk Rival dan menepuk punggungnya.


"Pak Firman, bisa ikut denganku sebentar." Ucap Yasir penuh penekanan. Entah mantra apa yang dibacakan Yasir. Firman nurut saja


Kedua pria itu pun meninggalkan ruangan, berjalan menuju beranda rumah. Mama Maryam, ingin ikut. Tapi, Firman melarangnya.


Kini Mama Maryam mendekati Mely. "Ma," Maryam memeluk putrinya.


"Mama hanya ingin kamu bahagia. Kalau menerimanya kembali membuatmu bahagia. Terimalah." Ucapan Mamanya membuat Mely memejamkan kedua matanya dalam pelukan Mamanya itu.


Mama Maryam juga tidak bisa menolak Rival Kembali Kepada putrinya. Setelah melihat Video persidangan. Dia jadi merasa bersalah, karena langsung memvonis Rival selingkuh.

__ADS_1


__ADS_2