
"Abang apa kabarnya?" Rayati kembali bertanya kepada Rival dengan raut wajah yang masih ketakutan. Tapi Dia memberanikan diri untuk menemui pria yang sangat dicintainya itu.
"Baik." Jawab Rival datar, tidak tertarik untuk menoleh ke arah Rayati yang penampilannya sedikit berubah jadi feminim. Rayati bisanya lebih sering memakan celana jeans dan kaos oblong. Tapi, kini Dia memakai dres dengan panjang tangan di siku dan panjang baju selutut. Rayati juga nampak semakin cantik, karena Dia sudah berhias dengan rambut yang terurai. Beda dengan yabg dulu keseringan rambut di kuncir.
"Syukurlah, Aku datang untuk meminta maaf kepada Abang." Ucapnya ragu. "Sebenarnya semalam juga Aku kesini. ikut memakamkan Bou." Ucap Rayati, Dia juga memanggil Bou kepada Ibu Durjanna. Karena begitulah silsilahnya ditelusuri dengan marga mereka yang sama.
"Oohh iya." Jawab Rival masih dengan ekspresi wajah tidak suka. Dia juga sebenarnya melihat kedatangan Rayati, untuk melayat kemarin.
"Aku dengar Abang sudah menikah." Ucapan Rayati terhenti, disaat Rival beranjak dari duduknya. Dia sedang tidak ingin membahas masalah privasi dengan wanita yang mulutnya berbisa itu.
"Maaf, Abang banyak urusan. Jadi saya tinggal dulu." Rival berbalik badan.
"Tapi, tunggu...! ada yang ingin ku beritahu." Langkah Rival terhenti, Dia menoleh ke arah Rayati yang masih duduk di lantai gazebo. Dengan menampakkan ekspresi wajah tidak bersalah. Dan sok cakep.
"Teman-teman mengajak Abang untuk kumpul di pasar. Kebetulan besok hari pasar. Si Dodi, menagih hutang Abang. Katanya Abang berhutang kepadanya 100 ribu dan sudah lebih dari setahun." Ucap Rayati. Mengeluarkan sebuah fakta yang membuat Rival sedikit panik dan malu. Masak hutang Rp.100.000 tidak dibayarnya.
Rayati yang pandai memanfaatkan situasi itu, langsung memanfaatkan celah yang ada, Dia tahu Rival pernah berhutang kepada Dodi.
Sebenarnya Rival tidak ada niat untuk tidak membayar. Tapi Dia sungguh benar-benar lupa.
"Ooh iya ya, syukur kamu ingatkan Dek. Insyaallah besok Abang akan ke pasar." Ucap Rival, Dia kembali berniat melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Meninggalkan Rayati, dengan terbengong dan cemberut. Dia diabaikan.
"Kita lihat saja nanti, kamu akan membayar mahal dengan penghinaan ini." Gumam Rayati dalam hati. Dia pun meninggalkan rumah itu nyelenong dari samping rumahnya Rival yang tidak berpagar itu.
Rival yang lagi dilema itu memilih untuk menenangkan dirinya, pergi ke Danau. Menyetir sambil melamun, memikirkan anak dan istrinya. Sebenarnya Dia juga ingin komunikasi dengan Mely. Menanyakan kabar istrinya itu. Tapi, Dia takut untuk melakukannya. Dia takut saat komunikasi malah jadi bertengkar.
Sesampainya di Danau, Rival menyewa sebuah pondok. Pondok itu adalah pondok yang sama yang pernah disewanya saat datang ke Danau ini bersama Rili.
__ADS_1
Rival tersenyum mengingat moment kebersamaannya bersama Rili di pondok itu. Dimana dengan tidak tahu malunya. Dia tidur dengan berbantalkan paha Rili.
Senyuman itu langsung sirna, disaat slide kenangan itu berganti dengan tayangan Mely yang menangis, saat bertemunya dirinya dengan Rili.
"Kenapa jadi ribet begini." Ucapnya dengan menghela napas dalam. Memandang Danau yang luas dan indah, berharap kegundahan hati, bisa berkurang dengan pemandangan yang indah di depan mata.
"Permisi... Maaf Bang, mau beli gorengannya?" seorang wanita berkerudung dengan penampilan sederhana. Memakai rok celana warna hitam dengan blouse motif bunga Ros menghampirinya, menawarkan dagangannya.
"Maaf, saya sedang tidak ingin makan gorengan." Tolak Rival ramah, tidak menoleh kepada penjual gorengan. Dia memang sedang tidak ingin makan gorengan.
"Tolonglah Bang. Beli sedikit saja. Dari tadi gorengan saya tidak laku. Beras di rumah sudah habis." Ucap wanita penjual gorengan.
Rival yang tidak tega, dengan ucapan penjual gorengan. Akhirnya menoleh dengan tersenyum. Hatinya tergugah untuk memborong gorengan itu.
Dengan ekspresi tidak percaya, Rival menatap lekat wanita yang ada dihadapannya. Kenapa setelah belasan tahun, kini Rival bisa bertemu lagi dengan wanita ini.
"Bang, mau beli gorengannya ya?" wanita itu masih sibuk membuka plastik besar yang menutupi gorengannya yang ada di nampan. Dia sama sekali tidak melihat dengan jelas pria yang berada tepat dihadapannya.
Wanita itu menoleh ke arah Rival. Menatap lekat pria dihadapannya. Mengingat dan memastikan bahwa yang dihadapannya adalah Rival.
🌄🌄🌄
Di Kota M.
Mely baru saja menyusui putrinya. ASI-nya juga sudah lancar. Semalaman Mama Maryam memberi pengertian padanya. Agar lebih bersabar dan pasrah dengan kelanjutan hubungannya dengan Rival. Yang penting selalu berdoa untuk kebaikan hubungan mereka.
Mely mulai menerima nasehat dan pendapat Mamanya itu. Sehingga Dia mulai tenang. Dia juga sudah meniatkan dirinya untuk tidak menghubungi suaminya itu. Walau Dia rindu, serindu-rindunya.
__ADS_1
Dia hanya bisa berdoa dalam hati saat ini. Semoga suaminya mau mempertahankan rumah tangga mereka. Dia juga akan mengubah karakternya secara pelan.
"Non, anak muda yang namanya Firman itu bener saudaranya Tuan Rival?" tanya Febri dengan begitu penasarannya. Mereka nampak duduk di ambal lembut di lantai kamar.
"Iya, emang kenapa Feb?" tanya Mely sedikit penasaran.
Febri membasahi bibirnya yang kering, karena merasa malu menanyakan hal yang dianggapnya sedikit memalukan.
"Eehhmmm... gimana ya mulai Ceritanya." Febri menatap temannya yang bernama Ririn yang sedang menggendong Raina. Ririn mengetahui semuanya.
"Iituu... eehmmm..!" Febri mulai memegangi hidung dan dagunya. Bingung bagaimana cara mulai menceritakan nya.
"Apa sih buat penasaran saja." Ucap Mely, memilih untuk bangkit dari duduknya, untuk berbaring di ranjang empuknya.
"Apa Abang Firman itu tidak mengenaliku ya Non?" tanya Febri dengan tidak percaya diri.
"Maksudnya?" tanya Mely semakin bingung. Dia tidak mengerti maksud dari Baby sitter nya itu.
"Itu non, itu Firman adeknya Tuan Rival. Wajahnya mirip dengan pacar dunia mayaku. Tapi, namanya bukan Firman melainkan Ary.
"Bisa saja wajahnya mirip." Mely membaringkan tubuhnya di ranjang empuknya. Dia harus mengistirahatkan tubuhnya, agar tidak sakit. Karena semalam Dia kurang tidur. Bukan karena anaknya yang rewel. Tapi, karena memikirkan Rival suaminya.
"Lagian ngapain pacaran lewat dunia Maya? harusnya kalian ketemu dulu, baru resmi pacaran." Ucap Mely, meraih ponselnya di atas nakas dekat tempat tidur. Tangannya sudah gatal ingin menghubungi suaminya itu. Dia tidak bisa memenuhi janjinya untuk tidak menghubungi Rival.
"Dia sih ngajak ketemuan, tapi Aku takut non. Dia sudah pernah datang ke Danau Toba. khusus untuk berjumpa denganku. Tapi, saat itu, Aku merasa tidak siap untuk bertemu. Karena, Dia datangnya tanpa bertanya dulu apa Aku mau atau tidak." Jelas Febri dengan hebohnya. Dia tidak menyangka saat itu Pacarnya bernama Ary yang mirip firman benar ingin berjumpa dengannya.
"Kemarin kenapa kamu tidak tanyakan langsung, agar rasa penasaranmu terjawab." Ucap Mely. Dia masih merespon curhatan Babysitter nya itu. Walau pikiran nya sedang berkelana kepada Rival suaminya.
__ADS_1
"Itulah Non, kemarin kan Aku hanya sekilas melihat Dia. Saat itu juga kan Aku ke Rumah sakit, temanin Non Rili istri nya Pak Yasir." Ucap Febri dengan raut wajah terkagum-kagum.
"Aku iri lihat kemesraan pasangan Tuan Yasir dan Nona Rili. Ya ampun, Tuan Yasir sayang betul kepada Nona Rili. Jadi pingin dapat suami seperti itu." Ucap Febri dengan menautkan kedua tangannya, tatapan menerawang membayangkan punya suami kaya dan penuh kasih sayang.