
Kalian kenapa menanyakan Bos Yasir
terus?" Tanya Hendrik dengan bingungnya.
"Gak pa2. Kira-kira kapan Abang Yasir ke sini lagi bang?" Tanya Rili kepada Hendrik.
"Sesuai jadwal dua Minggu lagi bos Yasir akan memantau perkembangan hotelnya kembali." Jawab Hendrik dengan selalu tersenyum kepada Rili.
"Ngomong-ngomong ada urusan apa kalian dengan Bos Yasir?" Tanya Hendrik kepo.
Rili diam saja, dia tidak se PD itu mengakui dirinya adalah pacarnya Yasir yang ditinggal pergi begitu saja tanpa ada kabar.
"Jadi begini bang." Windi menceritakan semuanya kepada Hendrik mulai dari Yasir yang menjadi PNS baru di tempat mereka bekerja dan setelah enam bulan Yasir mengungkap perasaannya dan kejadian di pulau dimana Bella mencoba melenyapkan Rili karena terobsesi dengan Yasir.
Hendrik terkejut mendengarnya. Wajahnya yang tampan mendadak menjadi tegang sekaligus kecut.
"Apakah wanita yang diajak Bos Yasir makan malam sekitar 4 bulan yang lalu ke hotel ini adalah kamu Rili?" tanya Hendrik dengan penasaran, mata Hendrik tidak lepas dari wajah cantiknya Rili.
"Iya bang." Ucap Rili dengan melihat Hendrik dan kembali wanita itu melihat ke arah Windi yang disebelahnya.
"Koq Abang tahu?" tanya Rili dengan wajah terkejut.
"Ya tahulah, semua koki di restoran ini dibuat heboh dengan menunya. Masak harus ada menu sate bumbu kacang. Padahalkan di Hotel ini mana ada menu seperti itu." Ucap Hendrik dengan sedikit kesal.
"Itukan makanan kesukaanku." Jawab Rili dengan sedih. Moment acara makan malam yang sangat romantis itu terlintas kembali dipikiran Rili. Sehingga tanpa permisi air matanya jatuh dipipi putihnya tersebut.
"Bisakah aku melupakanmu? walau hanya sebulan kita menjalani hubungan, tapi begitu banyak hal yang sangat membekas di hati. Perhatianmu, kasih sayangmu, cemburumu. Mengingat itu semua, aku tak habis pikir kamu meninggalkanku begitu saja tanpa ada kabar." gumam Rili.
"Jadi kamu pacarnya Bos Yasir? waahh.... waahh... waahh... Kamu hebat Rili. Udah jelas aku kalah saingan. Padahal aku suka loh samamu, tapi karena aku perhatikan kamu nampak cuek gitu jadi aku takut deketin kamu." Ucap Hendrik dengan melihat ke arah Rili.
"Katanya takut deketin Rili, tapi koq saat ini Abang ngomongnya ceplas-ceplos. Ucap Windi sambil memukul lengan sepupunya itu.
"Iya, aku berani karena ada kamu Windi. Ucap Hendrik dengan sedikit malu, nampak sekali dari ekspresi wajahnya yang nampak memerah, karena memang Hendrik berwajah oriental.
"Jadi status kamu dan Bos Yasir gimana?" tanya Hendrik kepada Rili.
__ADS_1
"Status pacar yang ditelantarkan" Ucap Windi.
Mendengar ucapan sahabatnya tersebut, membuat hati Rili berdenyut. Windi memang kadang tidak bisa menyaring ucapannya.
"Ngomongnya apa tidak bisa lebih menyakitkan lagi? aku merasa sedang kamu olok-olok Windi." Ucap Rili dan hendak melangkahkan kakinya ingin pergi dari tempat itu.
Windi menghentikan Rili yang hendak beranjak dengan menahan tangannya. Memang wanita yang lagi patah hati cendrung lebih sensitif.
"Duduklah dulu. Maaf ya! habis aku kesal banget sama si Yasir itu. Main pergi aja tanpa ada kabar, mana di acara tadi dia duduk mesra dengan seorang wanita. Kalau tidak suka langsung di bilang aja ya kan? Ini main hilang begitu saja." Ucap Windi dengan merepet.
"Bang, dua Minggu lagi kan jadwal Abang Yasir ke sini. Kalau dia datang kabari nanti ya bang." Ucap Rili.
"Ok. Abang akan bantu kamu ketemu dengan Bos Abang yang baik hati itu. Ini udah mau magrib. Kita pulang aja yok!" Ajak Hendrik.
"Ayok!" Jawab Windi.
"Kita pulang bareng aja." Ucap hendrik sembari berdiri dari posisi duduknya.
"Kami bawa motor bang." Ucap Windi.
"Motorku, Rili tadi naik angkot ke rumah bang." Jawab Windi.
"Kalau begitu, Abang pulang bareng sama Rili dan kamu Windi naik motor aja, kan Rumah Abang dan Rili searah. Ucap Hendrik dengan menyenggol bahu sepupunya tersebut. ya, sekarang mereka sedang berjalan menuju tempat motor Windi diparkir. Hendrik dan Windi bersebelahan sedangkan Rili disebelahnya Windi.
"Gak usah bang, aku naik motor aja sama Windi." Ucap Rili. Dia lagi malas dekat dengan pria. Ditambah bila harus pulang berdua dengan Hendrik, nanti mamanya pasti banyak pertanyaan.
Tiba-tiba cuaca mendung, kilatan nampak terang diatmosfer menandakan sebentar lagi akan hujan. Duarrr... duarr... duarr..... suara petir sangat kuat terdengar saling bersahutan.
"Sepertinya akan terjadi badai. Kalau gitu kalian naik mobil Abang aja. Motormu Windi kita titip di hotel saja. Besok pulang kerja kamu kesini jemputnya naik angkot." Ucap Hendrik. Entah kenapa Hendrik masih penasaran dengan kisah bos nya dengan Rili.
"Ok lah. Ini kunci motorku." Ucap Windi.
"Kalian tunggu di loby aja. Ini udah mau turun hujan, Abang ambil mobil dulu sekalian mau ke ruangan Abang bentar ada yang ketinggalan." Jawab Hendrik sekalian melajukan motor Windi yang akan dititip di hotel.
Kini Rili dan Windi nampak menunggu Hendrik di pintu masuk Hotel. Hendrik berhenti tepat di depan kedua wanita itu. Rili dan Windi masuk ke dalam mobil Hendrik berwarna silver merk Honda CRV tersebut. Meraka duduk di bangku belakang supir.
__ADS_1
"Rili, kamu duduk di depan aja ya?" Ucap Hendrik sambil melirik Rili dari kaca spion.
"Gak usah bang, disini aja." Jawab Rili dengan malasnya.
"Ya, aku seperti supir kalian dong?" Ucap Hendrik dengan kesal.
"Buruan jalan bang? Gak usah tebar pesona dulu dech. Dari tadi gelagat Abang seperti mau deket-deket Rili." Ucap Windi to the point.
"Kalau ia mang kenapa?" Ucap Hendrik sambil melajukan mobilnya.
"Abang amnesia ya? Rili itu kekasihnya bos Abang. Jelaslah Abang kalah saing." Jawab Windi dengan kesal.
Rili yang mendengar perdebatan keduanya memilih diam saja. Dia sudah tidak tertarik untuk berbicara. Dipikirannya melintas kembali tontonan yang dilihatnya tadi siang, seorang wanita cantik yang merangkul lengan Yasir dengan begitu manja. Walau sang pria atau Yasir saat itu tampak biasa saja dengan perlakuan manja dari wanita yang disebelah Yasir.
"Apakah itu istrinya Abang Yasir?" Tiba-tiba kalimat itu keluar dari mulut Rili tanpa disadarinya.
Windi yang mendengarnya langsung menoleh ke arah Rili. "Kamu ngomong sama siapa?" Tanya Windi bingung.
"Apa Abang Yasir sudah menikah?" Tanya Rili kepada Windi.
"Mana ku tahu. tapi dari yang ku lihat tadi sepertinya itu istrinya dech." Ucap Windi.
Mendengar ucapan Windi, hati Rili kembali terasa sakit. Wanita itu tidak ingin menangis, namun tiba-tiba air mata keluar dari kelopak matanya. Rili dengan segera melap air mata yang jatuh di pipinya tersebut dengan jari tangannya. Kemudian wanita itu mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela mobil.
Ternyata Hendrik yang tidak kedengaran lagi suaranya, diam-diam memperhatikan Rili dari kaca spion. Entah kenapa tiba-tiba pria itu merasa iba kepada Rili.
Suasana di dalam mobil menjadi hening. Windi pun tidak mau mengoceh lagi karena dia melihat Rili sudah baper dan sensitif. Windi takut salah kata, yang nantinya bisa membuat Rili makin terpuruk.
Ciiiiiitttttt...... Hendrik dengan cepat ngerem mobilnya, karena tiba-tiba ada kucing yang menyebrang. Hampir saja Hendrik menabraknya. Jalan yang basah karena hujan membuat jalan jadi licin, sehingga saat Hendrik ngerem mobilnya dengan cepat membuat mobil oleng sedikit, tapi Hendrik masih bisa mengendalikannya. Sedangkan Rili yang posisinya sedang melihat ke luar jendela, jidatnya terbentur ke badan mobil..
"Auwuuhhh.... sakit." Ucap Rili sambil memegang jidat nya yang bengkak karena terbentur badan mobil.
Bersambung
Beri like, coment, vote dan jadikan novel ini sebagai favorit.
__ADS_1
Terimakasih..