Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 Sakitnya hati seorang Ibu


__ADS_3

"Tidak, Aku mau ke sana. Menemani kalian. Ini Aku sudah mau jalan." Jawab Firman. Dia sudah berada dibelakang kemudi mobilnya. Siap meluncur ke rumah sakit.


"Baiklah, terserah Abang saja." Mama Maryam menutup panggilan telepon itu. Menarik napas dalam. Dan menghembuskannya pelan.


Dia pun memejamkan kedua bola mata indahnya, Setelah duduk di sofa, menangkup wajahnya. Membuat pahanya sebagai penopang tangannya.


Mama Maryam nampak frustasi memikirkan nasib putrinya. Yang sejak menikah selalu menitikkan air mata, tidak pernah dicintai oleh suaminya Rival.


"Semoga keputusan yang ku ambil, memberi kebahagiaan buatmu nantinya sayang." Ucap Mama Maryam lirih sambil terisak, kemudian menyeka air matanya.


Lama Mama Maryam merenung, memikirkan kelanjutannya hidupnya. Dimana Firman pria masa lalunya. Memintanya untuk membina rumah tangga dengannya.


Kuburan Pak Ali belum kering, mana mungkin Dia kepikiran untuk menikah, ditambah Dia harus melewati massa Iddah baru boleh menikah.


Firman yang mengaku cinta kepadanya, mengatakan siap menunggunya sampai habis masa Iddah. Baru mereka menikah. Tapi, tidak semudah itu. Dia tidak mencintai Firman saat ini. Pak Ali masih bersemayam di hatinya. Pak Ali yang baik itu, sangat susah untuk dilupakan. Apalagi mereka sudah hidup bersama selama dua puluh dua tahun. Tak ada nilai minusnya Pak Ali. Pria itu terlalu sempurna. Tampan, kaya, Sholeh dan dermawan.


Suara pintu dibuka terdengar sedikit berisik. Sehingga, Mama Maryam tersadar dari lamunannya. Dengan cepat Dia menyeka air matanya. Sebelum orang lain melihatnya menangis. Dia pun langsung menampilkan senyuman yang manis. Menyambut putrinya yang baru saja diperiksa.


Mama Maryam mengekori Perawat yang mendorong Mely. Dia pun ikut membantu Mely untuk berbaring.


"Bagaimana hasilnya sus?" tanya Mama Maryam tidak sabaran. Dia sangat berharap, besok putrinya itu sudah boleh keluar.


"Bagus Bu. Infeksinya sudah mulai membaik. Tinggal menunggu penyembuhan. Rahim itu butuh waktu empat hari agar sembuh dari proses melahirkan. Ibu Mely semangatnya kuat untuk sembuh. Sehingga bagian tubuhnya tersugesti untuk pulih." Ucap perawat tersenyum ramah.


"Iya Sus, Aku sudah kangen menyusui anakku. Dipompa terus rasanya sakit." Keluh Mely, yang tidak senang air Asinya dipompa. Kalau tidak keluarkan bisa-bisa ASI Mely kembali kering.

__ADS_1


"Iya Bu. Kalau ibu makannya banyak, memenuhi empat sehat lima sempurna. Pasti cepat sembuh." Ucap perawat. Mulai memberesi alat-alat medisnya. Kemudian pamit meninggalkan ruangan.


Perawat keluar, dan berpapasan dengan Firman di pintu. Firman nampak membawa banyak tentengan. Ternyata Dia belanja makanan, serta untuk makan malam mereka.


Saat Mama Maryam menyuapi Mely. Mereka kedatangan tamu dari Negeri Kangguru. Yaitu keluarga Adiknya Pak Ali. Paman Rival.


Mama Maryam menghentikan kegiatan menyuapi Mely, menyambut dengan hangat keluarga dari suaminya itu. Berpelukan dan berjabat tangan dengan penuh senyuman.


"Waktu memperingati tujuh hari meninggalnya Abang. Kami tidak bisa datang. Maaf ya Kak Maryam." Ucap pamannya Rival. Raut wajahnya nampak sedih. Bagaimana tidak sedih, Abang kembarnya sudah menghadap sang khalik.


"Iya Dek, kami maklum koq." Jawab Mama Maryam sendu. Maryam melirik Firman, memberi kode dengan matanya, meminta Firman keluar dari ruangan itu. Maryam tidak mau Adik iparnya itu banyak bertanya nantinya. Apabila melihat Firman, yang nampak seperti keluarga inti.


Satu jam sudah Adiknya Pak Ali berkunjung, tapi tidak juga melihat Rival datang di ruangan itu.


Mely terdiam mendengar ucapan Tantenya itu. Dia tidak berani menjawab, Dia pun menoleh kepada Mamanya.


"Masalah datang silih berganti. Akhirnya membuat pikiran tertekan. Jadinya penyakit gampang menyerang. Rival juga sedang sakit, dirawat di rumah sakit ini juga. Tapi, beda ruangan." Ucap Mama Maryam dengan mata berkaca-kaca. Mengingat Video Rival, membuat Mama Maryam sedih. Bukan karena Rival sakit, Dia sedih.


"Rival sakit apa?" tanya Pak Irsan, Paman nya Rival. "Ruangannya dirawat dimana?" tanyanya lagi dengan penasarannya.


"Apa kalian mau mengunjunginya? sebaiknya pakai masker. Takut virusnya menjangkiti kalian?" ucap Mama Maryam jujur. Tapi, cara Mama Maryam bicara, membuat Pak Irsan dan Tante Murni jadi ragu. Emang Rival sakit apa?


"Saya hanya mengatakan untuk kebaikan kita semua. Rival hanya diserang virus influenza. Ditambah bakteri menyerang pencernaannya. Tahu sendiri flu cepat menular. Makanya dirawat di kamar lain. Takut menular ke Mely." Jelas Mama Maryam dengan ramahnya. Dia tidak mau keluarga itu, mengetahui ada yang tidak beres dikeluarganya.


"Oohh syukurlah, kirain penyakit serius. Aku belum mau kehilangan keponakanku itu. Sudah terlalu lama Dia menghilang selama ini." Ucap Pak Irsan, menarik napas lega.

__ADS_1


"Dirawat dimana?" tanya Pak Irsan tidak sabaran.


"Ayo saya temani." Tawar Mama Maryam. Senyum manis masih menghiasi wajahnya yang masih sedikit pucat. Syukur Dia masih kena gejala tifus, sempat kena tifus beneran, mana bisa sembuh dalam waktu tiga hari.


"Bi Ida, bantuin Mely untuk melanjutkan makan dan minum obatnya." Ucap Mama Maryam, Dia kembali mendekati Mely. Mengelus kepala putrinya itu.


Akhirnya Mama Maryam dan keluarga Pak Irsan meninggalkan ruangan Mely dirawat. Tapi, baru saja mereka melangkahkan kakinya keluar kamar. Pemandangan mengejutkan disuguhkan dihadapan matanya Mama Maryam.


Rival yang duduk di kursi roda didorong seorang perawat perempuan menampilkan senyuman tulus kepada paman, bibinya serta Mama Maryam. Saat itu Rival melihat pamannya serta bibinya dihadapannya.


"Untuk apa Dia kemari? apa untuk membuat Mely menangis lagi?" gumam Mama Maryam dalam hati.


Dia tidak akan percaya lagi kepada menantunya itu. Nilai Rival dimatanya sudah minus bahkan sangat minus. Apalagi jikalau Mama Maryam mengingat kejadian empat bulan lalu. Saat Mely kabur dari rumah saat hamil.


Rival tidak menceritakan alasan Mely kabur kepada Mama Maryam. Hal itu yang membuat Mama Maryam kecewa. Dia merasa Rival berhati busuk. Tapi nampak baik. Dia munafik.


Saat itu Mama Maryam mengira putrinya itu kabur, karena sifat nakalnya Mely kumat. Yaitu merasa bosan dan lari dari rumah. Tapi ternyata, Rival meninggalkan Mely. Hanya karena ingin berjumpa dengan mantannya. Sungguh Rival tega sekali.


Fakta itu, diketahui Mama Maryam dari Rival sendiri, setelah Mely melahirkan. Mama Maryam masih memakluminya. Tapi, tidak untuk kesalahan yang Rival lakukan kali ini.


Mama Maryam tidak akan percaya lagi dengan mulut manisnya Rival. Pria itu, tidak menghargai putrinya. Rival sepele, karena Dia tahu putrinya itu sangat mencintainya. Rival tidak pernah menghargai cinta Mely yang tulus dan nampak berlebihan. Putrinya menderita bersama pria itu.


Lamunan Mama Maryam buyar, saat Tante Murni, menepuk bahunya pelan. Ya, mereka masih berdiri di koridor rumah sakit.


Mama Maryam langsung menyeka air matanya yang tiba-tiba menetes dan tidak bisa dibendungnya. Ibu mana yang tidak sedih, mendapati putrinya diselingkuhin. Padahal putrinya baru melahirkan. Harusnya menantunya itu merawat dan memberi kasih sayang extra. Tapi nyatanya malah selingkuh.

__ADS_1


__ADS_2