
POV Rival ❤️
Aku harus cepat menyelesaikan pekerjaanku. Karena malam ini Aku akan mengunjungi Mely di Canberra. Satu harian ini setiap satu jam sekali Dia pasti menelpon, menanyakan apa yang ku lakukan, sekaligus mengingatkan Aku harus pulang malam ini. Dasar Mely, sikapnya yang childist kadang membuat jengkel, tapi sangat menghibur.
Rasanya perjalanan kali ini menuju Australia sangat lama. Entahlah, mungkin karena Aku terlalu merindukan istriku dan juga pergerakan sikembar di perutnya. Mereka benar-benar anak-anak yang baik, yang tidak menyusahkan Ibunya sama sekali. Tapi, diriku yang kena sialnya. Karena Aku yang mengalami penderitaan saat Mely mengandung anak kami.
Dua bulan terakhir ini walau kami menjalani hubungan long distance relationship. Tapi, Komunikasi kami tak pernah putus. Mely benar-benar wanita yang tangguh. Aku bersyukur bisa berjodoh dengannya.
Rili, apa kabarnya Dia. Dia adalah wanita yang tidak akan bisa ku lupakan seumur hidupku. Karena mengenal dirinya, perjalanan panjang hidupku dimulai. Identitas diriku terkuak setelah Dia hadir dalam hidupku.
Aku sangat yakin, Dia sudah sangat bahagia bersama Yasir. Sudah saatnya diriku juga bahagia. Sebentar lagi Aku akan mempunyai anak kembar. Maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan? Tidak ada Ya Allah.
"Assalamualaikum....!" ucap ku dengan menampilkan ekspresi wajah yang begitu bahagianya, dihadapan istriku Mely yang sangat ku rindukan. Dia ternyata sudah menyambutku di beranda rumah kami.
"Walaikumsalam Mas...!" ucapnya tersenyum dan langsung memelukku. Dia membombardir wajahku yang kusam dengan bibir kenyalnya. Maklumlah selama di dalam pesawat Aku tertidur pulas. Dan perjalanan dari bandara ke rumah. Aku sama sekali tidak membersihkan wajahku dengan tisu basah.
Aku memasrahkan diriku di obok-oboknya setelah kami memasuki kamar. Mungkin Dia sudah sangat merindukanku. Entahlah, sikapnya yang agresif sangat ku sukai.
"Anak Ayah apa kabarnya?" Aku mulai menyapa anak kembar ku. Mengelus pelan perut Mely dan mencium perut yang sudah buncit itu dengan sayangnya.
Saat Aku mengusap-usap dan menciumi perut Mely tak lupa ku lantunkan ayat suci Al-Qur'an. Berharap anakku lahir kelak menjadi anak yang Sholeh dan Sholeha. Hatiku akan menghangat seribu kali lipat, disaat Aku merasakan mereka meresponku. Pergerakan mereka membuat perut Mely bergoyang-goyang. Sungguh mereka sangat aktif.
"Anak-anak mu sudah sangat merindukanmu Mas. Lihatlah, mereka langsung demo di perutku." Ucap Mely, ikut mengelus perutnya dengan lembut.
"Iya sayang, Mas juga sangat merindukan mereka. Apalagi Mamanya, Mas rindu sekali." Ucapku tersenyum dan mengedipkan sebelah mataku yang membuat Mely tersipu malu. Jarinya bergerak mentoel hidungku. "Aku gemes." Katanya dan langsung mendekap tubuhku yang polos. Akhirnya pertempuran kedua kalinya pun terjadi dengan durasi cukup lama. Karena rindu yang membuncah belum tuntas diluapkan.
__ADS_1
🌻🌻🌻
Akhirnya hari yang membahagiakan untuk kami pun tiba. Sudah satu tahun kami menikah dan saat ini usia kandungan Mely menginjak lima bulan.
Aku tersenyum dan tertawa dalam hati, disaat kejadian satu tahun yang lalu melintas dibenakku. Saat itu kami menikah siri di kantor Polisi. Aku tidak menyangka, bahwa kami masih tetap bersama seperti saat ini.
"Yuk Mas, berangkat..!" ucap Mely membuyarkan lamunanku. Aku sedang duduk dibibir ranjang menunggunya selesai di rias.
Dia sangat cantik malam ini dengan make up minimalis dan rambutnya yang di gerai memanjang. Hanya saja Aku kurang suka dengan gaun yang dikenakan nya. Material gaun yang dikenakan Mely terlalu mencetak lekuk tubuhnya. Itu membuat mataku sedikit risih melihatnya. Ya, mau gimana lagi. Katanya Dia suka gaunnya. Enak dipakai.
Mely menggandeng tanganku dengan manjanya, kemudian kami keluar dari kamar hotel tempat kami menginap. Di Hotel ini juga acara resepsi pernikahan kami diadakan.
Saat ingin memasuki ballroom, tempat acara kami diadakan. Tiba-tiba saja perasaan ku jadi tidak tenang. Aku merasa khawatir dan nervous.
"Mas grogi, Mas demam panggung sepertinya." Ucapnya lagi tersenyum kecil. Dia memelukku seolah memberi penguatan.
"Entah ni, Mas merasa seakan ada bahaya atau hal yang menakutkan akan terjadi disana." Ucap ku, seraya membalas dekapannya. Sekilas ku mengelus perut istriku. Aku ingin mendapatkan semangat dari anak-anak ku.
"Tenang sayang, nanti Adek akan terus menempel disisi Mas. Jadi Adek nanti bisa jadi juru bicara Mas. Disaat rekan bisnis Ayah ajak Mas komunikasi pakai bahasa Inggris." Ucap Mely mencoba menduga-duga, hal yang ku takutkan di acara kami ini.
Ya ku akui, Aku belum lancar komunikasi pakai bahasa asing dan perbendaharaan kataku pun sedikit. Jelas ini salah satu kendala yang akan ku hadapi malam ini. Tapi, Aku seolah merasa akan terjadi hal buruk yang akan mengganggu kehidupanku. Dan Aku tidak tahu itu.
Kami memasuki ruang acara itu diadakan. Suara dentuman musik membuat acara riuh. Ruangan itu dihias begitu indahnya. Seluruh ballroom hingga pelaminan tertutup jutaan bunga yang didominasi warna putih, terasa klasik namun romantis dan tak lekang oleh waktu. Aku sangat menyukai dekorasinya.
Aku dan Mely menghampiri Ayah. Dengan terseyum ramahnya Ayah mengenalkanku kepada Rekan bisnisnya. Aku menjabat tangan para tamu dengan mencoba bersikap tenang dan ramah. Pasalnya Aku sedang berusaha menenangkan hatiku yang tiba-tiba berdetak terus. Ini rasanya aneh sekali.
__ADS_1
Mely meninggalkanku, karena Ibu mertua memanggilnya. Ternyata sudah banyak kumpulan Ibu-ibu menungggu kedatangan istriku yang cantik itu. Dia mengecup pipi ku sekilas. Dia tahu Aku sedang dilanda rasa tidak percaya diri. Jadi Dia seperti berat hati untuk meninggalkanmu dan bergabung dengan istri-istri pengusaha dan pejabat di Kota yang indah ini.
Sepeninggalan nya Mely, rasa was-was yang ku rasa semakin serius saja. Aku mencoba merilekskan tubuhku dengan berfikir positif. Kemudian Aku menarik napas dalam. Kegiatan itu ku ulang-ulang sampai Aku merasa sedikit rileks.
Aku menyoroti setiap ruangan, memperhatikan tamu undangan Ayah yang semuanya tidak ada yang ku kenal. Aku sungguh tidak bisa menikmati pesta pernikahan kami ini. Mau ikut nimbrung dengan Ayah, Aku tidak percaya diri. Karena Aku belum bisa bahasa asing. Aku hanya bisa sedikit bahasa Arab.
Tapi mata ku tertarik ke satu gerombolan tamu. Mereka seperti nya orang Indonesia. Merasa punya kawan, Aku pun bergegas ke gerombolan manusia itu dengan semangatnya. Ternyata tamu Ayah banyak juga warga negara Indonesia.
Tiba-tiba saja Aku merasa tangan kananku di pegang seseorang dari belakang dengan kuatnya. Dengan penasarannya Aku membalik badanku dan...
Deg.......
Deg.....
Deg.....
Rasanya jantungku hendak lepas dari tempatnya, melihat siapa yang menahan langkahku. Jantungku seolah bermasalah, kini degupannya semakin cepat saja terasa disaat mata ini mencari sosok seorang wanita disekitar pria yang menarik tanganku. Tapi, mata ini tidak berhasil menemukan sosok wanita yang ingin ku lihat itu.
Dimana Dia, kalau pria ini ada juga di pesta ini. Tentu wanita itu juga pasti bersamanya. Hatiku menduga-duga dalam keterpakuanku. Tidak mendapati keberadaan wanita yang ingin kulihat disisi pria yang dihadapan ku.
Aku mencoba menghempaskan tangan yang memegang tanganku. Kami bersitatap, sungguh tatapan nya seperti ingin memakanku saja.
""Aa..bang Rival?" ucap pria itu dengan suara bergetar. Matanya seolah mencari-cari seseorang disekitar ku. Entahlah Aku jadi bingung melihat ekspresi pria dihadapan ku sekarang yaitu Yasir Kurnia.
TBC.
__ADS_1