
"Ayo Abang Rival sayang, saya tuntun Abang berjalan. Kita akan ke surga dunia." Ucap Rayati, senyuman kepuasan lolos dari bibirnya yang berwarna merah menggoda.
Dia merangkul Rival, menuntun Rival berjalan ke luar dari pintu belakang rumah makan itu. Rayati yang sudah mengajak kerja sama para pelayan rumah makan, dengan gampangnya membawa Rival keluar dan menuntunnya jalan ke mobil ya g sengaja di rentalnya.
Rival yang sudah horny karena obat perangsang sudah mulai bekerja itu. Sudah mulai bicara tidak konsentrasi dan tidak fokus. Dia pun sudah mulai bicara aneh-aneh. Bahkan bibir dan tangannya sudah mulai nakal menciumi tubuh Rayati. Yang merangkulnya dan menuntunnya berjalan.
"Sayang, istriku Mely. Aku minta maaf. Aku sangat mencintaimu. Sangat merindukanmu." Ucapnya menciumi pipi dan bibir Rayati yang sedang merangkul dan memapahnya ke mobil yang parkir di belakang rumah makan.
Bahkan tangan Rival langsung menangkup gunung kembar Rayati, tentu saja Rayati senang bukan main di gerayangin oleh Rival seperti itu. Hatinya senang tak terkira. Dia akan merasakan kenikmatan yang ditunggunya lama.
Dia pun sempat mengutuk dirinya, yang bodoh, kenapa dari dulu Dia tidak menjebak Rival.
"Sayang, Mely...!" ucap Rival dengan suara parau, birahi yang tersulut harus segera disalurkan. Rival yang dalam rangkulan Rayati. Menenggelamkan kepalanya di dada wanita hilang akal itu. Menggesekkan kepalanya ke bukit kembar Rayati yang kenyal itu.
"Sabar ya sayang, sebentar lagi kita akan melakukannya." Ucap Rayati manja.
"Iya, Aku sudah sangat merindukanmu. Sudah lama kita tidak melakukannya. Sudah empat bulan." Ucap Rival, mulai mencoba fokus melihat wajah wanita dihadapannya sambil menghitung jarinya.
"Iya, empat bulan." Rival menunjukkan jemarinya kepada Rayati. Dengan wajah merah padam. Dia pun mulai membuka kancing kemejanya satu persatu.
Suhu tubuhnya sudah dirasa tidak teratur, gerah / resah. Rival sudah horny atau *****.
"Kenapa wajahmu berubah sayang, kenapa seperti wajah si Rayati wanita tidak waras itu." Ucap Rival dengan tertawa kecil. Dia senang mengatai wanita itu, Dia pun mulai mengucek-ucek kedua matanya. Ternyata selain terangsang. Dia juga seperti orang mabuk, hilang kendali diri.
__ADS_1
Rayati kesal bukan main dibilang tidak waras, Dia menghempaskan dengan kasar tubuh rival ke atas ranjang, setelah Dia bersusah payah memapahnya untuk masuk ke dalam kamar losmen yang disewanya.
"Enak saja saya dikatain wanita tidak waras. Kamu menganggap Aku istrimu tidak apa-apa. Tapi, jangan mengatain Aku dong." Ucap Rayati, menyiapkan sebuah kamera, yang akan digunakannya untuk merekam aksi mesum itu.
Rival yang terkapar di atas ranjang, mencoba bangkit, disaat dirinya melihat Rayati sudah dalam keadaan polos tanpa sehelai benangpun di tubuhnya.
Dia berdiri, mencoba mendekati Rayati dengan libido yang tidak bisa dikendalikannya. Dengan cepat Dia menarik Rayati kepelukannya. ******* bibir wanita gila itu dengan rakusnya. Sesuatu yang aneh di dalam dirinya harus dituntaskan.
Rival juga meraih tangan Rayati, menempatkannya di bagian bawahnya. Dengan senang hati Rayati menggesek-gesek bagian yang menonjol dan keras itu. Walau bagian itu masih ditutupi celananya Rival.
"Kenapa bibir ini rasanya berbeda?" tanya Rival, memukul-mukul pelan bibir Rayati. Rival merasa bibir yang dilu*matnya, rasanya tidak seperti bibir Istrinya Mely yang terasa manis dan lembut saat dilu*mat.
Rayati hanya diam tidak menanggapi Rival yang bicara tidak fokus itu. Tapi tangannya dibagian bawahnya Rival bekerja terus yang membuat Rival sudah tidak tahan untuk pelepasan.
"Mely sayang, istriku. Kenapa kita melakukan ini. Bukannya kamu baru saja melahirkan?" Ucap Rival seperti orang mabuk, masih berusaha menahan dirinya agar tidak melakukan itu. Karena dipikirannya istrinya baru tujuh hari melahirkan. Tentu itu belum boleh dilakukan.
Entah jenis perangsang apa yang diberikan Rayati kepada minimun Rival. Yang jelas saat ini selain horny. Rival merasa seperti borang mabuk. Tidak sadar sama sekali apa yang diucapkan dan dilakukannya. Intinya Dia harus pelapasan. Dia harus orgasme.
"Kita bisa melakukannya, tapi pelan-pelan sayang." Bisik Rayati di telinga Rival yang kini sudah tenggelam di bukit kembarnya. Bahkan Rival sudah bermain-main di pucuk gundukan kenyal dan besar miliknya Rayati.
"Sayang, kenapa ini warnanya gelap sekali, koq hitam dekil begini dan tidak rata. Seingat Mas, punya Adek warnanya coklat ke pink pink an gitu dan put*ingnya tidak besar dan kasar begini." Ucap Rival, membandingkan pu*tingnya Mely dengan Rayati. Pasalnya pu*tingnya Rayati bergerigi, seperti terbelah-belah.
Mendengar celotehannya Rival membuat Rayati sedikit geram juga. Kenapa Rival cerewet sekali. Semua yang ada pada dirinya, diprotes abis. Rayati jadi tidak percaya diri.
__ADS_1
Wanita gila yang tidak pernah jerah itu pun, harus cepat menyelesaikan ini semua. Dia pun dengan agresif merangsang anacondanya Rival, yang membuat Rival sungguh tidak tahan lagi.
Dia pun kembali melu*mata bibirnya Rayati, mendorongnya dengan kasar, sehingga Rayati terjatuh ke tempat tidur. Tentunya sudah dalam keadaan polos tanpa sehelai kain pun.
Dia langsung mengangkang kakinya. Yang membuat Rival menjadi tidak tenang. Saat ini yang ada dipenglihatan matanya adlah Mely istrinya. Bukannya Rayati.
Dia yang sudah merindukan istrinya itu, sampai tidak menyadari kalau yang bersamanya adalah Rayati si wanita gila.
Dengan tersenyum Rival melucuti sendiri semua pakaiannya. Sehingga kini tubuhnya polos dihadapan Rayati.
Rayati menjulurkan tangannya, sudah siap sedia membawa Rival kepelukannya, merasakan nikmatnya surga dunia. Dan moment ini akan dibuatnya untuk menghancurkan rumah tangganya Rival. Dia juga akan memporoti harta kekayaan Rival.
Rival pun mendekati Rayati, menimpah tubuh Rayati yang tergolong berisi itu. Yang membuat Rayati mendorong tubuh Rival. Dia merasa tubuh Rival berat.
Rival pun sadar caranya itu salah. Akhirnya Dia hanya menimpa tubuh Rayati setengah. Dia pun mulai mencumbu Rayati. Tapi dipikirannya Dia sedang melakukannya dengan istrinya Mely.
Empat bulan berpisah dengan Mely, tentu Dia sangat merindukan penyatuan dengan istrinya itu. Makanya saat ini, walau Rival ragu untuk melakukannya. Karena dipikirannya, istrinya itu baru melahirkan. Tapi, obat yang sudah larut dalam aliran darahnya tidak bisa di stop lagi. Sesuatu yang mengganjal di dalam tubuhnya itu harus dikeluarkan.
"Sayang, istriku. Mungkin kamu akan merasakan sakit, mungkin juga masih berdarah. Ini tidak boleh dilakukan. Tapi, kita lakukan ya?" ucap Rival dengan merasa bersalah.
Rayati hanya Tersenyum dan tertawa dalam hati kenapa Rival mendadak jadi lucu. Cerewet sekali.
"Mas akan melakukannya. Tidak ada ampun ya sayang---!" ucap Rival parau, setelah Dia mencumbu Rayati. Penyatuan keduanya pun harus cepat dilakukan.
__ADS_1