
"Kamu melarangku mencintainnya, Dia saja belum tentu masih mencintaimu? Kalau Rili masih mencintaimu, kenapa Dia tidak kembali langsung kepadamu." Ucapan Rival sukses membuat emosi dan rasa penasaran Yasir tersulut.
Ya benar, pertanyaan itu sering hadir dibenaknya Yasir. Kenapa Rili tidak menghubunginya setelah Dia bercerai dengan Rival? Kalau benar Rili mencintainya. Setelah resmi bercerai tentu Dia ingin bersatu dengan dirinya. Tapi, nyatanya Rili lebih memilih menyendiri. Berarti Rili tidak menginginkan dirinya.
Yasir menoleh ke arah Rili yang sudah gemetar dan di banjiri air mata itu. Dia berjalan mendekati Rili.
Rili tidak berani menatap Yasir, sungguh Dia sangat tertekan dengan ulah kedua pria itu. Kalau seperti ini terus kapan bahagianya.
"Dek, benarkah kamu tidak ingin kita bersama?" ucap Yasir dengan menahan rasa kesal, karena ucapan Rival sukses membuat Dia terpengaruh dan meragukan cintanya Rili kepadanya.
Rili tidak menjawab, Dia masih menunduk dengan air mata semakin banyak saja keluar dari liang air matanya. Kenapa pula Yasir meragukan cintanya. Kalau Dia tidak cinta, mana mungkin Dia mau menikah dengan Yasir.
"Dek, lihat Abang!" Yasir menjawir dagu Rili ke arahnya. Yasir tidak tega melihat kondisi Rili saat ini, jelas saja raut wajah Rili menampakkan ketakutan yang luar biasa. Tapi, Yasir tidak mempedulikan ekspresi wajah Rili saat ini yang dibutuhkannya adalah jawaban dan pernyataan.
Rili masih diam yang membuat Yasir semakin penasaran dan frustasi. Benarkah Rili tidak mencintainya lagi.
Rili tidak bisa berucap, hatinya sedang kacau. Dia juga kecewa kepada Yasir. Kenapa Yasir tidak merasakan cintanya. Kenapa kedua pria ini tidak sadar bahwa kelakuan mereka sudah membuat Rili trauma.
__ADS_1
Rili menepis tangan Yasir dari dagunya. Tatapan cinta kini berubah menjadi kekecewaan. Mungkin sebaiknya Dia yang harus pergi dari kehidupan dua pria itu. Sebelum buku nikah mereka keluar. Sebaiknya pernikahan mereka dibatalkan saja. Mungkin akan lebih baik Dia hidup sendiri.
Tangan Yasir mematung di udara, Karena di tepis Rili. "Tanya saja hatimu." Ucapnya dengan tegas kepada Yasir. Rili yang lembut dan lemah berubah menjadi seperti macan betina yang siap menerkam.
Dia berjalan dengan sedikit gemetar ke hadapan Rival. "Jangan sampai citra dirimu yang ku anggap baik itu berubah menjadi kebencian. Hidup denganmu sudah banyak membuat hidupku menderita dan hancur.
"Jangan lagi kau buat masalah dalam hidupku. Tak perlu lagi ku ceritakan bagaimana penderitaan ku selama berada di sisimu. Kamu sudah lihat sendiri penderitaanku. Tubuhku yang babak belur, tidak seberapa dengan sakitnya yang ku rasa sekarang. Disaat mulut mu itu tanpa berdosa mengatakan cinta dan sayang kepadaku.
"Kalau memang kamu masih cinta dan sayang. Cukup kamu pendam saja. Karena itu tidak ada lagi gunanya. Kamu bilang tadi sudah menikah kan? maka cintailah istrimu itu, agar Dia jangan menerorku." Kedua pria itu tercengang mendengar ucapan Rili. Rili berbicara sudah pakai kata Aku dan kamu. Tidak ada lagi tutur sapa Abang dan Adek.
"Dek?" ucap Rival dengan wajah memelas. Ucapan Rili yang tajam, akhirnya membuatnya tersadar. Seharusnya Dia konsekuen dengan keputusan hidupnya. Tidak perlu lagi Dia melow dengan pengakuan masih mencintai Rili.
"Abang keluarlah dari rumah ini!" Ucap Rili dengan menggerakkan tangannya ke arah pintu. Rival benar-benar tidak menyangka akan diusir oleh Rili. Sedangkan Yasir hanya bisa mematung melihat sisi lain dari istrinya itu.
Belum tahu ya Yasir, Rili pernah menghantam Rayati di lumpur.
"Dek," Rival menatap sendu kepada Rili. Sungguh Dia tidak punya malu saat ini.
__ADS_1
TBC
Mohon beri
like
coment
rate 🌟 5
Jadikan novel ini favorit
Vote
Tolong ramaikan juga novelku yang berjudul PARIBAN I HATE YOU
Happy reading
__ADS_1