Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 acak-acak nomor


__ADS_3

Acara pun selesai, Yasir mengajak mantan teman-teman kerjanya untuk makan bersama di ruang khusus tamu VIP. Ruslan yang meneriaki nama Rili saat di panggung, membuat Rili dan Yasir mengetahui bahwa pegawai tempat kerjanya Rili dan Yasir dulu, ikut juga di acara itu. Dan Bella pun termasuk di dalamnya.


Semua teman, mengiyakan ajakan Yasir, kecuali Bella yang nampak tidak tertarik untuk ikutan. Tapi, iya tidak bisa menghindar, karena semua temannya mau ikut dengan ajakan Yasir.


Rili kini merasa tidak nyaman, karena dari tadi Bella menatapnya dengan tatapan tajam penuh kebencian.


Mereka nampak duduk mengitari meja bentuk bundar tersebut. Tentu saja Rili duduk tepat disebelah kanan Yasir. Ibu Rita duduk disebelah kanan Rili, diikuti oleh ibu mawar, Bella dan Ruslan serta Irma pegawai baru yang masih gadis, duduk disebelah kiri Yasir.


Irma yang baru melihat pasangan suami-istri Yasir dan Rili dibuat tercengang. Pasalnya Yasir menurutnya sangat tampan dan ramah.


Bella masih terus menatap Rili, tentunya Yasir mengerti arti tatapan Bela itu. Selain Bella yang selalu menatap Rili. Ada Ruslan juga yang matanya juga tidak pernah berkedip memandangi wajah Rili. Tapi, tatapan Ruslan tentu saja berbeda dengan tatapan Rili. Tatapan mata Ruslan penuh dengan cinta. Yang membuat Rili juga tidak nyaman dengan cara Ruslan menatapnya.


Ponsel Rili berdering di dalam Clutch Bag warna silver bertabur mutiara tersebut. Tangannya menjulur meraih clutchnya merogohnya untuk mengambil ponselnya.


Ternyata orang tuanya di kampung yang menelpon. "Siapa yang menelepon?" tanya Yasir pelan. Rili mendekatkan layar ponselnya kepada Yasir. "Oohh Ibu, mungkin mereka sudah sampai di rumah kita." Ucap Yasir dengan tersenyum yang membuat Rili bingung.


"Ya sudah angkat aja sayang." Ucap Yasir, menurunkan tangan kanannya yang dari tadi merangkul Rili dengan posesif.


"Aku ke luar ya sayang?" pinta Rili, tidak enak rasanya bicara di tempat itu. Yasir mengangguk. Rili pun bangkit dari duduknya, berpamitan kepada temannya dan berjalan cepat ke luar ruangan.


Sepeninggalan nya Rili, pesanan mereka pun datang.


"Rili makin cantik saja ya." Ucap Ibu Rita dengan terseyum, mulai mencicipi steak daging sapi pesanannya.


Yasir tersenyum mendengar pujian temannya itu.


"Ya makin cantiklah, dari Sononya juga sudah cantik. Ditambah perawatan tentu makin cantik. Iya gak Yasir?" ucap Ibu Mawar tertawa kecil. Yasir pun hanya tersenyum menanggapi nya.


"Kalau ada uang ma. Apa yang tidak bisa. Aduuhh beruntung sekali Rili dapat suami seperti mu Yasir." Ucap Ibu Rita dengan senangnya. Karena begitu banyak makanan yang berdatangan, sehingga meja mereka sudah full.


Yasir Kembali tersenyum menanggapinya. Sedangkan Bella tiba-tiba kselek. Karena saos cabe mata yang dimakannya beserta ikan gurami bakar, nyangkut di tenggorokannya, sehingga keluar dari hidungnya.


"Kamu kenapa kak?" tanya Irma, yang kini jadi teman akrab Bella. Seperti dulu, Rili pun pernah jadi teman akrab Bella. Tapi, karena laki-laki yaitu Yasir. Hubungan pertemanan itu hancur sudah.


"Itu karena Bella tidak terima karena kalah saing." Ucap Ibu Rita dengan gelak tawa. Yang membuat yang lainnya ikut tertawa. Bukan karena ucapannya yang lucu. Tapi cara Ibu Rita yang tertawa itu yang lucu sekali.


Ekspresi wajah Bella berubah jadi menyeramkan. Dia kesal jadi bahan olok-olok di tempat itu. Tidak seharusnya Dia ikut dalam acara ini. Yang akhirnya malah membuat dirinya malu sendiri.

__ADS_1


"Permisi..!" Ucapnya dengan intonasi tinggi. Dia marah dan kesal bangkit dari duduknya. Berjalan cepat ke luar ruangan.


Yang lainnya tertawa melihat kepergian Bella, hanya Yasir yang diam dan menyeruput TST nya.


"Aku permisi dulu." Kini Ruslan yang pamit meninggalkan ruangan itu.


Rili yang sudah selesai bertelepon dengan Mamanya itu, dikejutkan oleh suara Bella yang menahannya dengan memegang pundaknya dari belakang.


Rili sampai terlonjak dari tempatnya, mengetahui Bella yang menahan gerak langkah nya. Dia tahu temannya itu masih benci kepadanya. Karena Bella merasa Rili mempermainkannya.


Bella memutar tubuh Rili hingga mereka berhadapan-hadapan. "Hebat kamu sekarang ya wanita munafik." Ucap Bella menatap kesal Rili. Rili diam, memberikan kesempatan kepada wanita yang pernah akrab dengannya itu melupakan uneg-uneg di hatinya.


"Sudah jadi nyonya besar. Istri konglomerat, ilmu pelet mu mantap juga. Bisa-bisanya Yasir tunduk kepadamu. Padahal cantik Aku dari kamu." Ucap Bella sombong memperhatikan penampilan Rili yang jauh lebih berkelas darinya. Tapi, Dia tidak mengakui itu. Bella masih merasa dirinya yang paling hebat. Apalagi dulu saat mereka berteman. Rili sering kali di atur dan disuruh-suruhnya.


Rili tersenyum mengejek, Dia juga manusia biasa. Yang bisa jadi jahat kepada orang yang jahat kepadanya. Apalagi sekarang Dia sudah punya segalanya. Tidak ada gunanya masih bersikap baik kepada manusia jenis seperti Bella. Yang ada nanti malah diinjak-injaknya.


"Sudah selesai menilai diri saya? matamu pasti masih bagus menilaikan? kamu ngaca dulu, intropeksi diri sana. Kamu jangan seenaknya lagi kepada saya. Sampai saat tadi kita masih di ruang makan itu. Kamu masih saya anggap dan saya hormati sebagai teman. Tapi, Mendengar kamu bicara saat ini. Kamu sudah ku anggap bukan manusia lagi. Mungkin kamu jenis setan atau makhluk berkaki empat." Ucap Rili dengan membalas tatapan tajam Bella. Hati Rili merasa sakit mengatakan itu. Tapi, kesabarannya sudah habis. Setiap ada moment mereka bertemu. Bella pasti selalu merendahkannya. Itu yang membuat Rili geram.


"Camkan itu." Ucap Rili dengan mencoba menguatkan hatinya. Agar sanggup mengatakan kata kejam itu. Rili pun berbalik hendak meninggalkan Bella. Tapi, saat kaki kanan Rili melangkah. Dengan cepat Bella menyandungnya. Sehingga Rili hilang keseimbangan dan akan terjerembab.


Saat itu juga seorang pria menahan tubuh Rili dan menariknya, sehingga Rili jatuh kepelukan pria itu. Pria itu adalah Ruslan dan saat itu juga Yasir yang baru keluar dari ruangan, melihat moment dimana Ruslan sedang mendekap Rili dengan erat. Dan Rili pun mengalungkan tangannya di leher Ruslan. Karena Dia rakut terjatuh. Sempat Dia terjatuh bisa saja kandungan nya yang akan jadi celaka.


"RILI.... SAYANG----!" Yasir yang tadinya berjalan cepat, kini sudah berlari menghampiri istrinya yang kini sudah tidak lagi didekap oleh Ruslan.


"Ada apa ini? kenapa kamu memeluk Istriku?" Yasir nampak geram kepada Ruslan, beraninya Dia menyentuh tubuh istrinya itu. Hanya Dirinya yang boleh menyentuh istrinya itu. Yasir cemburu.


"Sayang, Yachay--- kamu tenang dulu. Ruslan tidak bersalah. Dia yang menolongku." Ucap Rili, berusaha menjauhkan Yasir dari Ruslan yang kini sudah berada sangat dekat dihadapan Ruslan. Sempat Ruslan salah bicara, maka Yasir yang sudah mengepalkan tangan itu, siap mendarat tinjunya di pipinya Ruslan.


"Apa maksudmu sayang?" Yasir menatap Rili dengan khawatirnya, yang kini memeluk tubuhnya dari samping.


"Tadi Aku hendak terjatuh. Kakiku saling menyilang. Syukur ada Ruslan yang menangkap ku." Ucap Rili dengan mencoba tenang, mengelus perutnya dan menatap ke arah Ruslan dan mengalihkan pandangannya kepada Bella yang sudah lari dari tempat. Dia lari ke kamarnya. Tidak memasuki ruang tempat makan lagi.


Yasir memperhatikan Ruslan dengan lekat, yang nampak sedikit kesal itu.


"Terimakasih banyak ya Ruslan. Kalau tidak ada kamu, mungkin Aku dan anakku akan celaka." Ucap Rili terseyum kepada Ruslan.


"Iya sama-sama." Jawab Ruslan, merasa kecewa. Harusnya Dia yang menjadi suaminya Rili. Karena Dia sudah melakukan pendekatan waktu itu dan tiba-tiba saja Yasir muncul lagi. Sehingga usahanya sia-sia sudah yang setiap dua kali seminggu membawa buah tangan martabak ke rumahnya Rili.

__ADS_1


"Oohh begitu. Terimakasih ya Ruslan." Yasir walau cemburu, masih mempunyai otak waras. Tidak langsung gegabah melampiaskan cemburunya. Dia sangat mempercayai Rili. Tidak mungkin Rili ada niat menggoda Ruslan.


"Ayo kita masuk lagi." Ajak Yasir, merangkul Rili dan sesekali mengusap perutnya Rili. Dia sangat khawatir kepada keadaan anaknya dalam kandungan istrinya itu.


Ingin rasanya Yasir langsung mengajak Rili memeriksa kandungannya. Tapi, ini sudah larut malam.


❤️❤️❤️


Di kota G.


Seorang pria yang sedang frustasi nampak menekan tombol ponsel, mengacak-acak nomor yang sekira cocok dengan nomor ponsel Istrinya. Dia adalah Rival, sedang meminjam ponsel Sekar untuk mencoba menghubungi nomor ponsel Mely yang Dia sendiri tidak tahu nomor ponsel Istrinya itu.


Setelah pulang dari danau, sesampainya di rumah waktu magrib sudah hampir habis. Sehingga Rival tidak sempat membeli ponel baru ke kota. Akhirnya setelah takziah Dia menggunakan ponsel Sekar untuk mencoba menghubungi Mely istrinya.


Itulah kelemahan Rival, selalu tidak mau menghapal nomor ponsel orang terdekatnya. Jangankan menghapalnya, mencatatnya juga tidak pernah.


"Sudah dong Bang, kalau tidak tahu nomor ponselnya kak Mely. Tidak usah acak-acak nomor lagi. Sudah lebih lima puluh nomor kita ajak dari peluang angka. Tetap tidak terhubung ke kak Mely. Dan kita sudah banyak mendengar umpatan orang yang kesal karena kita salah sambung." Keluh Sekar sambil berdecak kesal. Kini mereka bertiga beserta sang Ayah sedang berada di ruang keluarga.


"Kamu sih, kenapa tidak menyimpan no ponsel kakak iparmu." Rival malah menyalahkan Sekar.


Sekar menatap jengah kakaknya itu. Kenapa Dia malah disalahkan.


"Harusnya Abang sebagai suami, sudah hapal diluar kepala nomor istrinya." Sekar tidak mau disalahkan, Dia juga harus mencari kesalahan kakaknya itu.


"Iya, Abang salah. Setelah kejadian ini Abang akan menghapal semua nomor yang ada di kontak nantinya." Jawab Rival malas. Tangannya masih bekerja menekan nomor di ponsel. Maklum dulu ponsel belum ada touchscreen.


"Sudah, mana ponselku. Aku kantuk, mau tidur." Rengek Sekar dengan cemberut. Waktu sudah jam sebelas malam.


"Iya Dek, sekali lagi ya?" pinta Rival kembali mengajak nomor, berharap nomor yang di acak itu tepat nomornya Mely.


Tuuutttt.... Panggilan pertama telepon langsung masuk.


"Assalamualaikum..!" Ucap Rival ramah, Dia menatap Sekar yang ada dihadapannya.


"Walaikumsalam." Terdengar suara wanita yang lembut mirip suara Mely


"Yes....! tersambung dengan kakakmu." Ucap Rival dengan bahagainya.

__ADS_1


"Apa ini dengan nona Mely?" tanya Rival hati-hati. Dia menarik napas nya dalam. Tiba-tiba saja Dia merasa grogi, disaat orang yang ditelponnya suaranya mirip Mely. Dia yakin itu adalah istrinya yang sangat dirindukannya itu.


"Iya saya Mely. Ini dengan siapa?" tanya Mely.


__ADS_2