Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Kalau memang cinta, harus diperjuangkan


__ADS_3

Tok...tok...tok..


Rili dan Rival, yang sedang duduk di kursi meja makan, dibuat terkejut mendengar suara ketukan pintu. Rili nampak, sedang meminum obatnya. Sedangkan Rival, menemani Rili saat minum obat tersebut.


"Bang, Ada tamu?"


"Iya Dek, bentar. Abang bukain pintu dulu. Siapa ya yang datang bertamu malam-malam begini?" Ucap Rival, Dia pun berjalan cepat untuk membuka pintu.


"Assalamualaikum....!" terdengar suara seorang pria, mengucapkan salam.


"Walaikumsalam." Ucap Rival. Dia pun membuka kunci pintu. Dan menarik gagangnya.


Rival melihat sepasang manusia. Yang sangat dikenalnya. ( hahhahaha... sepasang manusia )


"Adek Windi dan suaminya kah?" ucap Rival. Masih belum mempersilahkan tamunya masuk.


"Nanya-nanya nanti saja. Apa kami tidak boleh masuk?" ucap Windi, dengan kesal.


"Oohh... tentu saja boleh. Maaf ya, Adek Windi." Rival, tidak akan terpengaruh dengan. sikap Windi yang frontal. Walau tadi siang, ada sedikit, rasa tidak enak. Karena, ucapan Windi. Rival menganggap kejadian itu, hanya angin lalu saja.


"Rili mana bang?" ucap Windi, setelah Dia mendudukkan bokongnya, di sofa ruang tamu. Yusuf pun, ikut duduk di Sofa yang sama, tepatnya di sebelah kiri Windi.


Rili, berjalan menuju ruang tamu, dengan pelan. Ada rasa senang dihati Rili, ketika mengetahui tamu yang datang adalah Windi. Rili sempat beranggapan. Sahabatnya itu, akan membencinya. Karena perdebatan tadi siang. Tapi, Rili ada rasa khawatir. Dia takut, Windi dan suaminya bersitegang kembali.


"Windi, kamu datang dengan Abang Yusuf?" Rili mendudukkan bokongnya. Di sofa lain, Dia tersenyum kepada pasangan labil tersebut.


Windi hanya tersenyum saja menanggapi ucapan Rili. Dia harus pandai memanfaatkan situasi. Agar rencananya dengan Yasir, membuahkan hasil.


"Bang," Windi menendang kaki Yusuf, dibawah meja. Yusuf menoleh ke arah Windi. Windi pun memberi kode. Dengan mulutnya monyong ke arah pintu keluar. Itu, artinya, Yusuf harus mengajak Rival, keluar. Sehingga Windi, leluasa mempengaruhi Rili, agar mau meninggalkan Rival. Begitulah siasat yang direncanakan Windi, di dalam mobil. Saat, perjalanan menuju Rumah Rili.


"Eehhmmmm... Pak Ustadz, keluar yuk?" ucap Yusuf. Dia menoleh ke arah Rival.


"Ustadz? Siapa Pak Ustadz?" ucap Windi terheran-heran.


"Ini Abang ganteng, yang pakai sarung, baju Koko dan lobe." Ucap Yusuf, dan memandang ke arah Rival. Rival hanya tersenyum, dapat gelar baru dari Yusuf.

__ADS_1


"Iya Bang, kalian cari angin sana." timpal Windi.


"Malas." Ucap Rival spontan.


Windi dan Yusuf, kembali saking pandang. Jika Rival, tidak mau diajak keluar. Bagaimana Dia, mau mempengaruhi Rili.


"Abang gak bosan, di rumah saja? mumpung ada teman yang mau ngajakin keluar." Ucap Rili, Dia memandang Rival dengan sendunya.


"Baiklah. Abang ganti baju dulu." Ucap Rival, Dia pun masuk ke kamar mereka, untuk ganti baju.


Setelah Yusuf, berhasil mengajak Rival keluar. Windi, langsung memamerkan ponsel Merk Samsung, ponsel tercanggih saat itu.


"Taraaaa...... Terimalah." Ucap Windi, sambil menyodorkan Ponsel yang dibungkus, sangat cantik dan apik dengan bungkus kado warna ungu. Sesuai dengan warna kesukaan Rili.


"Ini apa Windi?" Ucap Rili, sambil membolak-balikan kotak hadiah yang diberikan Windi, yang menurutnya sangat cantik. Karena, Dia suka warna ungu.


"Itu hadiah pernikahanmu. Seingatku, belum memberimu hadiah. Ayo, bukalah. Moga kamu suka." Ucap Windi tersenyum. Dia pun beranjak dari tempat duduknya, dan duduk disebelah kanan Rili.


"Waaaahhhh... Handphone. Ini Handphone bagus sekali. Ini pasti mahal kan Windi?" Rili nampak bahagia, serta merasa tidak enak hati. Karena mendapat hadiah yang sangat mahal. Mungkin kalau diuangkan harga ponselnya sekitar 3 juta.


"Apa sih, yang tidak buat kamu sobat." Windi merangkul bahu Rili sekejap dan melepaskannya. Windi, pun senyam-senyum sendiri. Ternyata, Rili menyukainya. Da tidak banyak pertanyaan.


"Tadikan kami, sedang mencek perlengkapan untuk resepsi pernikahan."


"Apa...? Kamu akan menikah?" Rili langsung memotong, ucapan Windi. Dia nampak begitu antusias dan bahagia mendengar Windi akan menikah juga.


"Iya, kamu tenang dulu. Tadi Aku, ketemu Abang Yasir di Hotel. Saat Aku dan Abang Ucup mengecek ballroom. Yang akan menjadi tempat resepsi." Mendengar ucapan Windi, seketika raut wajah Rili berubah menjadi sedih. Matanya langsung berkaca-kaca.


"Kamu kenapa sih? tidak balikan aja sama Abang Yasir? Saat ini, keadaanya sangat kacau." Ucap Rili, Dia memegang tangan Rili yang tergeletak di paha.


"Aku juga pinginnya, seperti itu. Tapi, Aku sudah menikah. Bagaimana caranya Aku bisa bersama Dia. Aku ini sudah menikah Windi?" Air mata langsung membanjiri, wajah putihnya.


"Abang Yasir, akan mengurus semua. Dengan sekali kedip. Akte cerai langsung bisa keluar."


"Tidak semudah itu, bagaimana perasaan orang tua ku, Abang Rival juga."

__ADS_1


"Kamu memikirkan perasaan Rival? pria yang baru kamu kenal, dan orang tuanya yang sudah menganiaya kamu.


"Perasaan Yasir, tidak kamu pikirkan? Dia sudah banyak berkorban untukmu. Dia sangat mencintaimu."


"A....ku Aa....ku juga sangat mencintainya. Aku sangat ingin bersamanya. Tapi, Aku sudah menikah. Mungkin, kisah kami inilah yang dikatakan orang. Mencintai tidak harus memiliki." Rili kembali emosional, air mata semakin deras bercucuran dari sudut matanya.


"Dia begitu sempurna, Dia punya segalanya. Aku merasa sangat tersanjung, bisa merasakan cintanya. Tapi, perbedaan kami yang begitu banyak itulah mungkin, yang membuat kami tidak berjodoh.


"Menikah dengan Abang Rival, mungkin hal yang terbaik buatku. Karena, kami sama-sama dari kalangan bawah.


"Aku saja, sampai detik ini. Masih merasa tidak percaya. Bahwa Andre, Ryan dan Yasir, adalah pria yang sama. Aku tidak percaya, ada pria seperti itu, bisa mencintai wanita seperti Aku ini. Aku tidak pantas untuknya. Mungkin, Kalau kami berjodoh. Bisa saja, kehidupanku lebih menderita dari sekarang. Windi..... Windi.... Aku sangat tersiksa dengan ini semua. Mulutku tadi mengatakan, Aku tidak pantas untuknya. Tapi, Aku juga sangat ingin bersamanya.


"Aku ingin kontak fisik dengannya, merasakan sentuhannya. Aku mungkin sudah gila kan? tapi, Aku istri orang. Begitu berdosanya Aku, kepada suamiku." Rili memeluk Windi, Dia menangis sejadi-jadinya. Sedangkan Windi dibuat terkejut dengan ucapan Rili, yang sepertinya, pingin dimanjakan itu.


"Aku ingin bersamanya. Tapi,..." Rili tiba-tiba diam. Dia melerai pelukannya dari Windi. Dia kembali menangis sejadi-jadinya. Dadanya yang berdegup kencang itu, rasanya begitu sesak dan nyeri.


"Tapi, Aku tidak sanggup untuk meminta cerai kepada Abang Rival. Aku sudah sangat tersiksa memikirkan ini semua. Daya tahan tubuhku menurun drastis. Aku juga setres Windi, Setresss." Rili mengepal tangan kanannya dan memukul-mukul pelan ke dadanya yang terasa sangat sesak itu.


Windi menarik Rili kepelukannya. "Kamu, harus berani, meminta cerai kepada Abang Rival. Hanya Itu jalan keluar. Agar kamu keluar dari masalah ini. Abang Rival, juga bukan pria yang baik untukmu. Walaupun, Dia pria baik. Ada keluarganya yang tidak menyukaimu"


"Ibunya pasti akan sangat membencimu. Karena, tadi Abang Yasir bilang. Dia tidak akan memberi ampun kepada orang yang menganiaya kamu. Hukum harus ditegakkan.


"Seandainya kamu masih bersama Abang Rival. Maka, musuh-musuhmu tetap ada. Karena, Aku Yakin. Mertuamu itu akan dendam kepadamu. Tolong pikirkan. Pikirkan kebahagianmu." Windi melepas pelukannya. Dia memegang kedua bahu Rili. Mereka kembali berpelukan.


"Pikirkan baik-baik. Aku sudah simpan kontakku dan kontak Abang Yasir di ponsel ini. Seumpama dalam seminggu ini, kamu sudah ada keputusan. Kamu hubungi Aku, atau Abang Yasir. Dan Aku, tidak akan menganggumu selama satu Minggu ini.


"Ingat, pikirkan kebahagianmu. Tanya hati kecilmu." Ucap Windi. Dia pun menenangkan Rili Kembali. "Jangan menangis lagi. Sebentar lagi, Abang Ucup dan Abang Rival, Akan pulang."


Cinta memang gak harus memiliki, tapi tetap saja sakit hati.


Prinsip mencintai tanpa harus memiliki itu hanya kata orang yang putus asa. Kalau cinta, kenapa tidak diperjuangkan? Itu baru prinsip.


Bersambung.


votenya dong kakak-kakak cantik. 🤗😍😘

__ADS_1


Jangan lupa like, coment dan Favorit.


Terimakasih


__ADS_2