
Rival nampak menenteng kantong plastik yang tergolong besar yang di dalamnya ada dua kotak kue Bika. Setelah sholat dzuhur Dia berjalan kaki menuju toko Bakery terdekat di tempat Dia tinggal.
Merenung selama dua bulan. Akhirnya Dia pun mengambil keputusan untuk pulang kepangkuan istri tercinta. Dia akan meminta maaf, telah menelantarkan istrinya itu. Semoga Rili masih menunggunya.
Karena banyak memikirkan Rili saat berjalan di trotoar, kaki Rival kesandung hingga tubuhnya hilang keseimbangan, dan keluar jalur trotoar dan Braakkk….. Rival ditabrak mobil yang sedang ngebut. Seketika Rival merasa gelap Dia pingsan.
Saat Dia pingsan alam bawa sadarnya bermain. Dia bermimpi terbang ke angkasa, Dia merasa tubuhnya sangat ringan, angin sepoi-sepoi menerpa tubuhnya, sejuk dan sangat menyenangkan. Rival yang sedang terbang dengan perasaan bahagia, menoleh ke bawah. Ternyata banyak kenderaan yang lalu lalang. Saat sedang asyik terbang, tiba-tiba Dia melihat Rili di bawah sana sedang memanggil-manggilnya.
“Abang Rival, Abang Rival…. Turun….turun..” Rival melihat Rili memanggil-manggilnya dengan menggerakkan kedua tangannya. Rival melihat kecemasan diwajah istrinya itu. Seketika ketenangan yang dirasakan Rival saat terbang itu berubah menjadi rasa sakit yang luar biasa. Sekujur tubuhnya merasakan nyeri luar biasa. Sakitnya menjalar ke kepala.
Rival mendengar suara-suara bising, matanya masih tertutup, tapi Dia merasa ada bagian tubuhnya yang digoyang-goyangkan. Dia membuka mata, seketika rasa sakit berkali-kali lipat dirasakannya kembali diseluruh tubuhnya.
Samar-samar Dia melihat beberapa orang berpakaian serba putih berada di dekatnya.
Rival akhirnya tersadar. “A..ku, aaku dimana?” ucapnya dengan terbata-bata karena masih menahan rasa sakit yang luar biasa dibagian kepala dan kakinya sebelah kanan.
“Syukurlah Bapak sadar juga.” Ucap salah satu perawat dan kembali memeriksa tekanan darah dan memeriksa kadar Hemoglobin (Hb) Rival. Seketika Rival kembali pingsan mendengar Dia kecelakaan.
“Dok, sepertinya pasien banyak kehilangan darah. Luka di pahanya begitu dalam dan darah masih terus mengalir.” Ucap salah seorang perawat, setelah Dia juga memeriksa kadar Hemoglobin darah Rival yang turun drastis.
“Baiklah, segera carikan golongan darah yang cocok.” Ucap Dokter. Perawat dengan cepat memeriksa golongan darah Rival yang ternyata golongan darah O- (O negatif ).
“Dok, pasien golongan darahnya adalah O-. Stok darah darah golongan itu habis Dok.
Golongan darah O- adalah golongan darah yang bisa didonorkan kepada golongan darah lainnya. Tapi, golongan darah O- hanya bisa menerima golongan darah yang sama yaitu harus O-.
Dokter dan Para perawat sudah mulai panik. Kalau golongan darah tidak didapatkan maka nyawa pasien akan terancam. Seorang perawat, mendatangi orang yang membawa Rival ke Rumah sakit. Ternyata, orang yang menabrak Rival sudah menghubungi keluarganya. Sehinnga orang tua yang menabrak Rival datang ke rumah sakit.
Orang tuanya sangat panik mendengar putrinya menabrak orang. Dia tidak mau putrinya itu ditahan pihak berwajib.
“Maaf Bapak, Ibu apa disini ada keluarga pasien?” tanya perawat kepada orang yang menabrak Rival.
__ADS_1
“Tidak Sus, kami tidak tahu keluarganya dimana. Tolong Sus, lakukan yang terbaik kata wanita yang sudah sangat merasa bersalah itu. Dia menangis dan langsung memeluk Mamanya.
“Ma, Aku menabrak Dia.” Ucapnya dengan tangisan yang sedikit histeris. Air mata membanjiri pipinya.
“Siapa?”
“Tolong bantu kami carikan golongan darah O-. stok donor darah itu disini sedang kosong.” Ucap Perawat, menyetop ucapan Mama, wanita yang menabrak Rival.
“Ma, bagaimaana ini Ma. Kenapa Aku terus yang membuat masalh untuknya.” Ucap wanita yang menabrak RIVal.
“Apa maksudmu Mely?” mencoba mengurai pelukan putrinya itu. Tapi putrinya itu terus saja ingin memeluk Mamanya.
“Aku menabrak Dia Ma.”
“Siapa?”
“Suami Mely yang nikah di kantor polisi Ma.” Ucap Mely, Dia melorotkan tubuhnya, terduduk dilantai. Sedangkan Ayah Mely yang tidak lain Pak Ali, terkejut mendengar ucapan putrinya itu.
“Bu, Pak. Tolong bantu kami cari golongan darah yang saya sebutkan tadi. Kami juga akan tetap mencari stok ke PMI.” Ucap Perawat dengan penuh harap.
“O- Pak.” Ucap perawat.
“Saya O- Sus, apa bisa saya donorkan darah saya?” tanya Pak Ali denganperasaan was-was dan sedikit lega. Kalau benar darahnya bisa didonorkan untuk Rival. Kemungkinan Rival akan selamat.
“Baik Pak, maraimkita periksa dulu kecocokannya. Dan kesehatan Bapak. Kalau Bapak punya penyakit serius. Bisanya tidak bisa.” Ucap Suster, sambil berjalan menuju ruang ICU.
Pak Ali pun diperiksa, ternyata golongan darah mereka cocok. Karena Pak Ali sehat, sehingga Dia pun bisa mendonorkan darahnya.
Para perawat dengan sigap menangani Rival sambil proses pendonoran darah. Luka di paha Rival yang sangat dalam, juga sudah dijahit. Lukanya begitu dalam, sehingga memerlukan tiga lapis jahitan. Sedangkan kepala lumayan terluka. Tapi tidak sampai membuat otak hancur.
Setelah proses pendonoran darah selesai, dan luka Rival yang banyak mengeluarkan darah dijahit. Rival dibawa ke ruang pemeriksaan Radiografi atau rontgen. Untuk memeriksa tulang Rival yang patah. Jelas saja dari hasil pemeriksaan kaki sebelah kanan Rival patah, tepatnya tulang paha dekat pinggul.
__ADS_1
Kondisi Rival memang Kritis kepala yang sobek, punggung yang memar dan tulang kaki yang patah. Tapi, pihak medis masih bersyukur, otak Rival tidak hancur.
Saat dibawa ke ruangan Radiologi Rival memang sudah mulai sadar. Tapi, rasa sakit yang luar biasa yang dirasakan tubuhnya membuatnya lemah. Setelah pemeriksaan selesai. Rival dibawah ke ruang inap jenis President Suite.
Dia yang sudah terbaring di atas Bed dengan tangan diinfus, menyoroti kamar tempatnya di rawat. Dia melihat Pak Ali dan istrinya berdiri disisi Bed tempat Dia berbaring.
“Yang kuat ya nak, semoga lekas sembuh.” Ucap Pak Ali dengan penuh kasih sayang, begitu juga dengan istrinya. Sedangkan Mely sedang diintrogasi pihak berwajib, masih di dalam rumah sakit itu juga.
Mely tidak akan dipenjarakan, Karena Dia bertanggung jawab dengan langsung membawa Rival, ke rumah sakit. Dan pengacara keluarga mereka akan mengurus semuanya. Termasuk akan meminta Rival nantinya berdamai saja.
Rival masih bisa tersenyum, menanggapi ucapan Pak Ali dan istrinya. Walau Dia merasa seluruh tubuhnya begitu sakit. Padahal dia sudah diberi obat pereda nyeri.
Pengalaman author yang pernah mengalami kecelakaan dan patah tulang. Nauzubillah sakitnya luar biasa. Selama enam bulan, masih terasa sakit di tulang yang patah itu.
“Bu, Nak Rival butuh istirahat. Kita jangan mengajaknya bicara.” Ucap Pak Ali. Dia mengajak istrinya untuk duduk di sofa yang terdapat di ruangan tersebut.
Air mata Rival menetes dari sudut matanya, “Inikah hukuman buatku yang meninggalkan istri.” Gumamnya dalam hati. “Bagaimana Aku bisa mengabarimu istriku. Sedangkan no ponselmu pun Aku tidak hapal.” Gumamnya dalam hati.
Dia menatap langit-langit kamar, mengingat mimpinya saat pingsan. Dimana Rili selalu memanggil-manggilnya yang saat itu dia sudah merasa tenang dan damai terbang di angkasa. Masih menahan sakit, otaknya dipaksa berfikir, memikirkan hal-hal yang akan terjadi kepadanya.
Melihat kondisinya yang begitu parah, apakah Pak Ali mau menanggung pengobatannya. Terlalu banyak berfikir membuat kepalanya semakin sakit. Dia meringis, yang membuat Pak Ali terusik dan mendekatinya.
“Apa ada keluhan yang serius?” Tanya Pak Ali dengan begitu ramahnya. Rival menggeleng, tapi raut kesakitan dan kekhawatiran jelas terlihat di matanya.
“Apa ada no saudara atau no istrimu yang bisa Bapak hubungi?” tanya Pak Ali. Lagi-lagi Rival menggeleng.
Rival memang tidak hapal no telepon keluarganya. No ponsel Rili pun Dia tidak hapal. Hal itulah yang membuat Dia tidak pernah menghubungi Rili.
TBC
Mampir juga ke novel ku yang berjudul
__ADS_1
Dipaksa menikahi Pariban.
Terimakasih