
Mely kembali terduduk di ranjang, karena Rival menarik kuat tangan Mely. "Apa maksud Adek? siapa yang brengsek? apa pria yang mengantar mu tadi pagi? apa gara-gara pria itu kamu minggat dari rumah?" tanya Rival dengan serius, Dia bahkan menarik bahu Mely ke arahnya agar Dia bisa melihat kedua mata Mely. Rival sebenarnya geram terhadap istrinya ini. Meninggalkan rumah tanpa ada kabar.
Mely merasa takut melihat kemarahan yang terpancar dari tatapan Rival, tapi Mely yang keras kepala malah menantangnya. Dia juga baru sadar, bahwa Rival salah paham terhadapnya.
"Apa-apaan sih? lepasin.
..!" ucap Mely Dia kembali menepis tangan Rival yang memegangi bahunya.
"Adek yang apa-apaan? Apa bagus seorang istri pergi dari rumah dan pulangnya bersama laki-laki. Kamu marah-marah tidak jelas kepada Abang. Menyinggung-nyinggung masa lalu. Adek mau nya apa?" ucap Rival tegas dengan nada tinggi, Dia menatap lekat mata Mely yang kini berdiri di dekatnya. Sedangkan Rival masih duduk di bibir tempat tidur.
Mely terdiam, Dia kesal sekali dengan Rival yang balik memarahinya dan tidak mengerti perasaannya sekarang.
"Sebelum semuanya semakin runyam dan bertele-tele. Sekarang Abang tanya, jawab jujur. Kamu maunya hubungan kita seperti apa?" ucap Rival, Dia kini berdiri dihadapan Mely, karena Mely membalik badannya.
Mely semakin bingung dan kesal kepada Rival. Kenapa suaminya itu seolah mengancam. Jelas saja, Dia ingin Rival hanya mencintainnya dan jangan mengingat-ingat mantan istrinya.
Melihat Mely tidak kunjung bicara, Rival semakin bingung dan kalut. "Kita lupakan yang sudah terjadi. Abang pun tidak akan menyalahkanmu yang pergi dengan pria lain selama seminggu. Tapi, sebagai seorang suami, Abang wajib tahu. Kenapa Adek marah-marah hari ini? Apa karena pria yang bersamamu tadi pagi?" tanya Rival, Dia sungguh tidak sabar menunggu jawaban dari istrinya itu.
"Apa Dia pacarmu?" tanya Rival mendesak Mely bicara. Mely sampai terduduk di ranjang, karena Dia takut melihat ekspresi wajah Rival.
Mely duduk terdiam di atas ranjang. " Kenapa tidak dijawab semua pertanyaan Abang. Kalau kamu marah-marah karena pria itu. Biar Abang mundur dari hubungan ini. Lagian Aku ini duda miskin. Abang tidak akan percaya Diri bersanding denganmu. Apabila setiap saat kamu hanya merendahkan Abang." Ucap Rival dengan tegas. Mely malah diam saja, Matanya kembali berkaca-kaca. Bagaimana cara nya mengatakan kepada suaminya itu. Kalau Dia cemburu kepada mantan istrinya.
"Besok Abang akan keluar dari rumah ini, setelah Ayah datang. Dan kamu bisa bebas dengan pria itu." Ucap Rival Dia berbalik badan, hendak meninggalkan kamar itu. Kesabarannya habis sudah. Orang yang diajak bicara diam saja.
Mungkin akan lebih baik, hubungannya dengan Mely berakhir saja. Karena Rival merasa, sudah tidak nyaman. Setelah mendengar ucapan Mely yang mengatakan nya miskin. Memang benar Dia miskin. Tapi, tidak perlu Dia direndahkan.
__ADS_1
Tangan kanan Rival memegang handle pintu kamar. Tiba-tiba saja Mely menabrakkan tubuhnya di punggung Rival dan membelitkan tangannya di perut Rival. Yang membuat Rival terkejut dan heran. Kenapa pula Mely memeluknya. Rival berusaha melepas kedua tangan Mely yang membelit tubuhnya dengan erat. Tapi, Mely semakin mengeratkan pelukannya. Rival sampai merasakan tonjolan kenyal dipunggunnya.
"Jangan tinggalkan Aku, jangan pergi. Maaf!" ucap Mely dengan terisak. Mely yang keras kepala akhirnya mengalah juga dan minta maaf. Dia tidak menyangka, Rival akan mengatakan untuk meninggalkannya.
Rival diam, Dia tidak berusaha lagi melepas pelukan Mely. "Apa Abang mau memaafkan Aku!?" ucap Mely, kini Dia memasrahkan kepalanya di punggung Rival.
Rival masih diam, sungguh sifat Mely susah dimengerti. Tadi pagi marah-marah, malam ini mengacak-acak kamar. Sekarang malah memeluknya dan meminta maaf.
"Bicaralah, jangan diam saja. Apa permintaan maaf ku diterima?" Mely mulai ngegas lagi, karena Dia merasa Rival menyebalkan. Dia sudah mencoba mengalah, karena Dia merasa Rival tidak membujuknya.
"Abang sudah memaafkanmu. Kalau tidak Abang maafkan. Tentunya tadi pagi, Abang akan marah kepadamu. Tapi, kamu... Sudahlah, mungkin sebaiknya hubungan ini kita sudahi saja." Ucap Rival, Dia kembali berusaha melepas tangan Mely yang membelit perutnya.
Mely geram dan kesal sekali mendengar ucapan Rival yang ingin hubungan mereka disudahi. Dia melepas belitan tangannya di perut Rival dan dengan cepat Dia mendorong tubuh Rival. Sehingga Rival hendak terjatuh.
Suara Mely yang keras terdengar ke seluruh penjuru ruangan, termasuk ke kamar para ART mereka. Mendengar pertengkaran itu mereka keluar kamar, mengintip Mely dan Rival yang adu mulut dari balik dinding rumah itu.
"Ingin tahu alasanku pergi satu Minggu? Aku pergi karena Abang....!" ucapnya histeris dan menunjuk Rival dengan jari telunjuknya. Rival jadi bingung dan terheran-heran. Kenapa pula karena Dia.
"Apa maksud Adek? kenapa gara-gara Abang. Salah Abang dimana?" ucap Rival dengan bingungnya.
Mely semakin geram saja. Jelas memang Rival tidak merasa bersalah.
"Salah Abang, karena Abang menyebut namanya, saat kita bersama." Ucap Mely dengan berurai air mata. Tiba-tiba matanya melihat pembantunya mengintip. Dia malu dan masuk kembali ke dalam kamar. Tentunya Rival mengikutinya masuk. Dia juga penasaran alasan Mely marah.
Rival pun mengunci kamar itu. Dia berjalan pelan mendekati Mely yang duduk dibibir tempat tidur.
__ADS_1
"Abang belum mengerti penyebab masalah kita ini. Adek keluarkan dulu semua yang mengganjal dihatinya dek." Rival menatap Mely yang tidak mau menatapnya.
Mely menarik napas dalam, mengambil tisu di atas meja tiasnya. Dia melap air mata dan ingusnya. Dengan refleks nya Dia memberikan tisu belas ingus nya ke telapak tangan Rival dan Dia menatap lekat wajah Rival. Dengan herannya Rival menerima tisu bekas ingus Mely.
"Aku tidak ada hubungan dengan pria yang Abang maksud. Dia sudah menikah, Dia itu ketua geng kami. Selama satu Minggu ini Aku di rumahnya. Menenangkan diri, dari rasa sakit yang kurasakan, Akibat Abang." Ucapnya dengan menatap lekat wajah Rival yang bingung itu.
"Gara-gara Abang?!" Rival semakin dibuat bingung. Dahinya berkerut menatap wajah istrinya yang masih terisak itu.
"Iya." Jawab Mely sambil melap air matanya kembali dengan tisu, kemudian memberikan tisu yang sudah basah karena air matanya kepada Rival.
Rival semakin bingung saja, Dia sampai menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu. Sungguh Dia pusing menghadapi istrinya ini. Terlalu banyak tingkah yang tidak jelas.
"Salah Abang apa?" Rival menatap tajam.
Mely berdecak, Dia tadi sudah mengatakannya. Tapi kenapa Rival belum mengerti juga.
"Aku benci, Aku tidak suka disaat kita bersama. Abang menyebut nama mantan istri Abang. Kan tadi sudah Mely bilang." Ucapnya dengan kesal, Dia membalik badannya membelakangi Rival.
"Saat bersama? tolong lebih jelas lagi maksud Adek?" Rival memegang lengan Mely, menariknya pelan agar menghadapnya.
"Aku benci saat kita bersama, disaat Abang mengeluarkan susu kental itu, Abang tidak menyebut namaku. Malah menyebut, Rili....Rili...Rili...! menyebalkan sekali." Ucap Mely sambil mempraktekkan ekspresi Rival saat pelepasan. Cara Mely menirukan Rival saat itu, sangat lucu. Hingga Rival ingin tertawa melihat Mely.
TBC.
Tinggalkan jejak dengan like coment rate 🌟 5 dan vote ya kak.🤗😍
__ADS_1