Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 Pisah ruangan


__ADS_3

"Iya, Adek suka banget. Kalau Abang tidak punya uang untuk bangun rumah disini. Dulu kan Abang pernah bilang mau kasih mahar Adek 16 M. Ya udah uang itu aja pakai untuk bangun rumahnya." Ucap Rili becanda, Dia melirik Yasir yang masih memeluknya dari samping.


"Tahu aja Abang gak punya uang." Ucap Yasir, menanggapi serius pembicaraan Rili. Dia membalas tatapan Rili.


"Apa benar suamiku tidak punya uang?" Rili membathin, mereka masih saling memandang.


"Gak punya uang lagi ya? ya sudah kalau gitu. Padahal anakmu pingin dibuatin rumah seharga 16 M. Sepertinya anak Abang, menagih mahar yang sempat Abang bilang waktu itu." Ucap Rili sendu. Dia prihatin juga, kalau benar suaminya itu tidak punya uang. Auto bangkrut dong.


"Abang mana punya uang lagi. Semua aset kekayaan sudah menjadi atas nama Adek. Ya sudah Abang jadi gak punya apa-apa. Hanya punya kamu seorang. Abang tidak ingin, yang lainnya. Bersamamu semuanya terasa cukup." Ucap Yasir menjepit hidung Rili yang mancung dengan jari telunjuk dan jempolnya.


Rili geleng-geleng kepala, kenapa sekarang suaminya itu pandai ngegombal. Seperti baru PDKT aja.


"Ini mulut koq semakin berbisa ya?" Rili menempelkan jari telunjuknya di bibir Yasir yang lembut. Yasir pun hendak menggigit jemari lentik itu. Tapi Rili dengan cepat menarik tangannya.


"Iya, ini bibir berbisa dan penawarnya ini." Yasir langsung melu*mat bibir Rili. Menekan tengkuk istrinya itu. Sehingga Rili tidak bisa berontak. Yasir tidak peduli dimana sekarang Dia berada. Toh Rili istrinya.


"Apaan sih? malu tahu dilihatin orang." Ucap Rili, setelah Dia berusaha melepaskan bibirnya dari lum*atan Yasir.


"Mana ada orang yang lihat."Ucap Yasir, sambil celingak-celinguk memperhatikan sekitarnya.


"Walau gak ada yang lihat, tetap aja malu. Ini tu tempat umum." Ucap Rili sewot, bukannya Dia tidak suka dicium suaminya itu. Tapi, kalau ada orang yang lihat dan jadi pingin ciuman juga kan bahaya. Iya kalau datang dengan pasangan halalnya. Kalau datang dengan pacarnya. Kan jadi panjang urusannya.


"Iya deh, nanti kalau sudah di kamar kita lanjutin ya?" pinta Yasir, seperti anak kecil yang dilarang main, kalau belum makan.


Rili mengangguk dan tersenyum.


"Kita naik kuda yuk?" ajak Yasir menarik tangan istrinya itu agar turun dari gazebo.


"Naik kuda? gak aakkhh, Aku takut dilarikan dan terjatuh." Ucap Rili malas. Apa sih maksud suaminya itu ngajak dirinya berkuda.

__ADS_1


"Tidak akan jatuh, Ayolah sebentar saja." Yasir kembali menarik tangan istrinya itu lembut.


Kini mereka sudah sampai di tempat yang menyediakan fasilitas berkuda.


Petugas yang melihat Rili hamil melarang Rili ikut naik kuda. Karena itu bisa membahayakan janin dan ibu. Akhirnya Yasir pun membatalkan keinginannya itu.


"Naik kuda beneran gak boleh. Ya udah kita pulang saja, main kuda-kudaan di kamar." Seloroh Yasir, yang membuat wajah Rili bersemu merah.


Suaminya itu kalau bicara selalu menyenggol kesitu. Emang ya laki-laki dipikirannya nafsu Mulu.


Karena tidak jadi naik kuda. Merry kembali ke gazebo duduk santai. tentu saja Riki dalam dekapan Yasir. Dimana Yasir nampak mengelus-elus perut Rili yang di dekapnya dari belakang.


"Apa benar, anak kita menagih mahar yang 16 M?" tanya Yasir penasaran. Benarkah yang diucapkan istrinya itu? atau hanya bualan semata.


Dulu mau menikah Yasir mengatakan mahar untuk Rili uang tunai 16 M. Tapi, waktu itu Rili maunya hanya seperangkat alat sholat. Jadilah acara ijab kabul maharnya seperangkat sholat.


"Iya bener," Jawab Rili terseyum. Tapi tidak dilihat oleh Yasir.


Rili membalik badannya, hingga mereka bersitatap. "Apa benar kita ada rumah disini?" tanyanya dengan ekspresi bahagia tidak percaya. Yasir mengangguk pelan dan terseyum.


Rili melingkarkan tangannya di leher Yasir. "Aku ingin lihat, ayo kita ke sana." Ucap Rili, Dia pun melepas tangan Yasir yang meringkuk pinggangnya. Turun dari Gazebo yang diikuti oleh Yasir.


❤️❤️❤️


Masih di ruangan yang sama dengan Mely, Rival nampak lemah. Dia pun mulai diperiksa oleh Dokter. Mencek suhu tubuh dan tekanan darah, serta dada dan perut menggunakan stetoskop.


"Suhu tubuh bapak sangat tinggi 40 derajat Celcius." Ucap perawat terkagum-kagum. Biasanya suhu tubuh tinggi seperti itu sudah tidak berdaya. Tapi, Rival masih bisa menggendong istrinya.


"Apa gejala yang bapak rasakan?" tanya Dokter dengan terseyum.

__ADS_1


Begitulah Dokter, selalu menanyakan apa yang kita rasakan, sebelum mendiagnosa penyakit yang datang.


"Saya merasa pusing, nyeri pada bagian otot serta sendi, dan sakit tenggorokan seperti dibakar." Ucap Rival, masih berusaha tersenyum. Walau sebenarnya sakit yang dirasakannya begitu luar biasa. Hampir seperti sakit dikuliti.


"Iya Pak. Kita obati, kalau dalam dua hari ini demam bapak tidak turun. Kita akan lakukan pemeriksaan darah. Bapak ini hanya terserang virus dan bakteri biasa. Tidak ada yang serius. Jadi, Bapak tidak perlu terlalu takut. Pasti sembuh." Ucap Dokter perempuan, Dokter yang sama menangani Mely.


"Aku juga merasa mual Dok." Ucap Rival lagi.


Mely hanya bisa diam mendengarkan Dokter dan Rival berinteraksi. Rasa benci dan kesal, walau sebenarnya cinta. Kini berubah jadi rasa kasihan dan iba. Kalau Dia tidak sakit, ingin rasanya Dia merawat suaminya itu. Tapi, Dia juga tidak akan melakukan nya. Karena saat ini, rasa benci, kesal, kecewa karena dikhianati. Sudah menutup rasa cinta itu.


"Baik Pak, nanti kami akan beri obatnya." Jawab Dokter ramah. Kemudian Dokter menghampiri Mely yang nampak bengong melihat suaminya yang terkapar.


"Ibu jangan banyak pikiran. Fokus kesehatan, anak-anak Ibu menunggu di rumah." Ucap Dokter Tersenyum. Mengelus pelan lengan Mely.


"Terimakasih banyak ya Dok." Jawabnya lemah.


"Dok, ini ruangan sudah seperti bangsal saja. Sudah terlalu banyak orang sakit berkumpul dalam satu ruangan. Apa itu tidak bahaya Dok?" tanya Mama Maryam. Dia yang kesal kepada Rival. Tidak sudih melihat menantunya itu dirawat satu ruangan dengannya.


Mama Maryam benar-benar ilfeel saat ini kepada Rival. Jauh berbanding terbalik saat dulu Dia begitu bangga dan kagumnya kepada Rival.


Dokter menatap Mama Maryam dengan terseyum. Benar kata Mama Maryam, sebaiknya memang satu ruangan tidak perlu banyak pasien di rawat. Apalagi mereka orang kaya.


"Putri saya harus cepat sembuh Dok. Ada anaknya yang menunggu di rumah. Kalau satu ruangan ini, dirawat banyak orang sakit. Seperti Dia. Aku takut virus dan bakteri yang menyerangnya, akan tertular kepada putri saya juga." Ucap Mama Maryam ragu. Dia benar-benar tidak bisa menutupi rasa kesalnya kepada Rival, sehingga Dia tidak sudih melihat wajahnya.


"Menurutku akan lebih baik, apabila Dia dirawat di ruangan yang lain. Itu mungkin akan mempercepat penyembuhannya." Ucap Mama Maryam, yang membuat hati Rival sakit mendengarnya. Walau memang, yang dikatakan Mama Maryam ada benarnya. Tapi, cara Mama Maryam bicara itu. Penuh kebencian.


Dokter berjenis kelamin wanita itu tersenyum. Dia yakin, ada yang tidak beres dalam keluarga ini. Dia tidak mau ikut campur.


"Itu semua keputusan terserah kepada Bapak dan Ibu." Jawab Dokter masih menampilkan senyum manisnya.

__ADS_1


"Sus, coba nanti cek ruangan VVIP. Apa masih ada yang kosong? sesuai permintaan Ibu ini, Bapak Rival dirawat diruangan tersendiri." Ucap Dokter, melihat Rival yang menampilkan ekspresi wajah sedih.


__ADS_2