Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 Merasa tidak dicintai


__ADS_3

Mely memperhatikan dengan seksama perlakuan Yasir dan Rili kepada Rival. Sesaat Dia tersadar, bahwa suaminya itu memang tidak kembali kepada Rili. Tapi, Dia belum terima sikap Rival yang lebih mementingkan bertemu dengan mantannya daripada mengkhawatirkannya yang sedang hamil.


Hati Mely masih sakit jika mengingat, kejadian Rival yang pergi menjumpai Rili.


"Terimakasih banyak ya Yasir, Aku tidak menyangka kalian masih baik kepadaku. Padahal Aku sudah egois dan hampir menghancurkan kebahagian kalian." Ucap Rival sedih dan merasa bersalah. Dia memperhatikan satu persatu orang yang ada di ruangan itu dengan mata berkaca-kaca.


Mama Maryam menatap heran Rival. Dia merasa ucapan Rival sedikit janggal. Apa sebenarnya Mely dan Rival bertengkar. Makanya Mely kabur dari rumah?


"Karena kebaikan hatimu juga, saya bisa menemukan istri saya. Sempat saya berfikir hubungan kita akan rusak, karena kejadian empat bulan yang lalu. Tapi, ternyata kalian malah membantu saya." Rival merasa terharu, Dia sangat bersyukur masih diberi kesempatan memperbaiki rumah tangganya yang hancur karena ulahnya sendiri.


Mely bingung dan terheran-heran dengan sikap suaminya yang akhirnya sadar dengan kelakuannya yang tidak dewasa itu. Tapi, Dia masih kesal kepada suaminya itu.


"Iya Bang Rival, saya juga pernah hutang nyawa kepada Abang. Kita sebagai sesama memang harus saling membantu." Jawab Yasir tersenyum. Dia merangkul Rili yang berdiri disebelahnya. Sikap Yasir itu membuat Rili kikuk dan malu. Bisa-bisanya Yasir masih sok romantis dihadapan orang lain.


Mely hanya melongok melihat pasangan yang begitu mesra dihadapannya. Dia kapan dicintai seperti itu. Tak terasa air matanya menetes tanpa permisi, Dia pun dengan cepat melapnya. Tapi, Rival sudah terlanjur melihat Mely yang menitikkan air mata itu.


Rival mendekat kepada Mely. "Adek sudah lapar ya? Mas suap ya?" ucap nya lembut, jangan sempat Mely menolak semua perlakuannya dihadapan Yasir dan Rili. Dia pasti akan malu sekali.


Mely diam, dan membuang tatapannya kepada bayinya yang masih terus saja tertidur. Rival menghela napas kasar. Bagaimana caranya agar Mely kembali respect kepadanya.


"Suap aja Rival, setelah itu kamu mandi dan beli perlangkapan anak dan istrimu." Titah Mama Maryam, yang sedang menyiapkan makanan Mely yang dibelikan oleh Yasir. Mely tidak selera melihat makanan dari rumah sakit.


Mama Maryam menyodorkan makanan Mely kepada Rival. "Makan yang banyak ya sayang, agar ASI mu cepat keluar." Ucap Mama Maryam mengelus kepala Mely. Mely mengangguk.


Rival pun mulai menyuapi Mely. Yang lauknya adalah sup daging sapi. Dengan canggung Mely menerima suapan suaminya itu dengan menitikkan air mata. Hatinya masih merasakan sakit, karena selalu tidak dianggap dan dicintai oleh Rival.


Rival pun tidak banyak bertanya lagi. Belum saatnya menanyakan semuanya, termasuk alasan Mely menghilang.


Sedangkan Yasir dan Rili nampak romantis makan saling suap menyuap. Pemandangan romantis dihadapan matanya, membuat Mely semakin terisak, sambil mengunyah makanannya yang membuatnya jadi tersedak.


Rival langsung menyodorkan gelas berisi air kepada MeLy. Mely melirik suaminya itu, Rival tersenyum dan mendekatkan gelas ke mulut Mely yang berisi air tersebut, Mely pun meneguk minuman itu.

__ADS_1


Setelah selesai makan, Rili membereskan sisa makanan mereka. Yasir dan Rili keluar membuang sampah sisa makanan mereka. Sekalian mereka akan menjenguk Pak Firman.


Tiba-tiba saja si kembar menangis kencang secara bersamaan, yang membuat Rival panik. Hanya Mama Maryam yang nampak tenang.


Rival langsung bergerak menggendong putrinya, sedangkan Mama Maryam menggendong cucunya yang berjenis kelamin laki-laki itu.


Mama Maryam meminta Mely untuk menyusui anaknya. "Ma, tapi belum ada air nya." Ucap Mely dengan sedih.


"Iya, tidak apa-apa itu, sekalian dirangsang biar keluar ASI nya. Mama akan buatkan susu untuk mereka." Mama Maryam bergegas membuat susu untuk kedua cucunya itu.


Rival yang menggendong putrinya, mendekat ke arah Mely. Dari tadi Dia ingin mandi. Tapi tidak jadi karena repotnya mengurus Mely dan anak-anaknya.


"Cup.... cup.... cup... Putri Ayah yang sangat cantik, jangan menangis lagi ya!?" ucap Rival sambil mengayun-ayunkan putrinya dalam gendongannya.


"Sabar ya sayang, Abang dulu yang mimik susunya, setelah itu giliran princess." Rival mengajak anaknya bicara dengan senyuman yang selalu menghiasi wajahnya. Dia begitu bahagia sekali. Ternyata, Dia masih bisa menemani istrinya melahirkan. Setidaknya rasa bersalahnya, kepada Mely berkurang.


"Dek, kenapa?" tanya Rival, melihat istrinya itu sedikit meringis kesakitan. Mely hanya diam, tidak menjawab Rival. Dia merasa sedikit kram di perutnya. Ternyata darah yang menggumpal keluar. Sehingga Dia merasa sedikit risih dibagian bawahnya.


Rival juga melakukan hal yang sama setelah Dia menerima botol susu dari mertuanya itu.


Saat memberikan susu formula kepada putrinya, Rival selalu mengajak putri nya itu bicara. Sikap Rival itu membuat hati Mely tersentuh. Karena Rival nampak begitu menyayangi putrinya itu. Tidak apa-apa dirinya tidak dicintai suaminya itu, setidaknya anaknya masih merasakan kasih sayang Ayahnya.


Setelah minum susu dan menyendawakannya putrinya itu pun langsung tertidur. Dia meletakkan anaknya di box bayi dengan penuh kehati-hatian. Dan mengecup pipi putrinya yang masih memerah itu


Kemudian Rival meminta putranya kepada Mama Maryam. Dia menggendong anaknya sambil melantunkan ayat suci Al-Qur'an. Tak butuh lama putranya itu pun tertidur.


"Ma, Aku ingin pipis?" ucap Mely.


"Rival antar istrimu ke kamar mandi." Titah Mama Mely yang sedang sibuk mengupas buah apel.


Perintah Mama Maryam adalah suatu kebahagiaan buat Rival, setidaknya Dia akan berkomunikasi dengan istriya itu.

__ADS_1


Dia pun meletakkan putranya di box dengan penuh kehati-hatian dan mengecup pioit anaknya itu. Dan Dia berjalan cepat menghampiri Mely yang masih cemberut kepadanya.


Tanpa banyak cerita Rival langsung melingkarkan tangan kanannya di punggung Mey dan tangan kirinya di bawa kedua paha Mely. Dia pun menggendong Mely ala bridal style. Mely hanya menampilkan ekspresi tidak suka. Rival pun hanya tersenyum menanggapinya.


"Kamu mau apa? jangan sentuh saya." Ucap Mely ketus dan menepis tangan Rival yang ingin membantunya melepas celana yang dikenakan Mely.


"Mas hanya ingin membantu Adek. Tolong, jangan membenci Mas. Dengan kamu menghilang selama empat bulan sudah membuat Mas defresi." Ucap Rival dengan mata berkaca-kaca dan memandangi wajah Mely yang juga ingin menangis yang berdiri dihadapannya.


"Defresi? kami defresi pasti Karena tidak bisa kembali kepada mantan istrimu itu kan? malang sekali nasibmu. Sudah tidak dicintai, tapi masih ngotot ingin bersama. Ciiuuhhh memalukan." Ucap Mely dengan penuh kebencian.


"Besok jangan ku lihat lagi wajahmu dihadapanku. Aku tidak butuh pria tidak punya perasaan dan plin plan sepertimu. Sana kamu keluar, kamu dan Ayah kan ingin cari istri lagi.


Sana kamu cari lagi. Kamu kan sudah kaya sekarang, pasti banyak cewek yang mau jadi istri ketigamu. Sekalian saja kerjamu kawin terus." Ucap Mely sambil menangis mengusir Rival dari dalam kamar mandi itu. Cara bicaranya Mely pun sudah seperti preman pasar yang memakai tutur sapa kamu dan Aku.


Ucapan Mely itu membuat hati Rival begitu sakit. Dia pun tidak bisa membela dirinya. Karena memang yang dikatakan Mely itu benar adanya.


Pertengkaran Mely dan Rival terdengar oleh Mama Maryam. Dia pun menangis, dibalik pintu kamar mandi. Karena, teringat Almarhum Pak Ali yang baru meninggal empat hari. Mely sempat mengungkit ucapan Pak Ali yang mengatakan akan mencari istri lagi untuk Rival.


Bagaimana reaksi Mely jikalau tahu Ayah tirinya itu sudah tiada? memikirkan itu membuat Mama Maryam semakin sedih ditambah ternyata putrinya itu kabur dari rumah, bukan karena sifat kaburnya kumat. Tapi, karena bertengkar dengan Rival menantunya. Begitulah kesimpulan Mama Maryam, dari hasil Dia menguping dibalik pintu kamar mandi.


"Mas minta maaf, iya Mas salah. Mas khilaf. Jangan hukum Mas lagi dengan bersikap seperti ini. Mas baru sadar kalau Mas sangat mencintaimu." Ucap Rival meraih Mely kedalam pelukannya.


Mely berontak ingin lepas dari pelukan suaminya itu. "Kamu tidak pernah mencintaiku. Tidak ada diriku dan namaku di dalam sini. Mulut mu itu pendusta." Ucap Mely sambil menunjuk-nunjuk dada nya Rival.


Rival menangkap tangan Mely yang menunjuk-nunjuk dadanya. Dia menggenggam tangan Mely. "Mas akan buktikan kalau Adek seorang yang ada disini sekarang dan selamanya." Ucap Rival meraih wajah Mely yang berpaling. Sehingga kini mereka bersitatap.


"Kamu pikir Aku ban serap, tidak dapat yang disana kamu kembali kepadaku." Ucap Mely terisak.


"Mas benar-benar mencintai mu dan anak-anak kita. Mas hanya telat menyadarinya dan merasa bersalah kepada Rili. Kalau Mas tidak mencintaimu. Mas pasti tidak akan mencarimu. Mas pasti akan mencari wanita lain. Sampai disini kamu paham gak sih dek?" ucap Rival dengan nada bicara sedikit tinggi.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2