
Rival mengikuti Mely ke ruang ganti. Setelah dirinya terlebih dahulu ke kamar lamanya untuk mengambil tas Ranselnya. Dia juga nampak mempacking pakaian dan barang penting lainnya yang dibutuhkan nantinya saat liburan di Danau Toba.iy
Suasana hening, pasangan suami istri itu sibuk mempacking barang-barang nya masing-masing. Mereka merasa canggung dan sedikit salah tingkah sehingga mereka hanya bisa curi-curi pandang.
Rival keluar duluan dari kamar ganti tersebut, dengan menenteng tas ranselnya. Yang diletakkan di sudut dekat jendela. Kemudian Dia merebahkan tubuhnya yang terasa sangat lelah.
Mely keluar dari ruang ganti dengan menyeret satu koper ukuran sedang. Mely memang tipe cewek tidak suka bawa barang banyak. Kopernya aja belum penuh, Dia berniat menggabung pakaian Rival dan dirinya dalam satu koper saja.
Mely melirik ke arah Rival yang sudah berbaring dengan melipat kedua tangan di atas perutnya.
"Cepat sekali Dia tidur." Ucapnya Pelan. Dia berjalan ke arah tas ransel Rival.
"Kenapa pakaiannya ditaroh di ransel senua. Padahal banyak koper berbaris di ruang ganti. Kalau pakai ransel kan, pakaian bisa kusut." Gumam Mely berniat membongkar tas ransel Rival dan akan memindahkan pakaian Rival ke kopernya. Tapi niatnya itu tidak jadi dilakukannya. Dia akan sakit hati lagi, apabila nantinya menemukan foto Rili di tas ranselnya Rival.
Akhirnya Dia pun menarik napas berat. Naik ke atas ranjang dan berbaring menghadap Rival.
Mely memperhatikan suaminya itu yang seperti nya sudah tertidur. "Apa enaknya tidur pakai sarung?" gumam Mely dalam hati. "Ada apa dibalik sarung?" ucapnya pelan sambil cekikan, yang membuat Rival menoleh ke arahnya. Ternyata Rival belum tidur. Dia hanya memejamkan matanya.
Mata Mely melotot melihat Rival yang membuka matanya. Dia jadi salah tingkah dan langsung membalik badannya membelakangi Rival.
"Tadi Abang seperti dengar suara menanyakan ada apa dibalik sarung?" ucap Rival menahan tawa, memandangi Mely yang membelakanginya. Mely saat ini sedang menyembunyikan wajah memalukannya.
"Apa..ku tidak dengar suara apa-apa." Jawab Mely masih membelakangi Rival dengan wajah malu dan takut.
"Oh ya, berarti Abang bermimpi, kirain ada orang yang mau melihat isi dibalik sarung." Rival tersenyum, Dia sedikit legah. Ternyata istrinya itu sudah mau komunikasi. Dia pun kembali berbaring dan mencoba untuk tidur.
__ADS_1
Sedangkan Mely menggerutu dalam hati. Dia kesal sekali dengan dirinya yang tidak bisa tahan melihat pesona suaminya itu.
Dia juga kesal, Rival yang Dia cueki, eh Rivalnya juga cuek. Padahal Rival tidak ada niat mengabaikan istrinya itu. Dia hanya ingin mengikuti permainan Mely saja. Akhirnya pasangan suami istri itu pun tertidur.
🌻🌻🌿
Keesokan Harinya.
Keluarga Pak Ali sudah berada di mobil mewahnya. Pada tahun 2010, belum ada akses melalui udara ke Danau Toba. Perjalanan dari Kota M, menuju Danau Toba bisa ditempuh dengan lama perjalanan kira-kira tiga jam dengan jarak 90km.
Posisi mereka dalam mobil saat ini adalah. Pak Ali dan istrinya duduk dibelakang jok Pak Supir, sedangkan Rival dan Mely di Jok paling belakang. Tadinya Mely, ingin membawa mobil sendiri. Tapi Pak Ali melarang. Dan Dia ingin mereka satu keluarga berada dalam satu mobil saja.
Ternyata Sari juga diikut sertakan oleh Mamanya Mely. Karena Dia nantinya pasti akan sangat membutuhkan jasa ART nya itu. Saat ini Sari duduk di sebelah Pak Supir.
Sari sangat senang, Dia diikutkan dalam liburan kali ini, setidaknya Dia bisa melihat Rival lebih sering.
Dia juga sangat banyak membeli cemilan di pasar bengkel . Mulai dari dodol dan aneka makanan ringan lainnya. Sehingga mulut Mamanya Mely tidak akan pernah berhenti menguyah saat perjalanan
Setelah perjalanan lebih dari 4 jam, melewati hutan, samar-samar dari kejauhan Rival melihat hamparan air yang luas. Rival merasa bahagia sekali, akhirnya Dia bisa menikmati dengan tenang keindahan Danau Toba. Tanpa memikirkan penghematan pengeluaran, karena saat ini Dia sudah punya uang yang cukup.
Rival menoleh ke arah Mely yang tertidur di paha nya. Mengelus pelan kepala Mely dengan tersenyum.
Pak Ali ternyata memilih menginap di Parapat malam ini dan tidak di tuk tuk, seperti keinginan Mely. Tapi, kalau putrinya itu memaksa, maka besok mereka bisa menginap di pulau Tuk-tuk tersebut.
Mobil berhenti di parkiran Hotel megah di Parapat Danau Toba.
__ADS_1
Pak Ali dan istrinya turun dari mobil, kemudian disusul oleh Sari dan Pak Budi. Sekarang tinggal Rival dan Mely yang masih di dalam mobil. Rival sangat kesusahan membangunkan Mely yang tidak kunjung terbangun itu. Walau Rival sudah mencubit gemes pipi Mely.
Merasa pipi dan kepalanya, seperti ada yang menyentuh, Mely pun terbangun dan membuka matanya. Dia terkejut mendapati wajah Rival tepat dihadapannya dengan tersenyum.
"Akhirnya Adek bangun juga." Rival tersenyum. Mely grogi, Dia pun bangkit dari paha Rival dengan rasa malu.
"Enak ya tidur di paha Abang?" ucap Rival tersenyum, Mely menampilkan ekspresi cuek, tapi hatinya sebenarnya senang. Entah kenapa akhir-akhir ini, Dia ingin Rival yang menggodanya. Dia ingin fasif saja.
"Apa enaknya tidur di paha. Sudah pahanya keras. Tadi harusnya Abang, letakkan bantal di atas pahanya. Ini kepalanya jadi kram. Salah urat sepertinya, gara paha Abang yang keras itu." Ucapnya ketus sambil membenahi baju dan rambutnya yang sedikit berantakan.
Rival diam saja menanggapi Omelan istrinya itu. Walau sebenarnya kakinya juga kram saat ini. Karena Mely sudah hampir satu jam tidur di pahanya. Mana paha nya baru sembuh lagi.
Mely turun dari mobil, berlari mengejar orang tuanya. Sedangkan Rival yang baik hati itu. Membantu Pak Budi dan Sari membawakan barang-barang. Walau akhirnya pelayan Hotel ada yang membantu.
Saat berjalan menuju receptionis. Rival dan Sari nampak akrab. Bahkan mereka berdua tertawa cekikikan. Mely yang melihat itu dibuat cemburu. Apalagi Sari sempat memukul manja lengan Rival.
Sungguh hati Mely sangat panas, Dia tidak sangka pembantunya itu, bisa seakrab itu sama suaminya. Tapi gimana tidak akrab, Rival yang memang dari kecil sudah hidup di desa dan tidak sombong itu. Tidak pernah memilih orang untuk berteman.
"Lucu ya pelayannya." Ucap Sari, yang suaranya bisa didengar oleh Mely yang kini sedang berdiri. Di meja resepsionis untuk mengambil kunci. Karena Pak Ali sudah memesan empat kamar. Dua kamar jenis Presidential suite, yaitu untuk Pak Ali dan istrinya dan satu lagi untuk Mely dan Rival, sedangkan untuk Pak Budi dan Sari Single Room.
"Iya lucu Dek Sari." Rival masih tertawa dengan hangatnya, sambil berjalan ke arah Mely.
"Pelayannya sok berbahasa Inggris, terus kita jawab dengan bahasa Batak. Pelayanpun akhirnya menggunakan bahasa Batak. Mana logat batak nya totok kali." Sari dan Rival masih saja tertawa, Sampai akhirnya tawa keduanya terhenti, disaat Mely yang ada dihadapan mereka melotot penuh kepada keduanya.
"Pantas saja akrab, memang kalian satu level, yaitu dari kampung." Ucap Mely dengan kesel, Dia pun meninggalkan Sari dan Rival di ruang lobby tersebut.
__ADS_1
Ucapan Mely itu membuat Rival tersinggung, sampai kapan Dia akan terus direndahkan begini.
TBC