Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Berpisah


__ADS_3

"Aaaaaaarrrrrrgggggghhhhhh.... !" Rival berteriak sekuat-kuatnya. Kedua tangannya menarik keras rambutnya sampai kebelakang. Dia meluapkan dan melepaskan emosi negatif dalam dirinya. Dia tertunduk mencengkram pasir dipinggir sungai, tempat Dia ditemukan Ayah dan Ibu yang sudah merawatnya selama ini.


"Aku ini siapa? Aku tahunya, kalian keluargaku. Ibu.... Walau kamu punya sifat yang kurang baik. Aku sangat menyayangimu. Ayah, Aku sangat kagum kepadamu, kamu selalu banting tulang, menguras keringat. Sehingga tubuh mu, selalu nampak kurus.


"Aarrgghhh.... Apa yang harus kulakukan. Semua kejadian ini membuatku tidak berdaya. Dimana keluargaku, kenapa Aku terdampar di sungai ini? Apakah, keluargaku berada disekitar kota ini? Mungkinkah Aku hanyut, disaat sedang mandi dengan Ibu kandungku?" Rival mengoceh sendirian, seperti anak kecil yang kehilangan induk.


Setelah merasa tenang. Rival lama terdiam memperhatikan riak-riak air yang mengalir. Mata tajamnya masih terus mengeluarkan air mata tanpa isakan. Dia terduduk di atas pasir ditepi sungai dengan selalu mengubah gaya duduknya. Terkadang Dia bersila, kadang menekuk kedua kaki dan membenamkan wajahnya diantara lututnya. Terkadang juga Dia berteriak dan melempar batu kecil ke dalam sungai. Rival sangat tertekan, Dia butuh seseorang untuk berbagi.


Setelah merasa sedikit baikan, Dia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. waktu sudah menunjukkan pukul 11.30 wib. Sudah hampir dua jam Dia menangis ditempat itu. Dia berdiri, menggulung celananya sampai lutut. Dengan gontai kakinya melangkah ke dasar sungai. Dia menunduk dan membasuh wajahnya. Dia ingin menenangkan diri. Dengan cepat Dia memacu motornya menuju kota Rili. Entah kenapa, Dia merasa hanya istrrinya lah yang Dia punya saat ini.


🌹🌹🌹


Seorang pria yang kondisinya lagi galau, nampak sangat tidak tenang duduk dibelakang kemudi. Pria itu adalah Yasir. Matanya bergerak kekanan dan kekiri, mencari sosok wanita yang sangat dicintainya. Sudah 20 menit Dia, berada dalam mobil mewahnya. Tapi, wanita yang diharapkan kemunculannya, tak kunjung menampakkan diri.


Dug...dug...dug....


Jantungnya langsung berdetak dengan cepat dan keras, disaat matanya melihat pujaan hatinya berjalan ke arahnya. Tangannya juga terasa dingin. Dia nervouse, seolah-olah ini adalah pertemuan pertama mereka.


Dia bercermin, memastikan rambutnya rapi. Dia juga menyemprotkan parfum ke pakaiannya, serta punggung tangannya. Jantungnya semakin berdegup kencang, disaat wanita yang ditunggunya sudah berada disebelah mobilnya. Dengan cepat Yasir turun dari mobil. Dengan salah tingkah, Dia memandu Rili menaiki mobil mewahnya.


Ternyata, ada sepasang mata tidak sengaja melihat Yasir dan Rili masuk ke dalam mobil. Pemilik mata Itu adalah Rival.


Yasir dan Rili sudah berada di dalam mobil. Kedua manusia yang saling mencintai itu, lama terdiam di posisinya masing-masing. Rili menatap lurus ke depan. Dia tidak sanggup menatap Yasir, yang dari tadi melihat dirinya terus. Rili sudah mulai gugup dengan tatapan Yasir. Ekor matanya melirik sekilas Yasir yang duduk di jok kemudi.


"Apa Adek takut?" Suara Yasir sukses membuat Rili terkejut.


"Tiiidak Bang, kenapa mesti takut." Jawab Rili dengan gugupnya. Hatinya was-was. Degupan jantung tidak bisa dinetralkannya.


"Siapa tahu kamu takut Abang culik." Ucap Yasir spontan. Dia pun mengubah posisi duduknya sehingga tegak dan pandangannya lurus ke depan.

__ADS_1


Rili memutar lehernya, sehingga Dia bisa menatap wajah Yasir yang tampan. Sungguh, Dia sangat merindukan Yasir. Hatinya sangat merasa bersalah kepada suaminya. Menjumpai pria lain, disaat suaminya diluar kota.


Tanpa permisi air mata yang sejak tadi ditahannya, akhirnya jatuh juga. Dia berusaha untuk tidak bicara, karena kalau Dia berbicara. Maka air mata dan isakan tangisnya pun akan semakin menjadi-jadi.


Yasir pun memutar tubuhnya menghadap Rili, reflek tangannya bergerak. Jemarinya melap air mata Rili yang membasahi pipi putihnya.


"Berjanjilah, setelah hari ini air mata ini tidak akan pernah membasahi wajah cantik ini. Wajah ini adalah penyemangat Abang. Setelah hari ini, jangan ada kesedihan lagi. Sudah ya sayang diam ya?" Yasir menyeka air mata Rili dengan lembut. Saat Yasir melakukan itu, kedua mata Rili seolah tidak berkedip menatap wajah Yasir.


Yasir memakai seat belt ketubuh Rili.


"Kita jalan ya dek?" Yasir menoleh ke arah Rili. Rili mengangguk.


Sementara Rival membuntuti mobil yang dikendarai Yasir, dimana istrinya berada di dalam mobil tersebut.


Kini mobil mewah Yasir berhenti di depan lobi hotelnya. Saat mengetahui Yasir membawanya ke Hotel, Rili sedikit was-was. Dia takut, rasa gugup kembali datang.


Dengan cepat petugas hotel menyambut kedatangan Yasir. Yasir turun dari mobil, Rili pun melakukan hal yang sama. Dia membuka pintu mobil dengan cepat dan turun. Sebelum Yasir memperlakukannya seperti tuan putri.


Ting...


Lift terbuka, ternyata Yasir dan Rili sekarang berada di lantai tujuh. Lantai paling atas di Hotel itu. Yasir berjalan cepat yang diikuti Rili. Sebuah pintu otomatis yang terbuat dari kaca langsung terbuka. Yasir melangkahkan kakinya ke kamar jenis Penthouse. Rili juga masuk ke kamar tersebut dengan hati yang berdebar-debar. Ruangan ini adalah, tempat yang sama, disaat Yasir dulu memintanya untuk menjadi kekasihnya.


Yasir berjalan ke teras terbuka yang terhubung atau ruang langit terbuka di Hotel itu. Sungguh pemandangan laut yang biru menyejukkan mata dan pikiran. Tapi, itu tidak berlaku kepada Yasir. Hatinya sedang berkecamuk, Dia harus melupakan Rili, karena wanita yang sangat dicintainya itu tidak memilihnya.


"Lihatlah pemandangannya sangat indah bukan?" Ucap Yasir dengan sendunya. Rili yang berdiri disebelah kanan Yasir hanya terdiam. Kedua tangannya memegang pembatas gedung.


"Adek lihat anak-anak yang bermain pasir dan ombak itu?" Yasir menunjuk ke bawah. Bibirnya tersenyum, hatinya menghangat. Kenangan-kenangan dirinya dengan Rili semasa remaja melintas lagi.


"Dulu juga kita seperti itu, tertawa lepas, berlari dan saling kejar-kejaran. Itu semua hanya akan menjadi kenangan. Sejarah itu tidak akan bisa kita ulang lagi." Yasir memutar tubuhnya menghadap Rili. Dia sudah mendengar isakan Rili.

__ADS_1


Yasir melap air mata yang jatuh dipipi Rili dengan jemarinya. Dengan refleks Dia memeluk Rili, dengan melingkarkan tangannya kanannya dipunggung wanita itu. Rili pun akhirnya menyandarkan kepalanya di dada Yasir yang bidang. Dia seolah lupa, kalau Dia istri seseorang. Saat ini yang dibutuhkannya adalah ketenangan dan kehangatan. Itu semua hanya didapatnya dari Yasir.


"Abang sangat yakin suatu saat kamu pasti bahagia. Abang Rival pria yang baik. Dia pasti membahagiakanmu." Ucapan Yasir membuat Rili sadar. Bahwa tidak seharusnya Dia berjumpa dengan Yasir.


Dia melerai pelukan Yasir. "Tidak seharusnya kita bertemu lagi. Pertemuan ini hanya akan menambah luka diantara kita berdua." Rili menyeka air matanya dengan punggung tangannya. Hatinya begitu sakit mengatakan itu.


Yasir menjawir dagu Rili. Wajahnya mendekat ke wajah Rili, sungguh Dia tidak sampai hati melihat Rili kembali menangis. "Maafkan Abang, kalau permintaan untuk bertemu terakhir kalinya membuatmu semakin terluka." Yasir pun kembali memeluk tubuh Rili. Dua insan yang saling mencintai itu, sama-sama menangis. Mereka meratapi nasibnya yang tidak akan bisa bersatu.


"Malam ini, Abang akan berangkat ke Australia." Rili melepas pelukan Yasir. Dia berjalan menuju kursi yang terdapat ditempat itu. Dia pun mendudukkan bokongnya dikursi empuk itu, masih dengan berurai air mata. Yasir mengekori pergerakan Rili. Tapi, kakinya bergerak melewati Rili dan terhenti disisi meja yang tak jauh dari tempat Rili duduk.


"Adek simpan perhiasan ini ya. Jangan pernah sekalipun untuk mengembalikannya. Ini milik Adek. Hanya ini yang bisa Abang berikan saat ini." Yasir menyodorkan kotak beludru warna hitam. Rili meraihnya.


Dengan tangan gemetar, Rili membuka kotak perhiasan yang isinya adalah, pemberian Yasir yang Rili kembalikan melalui perantara Windi.


Yasir berjongkok dihadapan Rili, wajahnya mendongak untuk melihat wajah Rili. "Mulai saat ini, Abang akan menghapus semua foto kita. Abang juga tidak akan kepo mengintipmu di sosmed. Abang akan menutup medsos Abang semua. Abang juga tidak akan pernah menelponmu. Kamu juga harus melakukannya. Kalau tidak, kamu tidak akan bisa melupakan Abang yang ganteng ini." Yasir menunjukkan wajah dengan ekspresi puppy eyes. Yang membuat Rili tidak tahan melihatnya. Rili pun melorotkan tubuhnya dari kursi tersebut. Untk kali ini, Rili memeluk Yasir. Wajahnya bersandar di pundak Yasir.


"Abang harus bahagia. Abang pasti mendapatkan wanita yang jauh lebih baik. Adek akan selalu mendoakan kebahagian Abang." Dengan berurai air mata, kalimat itu keluar dari mulutnya. Sungguh rasa sesak di dada Rili semakin menjadi-jadi. Dia harus pergi dari tempat itu, sebelum dirinya tidak bisa dikuasainya.


Sepeninggalan Rili, Yasir masih berada di tempat itu. Dia menikmati senja yang indah. Semilir angin terasa menyejukkan hatinya, yang sudah ikhlas melepas cintanya. Dia mencoba menenangkan dirinya, sebelum Dia benar-benar meninggalkan kota itu. Kota penuh kenangan indah dan menyakitkan.


Coba belajarlah kepada senja, karena dia mengajarkan bahwa sesuatu yang terlihat


indah sebagian hanya sementara, karena tak ada yang abadi.


Tuhan, jangan ajarkan aku takut kehilangan. Ajarkan aku melepas tanpa penyesalan.


Mohon beri dukungannya dengan like, coment positif, rate 🌟 5 dan jadikan novel ini sebagai favorit.


Tetap aku mengharapkan vote kalian kakak2 cantik.😍🙂

__ADS_1


Yeeee.. Akhirnya Rili dan Yasir berpisah.


__ADS_2